2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I_Pedalangan dan Wayang Karikatur: Dongeng di Ruang-ruang Kecil

Agus Wiratama by Agus Wiratama
November 29, 2019
in Ulasan
I_Pedalangan dan Wayang Karikatur: Dongeng di Ruang-ruang Kecil

26 November 2019, I_Pedalangan mempertunjukkan cerita yang bisa dinikmati banyak orang dalam Parade Teater Canasta 2019

Sebuah pertunjukkan wayang digelar pada saat upacara berlangsung di suatu Pura. Tak banyak orang yang memperhatikannya. Hanya beberapa anak yang barangkali masih berumur di bawah lima tahun. Dalang sibuk memainkan wayang lemah, upacara masih berlangsung sementara penonton hanya satu dua orang dari banyak warga yang terlibat dalam upacara.

Barangkali, pertunjukan ini memang tidak perlu banyak penonton bahkan tidak perlu penonton sama sekali. Sebab, tujuannya sebagai sebuah elemen upacara. Tapi, ketertarikan anak-anak yang kira-kira di bawah lima tahun itu saya pikir perlu dijaga. Yang kemudian menjadi pertanyaan saya, mengapa ketertarikan dengan wayang menjadi kabur semakin bertambah remaja seseorang?

Saya tak mendapat jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Hanya perkiraan-perkiraan yang simpang siur entah benar atau tidak. Yang terjadi pada diri saya barangkali salah satu dari perkiraan tersebut.

Karena ceritanya yang kala itu susah saya pahami di samping yang menonton hanya anak-anak dan orang tua. Ketika itu saya beranggapan bahwa anak Smp atau anak muda seumuran saya yang ketika itu kira-kira berumur empat belas tahun tidak cocok dengan tontonan seperti itu, teterlalu tua.

Anggapan itu rupanya dijungkirkan oleh I_Pedalangan. Kelompok yang pentas saat Parade Teater Canasta 2019, ini membangun cerita baru yang mudah dipahami. Serupa dongeng berjudul “Negeri Antah Berantah”. Menonton pertunjukkan itu mengingatkan saya pada keluhan yang sering saya dengar bahwa dongeng sudah mati karena sudah tidak relevan hari ini.

Rupanya, di ruang yang sunyi kelompok anak muda ini telah melakukan eksperimen, mendekatkan bentuk wayang pada visual yang akrab dengan mata hari ini sekaligus dengan cerita yang ringan.


I_Pedalangan. dalam Parade Teater Canasta 2019

26 November 2019, I_Pedalangan mempertunjukkan cerita yang bisa dinikmati banyak orang. Meskipun memilih pendekatan wayang, mereka tidak berhenti pada kemapanan bentuk wayang. Meskipun teknik wayang tradisi pada umumnya masih melekat pada pertunjukkan ini.

Bentuk wayang yang dipilih justru bentuk karikatur dengan latar pop art. Artistik yang disiapkan dengan matang tersebut bagi saya telah membuat mereka hanya perlu fokus pada teknis saat pertunjukkan berlangsung dan pemilihan topik cerita.

Cerita “Negeri Antah Berantah” adalah sebuah cerita yang berkisah tentang anak muda yang bernama Purnomo. Ia hidup tidak jelas di sebuah kampung yang bernama Antah Berantah. Suatu ketika Purnomo disarankan oleh sebuah Pohon Kemuning yang awalnya cukup mengagetkannya.

 Ia mengikuti saran Kemuning, merantau ke kota yang bernama Metro Politan. Cerita disingkat, Purnomo ditampilkan telah menjadi seorang yang kaya. Sampai suatu ketika ia ingin mengembangkan usahanya.

Rencana pembangunan Gedung tinggi memerlukan lahan baru. Anak buahnya yang bernama Alex memberi pilihan untuk membuka lahan baru di Desa Antah Berantah yang masih banyak dihidupi petani dan pohon perindang di banyak tempat. Purnomo sempat menolak karena itu desanya, tapi Alex berhasil membujuk Purnomo dan menyetujui mimilih tempat itu.

Pembangunan akhirnya berlangsung. Desa telah terbeli dan alat berat yang beberapa berbentuk robot mulai masuk dan menghancurkan keasrian desa. Beberapa warga yang ketakutan memilih lari ke gunung untuk meminta bantuan pada seekor naga agar dilindungi. Naga mengabulkan.

Alat-alat berat yang berbentuk robot dikalahkan oleh naga untuk membantu orang-orang desa. Setelah semua berhasil dikalahkan naga namun Purnomo yang sempat diserang berhasil kabur dari serangan naga. Ketika kabur, Purnomo bertemu dengan Kemuning yang telah mati. Ia menangis dan menyesali perbuatannya terhadap desa sendiri. Ia tiba-tiba ingat sebuah janji yang belum ditepatinya, yaitu tidak lupa dan melakukan yang terbaik terhadap desanya.

Purnomo dan wayang lainnya dibuat seolah benar-benar hidup seperti tiga dimensi. Barangkali ini adalah efek dari pembuatan wayang yang dilukis. Gelap terang pada warna wayang nampaknya diperhatikan betul. Di samping cara memainkannya yang saya pikir sudah berhasil.

Seandainya anak-anak mendapat kesempatan untuk bertemu kelompok ini, saya membayangkan betapa mereka akan mengenal wayang dalam bentuk yang begitu akrabnya dengan hari ini. Mungkin hal seperti ini sudah pernah dilakukan, semisal pada Si Unyil, Susan, atau boneka-boneka lain yang dimainkan seperti wayang.

Namun, wayang ini memiliki perbedaan yang cukup kentara, yaitu latar belakang dalang dari I_Pedalangan adalah dalang wayang tradisi yang mempelajarinya secara akademis. Usaha untuk masuk ke bentuk yang berbeda barangkali adalah pilihan yang menarik dengan latar belakang yang sudah begitu mapan.

Saya beranggapan bahwa wayang, umumnya memerlukan panggung-panggung yang besar. Bertemu pertunjukkan wayang yang berjudul “Negeri Antah Berantah” membelokkan keyakinan itu. Pentas intim seperti mendengar sebuah dongeng dari orang tua atau kakek dan nenek.

Hal penting yang saya pikir perlu diperhatikan oleh kelompok ini adalah pembangunan cerita dan pemilihan segmen. Bila penonton yang ingin disasar adalah anak-anak, mungkin menjadi hal penting membangun cerita dengan pola yang baru.

Pola umum yang terjadi adalah pandangan terhadap kota dan orang-orangnya yang jahat. Sementara desa sebaliknya, meskipun pada pertunjukkan tersebut sudah ditampilkan pula orang desa yang bisa disuap yaitu Pak Made, kepala desa antah berantah yang setuju menjual desa tanpa kesepakatan penduduknya, tetapi tetap ditampilkan sebagi tokoh lugu.

Mungkin menjadi hal yang penting pula dalam pemilihan nama misalnya. Pemilihan nama Purnomo dan Pak Made yang besaral dari desa yang sama membuat orang bertanya-tanya. Bagi saya meskipun sebuah nama desa adalah fiktif, namun perlu pula representatif. pemilihan nama yang dekat dengan nama-nama orang bali misalnya atau sebaliknya. Saya kira hal itu menjadi satu hal penting.

Meskipun penonton didominasi orang dewasa, namun ketika pertunjukkan usai respon penonton cukup baik. Dan penonton cukup dikejutkan oleh penjelasan salah satu dalang yang meminta maaf sebab tidak sempat latihan sebelum pertunjukkan digelar.

Tags: DalangParade Teater Canastawayang
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Teater Enter di Parade Teater Canasta dan Tindakan Lanjutannya

Next Post

Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co