23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Naga Gombang & Gejer Bali

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
July 18, 2019
in Esai
Naga Gombang & Gejer Bali

Ilustrasi diolah daru sumber gambar di Google

BEBERAPA saat setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 7.0 SR yang berpusat di kawasan Pulau Lombok, Minggu 5 Agustus 2018, malam, seorang teman ahli kegempaan yang sedang menempuh pendidikan di Jerman, Made Kris Adi Arta, menulis status di laman facebook-nya:

Tentang gempabumi Lombok dan potensi yang dibangkitkan dari zona “patahan belakang busur kepulauan/back arc thrust” telah kita diskusikan bersama 22 November 2015 lalu di Puri Kanginan Buleleng. Pun catatan itu ada dalam sebuah lembaran yang tersimpan di Puri dengan aksara Bali dan latin.

Saya membaca status Kris di facebook bukan karena saya di-tag (karena saya termasuk ikut hadir dalam diskusi 22 November 2015), melainkan karena saya memang sedang stay tune pada laman facebook yang bernama Made Kris AAstra itu.

Untuk urusan pengetahuan tentang gempa, saya paling percaya pada dia, tentu bukan karena ia paling tahu soal gempa, melainkan karena penjelasannya paling bisa saya pahami. Mungkin karena tergolong teman (meski tak seakrab teman lain), maka saya tak malu bertanya, dan Kris tak segan memberitahu.

Saya memantau status facebook Made Kris AAstra lebih karena cemas dan takut. Rumah saya di Singaraja berada di pesisir pantai utara Bali, berdekatan dengan laut. Begitu ada gempa, saya langsung terpikir soal tsunami. Maka, saya selalu membuka laman facebook Kris, selain tentu saja membuka laman-laman resmi dari BMKG.

Pada Minggu malam itu, usai gempa Lombok, saya baru merasa tenang setelah Kris mengunggah pengumuman dari BMKG bahwa: “Peringatan dini TSUNAMI yang disebabkan oleh gempa mag:7.0 SR, tanggal: 05-Aug-18 18:46:35 WIB, dinyatakan telah berakhir::BMKG”

 “Naga Gombang”

Penyebab gempa Lombok adalah patahan belakang busur kepulauan/back arc thrust. Jika tak salah tangkap dari sejumlah informasi di dunia online, patahan belakang busur kepulauan/back arc thrust itu terdiri dari lempeng bekas gunung purba dan material lain, yang kemudian rapuh atau lapuk, lalu bergeser.   

Mungkin Naga Gombang dalam mitologi Bali merupakan analogi dari patahan belakang busur kepulauan back arc thrust itu. Jika patahan itu bergeser, maka kita bisa membayangkan seekor naga yang sangat besar dan panjang sedang menggeliat sehingga menyebabkan bumi bergoyang.

“Kak patahan itu ada melewati bali ga?” tanya seseorang di kolom komentar pada status facebook Kris. 

“melewati di laut utara bali,” sahut Kris.

“Omg.. buleleng,”

Jadi, saya punya alasan untuk takut. Karena di laut utara Bali bersemayam “Naga Gombang”, yang panjangnya mungkin dari utara Jawa hingga Lombok. Di Lombok beliau sudah menggeliat, bergeser, menyebabkan goyangan 7.0 SR. 

200 Tahun Gejer Bali

Tentang potensi yang dibangkitkan dari zona “patahan belakang busur kepulauan/back arc thrust” memang pernah didiskusikan bersama 22 November 2015 di Puri Kanginan Buleleng. Diskusi dengan tema ”200 tahun Gejer Bali”itu menghadirkan pembicara Made Kris Adi Astra dan penglingsir Puri Kanginan Singaraja Anak Agung Ngurah Sentanu.

Saya sendiri ikut diskusi itu, tapi terlalu ingat. Untung ada Made Nurbawa, penulis dari Tabanan yang juga kerap menulis di tatkala.co, mencatat diskusi itu dalam blognya madenurbawa.com.

Untuk mudahnya saya kutip sejumlah bagian dari tulisan Made Nurbawa dalam blognya itu. Atau blog Made Nurbawa bisa dibuka di http://madenurbawa.com/article/166085/eling-hidup-di-tanah-gempa-peringatan-200-tahun-gejer-bali.html

 “Peringatan 200 tahun Gejer Bali” adalah momentum penting untuk mengenang kembali jejak sejarah Pulau Dewata. Tonggak 200 tahun diambil dari kisah turun temurun masyarakat dan catatan penting dalam Babab Buleleng atas peristiwa pilu gempa bumi dan banjir hebat yang melanda Singaraja pada tahun 1815 Kini tidak banyak yang mengetahui dan hirau, bahwa sesungguhnya penduduk Bali hidup di tanah gempa.

Dalam diskusi itu, Anak Agung Ngurah Sentanu menceritakan, tanggal 10-12 april 1815 Gunung Tambora di Sumbawa meletus hebat, menelan ribuan korban jiwa. Dampaknya mengglobal, dunia mengalami perubahan iklim ekstrim berbulan-bulan.  Bagaimana dengan di Bali?

Tujuh bulan setelah letusan Tambora, anomali cuaca masih terasa di Bali. Malam Budha Umanis Kulantir, Rabu 22 Nopember 1815, di kawasan Bali utara dan tengah turun hujan lebat selama tiga hari tak henti-henti. Pada hari yang sama gempa bumi  besar mengguncang bali utara selam 45 detik. Tanah pengunungan di sekitar Danau Buyan dan Tamblingan longsor, tanah dan pohon membendung laju air di alur sungai di pegunungan, lalu membentuk kantong-kantong air dan pecah menjadi banjir bandang.  

Banjir kemudian menyapu Ibu kota Buleleng Singaraja disertai lumpur, batu dan pepohonan.  Bencana ini mengakibatkan 10.523 korban jiwa. Pejabat penting kerajaan turut menjadi korban. Peta sejarah Bali utara pun berubah. Peristiwa gempabumi di Bali utara tesebut dicatat dalam babad buleleng dengan sebutan “Gejer Bali”. Peritiwa itu pun dicatat oleh orang Belanda Wichmann pada tahun 1819.

Dari pemaparan pembicara I Made Kris Adi Astra, banyak peserta diskusi baru memahami kalau di bawah kota Singaraja terdapat “Patahan belakang busur kepulauan yang merupakan pembangkit gempa bumi di laut bali”. Ini menjadikan Buleleleng beresiko terhadap gempa bumi dan tsunami.

Sejarah  kegempaan Bali mencatat pernah terjadi gempa bumi mematikan pada tahun 1817, 1917, 1976 dan 1979. Dijelaskan gempa bumi tersebut juga berpengaruh dengan tekanan magma pada gunung-gunung di jalur ini. Bali dan Nusa Tenggara adalah gugusan pulau yang berada dalam jalur cincin api.

Secara turun temurun gempa bumi memberi pelajaran bagi warga, sebagian mempercayai semua itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Warga secara turun temurun terus mengakrabi bencana, beradaptasi dan merekamnya dalam budaya. Salah satunya melalui arsitektur bagunan dan keyakinan, tersirat dalam tonggak-tonggak etika dan ragam upacara.

Ada kisah menarik tentang Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte. Karena cuaca buruk akibat letusan Tambora ia kalah perang di Waterloo, Eropa (Juni 1815). Juga sebuah buku berjudul Krakatoa yang ditulis Simon Winchester, ditulis tentang dasyatnya letusan gunung Krakatau (27 Agustus 1883) membuat peta politik dunia berubah.

Bahkan letusan gunung Krakatau konon menginspirasi terjadinya gerak perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari cengkraman bangsa asing/penjajah, beberapa tahun berikutnya. [T]

Tags: baligempagempa bumimitologimitos
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Tubuh Super, Namun Seimbang

Next Post

Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co