6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melawat ke Flores [5] : Singgah ke Wae Rebo

I Komang Gde Subagia by I Komang Gde Subagia
February 21, 2020
in Tualang
Melawat ke Flores [5] : Singgah ke Wae Rebo

Kampung Wae REbo [IK Gde Subagia]

Baca juga:

  • Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo
  • Melawat ke Flores [2]: Mengarungi Perairan Komodo
  • Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo
  • Melawat ke Flores [4]: Enam Jam di Atas Motor

—-

DALAM lawatan ke Flores, saya memang berencana akan mengunjungi Wae Rebo. Sebuah kampung tradisional di Desa Satar Senda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai.

Mulai dari Denge

Siang itu, saya bertemu dengan Rhapael Safiro. Lelaki 25 tahun ini berasal dari Denge. Kampung terakhir yang bisa diakses kendaraan bermotor sebelum mendaki ke Wae Rebo.

Ia berprofesi sebagai tukang ojek. Yang naik turun dari Denge ke ujung aspal terakhir, sebelum setapak ke Wae Rebo. Kadang ia menjadi pemandu juga.

Jika kita berkunjung ke kampung tradisional ini, kita diwajibkan mengajak pemandu. Atau orang setempat yang bisa bahasa Manggarai. Selain menjadi penunjuk jalan, juga untuk menjadi penerjemah saat melakukan upacara nantinya.

Leon yang saya ajak akhirnya memastikan diri untuk ikut serta. Mendaki ke Wae Rebo, menyusuri setapak di tengah hutan. Awalnya ia ragu. Karena melihat cuaca yang tak begitu baik. Mendung, gerimis, sepi, dan di dalam hutan.


Leon Menemani Saya Mendaki ke Wae Rebo [Foto: IK Gde Subagia]

Bersiap

Tengah hari. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Setelah istirahat beberapa menit, saya mulai bergerak. Menyusuri setapak tanah yang becek dan berlumpur. Ditemani oleh Leon dan Raphael.

Hujan selalu turun seminggu terakhir ini, kata Raphael. Begitu juga dengan kabut, selepas siang selalu turun dan tebal. Pemandangan alam tak pernah tampak jelas. Hutan menjadi sedikit lebih garang.


Wae Rebo Berarti Mata Air. Banyak Aliran Air yang Ditemui dalam Perjalanan [Foto: IK Gde Subagia]

Ujung aspal Kampung Denge berlokasi di ketinggian 800 meter dari permukaan laut (mdpl). Sementara Wae Rebo terletak di ketinggian sekitar 1.150 mdpl. Ditempuh sejauh empat sampai lima kilometer. Elevasinya sedang. Di atas kertas, ini artinya tak terlalu ekstrem. Tapi kita lihat saja.

Saya memang sudah menyiapkan beberapa peralatan untuk kondisi-kondisi di pedalaman seperti ini. Jas hujan, tali, senter, korek api, pisau lipat, dan lain-lain. Leon saya minta untuk membawa serta jas hujannya. Jangan sampai ia basah kehujanan dalam perjalanan. Apalagi ia tak bawa pakaian ganti.

Mulai Mendaki

Jalan setapak ke Wae Rebo ini sebenarnya cukup jelas. Jika biasa mendaki gunung dan membaca peta, maka bisa dipastikan jalurnya cukup aman. Dalam artian kemungkinan tersesat kecil.

Kabut mulai turun di War Rebo [Foto IK Gde Subagia]
Perjalanan dari Denge ke Wae Rebo. Melalui Banyak Aliran Air. [Foto IK Gde Subagia]

Yang berbahaya adalah kondisi tanah yang labil. Apalagi dalam kondisi hujan. Membuatnya rawan longsor. Tadi waktu masih dalam perjalanan menuju Denge, saya banyak melihat papan-papan pengumuman dari BNPB tentang bahaya longsor.

Suasana perjalanan menuju Wae Rebo ini mengingatkan saya akan Ciwidey di Bandung. Dulu, saya sering blusukan di hutan-hutannya. Hutan di Wae Rebo ini sedikit mirip dengan Ciwidey.

Pepohononannya sangat rapat. Aliran air melimpah. Lembab. Banyak pacet. Banyak lumut. Hanya saja pepohonan besar tak banyak di hutan Wae Rebo ini. Sebagian besar pepohonan berukuran sedang.

Kopi Wae Rebo

Saat menjelang tiba di ketinggian seribuan meter, jalanan tak banyak mendaki lagi. Hampir semuanya sekarang melipir di pinggang gunung. Hutan pun berubah menjadi perkebunan kopi.

Kita sudah memasuki kawasan Desa Wae Rebo, kata Rhapael sambil mengunyah biji-biji kopi kemerahan. Sepertinya ia lapar.


Kopi di Perkebunan Wae Rebo [Foto IK Gde Subagia]

Wae Rebo adalah salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia. Lokasinya yang berketinggian seribuan meter sangat cocok untuk tanaman kopi. Dua spesies kopi utama arabika dan robusta tumbuh baik di sini.

Selamat Datang

Akhirnya saya tiba di Wae Rebo. Bangunan pertama yang harus saya kunjungi adalah Rumah Kasih Ibu. Ada semacam alat musik pukul dari bambu. Mirip kentongan. Sesuai adat setempat, saya harus membunyikannya. Pertanda warga Wae Rebo akan kedatangan tamu.

Dari Rumah Kasih Ibu, jalan kemudian menurun. Menuju pemukiman utama. Sampai tibalah saya di bentangan dataran hijau yang diselimuti kabut. Tak ada pemandangan latar pegunungan yang pernah saya lihat di gambar-gambar di internet. Kabut benar-benar menutup pemandangan di sekitar saya.

Rumah-rumah kerucut yang disebut mbaru niang berdiri agak di pinggir. Di tengah, ada bebatuan yang disusun sedemikian rupa berbentuk altar. Namanya compang. Tempat pemujaan yang disucikan oleh orang Wae Rebo. Sebuah bambu dengan hiasan daun enau terpancang di tengahnya. Mirip seperti sanggah cukcuk di Bali.


Compang [Foto IK Gde Subagia]

Rhapael mengajak saya dan Leon untuk masuk ke mbaru niang utama. Ketua adat menyambut kami. Lalu mengadakan upacara kecil. Wae Lu’u namanya. Ketua adat merapalkan mantra-mantra dengan bahasa setempat. Berdoa kepada leluhur dan sambutan kepada saya yang baru datang.

Maka, menjelang sore itu saya resmi menjadi warga Wae Rebo. Dipersilahkan untuk berbaur sebagaimana adanya di sana.

Hujan Menyambut

Baru saja selesai mengikuti upacara selamat datang, gerimis yang sedari tadi turun berubah menjadi hujan yang deras. Kabut menutupi sebagian besar pemandangan di luar.


Hujan Turun di Wae Rebo [Foto IK Gde Subagia]

Saya buru-buru masuk ke mbaru niang yang khusus diperuntukkan bagi tamu. Di dalamnya, sudah ada satu kelompok pengunjung yang sedang beristirahat. Saya pun berbaur. Patrice Siusandi, warga asli Wae Rebo menyambut hangat. Menyuguhkan kopi dan makan seadanya.

Saya sudah lapar, kata Raphael berbisik pada saya. Sama. Kami memang belum makan siang. Leon hanya nyengir ketika melihat nasi putih dengan sayur labu dan telur dadar disajikan. Sementara udara begitu dingin. Rasanya tentu nikmat.

Walaupun statusnya adalah warga Denge, Rhapael ternyata masih memiliki hubungan kekerabatan dengan warga di Wae Rebo. Ialah yang menjadi jembatan bagi saya dan warga asli di kampung tradisional ini. Maka tak heran jika ia ikut bantu-bantu di dapur.


Kopi dan Teh yang Disuguhkan pada Kami yang Datang Berkunjung [Foto IK Gde Subagia]

Rumah Adat Mbaru Niang

Usai makan, saya melihat suasana di dalam mbaru niang ini. Sambil menikmati secangkir kopi dan potongan-potongan kecil ubi goreng.

Mbaru niang yang berbentuk kerucut ini berkonstruksikan bambu dan kayu. Beratapkan daun lontar yang dilapisi ijuk. Memiliki lima lantai. Tinggi totalnya sekitar 15 meter.

Tingkat pertama atau yang paling bawah disebut lutur. Melingkar dan paling luas. Digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga. Di atasnya atau tingkat kedua berupa loteng atau disebut lobo. Berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari.


Mbaru Niang [Foto IK Gde Subagia]
Jendela dari Dalam Rumah Mbaru Niang [Foto IK Gde Subagia]

Lalu tingkat ketiga adalah lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan. Tingkat keempat lempa rae disediakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan. Dan tingkat kelima atau yang paling atas disebut hekang kode, tempat sesajian persembahan pada leluhur.

Rumah adat ini dinilai sangat langka karena hanya terdapat di Wae Rebo saja. Yang terpencil di atas pegunungan.

Usaha untuk melestarikan mbaru niang telah mendapatkan penghargaan tertinggi kategori konservasi warisan budaya dari UNESCO pada tahun 2012 lalu.

Kini Wae Rebo perlahan-lahan mulai mengembangkan eko wisata berdasarkan keunikannya ini. Di samping mata pencaharian sebagian besar warganya sebagai petani kopi.

Berasal dari Tanah Minang

Dulu, Wae Rebo tak terkenal seperti sekarang ini. Kata Rhapael, seorang warga asing berkebangsaan Belanda yang diingatnya dulu sering ke sini. Yang tertarik dengan kehidupan pedalaman di Flores.

Hal lain yang saya dengar adalah kisah bagaimana Wae Rebo ini ada. Konon nenek moyangnya yang bernama Ampu Maro merantau dari Tanah Minang di Sumatera. Yang sebelum sampai di Flores,  pernah menyinggahi Makassar sampai akhirnya tiba di Labuan Bajo.

Dari Labuan Bajo, cerita perjalanan Ampu Maro ini masih panjang sampai ia mendirikan kampung di sebuah mata air yang dinamai Wae Rebo. Salah satunya adalah ia sempat akan diangkat menjadi ketua adat di Kampung Todo, kampung yang menjadi pusat Kerajaan Manggarai di masa silam. Tempat di mana peradaban Minang bermula di daratan Flores.

Wae Rebo Menjadi Tempat Eko Wisata

Di luar, hujan masih turun. Masih deras. Ada beberapa pengunjung yang berdatangan di tengah hujan. Suasana hujan dan dingin ini menggoda saya untuk meringkuk di dalam saja.

Saya lebih memilih membungkus badan dengan selimut di atas tikar. Enggan untuk berbasah-basahan di luar. Sambil melanjutkan minum kopi. Juga menulis catatan perjalanan saya sebelumnya, di handphone yang tak ada sinyalnya.


Atap Mbaru Niang [Foto IK Gde Subagia]

Sebagai kampung tradisional yang sedang mengembangkan eko wisata, Wae Rebo telah berbenah untuk menyambut tamunya. Tikar dan selimut untuk mereka yang datang memang telah disiapkan. Begitu juga dengan makanan dan minuman yang disuguhkan. Ada harga yang harus dibayar.

Kata seorang teman, inilah imbas pariwisata. Kapital sudah menyentuh kampung tradisional ini. Dikenal dan dijadikan kegiatan sehari-hari oleh warga asli. Dulu, hanya pertanian yang menjadi pekerjaan warga Wae Rebo. Tapi kini, kunjungan wisata ikut mengambil bagian. Bahkan diharapkan.

Pagi di Wae Rebo

Malam pun berlalu. Tidur saya cukup nyenyak. Pagi-pagi benar saya sudah bangun. Keluar rumah dan melihat suasana. Hari belum terang benar. Sesekali angin berhembus agak kencang. Menyapu kabut yang menyelimuti Wae Rebo.

Saya naik agak ke atas. Melihat sembilan rumah adat di Wae Rebo ini, seperti yang diceritakan oleh Patrice semalam. Satu ada di atas sebagai puskesmas dan perpustakaan. Delapan sisanya di bawah. Dari delapan ini, satu sebagai tempat menerima tamu. Dan tujuh sisanya ditinggali warga setempat.


Sarung dari Tenun Ikat Manggarai Menjadi Pakaian Sehari-hari [Foto IK Gde Subagia]

Rumah yang ditinggali warga agak berbeda dengan yang ditinggali tamu. Yang ditinggali tamu di dalamnya lapang terbuka. Lebih rapi. Sedangkan yang ditinggali warga ada tungku perapian di dalamnya. Tungkunya berada di tengah rumah. Menjadi tempat memasak sekaligus tempat berkumpul anggota keluarga. Jika memasak, ruangan menjadi pengab karena banyak asap. Begitulah.

Anak-anak Wae Rebo tersenyum malu-malu. Mereka sedang libur sekolah. Di mana mereka bersekolah? Mereka bilang di Denge. Setiap akhir pekan, mereka pulang ke Wae Rebo. Jika waktunya bersekolah, mereka tinggal di rumah-rumah kerabatnya di Kampung Kombo.

Kampung Kombo adalah kampung yang dihuni oleh warga Wae Rebo juga. Lokasinya yang tak jauh dari Denge. Pertambahan jumlah warga di Wae Rebo menyebabkan Kampung Kombo ini ada. Hanya beberapa warga saja yang menetap di Wae Rebo, menghuni tujuh mbaru niang yang ada.

Di Rumah Mama Veronika

Saya berjalan berkeliling. Di salah satu rumah, saya melihat ibu-ibu. Namanya Mama Veronika. Ia sedang menumbuk kopi. Melepaskan kulit luar kopi dari bijinya.

Ia tersenyum pada saya yang datang menghampiri. Bibirnya kemerahan. Giginya tersungging memperlihatkan pinang yang sedang dikunyahnya.

Inilah kami. Sehari-hari mengolah kopi, katanya. Hanya kopi yang sudah merah yang dipanen. Supaya kopi rasanya enak. Direndam semalam. Lalu ditumbuk seperti ini. Kemudian dijemur atau diangin-anginkan.


Pagi Berkabut di Wae Rebo [Foto IK Gde Subagia]

Mendengar cerita itu, kopi yang diolahnya pasti berkualitas dan bercita rasa khas. Orang Wae Rebo terkenal kuat minum kopi. Dalam sehari, mereka biasa minum sampai sepuluh gelas.

Ke mana kopi-kopi ini dibawa selanjutnya? Biasa dijual dalam bentuk biji. Atau dalam bentuk bubuk juga. Ke Pasar Kombo di Kampung Denge. Atau lebih jauh lagi ke Dintor. Di bawah, di pertigaan jalan yang akan ke Ruteng itu.

Selain kopi, warga juga menghasilkan madu. Hutan di sekitar Wae Rebo banyak dihuni lebah yang bersarang dalam tanah. Awalnya dipanen untuk kebutuhan sendiri, sampai akhirnya dijual kepada pengunjung atau ke pasar di Denge juga.


Kegiatan Sehari-hari Mama Veronika – Mengolah Kopi [Foto IK Gde Subagia]
Kegiatan Sehari-hari Mama Veronika – Mengolah Kopi [Foto IK Gde Subagia]

Kembali ke Denge

Saya duduk di batu depan mbaru niang. Menghirup nafas dalam-dalam. Udara pagi itu mengirim aroma tanah basah. Juga aroma biji-biji kopi yang baru saja ditumbuk oleh Mama Veronika. Udara dingin menembus sela-sela pakaian.

Banyak kepingan yang menyusun mosaik Wae Rebo : mata air, hutan tropis, kopi, madu, tradisi, arsitektur bangunan, sistem kekerabatan, kepercayaan, dan perkembangan zaman.

Saya memanggil Leon dan Rhapael untuk bersiap. Usai sarapan, kami akan kembali turun ke Denge. Tak lupa, saya menyeruput segelas kopi lagi.

Berikutnya, sambil memberikan salam pada beberapa warga, saya pun pamit meninggalkan Wae Rebo. [T]

Manggarai, Juni 2019

Tags: FloresIndonesia TimurLabuan BajoPariwisataperjalanan
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Ental Digital – [Perubahan Arus Tradisi]

Next Post

Obrolan Konyol di Kedai Kopi: Macchiato = Kopi Jro Gede?

I Komang Gde Subagia

I Komang Gde Subagia

Biasa dipanggil Gejor. Suka menulis. Suka memotret. Suka jalan-jalan. Suka tidur. Tinggal di Denpasar.

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Obrolan Konyol di Kedai Kopi: Macchiato = Kopi Jro Gede?

Obrolan Konyol di Kedai Kopi: Macchiato = Kopi Jro Gede?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co