3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelap, Cahaya, Rindu

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
July 9, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kali ini, saya ingin menjaga jarak dengan apa yang sudah saya pelajari. Menjaga jarak, artinya memberikan ruang antara pelajar dengan pelajaran. Pelajar kita sebut subjek, pelajaran disebut objek. Ruang itu dijaga, dengan harapan agar penilaian yang dilakukan bisa seobjektif mungkin. Kenapa menilai? Karena itulah yang dilakukan kebanyakan orang saat melihat, mendengar, menyentuh, mencium sesuatu. Bukankah itu yang selalu kita lakukan dengan sadar atau pun tidak.

Tidak sadar diibaratkan seperti kegelapan. Pada situasi itu, tidak ada yang bisa dilihat mata. Mata seperti buta, tapi sesungguhnya tidak. Meski mata dibuka lebar-lebar, tetap tidak ada hal lain yang dilihat kecuali gelap. Seperti barisan mata ikan tuna di keranjang dagang. Bagaimana barisan mata itu melihat, jika pemiliknya sudah mati.

Pada banyak pustaka klasik, kematian yang dilalui dengan sadar adalah cita-cita. Saya tidak mengerti kenapa barisan pustaka itu membicarakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Saking banyaknya pustaka sejenis itu, saya sempat menduga bahwa menjelaskan kematian adalah obsesi intelektual para pendahulu. Bagaimana mungkin menjelaskan sesuatu yang belum dialami? Sampai di titik itulah saya menghentikan pertanyaan. Dan tidak mencari jawabannya.

Tidak mencari adalah salah satu cara yang saya pelajari untuk mendapatkan jawaban. Seperti dua orang yang mengelilingi satu pulau. Bagi yang mencari akan dikelilinginya pulau itu. Bagi yang menunggu, ia akan diam tidak kemana-mana. Yang diam atau yang pergi, sama-sama sampai di “rumah”.

Perbedaannya terletak pada pengalaman. Yang pernah pergi, tahu bagaimana atmosfer tempat yang dilaluinya. Yang diam hanya menikmati cerita-cerita dari yang pergi. Mereka berdua memiliki kesimpulan yang sama, bahwa yang pergi akan kembali. Mereka berdua sama-sama tersenyum atas kesimpulan itu. Tapi senyum keduanya tidak sama rasanya.

Mirip dengan senyum orang yang menang dan yang kalah. Meski keduanya tersenyum, tapi keduanya menyimpan rasa berbeda. Anehnya, banyak juga orang yang dengan mudah menunjukkan rasa kemenangannya, tapi sangat susah mengakui kekalahan. Padahal keduanya sama saja di mata saya yang kecil ini. Menang atau kalah, keduanya tetap akan berubah.

Setelah perubahan itu terjadi, barulah mereka sadar, kalau segala yang diperebutkannya selama ini tidak lebih dari sekadar onggokan batu. Saya tidak bermaksud mengatakan kalau batu tidak ada nilainya. Tiap hal yang ada di bawah kaki langit dan di atas pangkuan bumi ini selalu bernilai. Hanya saja, tidak semua nilai itu bisa berguna di saat yang tepat. Memilih waktu yang tepat bukanlah perkara mudah.

Begitulah barangkali kelindan pikiran jika memikir-mikirkan pikiran sendiri yang gelap gulita. Pada masa-masa belakangan ini, saya sangat tertarik pada “pikiran”. Sebabnya, hanya karena ia begitu hebat. Bahkan, oleh tradisi, pikiran dijadikannya raja dari segala macam indria. Saya tidak benar-benar menemukan terjemahan yang pas untuk menerjemahkan kata indria dalam bahasa Indonesia. Dalam pemahaman sederhana, saya sebut saja indria sebagai alat. Karena ia adalah alat, maka sewaktu-waktu ia bisa tidak berguna.

Agama juga alat. Oleh banyak orang, agama disebutnya candu. Tapi oleh orang yang sama, agama itu dijalaninya dengan penuh kenikmatan. Seperti pecandu alkohol yang menikmati kemabukannya. Sudah tahu bisa mabuk, tetap saja diminumnya. Tidak penting lagi apa yang membuatnya mabuk, apakah bir hitam, arak, tuak, berem, atau yang lain. Pecandu agama, juga demikian.

Tidak penting lagi baginya, apakah yang sesungguhnya membuatnya mabuk. Apakah ritual yang di dalamnya adalah upakara dan upacara, ataukah mabuk karena sasana yang dijunjungnya setinggi batas galaksi. Dan, bukan tidak aneh lagi, ada orang yang dimabukkan oleh produk-produk intelektualnya sendiri berupa permenungan tattwa atau filsafat.

Ketiganya sama-sama pemabuk yang berkumpul di Bale Banjar menikmati be celeng. Masing-masing pemabuk, berpendapat kalau alkohol yang membuatnya mabuk adalah teman paling tepat untuk menikmati be celeng. Mereka terlihat berbeda karena punya “selera”. Yang membuat mereka terlihat sama, adalah sama-sama pusing kepala, dan sama-sama muntah. Seingat saya, muntahan selalu beraroma busuk.

Agama selalu terlihat kontradiktif. Pagi ia akan bilang kalau membunuh tidak dibenarkan. Siang hari ia akan bilang, membunuh itu diperbolehkan asal begitu dan begini. Sebenarnya, perlakuan itu boleh apa tidak? Biarkan saja pertanyaan tadi dijawab oleh ahlinya ahli. Biarkan juga ahli-ahli itu mempertanggungjawabkan keahliannya yang konon didapatnya dengan susah payah dan dibuktikan oleh jejeran gelar seperti ular naga yang panjangnya bukan kepalang.

Tugas ahli memang begitu, yakni mengentaskan kegelapan pikiran dengan cahaya pengetahuan. Bodoh adalah gelap, cerdas adalah terang. Itulah jajaran konseptual yang sudah mendarah daging di tubuh. Tapi jangan salah, orang bodoh yang setia lebih utama dari pada orang cerdas tapi culas.

Contohnya seperti seorang bodoh yang menjadi pengiring raja. Karena suatu alasan, raja bepergian dengan menunggangi kuda. Sementara si bodoh mengikutinya dari belakang. Tugas si bodoh adalah memungut segala sesuatu milik raja yang terjatuh. Si bodoh yang taat itu melaksanakan perintah raja yang sudah seperti kata-kata Dewa.

Segala macam benda yang dijatuhkan oleh raja dipungutnya dan dimasukkan ke dalam sebuah kantung. Suatu ketika, kuda yang ditunggangi raja, berak sambil berjalan. Kotoran kuda itu jatuh tepat di depan si bodoh. Atas nama kesetiaan, dipungutlah kotoran itu dan dimasukkannya ke dalam kantung. Raja mana yang bisa menyalahkan kesetiaan semacam itu?

Ada cerita lain lagi. Ini tentang dua orang. Yang satunya cerdas, yang satunya bodoh. Mereka bertetangga. Karena bertetangga, maka wajarlah keduanya saling membantu. Si Pintar pernah sekali waktu meminjam sebuah penggorengan besar pada Si Bodoh. Sekarang Si Bodoh ingin menagihnya. Si Pintar memberikan satu penggorengan kecil pada Si Bodoh. Katanya, penggorengan besar miliknya telah beranak, dan sekarang anaknya dulu yang akan dikembalikan.

Si Bodoh percaya dan pulang ke rumah. Sampai di rumah, penggorengan kecil itu ditaruhnya di tungku dan ternyata pas. Di tungku itu pula ia mengaduk-aduk penggorengan saat memasak, tapi penggorengan yang ini tidak seperti penggorengan miliknya yang dulu. Dulu jika ia mengaduk-aduk penggorengannya maka penggorengan itu akan bergoyang. Ia tidak tahu, itu karena tungku lebih kecil dari pada penggorengannya. Dia hanya pernah mendengar, kalau ciri-ciri orang mati adalah tidak bergerak. Dikuburlah penggorengan itu karena katanya sudah mati.

Keesokan harinya, datanglah Si Pintar ke rumah Si Bodoh menagih penggorengan. Si Bodoh pun menerangkan kalau penggorengan kecil itu sudah mati, dan dikuburnya di belakang rumah. Si Pintar hanya kaget, tersenyum masam, dan kebingungan.

Itulah dua cerita singkat tentang kebodohan dan kepintaran. Yang satunya bercerita tentang Si Bodoh yang setia. Yang satunya, tentang Si Bodoh yang jujur dan polos. Ternyata kebodohan identik dengan kesetiaan, kejujuran dan kepolosan. Pada masa kini, orang yang demikian selalu dilindas jaman. Sayangnya, ketiga sifat itu adalah terjemahan dari satu kata yang selalu dielu-elukan pada tiap-tiap seminar tentang kebaikan. Terjemahan saya atas ketiga kata itu adalah Dharma.

Jadi jangan salahkan orang menjadi cerdas lalu culas, karena ia tidak ingin dilindas seperti orang-orang bodoh. Jangan juga mengeluh karena sering diliciki oleh orang yang lebih cerdas, karena kita sudah pernah licik pada mereka yang lebih bodoh. Hal ini semacam antiklimaks bagi saya sendiri. Sebenarnya, mana yang lebih baik, antara jadi bodoh di tempat gelap, atau cerdas di tempat terang. Mungkin keduanya sama saja, saking gelap atau karena saking terangnya, orang tak melihat apa-apa. Justru karena tidak melihat apa-apa, sang raja pikiran jadi tidak terikat oleh segala hasil pengelihatan. Banyak orang tidak ingin terikat, tapi tidak banyak yang tidak ingin melihat.

Selalu saja kontradiktif. Di satu sisi, orang tidak ingin merindukan, karena terkesan menyakitkan. Di sisi yang lain, dia butuh kerinduan agar tahu seberapa ukuran perasaannya dan perasaan orang yang dirindukannya. Tapi rindu tidak pernah ada jika jarak juga tidak. Rindu lenyap jika jarak hilang. Konon rindu bisa lenyap hanya karena dua hal.

Pertama karena ia bosan. Kedua, karena sudah bertemu dan menyatu. Keduanya sama-sama menghilangkan, tapi serasa tidak sama. Selalu begitu. Lalu dimana masalahnya? Semua masalah ada di dalam sini. Dan itu juga yang sering kita sembunyikan. Seperti masalah banyak orang atas keinginannya meninggalkan kebodohan yang gelap menuju kecerdasan yang terang. Tapi anehnya, setelah segalanya terlihat saat cahaya bersinar, kita justru diam-diam merindukan kegelapan [T]

Tags: cintafilsafatkemanusiaanrenungansastra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Tepi Sawah Dibuka Aneka Workshop Bertema Budaya Indonesia

Next Post

Belle et Sébastien dan Le Nouveau – Dua Film Terpilih Perancis di Bentara Budaya Bali

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post

Belle et Sébastien dan Le Nouveau - Dua Film Terpilih Perancis di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co