2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I_Pedalangan dan Wayang Karikatur: Dongeng di Ruang-ruang Kecil

Agus Wiratama by Agus Wiratama
November 29, 2019
in Ulasan
I_Pedalangan dan Wayang Karikatur: Dongeng di Ruang-ruang Kecil

26 November 2019, I_Pedalangan mempertunjukkan cerita yang bisa dinikmati banyak orang dalam Parade Teater Canasta 2019

Sebuah pertunjukkan wayang digelar pada saat upacara berlangsung di suatu Pura. Tak banyak orang yang memperhatikannya. Hanya beberapa anak yang barangkali masih berumur di bawah lima tahun. Dalang sibuk memainkan wayang lemah, upacara masih berlangsung sementara penonton hanya satu dua orang dari banyak warga yang terlibat dalam upacara.

Barangkali, pertunjukan ini memang tidak perlu banyak penonton bahkan tidak perlu penonton sama sekali. Sebab, tujuannya sebagai sebuah elemen upacara. Tapi, ketertarikan anak-anak yang kira-kira di bawah lima tahun itu saya pikir perlu dijaga. Yang kemudian menjadi pertanyaan saya, mengapa ketertarikan dengan wayang menjadi kabur semakin bertambah remaja seseorang?

Saya tak mendapat jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Hanya perkiraan-perkiraan yang simpang siur entah benar atau tidak. Yang terjadi pada diri saya barangkali salah satu dari perkiraan tersebut.

Karena ceritanya yang kala itu susah saya pahami di samping yang menonton hanya anak-anak dan orang tua. Ketika itu saya beranggapan bahwa anak Smp atau anak muda seumuran saya yang ketika itu kira-kira berumur empat belas tahun tidak cocok dengan tontonan seperti itu, teterlalu tua.

Anggapan itu rupanya dijungkirkan oleh I_Pedalangan. Kelompok yang pentas saat Parade Teater Canasta 2019, ini membangun cerita baru yang mudah dipahami. Serupa dongeng berjudul “Negeri Antah Berantah”. Menonton pertunjukkan itu mengingatkan saya pada keluhan yang sering saya dengar bahwa dongeng sudah mati karena sudah tidak relevan hari ini.

Rupanya, di ruang yang sunyi kelompok anak muda ini telah melakukan eksperimen, mendekatkan bentuk wayang pada visual yang akrab dengan mata hari ini sekaligus dengan cerita yang ringan.


I_Pedalangan. dalam Parade Teater Canasta 2019

26 November 2019, I_Pedalangan mempertunjukkan cerita yang bisa dinikmati banyak orang. Meskipun memilih pendekatan wayang, mereka tidak berhenti pada kemapanan bentuk wayang. Meskipun teknik wayang tradisi pada umumnya masih melekat pada pertunjukkan ini.

Bentuk wayang yang dipilih justru bentuk karikatur dengan latar pop art. Artistik yang disiapkan dengan matang tersebut bagi saya telah membuat mereka hanya perlu fokus pada teknis saat pertunjukkan berlangsung dan pemilihan topik cerita.

Cerita “Negeri Antah Berantah” adalah sebuah cerita yang berkisah tentang anak muda yang bernama Purnomo. Ia hidup tidak jelas di sebuah kampung yang bernama Antah Berantah. Suatu ketika Purnomo disarankan oleh sebuah Pohon Kemuning yang awalnya cukup mengagetkannya.

 Ia mengikuti saran Kemuning, merantau ke kota yang bernama Metro Politan. Cerita disingkat, Purnomo ditampilkan telah menjadi seorang yang kaya. Sampai suatu ketika ia ingin mengembangkan usahanya.

Rencana pembangunan Gedung tinggi memerlukan lahan baru. Anak buahnya yang bernama Alex memberi pilihan untuk membuka lahan baru di Desa Antah Berantah yang masih banyak dihidupi petani dan pohon perindang di banyak tempat. Purnomo sempat menolak karena itu desanya, tapi Alex berhasil membujuk Purnomo dan menyetujui mimilih tempat itu.

Pembangunan akhirnya berlangsung. Desa telah terbeli dan alat berat yang beberapa berbentuk robot mulai masuk dan menghancurkan keasrian desa. Beberapa warga yang ketakutan memilih lari ke gunung untuk meminta bantuan pada seekor naga agar dilindungi. Naga mengabulkan.

Alat-alat berat yang berbentuk robot dikalahkan oleh naga untuk membantu orang-orang desa. Setelah semua berhasil dikalahkan naga namun Purnomo yang sempat diserang berhasil kabur dari serangan naga. Ketika kabur, Purnomo bertemu dengan Kemuning yang telah mati. Ia menangis dan menyesali perbuatannya terhadap desa sendiri. Ia tiba-tiba ingat sebuah janji yang belum ditepatinya, yaitu tidak lupa dan melakukan yang terbaik terhadap desanya.

Purnomo dan wayang lainnya dibuat seolah benar-benar hidup seperti tiga dimensi. Barangkali ini adalah efek dari pembuatan wayang yang dilukis. Gelap terang pada warna wayang nampaknya diperhatikan betul. Di samping cara memainkannya yang saya pikir sudah berhasil.

Seandainya anak-anak mendapat kesempatan untuk bertemu kelompok ini, saya membayangkan betapa mereka akan mengenal wayang dalam bentuk yang begitu akrabnya dengan hari ini. Mungkin hal seperti ini sudah pernah dilakukan, semisal pada Si Unyil, Susan, atau boneka-boneka lain yang dimainkan seperti wayang.

Namun, wayang ini memiliki perbedaan yang cukup kentara, yaitu latar belakang dalang dari I_Pedalangan adalah dalang wayang tradisi yang mempelajarinya secara akademis. Usaha untuk masuk ke bentuk yang berbeda barangkali adalah pilihan yang menarik dengan latar belakang yang sudah begitu mapan.

Saya beranggapan bahwa wayang, umumnya memerlukan panggung-panggung yang besar. Bertemu pertunjukkan wayang yang berjudul “Negeri Antah Berantah” membelokkan keyakinan itu. Pentas intim seperti mendengar sebuah dongeng dari orang tua atau kakek dan nenek.

Hal penting yang saya pikir perlu diperhatikan oleh kelompok ini adalah pembangunan cerita dan pemilihan segmen. Bila penonton yang ingin disasar adalah anak-anak, mungkin menjadi hal penting membangun cerita dengan pola yang baru.

Pola umum yang terjadi adalah pandangan terhadap kota dan orang-orangnya yang jahat. Sementara desa sebaliknya, meskipun pada pertunjukkan tersebut sudah ditampilkan pula orang desa yang bisa disuap yaitu Pak Made, kepala desa antah berantah yang setuju menjual desa tanpa kesepakatan penduduknya, tetapi tetap ditampilkan sebagi tokoh lugu.

Mungkin menjadi hal yang penting pula dalam pemilihan nama misalnya. Pemilihan nama Purnomo dan Pak Made yang besaral dari desa yang sama membuat orang bertanya-tanya. Bagi saya meskipun sebuah nama desa adalah fiktif, namun perlu pula representatif. pemilihan nama yang dekat dengan nama-nama orang bali misalnya atau sebaliknya. Saya kira hal itu menjadi satu hal penting.

Meskipun penonton didominasi orang dewasa, namun ketika pertunjukkan usai respon penonton cukup baik. Dan penonton cukup dikejutkan oleh penjelasan salah satu dalang yang meminta maaf sebab tidak sempat latihan sebelum pertunjukkan digelar.

Tags: DalangParade Teater Canastawayang
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Teater Enter di Parade Teater Canasta dan Tindakan Lanjutannya

Next Post

Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co