2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Sampai Kita Menjadi Turis Pembangunan Desa

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
March 7, 2020
in Esai
Jangan Sampai Kita Menjadi Turis Pembangunan Desa

Ilustrasi: Nana S Partha

Tulisan ini bertujuan untuk menampilkan perbandingan (komparasi) data dan analisa sederhana terkait data yang ditampilkan. Komparasi bisa dilakukan dengan menampilkan objek yang sama tetapi dikomparasi dengan data tahun yang berbeda. Di sisi yang lain, komparasi bisa dilakukan dengan menggunakan data tahun yang sama tetapi dikomparasi dengan wilayah berbeda.

Sebelum mulai menampilkan data, saya ingin menginformasikan 1) Badan Pusat Statistik (BPS), adalah lembaga resmi negara yang bertugas untuk merilis data ekonomi, sosial, jumlah penduduk dan sejenisnya, dan 2) untuk data kemiskinan, BPS di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun tingkat pusat melakukan rilis Berita Resmi Statistik (BRS) setahun 2 kali. BRS kemiskinan dilakukan pada bulan Maret dan bulan September setiap tahunnya.

Tulisan ini diawali dengan menampilkan potret kemiskinan yang dirilis oleh BPS Provinsi Bali. BRS kemiskinan menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Bali pada Maret 2019 sekitar 163,85 ribu orang (3,79 persen). Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada September 2018 sebanyak 168,34 ribu orang, maka selama enam bulan terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sekitar 4,49 ribu jiwa.

Berita ini cukup menggembirakan karena jika dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, ternyata selama kurun waktu tersebut di daerah perdesaan (desa) terjadi penurunan angka kemiskinan sebanyak 4,02 ribu orang, sedangkan di daerah perkotaan (kota) hanya turun sebanyak 0,47 ribu orang.

Artinya, penurunan angka kemiskinan yang terjadi di desa jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan yang terjadi di kota. Ini mengindikasikan bahwa program yang diinisiasi dan dilaksanakan oleh kepala desa beserta warga desa dapat dinikmati dan dirasakan langsung oleh warga desa setempat. Ini bukti bahwa konsep desa membangun Indonesia berkontribusi nyata terhadap penurunan angka kemiskinan di desa. 

Rabu, 15 Januari 2020, Kepala BPS Provinsi Bali, Adi Nugroho didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dw Made Indra mengadakan konferensi pers dan menjelaskan tentang profil kemiskinan di Bali. Berdasarkan data per September 2019, jumlah penduduk miskin diperkirakan sebanyak 156,91 ribu orang. Jumlah ini mengalami penurunan sekitar 6,9 ribu orang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2019. Persentase penduduk miskin bulan September sekitar 3,61 persen merupakan persentase terendah yang dicapai oleh Provinsi Bali sejak Maret 2015 (5 tahun terakhir).

Sebagai bagian dari masyarakat Bali, saya sangat bahagia membaca berita tersebut. Angka tersebut mencerminkan hasil kerja keras dan merupakan prestasi tersendiri bagi kepala daerah yang ada di Bali. Tentu ini berita menggembirakan baik bagi masyarakat luas, bagi pemerintah daerah tingkat provinsi, maupun tingkat kabupaten/kota.

Benarkah berita ini menggembirakan? Mari melakukan analisa sederhana terhadap capaian angka tersebut. Seperti diketahui bahwa penduduk Indonesia termasuk Bali, ada yang tinggal di kota dan ada pula yang tinggal di desa. Data BPS Bali menyebutkan bahwa, jumlah penduduk miskin yang tinggal di kota pada bulan Maret 2019 diperkirakan sebanyak 97,98 ribu orang dan pada bulan September diperkirakan turun menjadi sekitar 91,12 ribu orang.

Artinya selama periode Maret-September 2019, jumlah penduduk miskin yang tinggal di kota mengalami penurunan sekitar 6,86 ribu orang. Di desa, jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2019 tercatat sekitar 65,87 ribu orang dan pada bulan September tercatat sekitar 65,79 ribu orang. Artinya, selama periode Maret-September 2019 jumlah penduduk miskin yang tinggal di desa diperkirakan mengalami penurunan sebanyak 0,08 ribu orang. Jika diperjelas lagi dengan menggunakan pendekatan matematika (dalam ribuan, artinya angka dibelakang koma dikalikan dengan seribu) maka akan diperoleh angka 80 0rang (atau sekitar 80 orang).

Dari data yang telah disajikan sampai dengan bulan September 2019 dapat diambil simpulan sederhana bahwa 1) jumlah penduduk miskin di Provinsi Bali lebih banyak bertempat tinggal di kota dibandingkan dengan yang tinggal di desa dan 2) Bulan September 2018-Maret 2019 penurunan angka kemiskinan lebih besar terjadi di desa dibandingkan dengan yang terjadi di kota. Sedangkan bulan Maret 2019-September 2019, penurunan angka kemiskinan lebih banyak terjadi di kota (6,86 ribu) dibandingkan dengan yang terjadi di desa (80 orang).

Jika dibandingkan dengan kondisi nasional maka kondisi kemiskinan di Bali relatif berbeda. Perbedaanya adalah 1) Secara nasional, jumlah penduduk miskin selalu lebih banyak bermukim di desa. Sampai September 2019, jumlah penduduk miskin Indonesia lebih banyak tinggal di desa (14,93 juta orang) dibandingkan dengan yang tinggal di kota (9,86 juta orang), dan 2) Penurunan angka kemiskinan yang terjadi di desa (0,22 juta orang) jauh lebih besar dibandingkan penurunan yang terjadi di kota (0,13 juta orang).

Secara nasional, penurunan angka kemiskinan di desa selalu lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan di kota. Capaian ini konsisten terjadi, sebagai bukti periode September 2018-Maret 2019 dan periode Maret 2019-September 2019 tetap penurunan angka kemiskinan lebih besar terjadi di desa dibandingkan dengan yang terjadi di kota. Ini adalah sebuah pencapaian positif secara nasional. Capaian ini berbeda dengan yang terjadi di Bali. Penurunan angka kemiskinan di desa lebih kecil jumlahnya dibandingkan dengan penurunan kemiskinan yang terjadi di kota (6 bulan terakhir).

Sebenarnya apa makna dibalik angka kemiskinan yang yang terjadi di Bali? Apakah angka capaian ini menggembirakan ataukah sebaliknya? Kenapa penurunan angka kemiskinan di desa jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan yang terjadi di kota? Wajarkah hal itu terjadi? Ada apa dengan desa? Ada apa dengan kepala desa? Apakah semangat kepala desa mulai turun? Apakah kepala desa terlalu sibuk menghadiri undangan perkawinan warga sehingga lupa memikirkan permasalahan yang terjadi? Seberapa pentingkah dana desa berperan dalam pengurangan angka kemiskinan?

Apakah Para bupati/walikota/Gubernur mengetahui kondisi riil seperti ini? Mungkin itulah pertanyaan sederhana yang layak dipertanyakan. Tentu pertanyaan ini relevan diajukan jika dikaitkan dengan program nawa cita ke-3 Pak Jokowi-Jusuf Kalla yakni membangun Indonesia dari desa.

Semoga data komparasi yang ditampilkan ini dapat memantik semangat para pemerhati/pejuang desa terutama anak muda untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan desa.

Saya mengajak anak muda untuk tidak menjadi “turis pembangunan desa” artinya anak muda yang hanya mengetahui desa dari permukaan saja. Melihat desa hanya dari baliho APBDes saja atau hanya mengetahui kepala desanya saja. Caranya, mari memulai dengan data dan fakta. Data sebagai peta menuju perbaikan. Data mengarahkan langkah kaki melangkah ke jalan yang tepat.

Mari turun ke bawah untuk melihat kondisi yang sebenarnya terjadi di desa. Desa adalah masa depan Bali dan masa depan anak cucu kita. Saatnya membangun desa dengan data. [T]

Tags: desaPembangunan
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

A Tour to The Tomb of A.A. Panji Tisna

Next Post

Pembukaan Galeri Zen1, 19 Perupa Berpameran, Termasuk Kadisbud Kun Adnyana

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pembukaan Galeri Zen1, 19 Perupa Berpameran, Termasuk Kadisbud Kun Adnyana

Pembukaan Galeri Zen1, 19 Perupa Berpameran, Termasuk Kadisbud Kun Adnyana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co