3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelap, Cahaya, Rindu

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
July 9, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kali ini, saya ingin menjaga jarak dengan apa yang sudah saya pelajari. Menjaga jarak, artinya memberikan ruang antara pelajar dengan pelajaran. Pelajar kita sebut subjek, pelajaran disebut objek. Ruang itu dijaga, dengan harapan agar penilaian yang dilakukan bisa seobjektif mungkin. Kenapa menilai? Karena itulah yang dilakukan kebanyakan orang saat melihat, mendengar, menyentuh, mencium sesuatu. Bukankah itu yang selalu kita lakukan dengan sadar atau pun tidak.

Tidak sadar diibaratkan seperti kegelapan. Pada situasi itu, tidak ada yang bisa dilihat mata. Mata seperti buta, tapi sesungguhnya tidak. Meski mata dibuka lebar-lebar, tetap tidak ada hal lain yang dilihat kecuali gelap. Seperti barisan mata ikan tuna di keranjang dagang. Bagaimana barisan mata itu melihat, jika pemiliknya sudah mati.

Pada banyak pustaka klasik, kematian yang dilalui dengan sadar adalah cita-cita. Saya tidak mengerti kenapa barisan pustaka itu membicarakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Saking banyaknya pustaka sejenis itu, saya sempat menduga bahwa menjelaskan kematian adalah obsesi intelektual para pendahulu. Bagaimana mungkin menjelaskan sesuatu yang belum dialami? Sampai di titik itulah saya menghentikan pertanyaan. Dan tidak mencari jawabannya.

Tidak mencari adalah salah satu cara yang saya pelajari untuk mendapatkan jawaban. Seperti dua orang yang mengelilingi satu pulau. Bagi yang mencari akan dikelilinginya pulau itu. Bagi yang menunggu, ia akan diam tidak kemana-mana. Yang diam atau yang pergi, sama-sama sampai di “rumah”.

Perbedaannya terletak pada pengalaman. Yang pernah pergi, tahu bagaimana atmosfer tempat yang dilaluinya. Yang diam hanya menikmati cerita-cerita dari yang pergi. Mereka berdua memiliki kesimpulan yang sama, bahwa yang pergi akan kembali. Mereka berdua sama-sama tersenyum atas kesimpulan itu. Tapi senyum keduanya tidak sama rasanya.

Mirip dengan senyum orang yang menang dan yang kalah. Meski keduanya tersenyum, tapi keduanya menyimpan rasa berbeda. Anehnya, banyak juga orang yang dengan mudah menunjukkan rasa kemenangannya, tapi sangat susah mengakui kekalahan. Padahal keduanya sama saja di mata saya yang kecil ini. Menang atau kalah, keduanya tetap akan berubah.

Setelah perubahan itu terjadi, barulah mereka sadar, kalau segala yang diperebutkannya selama ini tidak lebih dari sekadar onggokan batu. Saya tidak bermaksud mengatakan kalau batu tidak ada nilainya. Tiap hal yang ada di bawah kaki langit dan di atas pangkuan bumi ini selalu bernilai. Hanya saja, tidak semua nilai itu bisa berguna di saat yang tepat. Memilih waktu yang tepat bukanlah perkara mudah.

Begitulah barangkali kelindan pikiran jika memikir-mikirkan pikiran sendiri yang gelap gulita. Pada masa-masa belakangan ini, saya sangat tertarik pada “pikiran”. Sebabnya, hanya karena ia begitu hebat. Bahkan, oleh tradisi, pikiran dijadikannya raja dari segala macam indria. Saya tidak benar-benar menemukan terjemahan yang pas untuk menerjemahkan kata indria dalam bahasa Indonesia. Dalam pemahaman sederhana, saya sebut saja indria sebagai alat. Karena ia adalah alat, maka sewaktu-waktu ia bisa tidak berguna.

Agama juga alat. Oleh banyak orang, agama disebutnya candu. Tapi oleh orang yang sama, agama itu dijalaninya dengan penuh kenikmatan. Seperti pecandu alkohol yang menikmati kemabukannya. Sudah tahu bisa mabuk, tetap saja diminumnya. Tidak penting lagi apa yang membuatnya mabuk, apakah bir hitam, arak, tuak, berem, atau yang lain. Pecandu agama, juga demikian.

Tidak penting lagi baginya, apakah yang sesungguhnya membuatnya mabuk. Apakah ritual yang di dalamnya adalah upakara dan upacara, ataukah mabuk karena sasana yang dijunjungnya setinggi batas galaksi. Dan, bukan tidak aneh lagi, ada orang yang dimabukkan oleh produk-produk intelektualnya sendiri berupa permenungan tattwa atau filsafat.

Ketiganya sama-sama pemabuk yang berkumpul di Bale Banjar menikmati be celeng. Masing-masing pemabuk, berpendapat kalau alkohol yang membuatnya mabuk adalah teman paling tepat untuk menikmati be celeng. Mereka terlihat berbeda karena punya “selera”. Yang membuat mereka terlihat sama, adalah sama-sama pusing kepala, dan sama-sama muntah. Seingat saya, muntahan selalu beraroma busuk.

Agama selalu terlihat kontradiktif. Pagi ia akan bilang kalau membunuh tidak dibenarkan. Siang hari ia akan bilang, membunuh itu diperbolehkan asal begitu dan begini. Sebenarnya, perlakuan itu boleh apa tidak? Biarkan saja pertanyaan tadi dijawab oleh ahlinya ahli. Biarkan juga ahli-ahli itu mempertanggungjawabkan keahliannya yang konon didapatnya dengan susah payah dan dibuktikan oleh jejeran gelar seperti ular naga yang panjangnya bukan kepalang.

Tugas ahli memang begitu, yakni mengentaskan kegelapan pikiran dengan cahaya pengetahuan. Bodoh adalah gelap, cerdas adalah terang. Itulah jajaran konseptual yang sudah mendarah daging di tubuh. Tapi jangan salah, orang bodoh yang setia lebih utama dari pada orang cerdas tapi culas.

Contohnya seperti seorang bodoh yang menjadi pengiring raja. Karena suatu alasan, raja bepergian dengan menunggangi kuda. Sementara si bodoh mengikutinya dari belakang. Tugas si bodoh adalah memungut segala sesuatu milik raja yang terjatuh. Si bodoh yang taat itu melaksanakan perintah raja yang sudah seperti kata-kata Dewa.

Segala macam benda yang dijatuhkan oleh raja dipungutnya dan dimasukkan ke dalam sebuah kantung. Suatu ketika, kuda yang ditunggangi raja, berak sambil berjalan. Kotoran kuda itu jatuh tepat di depan si bodoh. Atas nama kesetiaan, dipungutlah kotoran itu dan dimasukkannya ke dalam kantung. Raja mana yang bisa menyalahkan kesetiaan semacam itu?

Ada cerita lain lagi. Ini tentang dua orang. Yang satunya cerdas, yang satunya bodoh. Mereka bertetangga. Karena bertetangga, maka wajarlah keduanya saling membantu. Si Pintar pernah sekali waktu meminjam sebuah penggorengan besar pada Si Bodoh. Sekarang Si Bodoh ingin menagihnya. Si Pintar memberikan satu penggorengan kecil pada Si Bodoh. Katanya, penggorengan besar miliknya telah beranak, dan sekarang anaknya dulu yang akan dikembalikan.

Si Bodoh percaya dan pulang ke rumah. Sampai di rumah, penggorengan kecil itu ditaruhnya di tungku dan ternyata pas. Di tungku itu pula ia mengaduk-aduk penggorengan saat memasak, tapi penggorengan yang ini tidak seperti penggorengan miliknya yang dulu. Dulu jika ia mengaduk-aduk penggorengannya maka penggorengan itu akan bergoyang. Ia tidak tahu, itu karena tungku lebih kecil dari pada penggorengannya. Dia hanya pernah mendengar, kalau ciri-ciri orang mati adalah tidak bergerak. Dikuburlah penggorengan itu karena katanya sudah mati.

Keesokan harinya, datanglah Si Pintar ke rumah Si Bodoh menagih penggorengan. Si Bodoh pun menerangkan kalau penggorengan kecil itu sudah mati, dan dikuburnya di belakang rumah. Si Pintar hanya kaget, tersenyum masam, dan kebingungan.

Itulah dua cerita singkat tentang kebodohan dan kepintaran. Yang satunya bercerita tentang Si Bodoh yang setia. Yang satunya, tentang Si Bodoh yang jujur dan polos. Ternyata kebodohan identik dengan kesetiaan, kejujuran dan kepolosan. Pada masa kini, orang yang demikian selalu dilindas jaman. Sayangnya, ketiga sifat itu adalah terjemahan dari satu kata yang selalu dielu-elukan pada tiap-tiap seminar tentang kebaikan. Terjemahan saya atas ketiga kata itu adalah Dharma.

Jadi jangan salahkan orang menjadi cerdas lalu culas, karena ia tidak ingin dilindas seperti orang-orang bodoh. Jangan juga mengeluh karena sering diliciki oleh orang yang lebih cerdas, karena kita sudah pernah licik pada mereka yang lebih bodoh. Hal ini semacam antiklimaks bagi saya sendiri. Sebenarnya, mana yang lebih baik, antara jadi bodoh di tempat gelap, atau cerdas di tempat terang. Mungkin keduanya sama saja, saking gelap atau karena saking terangnya, orang tak melihat apa-apa. Justru karena tidak melihat apa-apa, sang raja pikiran jadi tidak terikat oleh segala hasil pengelihatan. Banyak orang tidak ingin terikat, tapi tidak banyak yang tidak ingin melihat.

Selalu saja kontradiktif. Di satu sisi, orang tidak ingin merindukan, karena terkesan menyakitkan. Di sisi yang lain, dia butuh kerinduan agar tahu seberapa ukuran perasaannya dan perasaan orang yang dirindukannya. Tapi rindu tidak pernah ada jika jarak juga tidak. Rindu lenyap jika jarak hilang. Konon rindu bisa lenyap hanya karena dua hal.

Pertama karena ia bosan. Kedua, karena sudah bertemu dan menyatu. Keduanya sama-sama menghilangkan, tapi serasa tidak sama. Selalu begitu. Lalu dimana masalahnya? Semua masalah ada di dalam sini. Dan itu juga yang sering kita sembunyikan. Seperti masalah banyak orang atas keinginannya meninggalkan kebodohan yang gelap menuju kecerdasan yang terang. Tapi anehnya, setelah segalanya terlihat saat cahaya bersinar, kita justru diam-diam merindukan kegelapan [T]

Tags: cintafilsafatkemanusiaanrenungansastra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Tepi Sawah Dibuka Aneka Workshop Bertema Budaya Indonesia

Next Post

Belle et Sébastien dan Le Nouveau – Dua Film Terpilih Perancis di Bentara Budaya Bali

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Belle et Sébastien dan Le Nouveau - Dua Film Terpilih Perancis di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co