3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Patung Bali Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 17, 2019
in Esai
Zaman Patung Bali Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Foto-foto: Istimewa

Ada jaman dimana patung Bali membaca lontar.

Ya banyak. Tersebar di berbagai belahan dunia.

Begitulalah yang tertangkap seniman patung di Bali era tahun sebelum kemerdekaan. Era sebelum Belanda masuk Bali, sekolahan non-formal dan proses pembelajaran tradisional di Bali banyak memakai lontar. Kegiatan baca tulis bermedia lontar. Inilah yang menginspirasi munculnya berbagai jenis patung kayu periode tahun 1930-an dengan tema pembaca lontar (lontar reader).

Sekitar tahun 1872 Belanda menguasai Bali Utara, dan akhirnya tahun 1906 sepulau Bali dikuasai, membuat Belanda mengolah akal menjadikan Bali destinasi pariwisata. Pariwisata membawa banyak perubahan perilaku masyakarat Bali, bukan lagi sebuah pertanyaan. Termasuk seni patung di Bali yang sebelumnya tidak terbayangkan menjadi mata pencarian sampai kini, dijual di galeri, toko seni dan pasar seni, bahkan diekspor dalam peti kemas.



Sekarang bagaimana nasib patung Bali baca lontar?

Seiring menghilangnya kemampuan baca tulis lontar di Bali, patung bertema baca lontar juga lenyap.

Mungkin: Pematungnya tidak membuat patung membaca lontar karena tak ada lagi pemandangan pembaca lontar di tengah masyarakat. Atau, jangan-jangan pematung sekarang malu karena patungnya baca lontar tapi dia sendiri tidak baca lontar?

Sekarang masih tersisa jejak berbagai patung Bali baca lontar lewat jejaring lelang online. Sebut saja salah satunya yang sangat besar: Christie’s Auctions & Private Sales (Rumah Lelang Christie’s) pun menjual patung Bali baca lontar. Laku cukup mahal. Padahal dulu “hanya cendera mata biasa”. Tapi begitulah, kualitas “cendera mata biasa” era itu dibuat tangan harus dan serius generasi seniman sejaman berdirinya Museum Pitamaha, zaman dimana seniman tradisionalnya tidak berbohong mengurangi mutu walaupun sekedar “cendera mata biasa”.

Ada yang celaka menjual patung Bali baca lontar?

Tidak. Yang celaka bukan hanya patung Bali baca lontar dijual, lontarnya warisan juga banyak dijajakan jadi cendera mata. Dijual pada pelancong.

Hooykaas (1979) mengenang bagaimana lontar dijual jadi cendera mata ketika Bali dibuka menjadi destinasi pariwisata, sekitar tahun 1914 secara formal. Terkhusus bagaimana menjamur, dimana-mana, lontar warisan dijajakan pada wisatawan bersamaan dengan era pengembangan jalan raya dan transportasi digenjot untuk mendukung pariwisata Bali tahun 1920-an.

Tulis Hooykaas:

“After the construction of metalled roads and iron bridges in Bali and the building of a hotel at Denpasar and a pasanggrahan in the hills at Kintamani by the Dutch Royal Mail Shipping Line KPM, tourists began to visit Bali. They proved eager buyers for the palmleaf MSS which the Balinese offered for sale.”

[Setelah pembangunan jalan keras dan jembatan baja di Bali dan pembangunan sebuah hotel di Denpasar dan pasanggrahan di perbukitan di Kintamani oleh KPM – Jasa Pejalanan Kapal Laut dan Paket milik Pemerintah Belanda, wisatawan mulai mengunjungi Bali. Mereka terbukti berminat membeli manuskrip lontar yang ditawarkan orang Bali untuk dijual].

Pemerintah Belanda bersama para cendikiawan Bali terjaga. Ini alarm bahaya untuk segera melakukan tindakan penyelamatan sebelum semua lontar Bali ludes diperjualbelikan sebagai cendera mata dan diboyong wisatawan asing yang datang dari antah berantah. Singkat cerita, digagaslah penyelamatan lontar, dan dibangun perpustakaan Gedong Kirtya.


Hookyaas menambahkan:

“In 1928 the Government, waking up to the situation, created a foundation (Kirtya) for the preservation of local MSS. A three-room building was erected in a corner of the grounds of the puri of the Anak Agung of Buleleng, himself a keen collector of MSS. In one room the copyists worked, in the second their copies were stored, and the third was reserved for interested readers, who came in a steady stream, as I witnessed almost daily for over two years (August 1939 to December 1941). Unquestionably thousands of Balinese visitors found their way to that reading-room, though perhaps less than one orientalist a year used the facilities offered by the Kirtya.”

[Pada tahun 1928 Pemerintah (baca: Pemerintah Kolonial Belanda), terjaga dengan situasi tersebut, mendirikan sebuah yayasan (Kirtya) untuk pelestarian manuskrip lontar lokal. Sebuah bangunan tiga kamar didirikan di sudut halaman puri Anak Agung Buleleng, yang merupakan kolektor manuskrip lontar yang sungguh. Dalam satu ruangan para penyalin lontar bekerja, di ruang kedua salinan mereka disimpan, dan dalam ruangan ketiga disediakan untuk para pembaca (pengunjung) yang tertarik, yang datang dengan arus kunjungan deras tiada henti, ketika saya menyaksikan hampir setiap hari ada pengunjung selama lebih dari dua tahun (Agustus 1939 hingga Desember 1941). Tak diragukan lagi, ribuan pengunjung Bali menemukan akses membaca lontar di ruang baca itu, meskipun mungkin kurang dari satu orientalis (orang asing) dalam setahun menggunakan fasilitas yang ditawarkan oleh Kirtya].

Ya, saya baru tersentak ketika membaca kesaksian Hooykaas, salah satu alasan kuat Perpustakaan Lontar Gedong Kirtya dibangun karena pariwisata dikhawatirkan menjadi ajang berjualan lontar warisan. Untungnya, sebagaimana kesaksian Hooykaas, ribuan pengunjung Bali berkunjung ke Gedong Kirtya di tahun 1939-1941. Saya juga menjadi berpikir dan menduga-duga kenapa cukup banyak lontar di griya-griya di Buleleng disalin sekitar tahun itu? Mungkinkah Gedong Kirtya menjadi pemicu penyalinan lontar di Buleleng di tahun sekitar itu? Berdasar kesaksian Hooykaas dan juga informasi lokal di Buleleng, memang Kirtya dimasanya adalah pusat pertemuan para cendikiawan saling mengkopi berbagai lontar yang kami warisi di Buleleng sampai saat ini.

Ironis memang, pariwisata bukan hanya membuat kemunculan patung-patung Bali membaca lontar, tapi juga membuat manusianya menjual lontar. Untunglah ada intelektual sadar manuskrip bergegas melakukan upaya nyata penyelamat lontar di Buleleng dan penuh dedikasi membangun Gedong Kirtya.

Catatan Harian, 17 Desember 2019.

Tags: lontarpatung balisastraSeni Rupazaman
Share271TweetSendShareSend
Previous Post

Tangani “Ciberbullying”: Jangan Andalkan Undang-Undang Saja

Next Post

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co