6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Wayan Purne by Wayan Purne
December 18, 2019
in Dongeng
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Pisau telentang di meja dapur. Di sampingnya, Mangga terkapar tak bergeming. Wajah Pisau merona merah cemburu pada langit sore. Ulat menggeliat cemas di daging Mangga menunggu irisan Sang Pisau. Tiba-tiba tangan berjemari lentik mengambil Sang Pisau. Ia tancapkan membelah Mangga itu.

“Aku takkan makan Mangga ini.”

Jemari lentik itu meletakkan kembali Sang Pisau di meja. Di sampingnya, terdengar teriakan Ulat sayup-sayup di antara belahan Mangga.

“Nyaris saja tubuhku ikut terpotong.”

Ulat menggerak-gerakkan tubuhnya ke bagian daging Mangga yang berair.

Rona merah wajah Sang Pisau di antara belahan Mangga. Kecemburuannya pada langit sore telah sirna.

“Aduhhh. Ada apa dengan biji tubuhku?”

Mangga bangun meringis dari lamunannya. Ia merasakan perih di biji tunasnya.

“Kamu tadi tertancap Sang Pisau,” ucap Ulat yang masih menggerogoti daging Mangga. Ia mengerti kalau Si Mangga baru sadar akan keadaan dirinya.

“Mengapa tidak kamu cegah Sang Pisau menancap di biji tubuhku? Aku sudah memberikan semua isi dagingku kepadamu,” keluh Si Mangga.

“Mana mungkin aku berani menghadang kegarangan Sang Pisau yang sudah dirasuki oleh ketamakan roh manusia,” sanggah Ulat membela diri.

“Paling tidak, kamu berteriak agar didengar oleh Sang Pisau,” gerutu Si Mangga.

“Tahukah kamu, Mangga? Kalau sudah berada di genggaman jemari manusia, Sang Pisau akan mati rasa tak mendengar apupun itu,” terang Ulat.

“Ternyata begitu Sang Pisau,” gumam Si Mangga meringis.

“Tahukah kamu, Mangga? Manusia adalah mahluk yang aneh. Ia mengumpulkan semua hal yang tidak dibutuhkannya, tetapi menghancurkan semuanya sebagai kekenyangan batinnya,” ucap Ulat mempertegas pemikirannya.

Sang Pisau masih telentang di meja dapur yang telah kehilangan jati dirinya. Di sebelahnya, Si Mangga dan Ulat termenung menunggu nasibnya di dapur mewah itu.

Si tangan jemari lentik menggenggap kantong plastik. Ia letakkan plastik itu dengan mulut menganga yang siap menelan apapun yang masuk.

“Seharusnya, aku tidak salah memilihmu. Mengapa kamu harus terbawa ke dapurku ini?”

Si Mangga dimasukkan ke dalam kantong plastik itu. Tanpa perlawanan, Si Mangga dan Ulat terbungkus plastik. Udara tak diijinkan lagi masuk memberikan napas kehidupan bagi Ulat. Ulat hanya berteriak-teriak memantulkan suaranya sendiri di dinding plastik itu. Jika pun suaranya mampu menembus dinding plastik itu, suara Ulat tidak akan pernah dimengerti oleh manusia berjemari lentik itu. Manusia berjemari lentik itu hanya akan mengerti suara keuntungan.

“Mangga, apa yang harus kita lakukan?” ucap Ulat mangap-mangap mulai kehabisan udara.

“Kita tidak perlu melakukan apapun. Kita tidak sedang berada di tanah kehidupan, tetapi kita berada di tangan puncak kejeniusan Manusia.” sahut Si Mangga seolah-olah sudah sadar telah mencapai nirwana. Nirwana yang membawa dirinya tak lagi bereinkarnasi menjadi tunas yang tumbuh besar dan berbuah manis. Buah manis yang akan selalu ditunggu-tunggu oleh kicauan merdu burung-burung. Mungkin saja, semua kicauan burung sudah diawetkan oleh para manusia jenius.

Weessssssssssssss, buuuuk! Bungkusan plastik itu melesat di antara rerumputan di tanah lembab.

“Aduhhh, apa yang menimpaku ini?” ucap anak-anak cacing kaget.

“Nak, menjauh dari bukusan benda itu,” pinta Ibu Cacing berteriak dari kejauhan.

“Memang kenapa, Bu?” tanya anak-anak cacing bingung dengan permintaan ibunya.

“Itu adalah plastik, Nak. Jika sampai menyentuh dan menelan plastik itu, kamu akan sakit perut seperti ayahmu. Ayahmu akhirnya meninggalkan kita,” terang Ibu Cacing.

“Ya, Bu.” Si anak-anak cacing menjauh dari bungkusan plastik itu. Bungkusan yang mungkin tak pernah ia ketahui isinya.

“Nak, ayo kita pindah dari sini!” pinta Ibu Cacing.

“Mengapa harus pindah dari sini, Bu? Di sini masih banyak makanan, Bu,” protes si anak-anak cacing.

“Jika kita terus ada di tempat ini, lama-kelamaan sampah plasti akan menumpuk di sini,” jawab Ibu Cacing.

“Mengapa bisa numpuk banyak sampah, Bu? Padahal itu cuman ada satu plastik,” si anak-anak cacing masih protes.

“Kalau sudah sekali ada yang membuang sampah plastik di sini, sampah-sampah plastik lainnya akan ikut dibuang di sini,” terang Ibu Cacing memperjelas.

“Oh, begitu ya Bu.”

Si Cacing-cacing mulai berkemas-kemas siap pindah mencari tempat baru.

“Nak, kita harus pindah ke tempat tidak ada manusianya. Jika kita tinggal di dekat pemukiman manusia, bencana akan selalu lebih cepat mendekat,” ucap Ibu Cacing.

Si anak-anak Cacing hanya bisa mengangguk tidak mengerti dengan maksud perkataan ibunya. Mereka pergi jauh mencari hutan belantara dengan harapan tak terusik. Tak terusik oleh penyakit kangker bumi. Penyakit kangker yang paling menakutkan merupakan manusia.

Buuk! Sebuah bungkusan plastik bergulung-gulung jatuh terkapar di dekat Mangga.

“Suara apa itu? Seperti ada yang jatuh?” ucap Ulat kaget menggeliat lemah. Mangga membuka matanya, “Itu teman baru kita.”

“Mengapa semua ini terjadi kepada kehidupan kita?” keluh Ulat.

“Selama kita dipikirkan sebagai bagian dari makanan dan keuntungan manusia, maka selama itu kita dianggap sebagai penyakit yang dibuang begitu saja. Anggapan itu akan menjadi kenyataan sesuai harapan manusia,” terang Mangga seolah-olah sudah melihat masa depan manusia.

“Oh, sungguh menyedikan kita hidup di tengah kejeniusan manusia,” gumam Ulat.

Puluhan tahun Ulat dan Mangga terkurung di tempat itu. Silih berganti, ia kedatangan teman senasib. Tidak membutuhkan waktu ratusan tahun, mereka menjelma sebagai gunung yang telah lama mendendam. Dendam yang siap meledak memuntahkan miliaran malaikat pencabut nyawa.

Kini datanglah lagi si tangan jemari lentik terkekeh-kekeh ke tempat itu. Jemarinya tak lagi lentik. Ia tak mampu menggenggam erat pisaunya, tetapi Sang Pisau masih berpegangan erat di jemarinya. Sang Pisau tampak semakin muram.

“Aku tidak membutuhkanmu lagi. Aku akan membebaskanmu dari genggaman ini. Toh, tidak ada lagi yang bisa dipotong atau ditancapkan,” ucap si jemari lentik sebagai perpisahan.

Dilemparnya pisau itu.  Sang Pisau menancap di pingggul gunung itu.

“Sekarang kita bebas, Mangga. Kita sekarang memiliki tubuh baru. Ini adalah hasil nasihat dan kesabaranmu Mangga,” teriak Ulat. Akan tetapi, Mangga tidak menghiraukan ucapan si Ulat. Mangga hanya berkonsentrasi membentuk cakra nirwana dengan tubuhnya sendiri.

“Dengan tubuh cakra nirwana ini, aku akan menelan semua ruang dan waktu,” ucap Mangga.

Tubuh cakra nirwana itu membentuk pusaran besar. Semua yang ada di dalam ruang dan waktu tertelan oleh tubuh cakra nirwana itu. Ruang dan waktu telah tertelan. Menjadi gelap. Tubuh cakra nirwana menjadi titik nirwana. Titik Nirwana melahirkan kemurnian ruang dan waktu yang baru. Semoga manusia tidak lagi tercipta! [T]

Tags: dongengPendidikanpendidikan usia dinisampah plastik
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Zaman Patung Bali Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Tabu Dan Batasan-Batasan yang Mengekang Tubuh

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 5, 2025
0
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

ADA satu danau  berbentuk hati. Danau itu punya air biru jernih. Di sekitar danau tinggallah seekor capung bersama keluarga serangga:...

Read moreDetails
Next Post
Tabu Dan Batasan-Batasan yang Mengekang Tubuh

Tabu Dan Batasan-Batasan yang Mengekang Tubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co