2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Studio Gelombang Batuan: Melukis Tradisi, Tradisi Melukis

Ni Luh Wanda Putri Pradanti by Ni Luh Wanda Putri Pradanti
February 16, 2019
in Features
Studio Gelombang Batuan: Melukis Tradisi, Tradisi Melukis

Anak-anak belajar melukis di Studio Gelombang, Batuan, Gianyar

Menikmati Gianyar sebagai pusat kesenian Bali, tidak lengkap rasanya bila tidak menelusuri sisi berkeseniannya. Karenanya, saya menyempatkan diri datang ke Desa Batuan untuk mencari tahu tentang gaya lukis dengan teknik tradisi batuan. Saya bertemu dengan Bli Made Griyawan di studio miliknya, di mana ia sedang mengajar anak-anak melukis.

Studionya terletak di antara persawahan dengan beberapa rumah berdiri di antaranya. Ia memberi nama studionya sebagai Studio Gelombang (Wave Studio). Pemberian nama itu didasarkan pada pembacaan dinamika kehadiran anak-anak yang belajar melukis di studio miliknya, di mana anak-anak datang secara bergelombang, sesuai dengan waktu luang yang dimiliki.

Pada nama itu ia juga menyimpan harapan bahwa kehadiran anak-anak akan terus menerus berlanjut, datang seperti gelombang yang tidak henti bergerak ke tepian, meski suatu ketika akan hilang, akan muncul lagi gelombang baru, sehingga memiliki keberlanjutan secara terus menerus.


Made Griyawan

Griyawan menjelaskan bahwa tujuan pendirian Studio Gelombang ini tidak hanya untuk mengajari anak melukis dengan gaya tradisi dan melestarikan budaya setempat saja, melainkan bertujuan untuk membudayakan agar melukislah yang menjadi tradisi, terlepas dari pilihan yang mereka pilih adalah melukis dengan tradisi batuan, ataupun tidak.

“Di Batuan sudah mentradisi orang melukis, tak masalah hasilnya berbeda. Dari dulu sampai sekarang tradisinya masih tetap saja melukis,” paparnya.

Dengan pemandangan yang memanjakan mata diiringi angin sepoi, saya kemudian duduk, dan menikmati proses yang sedang berlangsung dalam ruang studio tersebut.

Anak-anak yang hadir pada saat itu sedang menyelesaikan satu lukisan besar yang dilukis diatas kain kanvas bersama-sama. Ini adalah project bersama yang nantinya akan mereka tampilkan dalam sebuah pameran bersama.

Mereka menggambar sosok ikan dan sedang melakukan tahapan ngucek. Ngucek adalah tahapan keempat dari total 5 tahap melukis dengan gaya batuan. Tahap pertama adalah pemilihan atau pembuatan bahan dengan proses yang baik dan benar. Tahap kedua adalah ngorten atau membuat sketsa. Tahap ketiga adalah nyawi atau mempertegas garis sketsa (menebalkan sketsa). Tahap keempat adalah ngucek yang meliputi proses hitam putih, membuat dimensi serta membuat gelap terang.

Ada beberapa istilah yang terdapat dalam tahap ngucek diantaranya adalah nerangan, yaitu memisahkan obyek satu dengan yang lain, mempertegas bagian atas dan bawah atau jauh dekat. Nyigar adalah memperkuat garis, mangunin adalah memberi kesan berisi atau membelah bidang dengan tinta, nyelekin adalah mempertegas ruang yang gelap.

Proses ngucek terjadi berkali-kali dengan menggunakan dua kuas, satu kuas untuk mengusap tinta, satu lagi untuk mengusap air sehingga dapat menciptakan degradasi atau dimensi. Ini merupakan proses yang memakan waktu paling lama dalam melukis gaya batuan.

Tahap kelima adalah ngewarna atau memberikan warna. Tahap kelima ini hanya digunakan bila diperlukan, sebab lukisan gaya batuan dapat dianggap selesai meski hanya menggunakan warna hitam putih saja tanpa warna lain.

Karya-karya anak-anak dari Studio Gelombang, Batuan

Pada umumnya, dahulu lukisan-lukisan batuan hanya berwarna hitam putih yang dilukis di atas kertas dan dibuat dengan penelak (bambu yang di runcingkan) dan tinta cina. Namun, kini beberapa pelukis batuan memberikan suatu bentuk-bentuk tampilan baru pada karyanya, melalui warna, bentuk dan ide yang baru yang dibuat berbeda dari proses aslinya.

Griyawan sendiri meyakini bahwa seni harus bergerak dinamis, sebab budaya adalah sesuatu yang harmonis, dimana perkembangannya selalu menyesuaikan dengan jaman. Melukis bisa menggunakan material apapun yang ada, kertas, krayon, pensil warna, cat akrilik, dan lain sebagainya. Sebab bila pelukis tradisi terlalu terpaku pada aturan lama mengenai bahan-bahan dasar untuk melukis, mereka akan sulit membuat karya, karena bahan-bahan yang diperlukan kini terbatas.

Tujuan Griyawan mengajar anak-anak adalah untuk melestarikan tradisi (melukis) dan juga memberi edukasi. Mengajar melukis dengan teknik batuan member pelajaran karakter, bagaimana anak-anak bisa fighting atau berjuang dengan diri sendiri untuk mengontrol diri. Contoh ketika membuat sigar mangsi. Ini latihan mengontrol kesabaran. Juga pembelajaran tentang etika. Dalam goresan kuas-kuasnya, anak-anak boleh aktif dan nakal, tetapi tidak boleh keluar garis, dalam artian ada batasan yang membatasi.

“Belajar teknik batuan sama dengan belajar meditasi kreatif,” katanya.

Studionya dibuka untuk umum, pada semua kalangan yang ingin belajar, tidak hanya untuk mengajari anak-anak dari desa batuan. Ia membuka waktu bebas untuk kedatangan anak-anak itu pada hari Sabtu jam 2 siang, serta minggu pada jam  9 pagi dan jam 4 sore. (T)

Tags: anak-anakGianyarlukisanSeni Rupa
Share83TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Next Post

Kambing-Kambing

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Berupaya menjadi penulis

Related Posts

“12”, An Art Exhibition At Sika Gallery || A New Verve at the End of the Year

by tatkala
December 12, 2020
0
“12”, An Art Exhibition At Sika Gallery || A New Verve at the End of the Year

Sika Gallery ends 2020 with a new verve by presenting a collective exhibition which is embarked on as a fresh...

Read moreDetails

FLUID: A Collective Exhibition Diluting the Pandemic

by tatkala
November 26, 2020
0
FLUID: A Collective Exhibition Diluting the Pandemic

FLUID is a collective exhibition held by Adiwana Bisma, a newly launched resort in Ubud Bali.  Adiwana Bisma invited 11...

Read moreDetails

Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

by tatkala
August 8, 2019
0
Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

Back again this coming August, The Ubud Village Jazz Festival will be held on the 16th & 17th at the...

Read moreDetails

Defining Tranquility at Banyumala Waterfall

by Canestra Adi Putra
February 3, 2018
0
Defining Tranquility at Banyumala Waterfall

I am originally from North Bali, and I am extremely thankful for the beautiful life I have here. We have...

Read moreDetails
Next Post
Kambing-Kambing

Kambing-Kambing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co