6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batur, Suluh Ritual dan Pentingnya Imajinasi

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
May 28, 2019
in Esai
Batur, Suluh Ritual dan Pentingnya Imajinasi

Batur

Ketika tidak menyisakan ruang untuk perbedaan, tradisi sedang membangun benteng kematiannya sendiri. Cepat atau lambat itu akan terjadi. Tradisi yang ingin hidup panjang akan memelihara perbedaan itu. Sedangkan tradisi yang membunuh perbedaan, walau ingin hidup panjang pasti berumur pendek (Palguna, 2007:19)  


Begitu gegap gempitanya umat Hindu Bali menggelar upacara/ritual. Ini dipandang menunjukkan gairah umat  bersujud bakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dua ritual besar tersebut adalah Panca Wali Krama di Pura Agung Besakih dan Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Pura Agung Besakih dan Pura Ulun Danu Batur menjadi dua pura terpenting yang menjadi pusat orientasi ritual umat Hindu Bali.  Ayah saya dalam suatu kesempatan berujar, “Umat kita bangkit,” katanya mantap. Benarkah demikian? Apakah memang betul uah Hindu Bali sedang bangkit? Apakah sebelumnya tidur terlelap?

Sungguh sulit menanggapi pernyataan ayah saya tersebut. Jika melihat di permukaan, memperhatikan antusias umat untuk menuju jalan agama ini, tentu kita akan dibuat terpaku. Kemegahan dan kemeriahan ritual bukan rahasia lagi di Bali. Seluruh penjuru gumi Bali mengarahkan orientasi ke Batur dan Besakih. Seluruh krama Hindu Bali memiliki paket perjalanan bersama keluarga, komunitas, atau banjar dari Batur lalu kemudian diakhiri di Besakih.         

Jika kita mencoba lebih dalam merenungkan, pentas kemeriahan ritual hanyalah satu babakan. Babakan berikutnya adalah memaknai ritual bagi kemanusiaan itu sendiri. Ritual jika menyentuh akar tattwa-nya akan terhayati hingga ke sanubari, melekat kuat menjadi suluh dalam kehidupan. Namun, jika ritual hanya dimaknai sebatas pentas kemegahan dan status, maka kita akan disuguhkan teater kehidupan yang paling menakjubkan, sekaligus magis. Tidak berarti apa-apa bagi kehidupan, selain rutinitas dan beban. Setelahnya, kita akan hidup menjauh dari ritual tersebut.  Ritual sepatutnya memberi makna dalam kehidupan itu sendiri secara praksis. Namun, tentu tidak segampang itu. Agama dan ritual di dalamnya penuh dengan kompleksitas dan ketegangan. Yang membuat ketegangan itu tentu saja manusia, umat, yang menafsirkannya.

Di Bali, jalan agama yang gamblang dan kolektif dipraktikkan adalah ritual. Jalan inilah yang menyediakan ruang untuk masyarakat Bali memuja Tuhannya secara kolektif. Namun, sebaiknya kita merenungkan apa yang disampaikan oleh Palguna (2002: 17) bahwa praktik pola piker kolektif akan melahirkan individualism di dalam dirinya sendiri. Cepat atau lambat. Sehingga perlawanan lebih sering datang dari dalam. Bukan dari luar seperti yang diduga. Sebuah “benteng tradisi” yang dibangun menangkal pengaruh luar, yang dipandang negatif, tidak akan banyak berguna. Karena kekuatan perlawanan sedang dibangun di dalam dirinya sendiri, oleh dirinya sendiri.  



Pelaksanaan ritual pakelem di Danau Batur pada pelaksanaan Danu Kertih 2019 (foto: I Ngurah Suryawan)

 Tradisi menuju Imajinasi?

Narasi satir dan ironi-ironi yang dituliskan IBM Dharma Palguna dalam bukunya, Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran (2007), bagi saya pribadi menohok kesadaran manusia Bali tentang diri dan lingkunganya. Entah bagi (manusia Bali) yang lain. Saya tertusuk hingga ke hulu hati merenungkan begitu kontradiktifnya kehidupan kita sehari-hari di pulau ini. Bayangkanlah, kebangkitan Hindu yang dibangga-banggakan dengan meriahnya ritual dan “kesadaran” umat pedek tangkil ke pura-pura, berjalan beriringan dengan keberingasan manusia Bali, baik saat menebas saudaranya sendiri maupun terbius narkoba. Bisa jadi, pagi harinya mencakupkan bakti ke pura, namun petang harinya mulai beringas dan selalu awas jika suatu saat diserang musuh.

Ritual yang penuh harmoni berlangsung tanpa henti, namun keberingasan penuh ironi terus-menerus terjadi. Bagaimana memelihara (tradisi) ritual di tengah fragmen-fragmen kehidupan yang penuh ironi dan ambivalensi (kemenduaan)? Ritual, sebagaimana juga tradisi, sepatutnya menjejak bumi sekaligus juga jujur. Menjejak bumi dalam artian adalah merekam perubahan-perubahan yang lahir dari keberbedaan pendukungnya. Hanya dengan suara berbeda, hidup akan dinamis. Jika sudah seragam, yang terjadi adalah kepalsuan, kepura-puraan. Jujur adalah terbuka dan membiarkan setiap generasi mencari nilai yang sesuai dengan semangat zamannya. Jika tradisi yang kaku dan tidak jujur akan menyemaikan pertanyaan kritis perihal ada sesuatu yang disembunyikannya.

Saya menempatkan kita, krama Bali seluruhnya, terikat antara labirin-labirin yang membawa kita memahami tradisi—dogma dalam hal-hal tertentu— dalam sepanjang kehidupan ini. Ikatan pada tradisi dengan serangkaian ritual selain menjadi denyut nadi kehidupan juga sekaligus mencipta kebudayaan. Tradisi membawa kita belajar tentang kehidupan itu sendiri. Meski terkadang terkesan mengekang, tradisi menjadi amunisi untuk perubahan. Berimajinasi tentang perubahan-perubahan ke depan justru menjadi spirit tradisi tersebut. Tradisi yang tidak menciptakan perbedaan—dan perubahan itu sendiri—akan termakan oleh zaman. Oleh sebab itulah, manusia Bali, bagi saya, bukan tidak memiliki imajinasi ke depan meski terjerat labirin-labirin tradisi. Melalui tradisilah kita bisa memulai perubahan, meski itu sungguh-sungguh berat.

Ruang-ruang antara, keterhubungan dengan dunia global, dan memelihara imajinasi tentang Bali ke depannya, memungkinkan manusia Bali merefleksikan tradisinya. Dengan demikianlah yang akan memungkinkan daya-daya imajinasi perubahan itu lahir. Geertz (1992; Dharmayuda, 1992:16) justru mengingatkan:

Manusia harus melakukan kreasi dari ortodoksi (orthodoxy) menuju ortopraksis (orthopraxy). Manusia diharapkan jangan hanya terpaku pada dogma-dogma yang ketat apa adanya, tetapi melakukan penafsiran umum, melakukan penilaian, menemukan hakekat dasarnya, sehingga mencapai makna yang tersimpan dibalik semua itu. Tetapi perlu disadari bahwa usaha manusia seperti itu bukan hanya sekadar mengungkap makna-makna simbolik, tetapi lebih jauh dapat menghayati, meningkatkan kepribadian dan pada akhirnya merupakan sarana untuk menuntun kehidupan manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.     

Batur adalah tradisi dan ritual itu sendiri. Jika melihat jejak peradabannya, jelaslah bahwa daerah kawasan bukit Cintamani Mmal (Kintamani) menjadi pusat peradaban spiritual Balidwipa. Sumarta (2015: 5), dengan mengacu pada catatan otentik prasasti 001 Sukawana A-I, menyebutkan pernah berdiri “kampus besar perguruan tinggi kerohanian” model Bali Kuno berupa pertapaan dan pesraman. Selain sebagai cikal-bakal peradaban spiritual, kawasan perbukitan Cintamani Mmal dengan Prasasti 001 Sukawana A-I menjadi bukti mulainya “revolusi aksara” yaitu keberaksaraan sebagai pembuka babakan zaman sejarah Bali.  



Batur dan ritual adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Masyarakat Batur dengan Pura Ulun Danu Batur nya masih bersetia melaksanakan rentetan ritual (foto: I Ngurah Suryawan)

Bagaimana Batur (desa, masyarakat, Pura Ulun Danu Batur dan pura-pura lain di wilayah kaldera) menjaga keberlangsungan tradisi sembari berimajinasi tentang perubahan ke depan? Jejaring pendukung desa terhadap pura-pura penting di kawasan Batur adalah modal sosial yang tiada tandingannya. Jejaring inilah, selain masyarakat Desa Batur keseluruhan, yang menopang keberlangsungan tradisi di Pura Ulun Danu Batur secara khusus. Jaringan Pepasihan/Pasihan menerangkan sebuah jaringan ketergantungan kompleks dan rumit yang menghubungkan antara Ida Bhatara, pura, para petani, dan desa-desa yang terikat di dalamnya (Hauser-Schaublin, 2011: 30; 37).

Selanjutnya, bisakah Batur menggerakkan tradisi dan ritual itu sendiri, menjadi modal sosial untuk menanggapi perubahan? Sudah tentu agar ritual termanifestasi dalam kehidupan praksis manusianya. Satu hal yang penting juga adalah, menjadikan tattwa ritual sebagai pondasi untuk merespon perubahan.

Saya membayangkan jika rentetan ritual yang orang Bali lakukan tidak terhenti pada kulit luar kemeriahan upacara semata. Nir-substansi, tanpa hakekat untuk pegangan hidup keseharian. Ritual sepatutnya menjadi suluh kehidupan, tentunya dengan memahai substansinya untuk dikontekstualisasikan dalam kehidupan keseharian. Jika sudah demikian, maka menjadi penting bagaimana orang Bali berimajinasi untuk menjadikan ritual bukan beban tradisi, tetapi modal sosial budaya untuk menguatkan spirit manusia Bali itu sendiri. Manusia Bali yang menjejak tradisi tetapi juga memiliki imajinasi tanpa henti untuk menanggapi perubahan. [T]   

Batur, 31 Maret 2019 

Tags: alamBaturDanau BaturGunung BatursastraTradisiupacara
Share143TweetSendShareSend
Previous Post

Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

Next Post

Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co