3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Studio Gelombang Batuan: Melukis Tradisi, Tradisi Melukis

Ni Luh Wanda Putri Pradanti by Ni Luh Wanda Putri Pradanti
February 16, 2019
in Features
Studio Gelombang Batuan: Melukis Tradisi, Tradisi Melukis

Anak-anak belajar melukis di Studio Gelombang, Batuan, Gianyar

Menikmati Gianyar sebagai pusat kesenian Bali, tidak lengkap rasanya bila tidak menelusuri sisi berkeseniannya. Karenanya, saya menyempatkan diri datang ke Desa Batuan untuk mencari tahu tentang gaya lukis dengan teknik tradisi batuan. Saya bertemu dengan Bli Made Griyawan di studio miliknya, di mana ia sedang mengajar anak-anak melukis.

Studionya terletak di antara persawahan dengan beberapa rumah berdiri di antaranya. Ia memberi nama studionya sebagai Studio Gelombang (Wave Studio). Pemberian nama itu didasarkan pada pembacaan dinamika kehadiran anak-anak yang belajar melukis di studio miliknya, di mana anak-anak datang secara bergelombang, sesuai dengan waktu luang yang dimiliki.

Pada nama itu ia juga menyimpan harapan bahwa kehadiran anak-anak akan terus menerus berlanjut, datang seperti gelombang yang tidak henti bergerak ke tepian, meski suatu ketika akan hilang, akan muncul lagi gelombang baru, sehingga memiliki keberlanjutan secara terus menerus.


Made Griyawan

Griyawan menjelaskan bahwa tujuan pendirian Studio Gelombang ini tidak hanya untuk mengajari anak melukis dengan gaya tradisi dan melestarikan budaya setempat saja, melainkan bertujuan untuk membudayakan agar melukislah yang menjadi tradisi, terlepas dari pilihan yang mereka pilih adalah melukis dengan tradisi batuan, ataupun tidak.

“Di Batuan sudah mentradisi orang melukis, tak masalah hasilnya berbeda. Dari dulu sampai sekarang tradisinya masih tetap saja melukis,” paparnya.

Dengan pemandangan yang memanjakan mata diiringi angin sepoi, saya kemudian duduk, dan menikmati proses yang sedang berlangsung dalam ruang studio tersebut.

Anak-anak yang hadir pada saat itu sedang menyelesaikan satu lukisan besar yang dilukis diatas kain kanvas bersama-sama. Ini adalah project bersama yang nantinya akan mereka tampilkan dalam sebuah pameran bersama.

Mereka menggambar sosok ikan dan sedang melakukan tahapan ngucek. Ngucek adalah tahapan keempat dari total 5 tahap melukis dengan gaya batuan. Tahap pertama adalah pemilihan atau pembuatan bahan dengan proses yang baik dan benar. Tahap kedua adalah ngorten atau membuat sketsa. Tahap ketiga adalah nyawi atau mempertegas garis sketsa (menebalkan sketsa). Tahap keempat adalah ngucek yang meliputi proses hitam putih, membuat dimensi serta membuat gelap terang.

Ada beberapa istilah yang terdapat dalam tahap ngucek diantaranya adalah nerangan, yaitu memisahkan obyek satu dengan yang lain, mempertegas bagian atas dan bawah atau jauh dekat. Nyigar adalah memperkuat garis, mangunin adalah memberi kesan berisi atau membelah bidang dengan tinta, nyelekin adalah mempertegas ruang yang gelap.

Proses ngucek terjadi berkali-kali dengan menggunakan dua kuas, satu kuas untuk mengusap tinta, satu lagi untuk mengusap air sehingga dapat menciptakan degradasi atau dimensi. Ini merupakan proses yang memakan waktu paling lama dalam melukis gaya batuan.

Tahap kelima adalah ngewarna atau memberikan warna. Tahap kelima ini hanya digunakan bila diperlukan, sebab lukisan gaya batuan dapat dianggap selesai meski hanya menggunakan warna hitam putih saja tanpa warna lain.

Karya-karya anak-anak dari Studio Gelombang, Batuan

Pada umumnya, dahulu lukisan-lukisan batuan hanya berwarna hitam putih yang dilukis di atas kertas dan dibuat dengan penelak (bambu yang di runcingkan) dan tinta cina. Namun, kini beberapa pelukis batuan memberikan suatu bentuk-bentuk tampilan baru pada karyanya, melalui warna, bentuk dan ide yang baru yang dibuat berbeda dari proses aslinya.

Griyawan sendiri meyakini bahwa seni harus bergerak dinamis, sebab budaya adalah sesuatu yang harmonis, dimana perkembangannya selalu menyesuaikan dengan jaman. Melukis bisa menggunakan material apapun yang ada, kertas, krayon, pensil warna, cat akrilik, dan lain sebagainya. Sebab bila pelukis tradisi terlalu terpaku pada aturan lama mengenai bahan-bahan dasar untuk melukis, mereka akan sulit membuat karya, karena bahan-bahan yang diperlukan kini terbatas.

Tujuan Griyawan mengajar anak-anak adalah untuk melestarikan tradisi (melukis) dan juga memberi edukasi. Mengajar melukis dengan teknik batuan member pelajaran karakter, bagaimana anak-anak bisa fighting atau berjuang dengan diri sendiri untuk mengontrol diri. Contoh ketika membuat sigar mangsi. Ini latihan mengontrol kesabaran. Juga pembelajaran tentang etika. Dalam goresan kuas-kuasnya, anak-anak boleh aktif dan nakal, tetapi tidak boleh keluar garis, dalam artian ada batasan yang membatasi.

“Belajar teknik batuan sama dengan belajar meditasi kreatif,” katanya.

Studionya dibuka untuk umum, pada semua kalangan yang ingin belajar, tidak hanya untuk mengajari anak-anak dari desa batuan. Ia membuka waktu bebas untuk kedatangan anak-anak itu pada hari Sabtu jam 2 siang, serta minggu pada jam  9 pagi dan jam 4 sore. (T)

Tags: anak-anakGianyarlukisanSeni Rupa
Share83TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Next Post

Kambing-Kambing

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Berupaya menjadi penulis

Related Posts

“12”, An Art Exhibition At Sika Gallery || A New Verve at the End of the Year

by tatkala
December 12, 2020
0
“12”, An Art Exhibition At Sika Gallery || A New Verve at the End of the Year

Sika Gallery ends 2020 with a new verve by presenting a collective exhibition which is embarked on as a fresh...

Read moreDetails

FLUID: A Collective Exhibition Diluting the Pandemic

by tatkala
November 26, 2020
0
FLUID: A Collective Exhibition Diluting the Pandemic

FLUID is a collective exhibition held by Adiwana Bisma, a newly launched resort in Ubud Bali.  Adiwana Bisma invited 11...

Read moreDetails

Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

by tatkala
August 8, 2019
0
Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

Back again this coming August, The Ubud Village Jazz Festival will be held on the 16th & 17th at the...

Read moreDetails

Defining Tranquility at Banyumala Waterfall

by Canestra Adi Putra
February 3, 2018
0
Defining Tranquility at Banyumala Waterfall

I am originally from North Bali, and I am extremely thankful for the beautiful life I have here. We have...

Read moreDetails
Next Post
Kambing-Kambing

Kambing-Kambing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co