2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelap, Cahaya, Rindu

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
July 9, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kali ini, saya ingin menjaga jarak dengan apa yang sudah saya pelajari. Menjaga jarak, artinya memberikan ruang antara pelajar dengan pelajaran. Pelajar kita sebut subjek, pelajaran disebut objek. Ruang itu dijaga, dengan harapan agar penilaian yang dilakukan bisa seobjektif mungkin. Kenapa menilai? Karena itulah yang dilakukan kebanyakan orang saat melihat, mendengar, menyentuh, mencium sesuatu. Bukankah itu yang selalu kita lakukan dengan sadar atau pun tidak.

Tidak sadar diibaratkan seperti kegelapan. Pada situasi itu, tidak ada yang bisa dilihat mata. Mata seperti buta, tapi sesungguhnya tidak. Meski mata dibuka lebar-lebar, tetap tidak ada hal lain yang dilihat kecuali gelap. Seperti barisan mata ikan tuna di keranjang dagang. Bagaimana barisan mata itu melihat, jika pemiliknya sudah mati.

Pada banyak pustaka klasik, kematian yang dilalui dengan sadar adalah cita-cita. Saya tidak mengerti kenapa barisan pustaka itu membicarakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Saking banyaknya pustaka sejenis itu, saya sempat menduga bahwa menjelaskan kematian adalah obsesi intelektual para pendahulu. Bagaimana mungkin menjelaskan sesuatu yang belum dialami? Sampai di titik itulah saya menghentikan pertanyaan. Dan tidak mencari jawabannya.

Tidak mencari adalah salah satu cara yang saya pelajari untuk mendapatkan jawaban. Seperti dua orang yang mengelilingi satu pulau. Bagi yang mencari akan dikelilinginya pulau itu. Bagi yang menunggu, ia akan diam tidak kemana-mana. Yang diam atau yang pergi, sama-sama sampai di “rumah”.

Perbedaannya terletak pada pengalaman. Yang pernah pergi, tahu bagaimana atmosfer tempat yang dilaluinya. Yang diam hanya menikmati cerita-cerita dari yang pergi. Mereka berdua memiliki kesimpulan yang sama, bahwa yang pergi akan kembali. Mereka berdua sama-sama tersenyum atas kesimpulan itu. Tapi senyum keduanya tidak sama rasanya.

Mirip dengan senyum orang yang menang dan yang kalah. Meski keduanya tersenyum, tapi keduanya menyimpan rasa berbeda. Anehnya, banyak juga orang yang dengan mudah menunjukkan rasa kemenangannya, tapi sangat susah mengakui kekalahan. Padahal keduanya sama saja di mata saya yang kecil ini. Menang atau kalah, keduanya tetap akan berubah.

Setelah perubahan itu terjadi, barulah mereka sadar, kalau segala yang diperebutkannya selama ini tidak lebih dari sekadar onggokan batu. Saya tidak bermaksud mengatakan kalau batu tidak ada nilainya. Tiap hal yang ada di bawah kaki langit dan di atas pangkuan bumi ini selalu bernilai. Hanya saja, tidak semua nilai itu bisa berguna di saat yang tepat. Memilih waktu yang tepat bukanlah perkara mudah.

Begitulah barangkali kelindan pikiran jika memikir-mikirkan pikiran sendiri yang gelap gulita. Pada masa-masa belakangan ini, saya sangat tertarik pada “pikiran”. Sebabnya, hanya karena ia begitu hebat. Bahkan, oleh tradisi, pikiran dijadikannya raja dari segala macam indria. Saya tidak benar-benar menemukan terjemahan yang pas untuk menerjemahkan kata indria dalam bahasa Indonesia. Dalam pemahaman sederhana, saya sebut saja indria sebagai alat. Karena ia adalah alat, maka sewaktu-waktu ia bisa tidak berguna.

Agama juga alat. Oleh banyak orang, agama disebutnya candu. Tapi oleh orang yang sama, agama itu dijalaninya dengan penuh kenikmatan. Seperti pecandu alkohol yang menikmati kemabukannya. Sudah tahu bisa mabuk, tetap saja diminumnya. Tidak penting lagi apa yang membuatnya mabuk, apakah bir hitam, arak, tuak, berem, atau yang lain. Pecandu agama, juga demikian.

Tidak penting lagi baginya, apakah yang sesungguhnya membuatnya mabuk. Apakah ritual yang di dalamnya adalah upakara dan upacara, ataukah mabuk karena sasana yang dijunjungnya setinggi batas galaksi. Dan, bukan tidak aneh lagi, ada orang yang dimabukkan oleh produk-produk intelektualnya sendiri berupa permenungan tattwa atau filsafat.

Ketiganya sama-sama pemabuk yang berkumpul di Bale Banjar menikmati be celeng. Masing-masing pemabuk, berpendapat kalau alkohol yang membuatnya mabuk adalah teman paling tepat untuk menikmati be celeng. Mereka terlihat berbeda karena punya “selera”. Yang membuat mereka terlihat sama, adalah sama-sama pusing kepala, dan sama-sama muntah. Seingat saya, muntahan selalu beraroma busuk.

Agama selalu terlihat kontradiktif. Pagi ia akan bilang kalau membunuh tidak dibenarkan. Siang hari ia akan bilang, membunuh itu diperbolehkan asal begitu dan begini. Sebenarnya, perlakuan itu boleh apa tidak? Biarkan saja pertanyaan tadi dijawab oleh ahlinya ahli. Biarkan juga ahli-ahli itu mempertanggungjawabkan keahliannya yang konon didapatnya dengan susah payah dan dibuktikan oleh jejeran gelar seperti ular naga yang panjangnya bukan kepalang.

Tugas ahli memang begitu, yakni mengentaskan kegelapan pikiran dengan cahaya pengetahuan. Bodoh adalah gelap, cerdas adalah terang. Itulah jajaran konseptual yang sudah mendarah daging di tubuh. Tapi jangan salah, orang bodoh yang setia lebih utama dari pada orang cerdas tapi culas.

Contohnya seperti seorang bodoh yang menjadi pengiring raja. Karena suatu alasan, raja bepergian dengan menunggangi kuda. Sementara si bodoh mengikutinya dari belakang. Tugas si bodoh adalah memungut segala sesuatu milik raja yang terjatuh. Si bodoh yang taat itu melaksanakan perintah raja yang sudah seperti kata-kata Dewa.

Segala macam benda yang dijatuhkan oleh raja dipungutnya dan dimasukkan ke dalam sebuah kantung. Suatu ketika, kuda yang ditunggangi raja, berak sambil berjalan. Kotoran kuda itu jatuh tepat di depan si bodoh. Atas nama kesetiaan, dipungutlah kotoran itu dan dimasukkannya ke dalam kantung. Raja mana yang bisa menyalahkan kesetiaan semacam itu?

Ada cerita lain lagi. Ini tentang dua orang. Yang satunya cerdas, yang satunya bodoh. Mereka bertetangga. Karena bertetangga, maka wajarlah keduanya saling membantu. Si Pintar pernah sekali waktu meminjam sebuah penggorengan besar pada Si Bodoh. Sekarang Si Bodoh ingin menagihnya. Si Pintar memberikan satu penggorengan kecil pada Si Bodoh. Katanya, penggorengan besar miliknya telah beranak, dan sekarang anaknya dulu yang akan dikembalikan.

Si Bodoh percaya dan pulang ke rumah. Sampai di rumah, penggorengan kecil itu ditaruhnya di tungku dan ternyata pas. Di tungku itu pula ia mengaduk-aduk penggorengan saat memasak, tapi penggorengan yang ini tidak seperti penggorengan miliknya yang dulu. Dulu jika ia mengaduk-aduk penggorengannya maka penggorengan itu akan bergoyang. Ia tidak tahu, itu karena tungku lebih kecil dari pada penggorengannya. Dia hanya pernah mendengar, kalau ciri-ciri orang mati adalah tidak bergerak. Dikuburlah penggorengan itu karena katanya sudah mati.

Keesokan harinya, datanglah Si Pintar ke rumah Si Bodoh menagih penggorengan. Si Bodoh pun menerangkan kalau penggorengan kecil itu sudah mati, dan dikuburnya di belakang rumah. Si Pintar hanya kaget, tersenyum masam, dan kebingungan.

Itulah dua cerita singkat tentang kebodohan dan kepintaran. Yang satunya bercerita tentang Si Bodoh yang setia. Yang satunya, tentang Si Bodoh yang jujur dan polos. Ternyata kebodohan identik dengan kesetiaan, kejujuran dan kepolosan. Pada masa kini, orang yang demikian selalu dilindas jaman. Sayangnya, ketiga sifat itu adalah terjemahan dari satu kata yang selalu dielu-elukan pada tiap-tiap seminar tentang kebaikan. Terjemahan saya atas ketiga kata itu adalah Dharma.

Jadi jangan salahkan orang menjadi cerdas lalu culas, karena ia tidak ingin dilindas seperti orang-orang bodoh. Jangan juga mengeluh karena sering diliciki oleh orang yang lebih cerdas, karena kita sudah pernah licik pada mereka yang lebih bodoh. Hal ini semacam antiklimaks bagi saya sendiri. Sebenarnya, mana yang lebih baik, antara jadi bodoh di tempat gelap, atau cerdas di tempat terang. Mungkin keduanya sama saja, saking gelap atau karena saking terangnya, orang tak melihat apa-apa. Justru karena tidak melihat apa-apa, sang raja pikiran jadi tidak terikat oleh segala hasil pengelihatan. Banyak orang tidak ingin terikat, tapi tidak banyak yang tidak ingin melihat.

Selalu saja kontradiktif. Di satu sisi, orang tidak ingin merindukan, karena terkesan menyakitkan. Di sisi yang lain, dia butuh kerinduan agar tahu seberapa ukuran perasaannya dan perasaan orang yang dirindukannya. Tapi rindu tidak pernah ada jika jarak juga tidak. Rindu lenyap jika jarak hilang. Konon rindu bisa lenyap hanya karena dua hal.

Pertama karena ia bosan. Kedua, karena sudah bertemu dan menyatu. Keduanya sama-sama menghilangkan, tapi serasa tidak sama. Selalu begitu. Lalu dimana masalahnya? Semua masalah ada di dalam sini. Dan itu juga yang sering kita sembunyikan. Seperti masalah banyak orang atas keinginannya meninggalkan kebodohan yang gelap menuju kecerdasan yang terang. Tapi anehnya, setelah segalanya terlihat saat cahaya bersinar, kita justru diam-diam merindukan kegelapan [T]

Tags: cintafilsafatkemanusiaanrenungansastra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Tepi Sawah Dibuka Aneka Workshop Bertema Budaya Indonesia

Next Post

Belle et Sébastien dan Le Nouveau – Dua Film Terpilih Perancis di Bentara Budaya Bali

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post

Belle et Sébastien dan Le Nouveau - Dua Film Terpilih Perancis di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co