22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghadapi Virus Corona Secara Kejawen dan Bali – “Donyo Wis Kewolak Walik & Gumi Nungkalik”

Mpu Tal by Mpu Tal
March 29, 2020
in Esai
Menghadapi Virus Corona Secara Kejawen dan Bali – “Donyo Wis Kewolak Walik & Gumi Nungkalik”

Bahan sayur lodeh {foto Jogjapolitan]

Dalam situasi normal: Mudik adalah tanda sayang dan ingat orang tua. Sungkem pada orang tua = tanda bakti cinta.

Sekarang?

Tidak mudik menjadi tanda sayang dan peduli keselamatan orang tua. Tidak mudik adalah bukti kesadaran (eling) dan solusi untuk menyelamatkan diri dan orang yang lain. Sungkem, dilarang. Berbalik: Berjauhanlah, social distancing.

Tidak terbayang sebelumnya kalau berjauhan adalah bukti cinta pada sesama. Sungkem diganti social distancing.

Donyo wis kewolak walik. Begitu ungkap Jawa-nya. Artinya, dunia sedang terbolak-balik. Terjadi kekacauan tatanan. Gumi nungkalik. Ini ungkapan Bali-nya. Artinya, dunia sedang terbalik.

Kenapa dunia terbalik?

Dalam cara pikir Jawa Kuno atau Kejawen, dan cara pikir Bali, jika Bhuta-Kala menguasai dunia maka dunia akan terbalik. Bhatara Kala menguasai dunia.

Begini kutipan naskah Jawa Kuno Roga Sangara Gumi:

— ritatkalaning ganti kali bhumi. Dewata matilar ring madhyapada, mantuk maring swargan mahameru, ginantianing Bhuta, sabhumi sami wwang kasusupan Bhuta….  gering sasab marana tan pegat, ngendah laraning wwang, gumigil panas uyang, akweh pejah, desa tepi ning tasik tembening agering…

— tatkala pergantian bumi kaliyuga. Dewata meninggalkan dunia-tengah, pulang ke Surga Mahameru, diganti oleh Bhuta, manusia di bumi semua kesusupan (dirasuki) Bhuta….  penyakit menular mewabah (gering-sasab-marana) tidak bisa dihentikan, tidak terperi derita manusia, menggigil panas uyang (kehilangan kesabaran dilanda cemas), banyak korban meninggal, desa-desa pesisir (perbatasan) ketiban penyakit…

Naskah Jawa Kuno tersebut berisi panjang lebar bagaimana dunia terbalik-balik oleh bhuta-kala. Catatan ini diwarisi dari era Kerajaan Majapahit. Secara Kejawen dan Bali perlu diadakan ruwatan (upacara pemurnian) dan tawur (upacara penyucian dunia).

Pageblug (wabah yang memakan korban sakit dan meninggal tiba-tiba) adalah wujud Bhatara Kala sedang menguasai bumi. Di Bali disebut gering agung (sakit menular yang mewabah).

Masyarakat Jawa akan menyajikan sayur lodeh ketika muncul pageblug. Ada tujuh jenis bahan sayur lodeh: Kluwih ((jenis nangka, di Bali disebut timbul), cang gleyor (kacang panjang), terung, waluh (labu), godong so (daun melinjo), melinjo, dan tempe.

Pertama-tama tentu pesan makan sayur lodeh adalah agar masyarakat menjaga kesehatan, makan sehat dengan berbagai bumbu, menjadi asupan vitamin, gizi dan menjaga imunitas.

Tujuh bahan sayur lodeh punya pesan filosofis mendalam ketika terjadi wabah. Pesan ini diketahui umum oleh masyarakat Jawa:

— Kluwih ((jenis nangka, di Bali disebut timbul) artinya: Kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne (Keluarga harus lebih diurusi dan diperhatikan).

— Cang gleyor (Kacang panjang) artinya: Cancangen awakmu ojo lungo-lungo (Ikatlah dirimu jangan pergi-pergi). Sekarang ini kita sebut karantina diri.

— Terong artinya: Terusno anggone olehe manembah Gusti ojo datnyeng (Tetap sujud menyembah Yang Maha Kuasa jangan hanya ketika butuh saja).

— Kulit melinjo penangkal radikal bebas ini punya makna: Ojo mung ngerti njobone, ning kudu ngerti njerone babakan pagebluk (Jangan hanya berpatokan pada yang tampak dari luar [karena virus atau wabah tidak tampak], tapi harus paham apa yang di dalam [yang tak tampak] penyebab bencana wabah).

— Waluh yang banyak vitamin ini filosofinya: Uwalono ilangono ngeluh gersulo (Hilangkan sifat berkeluh kesah [tetap tenang dan nalar]).

— Godong so (daun melinjo) yang masih muda: Golong gilig donga kumpul wong sholeh sugeh kaweruh (Berkumpulah dan dengarkan nasihat orang-orang saleh dan orang pintar [jangan termakan hoax]).

— Tempe yang jadi handalan pertahanan gizi secara tradisional ini bermakna: Temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Hyang Widhi. (Penuh keyakinan memohon pertolongan Sang Pencipta).

Sama dengan pemikiran masyarakat Kejawen, di Bali ketika melakukan terjadi penyakit menular mewabah (gering-sasab-marana) masyarakat dilarang keluar rumah dan melakukan karantina diri — sing dadi mesu, ngoyong jumah mabrata.

Dipercaya jalan-jalan sedang dikuasai oleh Bhuta-Kala. Pertemuan-pertemuan ditunda, demikian juga upacara dan peribadatan. Kuasa Bhuta-Kala akan mengangkangi dan membawa sakit.

Secara tradisional anak-anak dilarang secara ketat keluar rumah. Orang tua, kalau tidak mendesak, mereka harus tetap mendampingi anak-anak dan keluarganya. Tidak diperbolehkan anak-anak tanpa pendampingan karena akan tadah Kala (jadi korban Kala). Orang tua hanya keluar sendiri ketika memberi makan ternak dan mencari sayur saja keluar. Itupun harus sendiri, tidak boleh ramai-ramai, agar tidak nundun kala (membangunkan Sang Kala).

Masyarakat Kejawen dan Bali percaya — seperti disebut dalam naskah Jawa Kuno Roga Sangara Gumi di atas — wabah atau pageblug adalah periode transisi, sementara waktu. Masa peralihan atau pancaroba ini disebut sebagai: Ganti Kali Bhumi = Dunia dalam proses peralihan era/zaman. Usai pageblug dan ketika wabah berlalu: Dunia akan memasuki era baru. Era baru atau zaman baru yang lebih baik. Saling pengertian dan saling memaafkan. Manusia akan memasuki ke era yang dimana manusia tersadar kembali arti gotong royong dan tepo seliro — karena wabah pageblug tidak mungkin dilewati tanpa  gotong royong dan tepo seliro.

Semasih donyo wis kewolak walik, gumi nungkalik, solusinya juga dengan perilaku terbalik: Jangan mudik karena ini adalah tanda sayang dan peduli. Jangan sungkem karena sementara waktu ini adalah bukti bakti pada orang tua dan keluarga sekampung halaman.

Cancangen awakmu ojo lungo-lungo (Ikatlah dirimu jangan pergi-pergi). [T]

Tags: balicovid 19jawakejawensayur lodeh
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Misi Pembuangan di Nusa Penida: Antara Gagasan Akulturasi, Meminimalisir “Social Distance” dan Penjinakan Bibit Separatisme

Next Post

Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Mpu Tal

Mpu Tal

berdiam di Wanāśrama.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Gugur Bunga – [Saat Corona Ingat Gatotkaca]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co