2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Patung Bali Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 17, 2019
in Esai
Zaman Patung Bali Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Foto-foto: Istimewa

Ada jaman dimana patung Bali membaca lontar.

Ya banyak. Tersebar di berbagai belahan dunia.

Begitulalah yang tertangkap seniman patung di Bali era tahun sebelum kemerdekaan. Era sebelum Belanda masuk Bali, sekolahan non-formal dan proses pembelajaran tradisional di Bali banyak memakai lontar. Kegiatan baca tulis bermedia lontar. Inilah yang menginspirasi munculnya berbagai jenis patung kayu periode tahun 1930-an dengan tema pembaca lontar (lontar reader).

Sekitar tahun 1872 Belanda menguasai Bali Utara, dan akhirnya tahun 1906 sepulau Bali dikuasai, membuat Belanda mengolah akal menjadikan Bali destinasi pariwisata. Pariwisata membawa banyak perubahan perilaku masyakarat Bali, bukan lagi sebuah pertanyaan. Termasuk seni patung di Bali yang sebelumnya tidak terbayangkan menjadi mata pencarian sampai kini, dijual di galeri, toko seni dan pasar seni, bahkan diekspor dalam peti kemas.



Sekarang bagaimana nasib patung Bali baca lontar?

Seiring menghilangnya kemampuan baca tulis lontar di Bali, patung bertema baca lontar juga lenyap.

Mungkin: Pematungnya tidak membuat patung membaca lontar karena tak ada lagi pemandangan pembaca lontar di tengah masyarakat. Atau, jangan-jangan pematung sekarang malu karena patungnya baca lontar tapi dia sendiri tidak baca lontar?

Sekarang masih tersisa jejak berbagai patung Bali baca lontar lewat jejaring lelang online. Sebut saja salah satunya yang sangat besar: Christie’s Auctions & Private Sales (Rumah Lelang Christie’s) pun menjual patung Bali baca lontar. Laku cukup mahal. Padahal dulu “hanya cendera mata biasa”. Tapi begitulah, kualitas “cendera mata biasa” era itu dibuat tangan harus dan serius generasi seniman sejaman berdirinya Museum Pitamaha, zaman dimana seniman tradisionalnya tidak berbohong mengurangi mutu walaupun sekedar “cendera mata biasa”.

Ada yang celaka menjual patung Bali baca lontar?

Tidak. Yang celaka bukan hanya patung Bali baca lontar dijual, lontarnya warisan juga banyak dijajakan jadi cendera mata. Dijual pada pelancong.

Hooykaas (1979) mengenang bagaimana lontar dijual jadi cendera mata ketika Bali dibuka menjadi destinasi pariwisata, sekitar tahun 1914 secara formal. Terkhusus bagaimana menjamur, dimana-mana, lontar warisan dijajakan pada wisatawan bersamaan dengan era pengembangan jalan raya dan transportasi digenjot untuk mendukung pariwisata Bali tahun 1920-an.

Tulis Hooykaas:

“After the construction of metalled roads and iron bridges in Bali and the building of a hotel at Denpasar and a pasanggrahan in the hills at Kintamani by the Dutch Royal Mail Shipping Line KPM, tourists began to visit Bali. They proved eager buyers for the palmleaf MSS which the Balinese offered for sale.”

[Setelah pembangunan jalan keras dan jembatan baja di Bali dan pembangunan sebuah hotel di Denpasar dan pasanggrahan di perbukitan di Kintamani oleh KPM – Jasa Pejalanan Kapal Laut dan Paket milik Pemerintah Belanda, wisatawan mulai mengunjungi Bali. Mereka terbukti berminat membeli manuskrip lontar yang ditawarkan orang Bali untuk dijual].

Pemerintah Belanda bersama para cendikiawan Bali terjaga. Ini alarm bahaya untuk segera melakukan tindakan penyelamatan sebelum semua lontar Bali ludes diperjualbelikan sebagai cendera mata dan diboyong wisatawan asing yang datang dari antah berantah. Singkat cerita, digagaslah penyelamatan lontar, dan dibangun perpustakaan Gedong Kirtya.


Hookyaas menambahkan:

“In 1928 the Government, waking up to the situation, created a foundation (Kirtya) for the preservation of local MSS. A three-room building was erected in a corner of the grounds of the puri of the Anak Agung of Buleleng, himself a keen collector of MSS. In one room the copyists worked, in the second their copies were stored, and the third was reserved for interested readers, who came in a steady stream, as I witnessed almost daily for over two years (August 1939 to December 1941). Unquestionably thousands of Balinese visitors found their way to that reading-room, though perhaps less than one orientalist a year used the facilities offered by the Kirtya.”

[Pada tahun 1928 Pemerintah (baca: Pemerintah Kolonial Belanda), terjaga dengan situasi tersebut, mendirikan sebuah yayasan (Kirtya) untuk pelestarian manuskrip lontar lokal. Sebuah bangunan tiga kamar didirikan di sudut halaman puri Anak Agung Buleleng, yang merupakan kolektor manuskrip lontar yang sungguh. Dalam satu ruangan para penyalin lontar bekerja, di ruang kedua salinan mereka disimpan, dan dalam ruangan ketiga disediakan untuk para pembaca (pengunjung) yang tertarik, yang datang dengan arus kunjungan deras tiada henti, ketika saya menyaksikan hampir setiap hari ada pengunjung selama lebih dari dua tahun (Agustus 1939 hingga Desember 1941). Tak diragukan lagi, ribuan pengunjung Bali menemukan akses membaca lontar di ruang baca itu, meskipun mungkin kurang dari satu orientalis (orang asing) dalam setahun menggunakan fasilitas yang ditawarkan oleh Kirtya].

Ya, saya baru tersentak ketika membaca kesaksian Hooykaas, salah satu alasan kuat Perpustakaan Lontar Gedong Kirtya dibangun karena pariwisata dikhawatirkan menjadi ajang berjualan lontar warisan. Untungnya, sebagaimana kesaksian Hooykaas, ribuan pengunjung Bali berkunjung ke Gedong Kirtya di tahun 1939-1941. Saya juga menjadi berpikir dan menduga-duga kenapa cukup banyak lontar di griya-griya di Buleleng disalin sekitar tahun itu? Mungkinkah Gedong Kirtya menjadi pemicu penyalinan lontar di Buleleng di tahun sekitar itu? Berdasar kesaksian Hooykaas dan juga informasi lokal di Buleleng, memang Kirtya dimasanya adalah pusat pertemuan para cendikiawan saling mengkopi berbagai lontar yang kami warisi di Buleleng sampai saat ini.

Ironis memang, pariwisata bukan hanya membuat kemunculan patung-patung Bali membaca lontar, tapi juga membuat manusianya menjual lontar. Untunglah ada intelektual sadar manuskrip bergegas melakukan upaya nyata penyelamat lontar di Buleleng dan penuh dedikasi membangun Gedong Kirtya.

Catatan Harian, 17 Desember 2019.

Tags: lontarpatung balisastraSeni Rupazaman
Share271TweetSendShareSend
Previous Post

Tangani “Ciberbullying”: Jangan Andalkan Undang-Undang Saja

Next Post

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co