3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sesajen untuk Pekak – [Refleksi Tahun Baru 2020]

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
January 2, 2020
in Esai
Sesajen untuk Pekak – [Refleksi Tahun Baru 2020]

Ilustrasi Foto: Widnyana Sudibya

Setiap hari raya,  setiap menghaturkan sesajen,  keluarga kami selalu menghaturkan satu sesajen di lantai Bale Dangin.  Sesajen itu diperuntukan  bagi Pakek (kakek),  yang berbeda dengan keluarga kami yang sudah meninggal yang sesajennya diletakan di atas balai Bale Dangin dan dengan tatakan dulang. 

Sebagai anak perempuan paling kecil dalam keluarga, sayalah yang merasakan paling sering dibebankan untuk mabanten. Ada gejolak protes dalam dada yang selalu saya rasakan.  Beberapa protes yang meluncur sebagai pertanyaan tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan saat ditanyakan kepada ibu, bapak,  bibi,  nenek,  kakek, maupun ketiga kakak saya. “Kenapa saya yang harus mebanten? ”  Pertanyaan itu dengan spontan dijawab oleh kakak-kakak saya. 

“Karena kamu anak perempuan terkecil, ” kata mereka serentak.

“Karena kamu belum datang bulan, “tambah kedua kakak perempuan saya. 

Kedua jawab itu tak pernah memuaskan saya,  apalagi kemudian setelah saya beranjak remaja dan dewasa,  tugas mabanten tetap dibebankan kepada saya.  Tapi saya berusaha membuat jawaban sendiri untuk sekadar memuaskan  pertanyaan  bahwa mungkin dulu kakak-kakak sayalah yang bertugas mabanten secara berurutan dari yang paling besar sebelum saya lahir. 

Oke,  saya masih bisa merasa puas dengan pertanyaan dan jawaban yang saya produksi sendiri.  Tapi pertanyaan selanjutnya tentang ” kenapa harus mabanten” tak pernah sekalipun saya dapatkan jawaban yang memuaskan,  bahkan sampai usia dewasa dan menua. Tak pernah saya mendapatkan jawaban yang memuaskan,  juga dari diri sendiri.

Pertanyaan ketiga adalah pertanyaan yang melahirkan  pertanyaan-pertanyaan berikutnya,  yang makin panjang dan panjang,  yang seringkali membuat saya tersesat dalam rimba raya,  dalam samudra ketidaktahuan yang luas,  dalam,  dingin dan bergelombang. 

“Siapa Pekak itu,  kenapa harus diberi sesajian,  kenapa harus di lantai,  apa bedanya dengan  yang sudah meninggal lainnya,  kenapa sisa sesajennya tak bisa dimakan,  apakah roh itu berbeda,  kenapa sesajen harus dibedakan? ”  Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menguntit dan mengikuti perkembangan usia saya,  pergaulan,  dan pelajaran demi pelajaran yang saya terima.  Mungkin tanpa sadar,  saya terobsesi dengan pertanyaan-pertanyaan masa kecil,  tentang  mabanten, banten,  dan perbedaan-perbedaannya. 

Saya ingat betul suatu ketika saat ada upacara memukur,  kakek dengan bangga mengajak saya memperhatikan puspalingga-puspalingga dari masing-masing roh orang-orang yang sudah meninggal yang akan diupacarai.

“Itu puspalinggga nenekmu yang paling depan,  di sebelah kiri,  dan di depan kanan adalah bibiku, ” kata Kakek bangga.  Saya memandang heran pada kebanggan kakek yang menyebut di depan,  yang membedakan kiri dan kanan untuk laki dan perempuan.

“Kenapa ada perbedaan depan belakang,  kiri dan kanan untuk roh? ” tanya saya polos.  Kakek diam,  tak berkata apa-apa lagi,  tak menunjukan apa-apa lagi sampai acara berakhir.  Saya pikir kakek mungkin marah pada saya,  tetapi saya juga tak merasa ada yang salah dengan pertanyaan saya.  Pertanyaan anak kecil yang ingin tahu,  yang masih saya ingat sampai sekarang,  sambil senyum-senyum dikulum. 

Mungkin pertanyaan-pertanyaan dan kelakuan-kelakuan saya di masa kecil sangat merepotkan  keluarga dan lingkungan saya.  Mungkin itu sebabnya diam-diam ibu saya bertanya pada orang-orang pintar,  tentang saya dan syukurnya para balian itu kompak mengatakan saya baik-baik saja,  dan tak memerlukan upacara ruwatan yang memerlukan biaya besar. 

Tentang sesajen untuk Pekak itu akhirnya saya mendapatkan jawaban awal,  yang menjadi dasar pertanyaan dan pencarian jawaban-jawaban selanjutnya. 

“Pekak itu adalah seorang abdi kesayangan leluhur kita,  saking sayangnya leluhur kita padanya,  membuat banyak yang iri. Suatu hari, abdi kesayangan itu mengambil galah untuk mencari bunga cempaka yang setiap hari dilakukannya.  Galah itu ada di sisi gedong,  tempat tidur permaisuri. Pengambilan galah di sisi gedong itulah yang dilaporkan  kepada raja oleh orang yang iri. Abdi itu dikatakan telah berselingkuh dengan permaisuri.  Raja membunuh abdi kesayangan itu, tanpa mendengar penjelasan permaisuri yang sedih.  Tapi nasi sudah menjadi bubur,  abdi itu sudah meninggal.  Keluarga kita dikutuk oleh orang tua si abdi, selama tujuh turunan para lelaki di puri ini tak akan ada yang beres dan perempuannya akan selalu didera kesedihan, ” Ibu menangis menceritakannya.  Ibu seperti menemukan alasan pembenar atas kesedihan-kesedihannya selama ini. Ibu sama sekali tak menyalahkan bapak,  paman,  bibi,  kakak ataupun yang lain-lain atas ketidakadilan yang menimpa ibu selama ini.

Ingin sekali saya menyeka air mata ibu. Tapi saya tahu itu tak akan mampu menghilangkan beban kutukan masa lalu yang dipercayainya. Yang bisa saya lakukan adalah dengan setia dan penuh rasa hormat menghaturkan sesajen pada Pekak dengan semangat dan keriangan yang berbeda. Saya juga mengubah kebiasaan menghaturkan sesajen di lantai untuk Pekak. Sejak itu  saya samakan tempatnya dengan leluhur yang lain dan saya nikmati sisa sesajennya.

Tak ada yang protes dengan apa yang saya lakukan, karena semua saya lakukan sendiri dengan keyakinan sendiri pula. Bagi saya roh Pekak abdi itu suci,  mungkin jauh lebih suci dari beberapa leluhur yang telah diaben dengan upacara besar. Secara tidak langsung Pekak abdi itu telah mengajarkan saya tentang kesucian roh seseorang yang tidak terkait dengan status sosialnya di dalam masyarakat.

Tentang menghaturkan sesajen yang banyak dan beraneka ragam, sungguh sampai saat ini masih tidak saya pahami betul. Atau boleh dikatakan saya belum menemukan  jawaban yang benar-benar memuaskan pertanyaan-pertanyaan yang muncul tenggelam dalam benak saya. Walaupun begitu saya, tetap menghaturkan sesajen dengan bersemangat dan riang, dengan tujuan untuk menyenangkan ibu, keluarga, famili dan terutama pembantu saya yang membuatkan sesaji dengan semangat dan penuh rasa tanggungjawab.  Hanya sedikit hal yang dapat saya petik dari rutinitas dan ketulusan saya menghaturkan sesaji selama berpuluh tahun,  yaitu saya terlatih untuk berkonsentrasi,  bersikap tulus dan terbiasa meyakini kekuatan semesta yang maha dasyat. Saya sungguh-sungguh merasa sangat beruntung karena kewajiban menghaturkan sesaji yang saya lakukan sejak kecil tanpa saya sadari telah berbuah, hasilnya yang berlimpah bisa saya petik saat ini.

Saya juga merasa beruntung diberikan cerita tentang Pekak, abdi tanpa dosa yang dibunuh leluhur saya itu, yang telah memancing pertanyaan-pertanyaan seputar roh dan persamaan mahluk yang walau tertatih saya coba terapkan. Belakangan saya paham,  mungkin karena rasa bersalah yang besar,  leluhur saya membuat pertapaan di kampung atau rumah Pekak abdi tersebut,  yang dalam waktu selanjutnya justru memberikan kekuatan pada leluhur saya untuk mengalahkan kerajaan-kerajaan lain dan menperluas kekuasaan. 

Leluhur saya sudah bersalah pada Pekak abdi itu. Kesalahan bisa menimpa siapa saja, tetapi menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikilah yang harus selalu diusahakan. Mungkin tak akan menghasilkan sesuatu yang hebat, tapi paling tidak kita telah mengakui kesalahan, itu artinya kita berusaha menerima diri kita, baik dan buruknya. Ini adalah modal kita untuk melangkah, memasuki masa depan. Selamat Tahun Baru 2020. [T]

Tags: sesajentahun baruupacara
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Menanti Kritik yang Lebih Tajam – Catatan Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha

Next Post

Pameran Anala Collective “Illegal Trade” – Kecenderungan Berbeda dalam Membangun Kesenian di Bali

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Anala Collective “Illegal Trade” –  Kecenderungan Berbeda dalam Membangun Kesenian di Bali

Pameran Anala Collective “Illegal Trade” - Kecenderungan Berbeda dalam Membangun Kesenian di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co