12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sesajen untuk Pekak – [Refleksi Tahun Baru 2020]

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
January 2, 2020
in Esai
Sesajen untuk Pekak – [Refleksi Tahun Baru 2020]

Ilustrasi Foto: Widnyana Sudibya

Setiap hari raya,  setiap menghaturkan sesajen,  keluarga kami selalu menghaturkan satu sesajen di lantai Bale Dangin.  Sesajen itu diperuntukan  bagi Pakek (kakek),  yang berbeda dengan keluarga kami yang sudah meninggal yang sesajennya diletakan di atas balai Bale Dangin dan dengan tatakan dulang. 

Sebagai anak perempuan paling kecil dalam keluarga, sayalah yang merasakan paling sering dibebankan untuk mabanten. Ada gejolak protes dalam dada yang selalu saya rasakan.  Beberapa protes yang meluncur sebagai pertanyaan tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan saat ditanyakan kepada ibu, bapak,  bibi,  nenek,  kakek, maupun ketiga kakak saya. “Kenapa saya yang harus mebanten? ”  Pertanyaan itu dengan spontan dijawab oleh kakak-kakak saya. 

“Karena kamu anak perempuan terkecil, ” kata mereka serentak.

“Karena kamu belum datang bulan, “tambah kedua kakak perempuan saya. 

Kedua jawab itu tak pernah memuaskan saya,  apalagi kemudian setelah saya beranjak remaja dan dewasa,  tugas mabanten tetap dibebankan kepada saya.  Tapi saya berusaha membuat jawaban sendiri untuk sekadar memuaskan  pertanyaan  bahwa mungkin dulu kakak-kakak sayalah yang bertugas mabanten secara berurutan dari yang paling besar sebelum saya lahir. 

Oke,  saya masih bisa merasa puas dengan pertanyaan dan jawaban yang saya produksi sendiri.  Tapi pertanyaan selanjutnya tentang ” kenapa harus mabanten” tak pernah sekalipun saya dapatkan jawaban yang memuaskan,  bahkan sampai usia dewasa dan menua. Tak pernah saya mendapatkan jawaban yang memuaskan,  juga dari diri sendiri.

Pertanyaan ketiga adalah pertanyaan yang melahirkan  pertanyaan-pertanyaan berikutnya,  yang makin panjang dan panjang,  yang seringkali membuat saya tersesat dalam rimba raya,  dalam samudra ketidaktahuan yang luas,  dalam,  dingin dan bergelombang. 

“Siapa Pekak itu,  kenapa harus diberi sesajian,  kenapa harus di lantai,  apa bedanya dengan  yang sudah meninggal lainnya,  kenapa sisa sesajennya tak bisa dimakan,  apakah roh itu berbeda,  kenapa sesajen harus dibedakan? ”  Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menguntit dan mengikuti perkembangan usia saya,  pergaulan,  dan pelajaran demi pelajaran yang saya terima.  Mungkin tanpa sadar,  saya terobsesi dengan pertanyaan-pertanyaan masa kecil,  tentang  mabanten, banten,  dan perbedaan-perbedaannya. 

Saya ingat betul suatu ketika saat ada upacara memukur,  kakek dengan bangga mengajak saya memperhatikan puspalingga-puspalingga dari masing-masing roh orang-orang yang sudah meninggal yang akan diupacarai.

“Itu puspalinggga nenekmu yang paling depan,  di sebelah kiri,  dan di depan kanan adalah bibiku, ” kata Kakek bangga.  Saya memandang heran pada kebanggan kakek yang menyebut di depan,  yang membedakan kiri dan kanan untuk laki dan perempuan.

“Kenapa ada perbedaan depan belakang,  kiri dan kanan untuk roh? ” tanya saya polos.  Kakek diam,  tak berkata apa-apa lagi,  tak menunjukan apa-apa lagi sampai acara berakhir.  Saya pikir kakek mungkin marah pada saya,  tetapi saya juga tak merasa ada yang salah dengan pertanyaan saya.  Pertanyaan anak kecil yang ingin tahu,  yang masih saya ingat sampai sekarang,  sambil senyum-senyum dikulum. 

Mungkin pertanyaan-pertanyaan dan kelakuan-kelakuan saya di masa kecil sangat merepotkan  keluarga dan lingkungan saya.  Mungkin itu sebabnya diam-diam ibu saya bertanya pada orang-orang pintar,  tentang saya dan syukurnya para balian itu kompak mengatakan saya baik-baik saja,  dan tak memerlukan upacara ruwatan yang memerlukan biaya besar. 

Tentang sesajen untuk Pekak itu akhirnya saya mendapatkan jawaban awal,  yang menjadi dasar pertanyaan dan pencarian jawaban-jawaban selanjutnya. 

“Pekak itu adalah seorang abdi kesayangan leluhur kita,  saking sayangnya leluhur kita padanya,  membuat banyak yang iri. Suatu hari, abdi kesayangan itu mengambil galah untuk mencari bunga cempaka yang setiap hari dilakukannya.  Galah itu ada di sisi gedong,  tempat tidur permaisuri. Pengambilan galah di sisi gedong itulah yang dilaporkan  kepada raja oleh orang yang iri. Abdi itu dikatakan telah berselingkuh dengan permaisuri.  Raja membunuh abdi kesayangan itu, tanpa mendengar penjelasan permaisuri yang sedih.  Tapi nasi sudah menjadi bubur,  abdi itu sudah meninggal.  Keluarga kita dikutuk oleh orang tua si abdi, selama tujuh turunan para lelaki di puri ini tak akan ada yang beres dan perempuannya akan selalu didera kesedihan, ” Ibu menangis menceritakannya.  Ibu seperti menemukan alasan pembenar atas kesedihan-kesedihannya selama ini. Ibu sama sekali tak menyalahkan bapak,  paman,  bibi,  kakak ataupun yang lain-lain atas ketidakadilan yang menimpa ibu selama ini.

Ingin sekali saya menyeka air mata ibu. Tapi saya tahu itu tak akan mampu menghilangkan beban kutukan masa lalu yang dipercayainya. Yang bisa saya lakukan adalah dengan setia dan penuh rasa hormat menghaturkan sesajen pada Pekak dengan semangat dan keriangan yang berbeda. Saya juga mengubah kebiasaan menghaturkan sesajen di lantai untuk Pekak. Sejak itu  saya samakan tempatnya dengan leluhur yang lain dan saya nikmati sisa sesajennya.

Tak ada yang protes dengan apa yang saya lakukan, karena semua saya lakukan sendiri dengan keyakinan sendiri pula. Bagi saya roh Pekak abdi itu suci,  mungkin jauh lebih suci dari beberapa leluhur yang telah diaben dengan upacara besar. Secara tidak langsung Pekak abdi itu telah mengajarkan saya tentang kesucian roh seseorang yang tidak terkait dengan status sosialnya di dalam masyarakat.

Tentang menghaturkan sesajen yang banyak dan beraneka ragam, sungguh sampai saat ini masih tidak saya pahami betul. Atau boleh dikatakan saya belum menemukan  jawaban yang benar-benar memuaskan pertanyaan-pertanyaan yang muncul tenggelam dalam benak saya. Walaupun begitu saya, tetap menghaturkan sesajen dengan bersemangat dan riang, dengan tujuan untuk menyenangkan ibu, keluarga, famili dan terutama pembantu saya yang membuatkan sesaji dengan semangat dan penuh rasa tanggungjawab.  Hanya sedikit hal yang dapat saya petik dari rutinitas dan ketulusan saya menghaturkan sesaji selama berpuluh tahun,  yaitu saya terlatih untuk berkonsentrasi,  bersikap tulus dan terbiasa meyakini kekuatan semesta yang maha dasyat. Saya sungguh-sungguh merasa sangat beruntung karena kewajiban menghaturkan sesaji yang saya lakukan sejak kecil tanpa saya sadari telah berbuah, hasilnya yang berlimpah bisa saya petik saat ini.

Saya juga merasa beruntung diberikan cerita tentang Pekak, abdi tanpa dosa yang dibunuh leluhur saya itu, yang telah memancing pertanyaan-pertanyaan seputar roh dan persamaan mahluk yang walau tertatih saya coba terapkan. Belakangan saya paham,  mungkin karena rasa bersalah yang besar,  leluhur saya membuat pertapaan di kampung atau rumah Pekak abdi tersebut,  yang dalam waktu selanjutnya justru memberikan kekuatan pada leluhur saya untuk mengalahkan kerajaan-kerajaan lain dan menperluas kekuasaan. 

Leluhur saya sudah bersalah pada Pekak abdi itu. Kesalahan bisa menimpa siapa saja, tetapi menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikilah yang harus selalu diusahakan. Mungkin tak akan menghasilkan sesuatu yang hebat, tapi paling tidak kita telah mengakui kesalahan, itu artinya kita berusaha menerima diri kita, baik dan buruknya. Ini adalah modal kita untuk melangkah, memasuki masa depan. Selamat Tahun Baru 2020. [T]

Tags: sesajentahun baruupacara
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Menanti Kritik yang Lebih Tajam – Catatan Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha

Next Post

Pameran Anala Collective “Illegal Trade” – Kecenderungan Berbeda dalam Membangun Kesenian di Bali

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Anala Collective “Illegal Trade” –  Kecenderungan Berbeda dalam Membangun Kesenian di Bali

Pameran Anala Collective “Illegal Trade” - Kecenderungan Berbeda dalam Membangun Kesenian di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co