2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Studio Gelombang Batuan: Melukis Tradisi, Tradisi Melukis

Ni Luh Wanda Putri Pradanti by Ni Luh Wanda Putri Pradanti
February 16, 2019
in Features
Studio Gelombang Batuan: Melukis Tradisi, Tradisi Melukis

Anak-anak belajar melukis di Studio Gelombang, Batuan, Gianyar

Menikmati Gianyar sebagai pusat kesenian Bali, tidak lengkap rasanya bila tidak menelusuri sisi berkeseniannya. Karenanya, saya menyempatkan diri datang ke Desa Batuan untuk mencari tahu tentang gaya lukis dengan teknik tradisi batuan. Saya bertemu dengan Bli Made Griyawan di studio miliknya, di mana ia sedang mengajar anak-anak melukis.

Studionya terletak di antara persawahan dengan beberapa rumah berdiri di antaranya. Ia memberi nama studionya sebagai Studio Gelombang (Wave Studio). Pemberian nama itu didasarkan pada pembacaan dinamika kehadiran anak-anak yang belajar melukis di studio miliknya, di mana anak-anak datang secara bergelombang, sesuai dengan waktu luang yang dimiliki.

Pada nama itu ia juga menyimpan harapan bahwa kehadiran anak-anak akan terus menerus berlanjut, datang seperti gelombang yang tidak henti bergerak ke tepian, meski suatu ketika akan hilang, akan muncul lagi gelombang baru, sehingga memiliki keberlanjutan secara terus menerus.


Made Griyawan

Griyawan menjelaskan bahwa tujuan pendirian Studio Gelombang ini tidak hanya untuk mengajari anak melukis dengan gaya tradisi dan melestarikan budaya setempat saja, melainkan bertujuan untuk membudayakan agar melukislah yang menjadi tradisi, terlepas dari pilihan yang mereka pilih adalah melukis dengan tradisi batuan, ataupun tidak.

“Di Batuan sudah mentradisi orang melukis, tak masalah hasilnya berbeda. Dari dulu sampai sekarang tradisinya masih tetap saja melukis,” paparnya.

Dengan pemandangan yang memanjakan mata diiringi angin sepoi, saya kemudian duduk, dan menikmati proses yang sedang berlangsung dalam ruang studio tersebut.

Anak-anak yang hadir pada saat itu sedang menyelesaikan satu lukisan besar yang dilukis diatas kain kanvas bersama-sama. Ini adalah project bersama yang nantinya akan mereka tampilkan dalam sebuah pameran bersama.

Mereka menggambar sosok ikan dan sedang melakukan tahapan ngucek. Ngucek adalah tahapan keempat dari total 5 tahap melukis dengan gaya batuan. Tahap pertama adalah pemilihan atau pembuatan bahan dengan proses yang baik dan benar. Tahap kedua adalah ngorten atau membuat sketsa. Tahap ketiga adalah nyawi atau mempertegas garis sketsa (menebalkan sketsa). Tahap keempat adalah ngucek yang meliputi proses hitam putih, membuat dimensi serta membuat gelap terang.

Ada beberapa istilah yang terdapat dalam tahap ngucek diantaranya adalah nerangan, yaitu memisahkan obyek satu dengan yang lain, mempertegas bagian atas dan bawah atau jauh dekat. Nyigar adalah memperkuat garis, mangunin adalah memberi kesan berisi atau membelah bidang dengan tinta, nyelekin adalah mempertegas ruang yang gelap.

Proses ngucek terjadi berkali-kali dengan menggunakan dua kuas, satu kuas untuk mengusap tinta, satu lagi untuk mengusap air sehingga dapat menciptakan degradasi atau dimensi. Ini merupakan proses yang memakan waktu paling lama dalam melukis gaya batuan.

Tahap kelima adalah ngewarna atau memberikan warna. Tahap kelima ini hanya digunakan bila diperlukan, sebab lukisan gaya batuan dapat dianggap selesai meski hanya menggunakan warna hitam putih saja tanpa warna lain.

Karya-karya anak-anak dari Studio Gelombang, Batuan

Pada umumnya, dahulu lukisan-lukisan batuan hanya berwarna hitam putih yang dilukis di atas kertas dan dibuat dengan penelak (bambu yang di runcingkan) dan tinta cina. Namun, kini beberapa pelukis batuan memberikan suatu bentuk-bentuk tampilan baru pada karyanya, melalui warna, bentuk dan ide yang baru yang dibuat berbeda dari proses aslinya.

Griyawan sendiri meyakini bahwa seni harus bergerak dinamis, sebab budaya adalah sesuatu yang harmonis, dimana perkembangannya selalu menyesuaikan dengan jaman. Melukis bisa menggunakan material apapun yang ada, kertas, krayon, pensil warna, cat akrilik, dan lain sebagainya. Sebab bila pelukis tradisi terlalu terpaku pada aturan lama mengenai bahan-bahan dasar untuk melukis, mereka akan sulit membuat karya, karena bahan-bahan yang diperlukan kini terbatas.

Tujuan Griyawan mengajar anak-anak adalah untuk melestarikan tradisi (melukis) dan juga memberi edukasi. Mengajar melukis dengan teknik batuan member pelajaran karakter, bagaimana anak-anak bisa fighting atau berjuang dengan diri sendiri untuk mengontrol diri. Contoh ketika membuat sigar mangsi. Ini latihan mengontrol kesabaran. Juga pembelajaran tentang etika. Dalam goresan kuas-kuasnya, anak-anak boleh aktif dan nakal, tetapi tidak boleh keluar garis, dalam artian ada batasan yang membatasi.

“Belajar teknik batuan sama dengan belajar meditasi kreatif,” katanya.

Studionya dibuka untuk umum, pada semua kalangan yang ingin belajar, tidak hanya untuk mengajari anak-anak dari desa batuan. Ia membuka waktu bebas untuk kedatangan anak-anak itu pada hari Sabtu jam 2 siang, serta minggu pada jam  9 pagi dan jam 4 sore. (T)

Tags: anak-anakGianyarlukisanSeni Rupa
Share83TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Next Post

Kambing-Kambing

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Berupaya menjadi penulis

Related Posts

“12”, An Art Exhibition At Sika Gallery || A New Verve at the End of the Year

by tatkala
December 12, 2020
0
“12”, An Art Exhibition At Sika Gallery || A New Verve at the End of the Year

Sika Gallery ends 2020 with a new verve by presenting a collective exhibition which is embarked on as a fresh...

Read moreDetails

FLUID: A Collective Exhibition Diluting the Pandemic

by tatkala
November 26, 2020
0
FLUID: A Collective Exhibition Diluting the Pandemic

FLUID is a collective exhibition held by Adiwana Bisma, a newly launched resort in Ubud Bali.  Adiwana Bisma invited 11...

Read moreDetails

Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

by tatkala
August 8, 2019
0
Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

Back again this coming August, The Ubud Village Jazz Festival will be held on the 16th & 17th at the...

Read moreDetails

Defining Tranquility at Banyumala Waterfall

by Canestra Adi Putra
February 3, 2018
0
Defining Tranquility at Banyumala Waterfall

I am originally from North Bali, and I am extremely thankful for the beautiful life I have here. We have...

Read moreDetails
Next Post
Kambing-Kambing

Kambing-Kambing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co