23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sesajen untuk Pekak – [Refleksi Tahun Baru 2020]

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
January 2, 2020
in Esai
Sesajen untuk Pekak – [Refleksi Tahun Baru 2020]

Ilustrasi Foto: Widnyana Sudibya

Setiap hari raya,  setiap menghaturkan sesajen,  keluarga kami selalu menghaturkan satu sesajen di lantai Bale Dangin.  Sesajen itu diperuntukan  bagi Pakek (kakek),  yang berbeda dengan keluarga kami yang sudah meninggal yang sesajennya diletakan di atas balai Bale Dangin dan dengan tatakan dulang. 

Sebagai anak perempuan paling kecil dalam keluarga, sayalah yang merasakan paling sering dibebankan untuk mabanten. Ada gejolak protes dalam dada yang selalu saya rasakan.  Beberapa protes yang meluncur sebagai pertanyaan tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan saat ditanyakan kepada ibu, bapak,  bibi,  nenek,  kakek, maupun ketiga kakak saya. “Kenapa saya yang harus mebanten? ”  Pertanyaan itu dengan spontan dijawab oleh kakak-kakak saya. 

“Karena kamu anak perempuan terkecil, ” kata mereka serentak.

“Karena kamu belum datang bulan, “tambah kedua kakak perempuan saya. 

Kedua jawab itu tak pernah memuaskan saya,  apalagi kemudian setelah saya beranjak remaja dan dewasa,  tugas mabanten tetap dibebankan kepada saya.  Tapi saya berusaha membuat jawaban sendiri untuk sekadar memuaskan  pertanyaan  bahwa mungkin dulu kakak-kakak sayalah yang bertugas mabanten secara berurutan dari yang paling besar sebelum saya lahir. 

Oke,  saya masih bisa merasa puas dengan pertanyaan dan jawaban yang saya produksi sendiri.  Tapi pertanyaan selanjutnya tentang ” kenapa harus mabanten” tak pernah sekalipun saya dapatkan jawaban yang memuaskan,  bahkan sampai usia dewasa dan menua. Tak pernah saya mendapatkan jawaban yang memuaskan,  juga dari diri sendiri.

Pertanyaan ketiga adalah pertanyaan yang melahirkan  pertanyaan-pertanyaan berikutnya,  yang makin panjang dan panjang,  yang seringkali membuat saya tersesat dalam rimba raya,  dalam samudra ketidaktahuan yang luas,  dalam,  dingin dan bergelombang. 

“Siapa Pekak itu,  kenapa harus diberi sesajian,  kenapa harus di lantai,  apa bedanya dengan  yang sudah meninggal lainnya,  kenapa sisa sesajennya tak bisa dimakan,  apakah roh itu berbeda,  kenapa sesajen harus dibedakan? ”  Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menguntit dan mengikuti perkembangan usia saya,  pergaulan,  dan pelajaran demi pelajaran yang saya terima.  Mungkin tanpa sadar,  saya terobsesi dengan pertanyaan-pertanyaan masa kecil,  tentang  mabanten, banten,  dan perbedaan-perbedaannya. 

Saya ingat betul suatu ketika saat ada upacara memukur,  kakek dengan bangga mengajak saya memperhatikan puspalingga-puspalingga dari masing-masing roh orang-orang yang sudah meninggal yang akan diupacarai.

“Itu puspalinggga nenekmu yang paling depan,  di sebelah kiri,  dan di depan kanan adalah bibiku, ” kata Kakek bangga.  Saya memandang heran pada kebanggan kakek yang menyebut di depan,  yang membedakan kiri dan kanan untuk laki dan perempuan.

“Kenapa ada perbedaan depan belakang,  kiri dan kanan untuk roh? ” tanya saya polos.  Kakek diam,  tak berkata apa-apa lagi,  tak menunjukan apa-apa lagi sampai acara berakhir.  Saya pikir kakek mungkin marah pada saya,  tetapi saya juga tak merasa ada yang salah dengan pertanyaan saya.  Pertanyaan anak kecil yang ingin tahu,  yang masih saya ingat sampai sekarang,  sambil senyum-senyum dikulum. 

Mungkin pertanyaan-pertanyaan dan kelakuan-kelakuan saya di masa kecil sangat merepotkan  keluarga dan lingkungan saya.  Mungkin itu sebabnya diam-diam ibu saya bertanya pada orang-orang pintar,  tentang saya dan syukurnya para balian itu kompak mengatakan saya baik-baik saja,  dan tak memerlukan upacara ruwatan yang memerlukan biaya besar. 

Tentang sesajen untuk Pekak itu akhirnya saya mendapatkan jawaban awal,  yang menjadi dasar pertanyaan dan pencarian jawaban-jawaban selanjutnya. 

“Pekak itu adalah seorang abdi kesayangan leluhur kita,  saking sayangnya leluhur kita padanya,  membuat banyak yang iri. Suatu hari, abdi kesayangan itu mengambil galah untuk mencari bunga cempaka yang setiap hari dilakukannya.  Galah itu ada di sisi gedong,  tempat tidur permaisuri. Pengambilan galah di sisi gedong itulah yang dilaporkan  kepada raja oleh orang yang iri. Abdi itu dikatakan telah berselingkuh dengan permaisuri.  Raja membunuh abdi kesayangan itu, tanpa mendengar penjelasan permaisuri yang sedih.  Tapi nasi sudah menjadi bubur,  abdi itu sudah meninggal.  Keluarga kita dikutuk oleh orang tua si abdi, selama tujuh turunan para lelaki di puri ini tak akan ada yang beres dan perempuannya akan selalu didera kesedihan, ” Ibu menangis menceritakannya.  Ibu seperti menemukan alasan pembenar atas kesedihan-kesedihannya selama ini. Ibu sama sekali tak menyalahkan bapak,  paman,  bibi,  kakak ataupun yang lain-lain atas ketidakadilan yang menimpa ibu selama ini.

Ingin sekali saya menyeka air mata ibu. Tapi saya tahu itu tak akan mampu menghilangkan beban kutukan masa lalu yang dipercayainya. Yang bisa saya lakukan adalah dengan setia dan penuh rasa hormat menghaturkan sesajen pada Pekak dengan semangat dan keriangan yang berbeda. Saya juga mengubah kebiasaan menghaturkan sesajen di lantai untuk Pekak. Sejak itu  saya samakan tempatnya dengan leluhur yang lain dan saya nikmati sisa sesajennya.

Tak ada yang protes dengan apa yang saya lakukan, karena semua saya lakukan sendiri dengan keyakinan sendiri pula. Bagi saya roh Pekak abdi itu suci,  mungkin jauh lebih suci dari beberapa leluhur yang telah diaben dengan upacara besar. Secara tidak langsung Pekak abdi itu telah mengajarkan saya tentang kesucian roh seseorang yang tidak terkait dengan status sosialnya di dalam masyarakat.

Tentang menghaturkan sesajen yang banyak dan beraneka ragam, sungguh sampai saat ini masih tidak saya pahami betul. Atau boleh dikatakan saya belum menemukan  jawaban yang benar-benar memuaskan pertanyaan-pertanyaan yang muncul tenggelam dalam benak saya. Walaupun begitu saya, tetap menghaturkan sesajen dengan bersemangat dan riang, dengan tujuan untuk menyenangkan ibu, keluarga, famili dan terutama pembantu saya yang membuatkan sesaji dengan semangat dan penuh rasa tanggungjawab.  Hanya sedikit hal yang dapat saya petik dari rutinitas dan ketulusan saya menghaturkan sesaji selama berpuluh tahun,  yaitu saya terlatih untuk berkonsentrasi,  bersikap tulus dan terbiasa meyakini kekuatan semesta yang maha dasyat. Saya sungguh-sungguh merasa sangat beruntung karena kewajiban menghaturkan sesaji yang saya lakukan sejak kecil tanpa saya sadari telah berbuah, hasilnya yang berlimpah bisa saya petik saat ini.

Saya juga merasa beruntung diberikan cerita tentang Pekak, abdi tanpa dosa yang dibunuh leluhur saya itu, yang telah memancing pertanyaan-pertanyaan seputar roh dan persamaan mahluk yang walau tertatih saya coba terapkan. Belakangan saya paham,  mungkin karena rasa bersalah yang besar,  leluhur saya membuat pertapaan di kampung atau rumah Pekak abdi tersebut,  yang dalam waktu selanjutnya justru memberikan kekuatan pada leluhur saya untuk mengalahkan kerajaan-kerajaan lain dan menperluas kekuasaan. 

Leluhur saya sudah bersalah pada Pekak abdi itu. Kesalahan bisa menimpa siapa saja, tetapi menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikilah yang harus selalu diusahakan. Mungkin tak akan menghasilkan sesuatu yang hebat, tapi paling tidak kita telah mengakui kesalahan, itu artinya kita berusaha menerima diri kita, baik dan buruknya. Ini adalah modal kita untuk melangkah, memasuki masa depan. Selamat Tahun Baru 2020. [T]

Tags: sesajentahun baruupacara
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Menanti Kritik yang Lebih Tajam – Catatan Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha

Next Post

Pameran Anala Collective “Illegal Trade” – Kecenderungan Berbeda dalam Membangun Kesenian di Bali

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Anala Collective “Illegal Trade” –  Kecenderungan Berbeda dalam Membangun Kesenian di Bali

Pameran Anala Collective “Illegal Trade” - Kecenderungan Berbeda dalam Membangun Kesenian di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co