2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aneh, Hujan di Singaraja, Selalu Hadirkan Cerita Kecil dari Kampung

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
March 9, 2019
in Esai
Aneh, Hujan di Singaraja, Selalu Hadirkan Cerita Kecil dari Kampung

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Kenapa harus hujan? Bagi saya itu adalah sebuah pertanyaan kecil yang hadir dalam intuisi.

Ada sesuatu fenomena atau seperti ada kekuatan besar mengingat masa yang pernah terjadi silam. Saya tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Baiklah saya akan menceritakan antara saya dan hujan.

Saya berada di Singaraja hampir tiga tahun sebagai anak rantauan hanya untuk kuliah. Meninggalkan keluarga, saudara, dan sahabat jauh dari pulau Jawa. Entah berapa musim hujan terlewati. Ketika hujan turun sepertinya ada kekuatan yang hadir mengingatkan cerita kecil yang ada di tanah Jawa.

Saat itu hujan di waktu pagi, kebetulan hari sabtu tidak ada kegiatan. Dari jendela kos kulihat hujan turun dan setiap tetesanya menghadirkan cerita.

Saya ingat ketika pagi seperti ini sewaktu di kampung saya harus berada di ladang bersama bapak. Menenteng sabit, cangkul, dan karung. Untuk urusan memotong rumput-rumput belukar yang mengganggu tanaman itu bagian saya dengan sabit dan karung yang saya bawa, sementara bapak saya hanya mencangkul bagian pinggir ladang karena tanah di sana kalau musim hujan sering kelimpahan air dari aliran sungai-sungai kecil yang ada di pinggir ladang.

Selain kami berdua masih saya ingat sosok ibu, acap kali mengantarkan makanan untuk kami yang ada di ladang mulai dari pagi. Makanan yang Ibu bawa memang tidak seberapa, hanya nasi putih dicampur jagung sedangkan lauknya hanya tahu, tempe, dan sayur-mayur dilengkapi dengan sambal beserta krupuknya.

Tapi rasanya sangat berbeda jika dibandingkan dengan makan di rumah walaupun yang dimakan itu berlauk ayam atau ikan laut.

Ada kenikmatan tersendiri makan bersama seperti di sawah-sawah sembari melihat petani desa memanggul rumput, ibu paruh baya menggendong bayinya, dan melihat burung-burung kecil yang melalu-lalang hinggap. Seharian berada di ladang mungkin kami pulang hanya untuk Shalat Duhur lalu setelah itu kembali lagi ke ladang untuk meneruskan kembali menyabit jika belum selesai.

Suasana yang sangat saya rindukan beberapa tahun ini, dan cerita lama ini muncul dalam ingatan ketika hujan turun bahkan terkadang membuat saya larut dalam rindu dan kesedihan.

Entah berapa musim hujan saya masih ada di Singaraja, kembali lagi hujan mengingatkan pada sebuah cerita.

Pada sore itu, saya ingat ketika berteduh di kantin sembari menyeruput kopi. Kebetulan sekali tugas kuliah semakin menumpuk dan di sisi lain dimarahi oleh dosen. Sekali lagi hujan mengingatkanku, betapa asiknya ketika saya masih belum kuliah.

Dulu kalau di kampung hujan-hujan seperti itu asik bermain bola bersama teman-teman sebaya, lucunya lagi kami bermain bola bukan di lapangan tapi di halaman rumah tetangga karena untuk bermain bola di lapangan jaraknya cukup jauh dari kampung.

Masih saya ingat waktu itu bermain bola memiliki peraturan-peraturan yang kocak di tanah yang becek dan itu menjadi suasana bermain sangat nyaman, jatuh tersungkur, dan ketika pulang diomeli oleh ibu itu sudah menjadi kebiasaan yang kami lakukan.

Lamunan di kantin saat itu buyar ketika petir menggelegar semakin keras, sementara saya harus pulang karena menjelang petang.

Terkadang saya berpikir ada apa dengan hujan, karena bak ada kekutan yang mengembalikan seseorang pada cerita lama. Bahkan hal demikian tidak melulu hanya dialami oeh saya, melainkan juga sahabat ketika asik bincang-bincang tentang kekuatan di balik hujan. Bahkan mereka juga menceritakan ingatan masa lalunya dengan versinya masing-masing, yang pasti cerita yang diambil dari kampung masing-masing.

Saya ceritakan lagi ingatan silam yang datang, kali ini pasca langit biru lepas hujan. Saat itu duduk meringkuk di atas karpet depan kos, sendirian pula. Seteguk teh hangat yang menemani sampai habis bersama rintik hujan yang reda. 

Tiba-tiba saya ingat, dulu pasca hujan seperti ini di kampung mencari jamur bersama kerabat, kadang pula bersama rekan sebaya. Mengingat kami anak yang lahir dan besar di kampung nan banyak tanah lapang berupa persawahan. Kami menyusuri setiap petak sawah di bagian pojok, biasanya jamur-jamur adanya di sana berjejeran di tanah yang lembap.

Selain di pojok sawah juga tak kalah banyak mencari jamur di bawah lumbung padi di antara tumpukan jerami yang petani simpan di dekat lumbung, lumayan banyak entah itu jamur jenis apa. Penat yang kami rasa solah-olah hilang karena serunya mencari jamur dengan canda dan tawa mereka di area persawahan.

Biasanya selepas mencari jamur kami serahkan pada Ibu entah nanti mau digoreng atau dibuat jamur dengan kuah yang lezat, sangat nyaman apa lagi biasanya kami makan bersama dengan keluarga. Kali ini saya rindukan momen yang seperti sedia kala, tapi yasudahlah waktu liburan semester masih lama.

Kamarin, saat hari raya Nyepi tepatnya pagi yang lengang saya terperangah dengan penglihatan masih temaram saat kembali lagi hujan kecil. Mulailah cerita masa lalu datang. Biasanya pagi-pagi yang masih remang-remang seperti ini saya dan petani desa di kampung mulai ke sawah membawa penggilis padi, gadang, sabit, dan terpal.

Beramai-ramai memanen padi bergerombolan setiap keluarga dan itu saya lakukan setiap kali musim menanam padi. Di sana ada dangau tempat kami berteduh tempat sejenak melepas penat bersama embusan angin, kicau burung, tupai-tupai di dahan pohon, domba-domba petani, dan sebagainya.

Sebenarnya masih banyak lagi cerita kecil yang belum saya utarakan dalam tulisan ini, tapi yasudahlah cukup sampai di sini saja, kali lain akan saya lanjutkan. Insyaallah, saya tidak mau berjanji karena takut dosa jika tidak ditepati.

Hujan memang begitu, di setiap tetes meghadirkan sebuah cerita. Cerita-cerita ini hadir hanya saat hujan dan pasca hujan turun. Bahkan catatan kecilpun terkadang lebih nyaman di tulis saat hujan. Di bawah ini potret kampung halaman saya yang masih asri. Ah…ingat, ini bukan puisi hanya saja catatan kecil.

KAMPUNG-TANAH JAWA

Berapa kemarau panjang dan musim hujan

menghiasi waktu aku merantau.

Aroma tubuh dan rimbunmu menyeruak

masuk memancing rindu.

Aku pulang pertiwi masih tak berlumur.

Mata air memancur di tepi bukit.

Mengalir dari hulu ke hilir

membasahi kering rerumputan.

Sekelumit petak tanah masih membekas

jemari di antara lumpur.

Teduh jerami kering dangau di sanalah Ibu meringkuk.

Menyantap buah nyunyuran kecil berteman angin

yang meniup-niup sekujur tubuh.

Tak kutemukan bising bus kota.

Suara ringkih ujar petani desa.

Kicau burung pipit menyahut bergantian.

Sirkus tupai bergelantungan  dari ranting ke ranting.

Domba liar di hamparan rumput tanah Jawa.

Sekali lagi bumi pertiwi masih tak berlumur.

Tempat aku menjamah santapan pagi bersama Ibu.

Memberi dongeng lampau turun-temurun hingga

padaku sebagai anakmu.

Tags: hujanjawakampungkenangannostalgiaSingaraja
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Acintya

Next Post

“Petang di Taman” pada Petang Basement Kampus Bawah Undiksha

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Petang di Taman” pada Petang Basement Kampus Bawah Undiksha

“Petang di Taman” pada Petang Basement Kampus Bawah Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co