25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghadapi Virus Corona Secara Kejawen dan Bali – “Donyo Wis Kewolak Walik & Gumi Nungkalik”

Mpu Tal by Mpu Tal
March 29, 2020
in Esai
Menghadapi Virus Corona Secara Kejawen dan Bali – “Donyo Wis Kewolak Walik & Gumi Nungkalik”

Bahan sayur lodeh {foto Jogjapolitan]

Dalam situasi normal: Mudik adalah tanda sayang dan ingat orang tua. Sungkem pada orang tua = tanda bakti cinta.

Sekarang?

Tidak mudik menjadi tanda sayang dan peduli keselamatan orang tua. Tidak mudik adalah bukti kesadaran (eling) dan solusi untuk menyelamatkan diri dan orang yang lain. Sungkem, dilarang. Berbalik: Berjauhanlah, social distancing.

Tidak terbayang sebelumnya kalau berjauhan adalah bukti cinta pada sesama. Sungkem diganti social distancing.

Donyo wis kewolak walik. Begitu ungkap Jawa-nya. Artinya, dunia sedang terbolak-balik. Terjadi kekacauan tatanan. Gumi nungkalik. Ini ungkapan Bali-nya. Artinya, dunia sedang terbalik.

Kenapa dunia terbalik?

Dalam cara pikir Jawa Kuno atau Kejawen, dan cara pikir Bali, jika Bhuta-Kala menguasai dunia maka dunia akan terbalik. Bhatara Kala menguasai dunia.

Begini kutipan naskah Jawa Kuno Roga Sangara Gumi:

— ritatkalaning ganti kali bhumi. Dewata matilar ring madhyapada, mantuk maring swargan mahameru, ginantianing Bhuta, sabhumi sami wwang kasusupan Bhuta….  gering sasab marana tan pegat, ngendah laraning wwang, gumigil panas uyang, akweh pejah, desa tepi ning tasik tembening agering…

— tatkala pergantian bumi kaliyuga. Dewata meninggalkan dunia-tengah, pulang ke Surga Mahameru, diganti oleh Bhuta, manusia di bumi semua kesusupan (dirasuki) Bhuta….  penyakit menular mewabah (gering-sasab-marana) tidak bisa dihentikan, tidak terperi derita manusia, menggigil panas uyang (kehilangan kesabaran dilanda cemas), banyak korban meninggal, desa-desa pesisir (perbatasan) ketiban penyakit…

Naskah Jawa Kuno tersebut berisi panjang lebar bagaimana dunia terbalik-balik oleh bhuta-kala. Catatan ini diwarisi dari era Kerajaan Majapahit. Secara Kejawen dan Bali perlu diadakan ruwatan (upacara pemurnian) dan tawur (upacara penyucian dunia).

Pageblug (wabah yang memakan korban sakit dan meninggal tiba-tiba) adalah wujud Bhatara Kala sedang menguasai bumi. Di Bali disebut gering agung (sakit menular yang mewabah).

Masyarakat Jawa akan menyajikan sayur lodeh ketika muncul pageblug. Ada tujuh jenis bahan sayur lodeh: Kluwih ((jenis nangka, di Bali disebut timbul), cang gleyor (kacang panjang), terung, waluh (labu), godong so (daun melinjo), melinjo, dan tempe.

Pertama-tama tentu pesan makan sayur lodeh adalah agar masyarakat menjaga kesehatan, makan sehat dengan berbagai bumbu, menjadi asupan vitamin, gizi dan menjaga imunitas.

Tujuh bahan sayur lodeh punya pesan filosofis mendalam ketika terjadi wabah. Pesan ini diketahui umum oleh masyarakat Jawa:

— Kluwih ((jenis nangka, di Bali disebut timbul) artinya: Kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne (Keluarga harus lebih diurusi dan diperhatikan).

— Cang gleyor (Kacang panjang) artinya: Cancangen awakmu ojo lungo-lungo (Ikatlah dirimu jangan pergi-pergi). Sekarang ini kita sebut karantina diri.

— Terong artinya: Terusno anggone olehe manembah Gusti ojo datnyeng (Tetap sujud menyembah Yang Maha Kuasa jangan hanya ketika butuh saja).

— Kulit melinjo penangkal radikal bebas ini punya makna: Ojo mung ngerti njobone, ning kudu ngerti njerone babakan pagebluk (Jangan hanya berpatokan pada yang tampak dari luar [karena virus atau wabah tidak tampak], tapi harus paham apa yang di dalam [yang tak tampak] penyebab bencana wabah).

— Waluh yang banyak vitamin ini filosofinya: Uwalono ilangono ngeluh gersulo (Hilangkan sifat berkeluh kesah [tetap tenang dan nalar]).

— Godong so (daun melinjo) yang masih muda: Golong gilig donga kumpul wong sholeh sugeh kaweruh (Berkumpulah dan dengarkan nasihat orang-orang saleh dan orang pintar [jangan termakan hoax]).

— Tempe yang jadi handalan pertahanan gizi secara tradisional ini bermakna: Temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Hyang Widhi. (Penuh keyakinan memohon pertolongan Sang Pencipta).

Sama dengan pemikiran masyarakat Kejawen, di Bali ketika melakukan terjadi penyakit menular mewabah (gering-sasab-marana) masyarakat dilarang keluar rumah dan melakukan karantina diri — sing dadi mesu, ngoyong jumah mabrata.

Dipercaya jalan-jalan sedang dikuasai oleh Bhuta-Kala. Pertemuan-pertemuan ditunda, demikian juga upacara dan peribadatan. Kuasa Bhuta-Kala akan mengangkangi dan membawa sakit.

Secara tradisional anak-anak dilarang secara ketat keluar rumah. Orang tua, kalau tidak mendesak, mereka harus tetap mendampingi anak-anak dan keluarganya. Tidak diperbolehkan anak-anak tanpa pendampingan karena akan tadah Kala (jadi korban Kala). Orang tua hanya keluar sendiri ketika memberi makan ternak dan mencari sayur saja keluar. Itupun harus sendiri, tidak boleh ramai-ramai, agar tidak nundun kala (membangunkan Sang Kala).

Masyarakat Kejawen dan Bali percaya — seperti disebut dalam naskah Jawa Kuno Roga Sangara Gumi di atas — wabah atau pageblug adalah periode transisi, sementara waktu. Masa peralihan atau pancaroba ini disebut sebagai: Ganti Kali Bhumi = Dunia dalam proses peralihan era/zaman. Usai pageblug dan ketika wabah berlalu: Dunia akan memasuki era baru. Era baru atau zaman baru yang lebih baik. Saling pengertian dan saling memaafkan. Manusia akan memasuki ke era yang dimana manusia tersadar kembali arti gotong royong dan tepo seliro — karena wabah pageblug tidak mungkin dilewati tanpa  gotong royong dan tepo seliro.

Semasih donyo wis kewolak walik, gumi nungkalik, solusinya juga dengan perilaku terbalik: Jangan mudik karena ini adalah tanda sayang dan peduli. Jangan sungkem karena sementara waktu ini adalah bukti bakti pada orang tua dan keluarga sekampung halaman.

Cancangen awakmu ojo lungo-lungo (Ikatlah dirimu jangan pergi-pergi). [T]

Tags: balicovid 19jawakejawensayur lodeh
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Misi Pembuangan di Nusa Penida: Antara Gagasan Akulturasi, Meminimalisir “Social Distance” dan Penjinakan Bibit Separatisme

Next Post

Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Mpu Tal

Mpu Tal

berdiam di Wanāśrama.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co