2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Naga Gombang & Gejer Bali

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
July 18, 2019
in Esai
Naga Gombang & Gejer Bali

Ilustrasi diolah daru sumber gambar di Google

BEBERAPA saat setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 7.0 SR yang berpusat di kawasan Pulau Lombok, Minggu 5 Agustus 2018, malam, seorang teman ahli kegempaan yang sedang menempuh pendidikan di Jerman, Made Kris Adi Arta, menulis status di laman facebook-nya:

Tentang gempabumi Lombok dan potensi yang dibangkitkan dari zona “patahan belakang busur kepulauan/back arc thrust” telah kita diskusikan bersama 22 November 2015 lalu di Puri Kanginan Buleleng. Pun catatan itu ada dalam sebuah lembaran yang tersimpan di Puri dengan aksara Bali dan latin.

Saya membaca status Kris di facebook bukan karena saya di-tag (karena saya termasuk ikut hadir dalam diskusi 22 November 2015), melainkan karena saya memang sedang stay tune pada laman facebook yang bernama Made Kris AAstra itu.

Untuk urusan pengetahuan tentang gempa, saya paling percaya pada dia, tentu bukan karena ia paling tahu soal gempa, melainkan karena penjelasannya paling bisa saya pahami. Mungkin karena tergolong teman (meski tak seakrab teman lain), maka saya tak malu bertanya, dan Kris tak segan memberitahu.

Saya memantau status facebook Made Kris AAstra lebih karena cemas dan takut. Rumah saya di Singaraja berada di pesisir pantai utara Bali, berdekatan dengan laut. Begitu ada gempa, saya langsung terpikir soal tsunami. Maka, saya selalu membuka laman facebook Kris, selain tentu saja membuka laman-laman resmi dari BMKG.

Pada Minggu malam itu, usai gempa Lombok, saya baru merasa tenang setelah Kris mengunggah pengumuman dari BMKG bahwa: “Peringatan dini TSUNAMI yang disebabkan oleh gempa mag:7.0 SR, tanggal: 05-Aug-18 18:46:35 WIB, dinyatakan telah berakhir::BMKG”

 “Naga Gombang”

Penyebab gempa Lombok adalah patahan belakang busur kepulauan/back arc thrust. Jika tak salah tangkap dari sejumlah informasi di dunia online, patahan belakang busur kepulauan/back arc thrust itu terdiri dari lempeng bekas gunung purba dan material lain, yang kemudian rapuh atau lapuk, lalu bergeser.   

Mungkin Naga Gombang dalam mitologi Bali merupakan analogi dari patahan belakang busur kepulauan back arc thrust itu. Jika patahan itu bergeser, maka kita bisa membayangkan seekor naga yang sangat besar dan panjang sedang menggeliat sehingga menyebabkan bumi bergoyang.

“Kak patahan itu ada melewati bali ga?” tanya seseorang di kolom komentar pada status facebook Kris. 

“melewati di laut utara bali,” sahut Kris.

“Omg.. buleleng,”

Jadi, saya punya alasan untuk takut. Karena di laut utara Bali bersemayam “Naga Gombang”, yang panjangnya mungkin dari utara Jawa hingga Lombok. Di Lombok beliau sudah menggeliat, bergeser, menyebabkan goyangan 7.0 SR. 

200 Tahun Gejer Bali

Tentang potensi yang dibangkitkan dari zona “patahan belakang busur kepulauan/back arc thrust” memang pernah didiskusikan bersama 22 November 2015 di Puri Kanginan Buleleng. Diskusi dengan tema ”200 tahun Gejer Bali”itu menghadirkan pembicara Made Kris Adi Astra dan penglingsir Puri Kanginan Singaraja Anak Agung Ngurah Sentanu.

Saya sendiri ikut diskusi itu, tapi terlalu ingat. Untung ada Made Nurbawa, penulis dari Tabanan yang juga kerap menulis di tatkala.co, mencatat diskusi itu dalam blognya madenurbawa.com.

Untuk mudahnya saya kutip sejumlah bagian dari tulisan Made Nurbawa dalam blognya itu. Atau blog Made Nurbawa bisa dibuka di http://madenurbawa.com/article/166085/eling-hidup-di-tanah-gempa-peringatan-200-tahun-gejer-bali.html

 “Peringatan 200 tahun Gejer Bali” adalah momentum penting untuk mengenang kembali jejak sejarah Pulau Dewata. Tonggak 200 tahun diambil dari kisah turun temurun masyarakat dan catatan penting dalam Babab Buleleng atas peristiwa pilu gempa bumi dan banjir hebat yang melanda Singaraja pada tahun 1815 Kini tidak banyak yang mengetahui dan hirau, bahwa sesungguhnya penduduk Bali hidup di tanah gempa.

Dalam diskusi itu, Anak Agung Ngurah Sentanu menceritakan, tanggal 10-12 april 1815 Gunung Tambora di Sumbawa meletus hebat, menelan ribuan korban jiwa. Dampaknya mengglobal, dunia mengalami perubahan iklim ekstrim berbulan-bulan.  Bagaimana dengan di Bali?

Tujuh bulan setelah letusan Tambora, anomali cuaca masih terasa di Bali. Malam Budha Umanis Kulantir, Rabu 22 Nopember 1815, di kawasan Bali utara dan tengah turun hujan lebat selama tiga hari tak henti-henti. Pada hari yang sama gempa bumi  besar mengguncang bali utara selam 45 detik. Tanah pengunungan di sekitar Danau Buyan dan Tamblingan longsor, tanah dan pohon membendung laju air di alur sungai di pegunungan, lalu membentuk kantong-kantong air dan pecah menjadi banjir bandang.  

Banjir kemudian menyapu Ibu kota Buleleng Singaraja disertai lumpur, batu dan pepohonan.  Bencana ini mengakibatkan 10.523 korban jiwa. Pejabat penting kerajaan turut menjadi korban. Peta sejarah Bali utara pun berubah. Peristiwa gempabumi di Bali utara tesebut dicatat dalam babad buleleng dengan sebutan “Gejer Bali”. Peritiwa itu pun dicatat oleh orang Belanda Wichmann pada tahun 1819.

Dari pemaparan pembicara I Made Kris Adi Astra, banyak peserta diskusi baru memahami kalau di bawah kota Singaraja terdapat “Patahan belakang busur kepulauan yang merupakan pembangkit gempa bumi di laut bali”. Ini menjadikan Buleleleng beresiko terhadap gempa bumi dan tsunami.

Sejarah  kegempaan Bali mencatat pernah terjadi gempa bumi mematikan pada tahun 1817, 1917, 1976 dan 1979. Dijelaskan gempa bumi tersebut juga berpengaruh dengan tekanan magma pada gunung-gunung di jalur ini. Bali dan Nusa Tenggara adalah gugusan pulau yang berada dalam jalur cincin api.

Secara turun temurun gempa bumi memberi pelajaran bagi warga, sebagian mempercayai semua itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Warga secara turun temurun terus mengakrabi bencana, beradaptasi dan merekamnya dalam budaya. Salah satunya melalui arsitektur bagunan dan keyakinan, tersirat dalam tonggak-tonggak etika dan ragam upacara.

Ada kisah menarik tentang Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte. Karena cuaca buruk akibat letusan Tambora ia kalah perang di Waterloo, Eropa (Juni 1815). Juga sebuah buku berjudul Krakatoa yang ditulis Simon Winchester, ditulis tentang dasyatnya letusan gunung Krakatau (27 Agustus 1883) membuat peta politik dunia berubah.

Bahkan letusan gunung Krakatau konon menginspirasi terjadinya gerak perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari cengkraman bangsa asing/penjajah, beberapa tahun berikutnya. [T]

Tags: baligempagempa bumimitologimitos
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Tubuh Super, Namun Seimbang

Next Post

Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co