26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Patung Bali Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 17, 2019
in Esai
Zaman Patung Bali Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Foto-foto: Istimewa

Ada jaman dimana patung Bali membaca lontar.

Ya banyak. Tersebar di berbagai belahan dunia.

Begitulalah yang tertangkap seniman patung di Bali era tahun sebelum kemerdekaan. Era sebelum Belanda masuk Bali, sekolahan non-formal dan proses pembelajaran tradisional di Bali banyak memakai lontar. Kegiatan baca tulis bermedia lontar. Inilah yang menginspirasi munculnya berbagai jenis patung kayu periode tahun 1930-an dengan tema pembaca lontar (lontar reader).

Sekitar tahun 1872 Belanda menguasai Bali Utara, dan akhirnya tahun 1906 sepulau Bali dikuasai, membuat Belanda mengolah akal menjadikan Bali destinasi pariwisata. Pariwisata membawa banyak perubahan perilaku masyakarat Bali, bukan lagi sebuah pertanyaan. Termasuk seni patung di Bali yang sebelumnya tidak terbayangkan menjadi mata pencarian sampai kini, dijual di galeri, toko seni dan pasar seni, bahkan diekspor dalam peti kemas.



Sekarang bagaimana nasib patung Bali baca lontar?

Seiring menghilangnya kemampuan baca tulis lontar di Bali, patung bertema baca lontar juga lenyap.

Mungkin: Pematungnya tidak membuat patung membaca lontar karena tak ada lagi pemandangan pembaca lontar di tengah masyarakat. Atau, jangan-jangan pematung sekarang malu karena patungnya baca lontar tapi dia sendiri tidak baca lontar?

Sekarang masih tersisa jejak berbagai patung Bali baca lontar lewat jejaring lelang online. Sebut saja salah satunya yang sangat besar: Christie’s Auctions & Private Sales (Rumah Lelang Christie’s) pun menjual patung Bali baca lontar. Laku cukup mahal. Padahal dulu “hanya cendera mata biasa”. Tapi begitulah, kualitas “cendera mata biasa” era itu dibuat tangan harus dan serius generasi seniman sejaman berdirinya Museum Pitamaha, zaman dimana seniman tradisionalnya tidak berbohong mengurangi mutu walaupun sekedar “cendera mata biasa”.

Ada yang celaka menjual patung Bali baca lontar?

Tidak. Yang celaka bukan hanya patung Bali baca lontar dijual, lontarnya warisan juga banyak dijajakan jadi cendera mata. Dijual pada pelancong.

Hooykaas (1979) mengenang bagaimana lontar dijual jadi cendera mata ketika Bali dibuka menjadi destinasi pariwisata, sekitar tahun 1914 secara formal. Terkhusus bagaimana menjamur, dimana-mana, lontar warisan dijajakan pada wisatawan bersamaan dengan era pengembangan jalan raya dan transportasi digenjot untuk mendukung pariwisata Bali tahun 1920-an.

Tulis Hooykaas:

“After the construction of metalled roads and iron bridges in Bali and the building of a hotel at Denpasar and a pasanggrahan in the hills at Kintamani by the Dutch Royal Mail Shipping Line KPM, tourists began to visit Bali. They proved eager buyers for the palmleaf MSS which the Balinese offered for sale.”

[Setelah pembangunan jalan keras dan jembatan baja di Bali dan pembangunan sebuah hotel di Denpasar dan pasanggrahan di perbukitan di Kintamani oleh KPM – Jasa Pejalanan Kapal Laut dan Paket milik Pemerintah Belanda, wisatawan mulai mengunjungi Bali. Mereka terbukti berminat membeli manuskrip lontar yang ditawarkan orang Bali untuk dijual].

Pemerintah Belanda bersama para cendikiawan Bali terjaga. Ini alarm bahaya untuk segera melakukan tindakan penyelamatan sebelum semua lontar Bali ludes diperjualbelikan sebagai cendera mata dan diboyong wisatawan asing yang datang dari antah berantah. Singkat cerita, digagaslah penyelamatan lontar, dan dibangun perpustakaan Gedong Kirtya.


Hookyaas menambahkan:

“In 1928 the Government, waking up to the situation, created a foundation (Kirtya) for the preservation of local MSS. A three-room building was erected in a corner of the grounds of the puri of the Anak Agung of Buleleng, himself a keen collector of MSS. In one room the copyists worked, in the second their copies were stored, and the third was reserved for interested readers, who came in a steady stream, as I witnessed almost daily for over two years (August 1939 to December 1941). Unquestionably thousands of Balinese visitors found their way to that reading-room, though perhaps less than one orientalist a year used the facilities offered by the Kirtya.”

[Pada tahun 1928 Pemerintah (baca: Pemerintah Kolonial Belanda), terjaga dengan situasi tersebut, mendirikan sebuah yayasan (Kirtya) untuk pelestarian manuskrip lontar lokal. Sebuah bangunan tiga kamar didirikan di sudut halaman puri Anak Agung Buleleng, yang merupakan kolektor manuskrip lontar yang sungguh. Dalam satu ruangan para penyalin lontar bekerja, di ruang kedua salinan mereka disimpan, dan dalam ruangan ketiga disediakan untuk para pembaca (pengunjung) yang tertarik, yang datang dengan arus kunjungan deras tiada henti, ketika saya menyaksikan hampir setiap hari ada pengunjung selama lebih dari dua tahun (Agustus 1939 hingga Desember 1941). Tak diragukan lagi, ribuan pengunjung Bali menemukan akses membaca lontar di ruang baca itu, meskipun mungkin kurang dari satu orientalis (orang asing) dalam setahun menggunakan fasilitas yang ditawarkan oleh Kirtya].

Ya, saya baru tersentak ketika membaca kesaksian Hooykaas, salah satu alasan kuat Perpustakaan Lontar Gedong Kirtya dibangun karena pariwisata dikhawatirkan menjadi ajang berjualan lontar warisan. Untungnya, sebagaimana kesaksian Hooykaas, ribuan pengunjung Bali berkunjung ke Gedong Kirtya di tahun 1939-1941. Saya juga menjadi berpikir dan menduga-duga kenapa cukup banyak lontar di griya-griya di Buleleng disalin sekitar tahun itu? Mungkinkah Gedong Kirtya menjadi pemicu penyalinan lontar di Buleleng di tahun sekitar itu? Berdasar kesaksian Hooykaas dan juga informasi lokal di Buleleng, memang Kirtya dimasanya adalah pusat pertemuan para cendikiawan saling mengkopi berbagai lontar yang kami warisi di Buleleng sampai saat ini.

Ironis memang, pariwisata bukan hanya membuat kemunculan patung-patung Bali membaca lontar, tapi juga membuat manusianya menjual lontar. Untunglah ada intelektual sadar manuskrip bergegas melakukan upaya nyata penyelamat lontar di Buleleng dan penuh dedikasi membangun Gedong Kirtya.

Catatan Harian, 17 Desember 2019.

Tags: lontarpatung balisastraSeni Rupazaman
Share271TweetSendShareSend
Previous Post

Tangani “Ciberbullying”: Jangan Andalkan Undang-Undang Saja

Next Post

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co