25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Studio Gelombang Batuan: Melukis Tradisi, Tradisi Melukis

Ni Luh Wanda Putri Pradanti by Ni Luh Wanda Putri Pradanti
February 16, 2019
in Features
Studio Gelombang Batuan: Melukis Tradisi, Tradisi Melukis

Anak-anak belajar melukis di Studio Gelombang, Batuan, Gianyar

Menikmati Gianyar sebagai pusat kesenian Bali, tidak lengkap rasanya bila tidak menelusuri sisi berkeseniannya. Karenanya, saya menyempatkan diri datang ke Desa Batuan untuk mencari tahu tentang gaya lukis dengan teknik tradisi batuan. Saya bertemu dengan Bli Made Griyawan di studio miliknya, di mana ia sedang mengajar anak-anak melukis.

Studionya terletak di antara persawahan dengan beberapa rumah berdiri di antaranya. Ia memberi nama studionya sebagai Studio Gelombang (Wave Studio). Pemberian nama itu didasarkan pada pembacaan dinamika kehadiran anak-anak yang belajar melukis di studio miliknya, di mana anak-anak datang secara bergelombang, sesuai dengan waktu luang yang dimiliki.

Pada nama itu ia juga menyimpan harapan bahwa kehadiran anak-anak akan terus menerus berlanjut, datang seperti gelombang yang tidak henti bergerak ke tepian, meski suatu ketika akan hilang, akan muncul lagi gelombang baru, sehingga memiliki keberlanjutan secara terus menerus.


Made Griyawan

Griyawan menjelaskan bahwa tujuan pendirian Studio Gelombang ini tidak hanya untuk mengajari anak melukis dengan gaya tradisi dan melestarikan budaya setempat saja, melainkan bertujuan untuk membudayakan agar melukislah yang menjadi tradisi, terlepas dari pilihan yang mereka pilih adalah melukis dengan tradisi batuan, ataupun tidak.

“Di Batuan sudah mentradisi orang melukis, tak masalah hasilnya berbeda. Dari dulu sampai sekarang tradisinya masih tetap saja melukis,” paparnya.

Dengan pemandangan yang memanjakan mata diiringi angin sepoi, saya kemudian duduk, dan menikmati proses yang sedang berlangsung dalam ruang studio tersebut.

Anak-anak yang hadir pada saat itu sedang menyelesaikan satu lukisan besar yang dilukis diatas kain kanvas bersama-sama. Ini adalah project bersama yang nantinya akan mereka tampilkan dalam sebuah pameran bersama.

Mereka menggambar sosok ikan dan sedang melakukan tahapan ngucek. Ngucek adalah tahapan keempat dari total 5 tahap melukis dengan gaya batuan. Tahap pertama adalah pemilihan atau pembuatan bahan dengan proses yang baik dan benar. Tahap kedua adalah ngorten atau membuat sketsa. Tahap ketiga adalah nyawi atau mempertegas garis sketsa (menebalkan sketsa). Tahap keempat adalah ngucek yang meliputi proses hitam putih, membuat dimensi serta membuat gelap terang.

Ada beberapa istilah yang terdapat dalam tahap ngucek diantaranya adalah nerangan, yaitu memisahkan obyek satu dengan yang lain, mempertegas bagian atas dan bawah atau jauh dekat. Nyigar adalah memperkuat garis, mangunin adalah memberi kesan berisi atau membelah bidang dengan tinta, nyelekin adalah mempertegas ruang yang gelap.

Proses ngucek terjadi berkali-kali dengan menggunakan dua kuas, satu kuas untuk mengusap tinta, satu lagi untuk mengusap air sehingga dapat menciptakan degradasi atau dimensi. Ini merupakan proses yang memakan waktu paling lama dalam melukis gaya batuan.

Tahap kelima adalah ngewarna atau memberikan warna. Tahap kelima ini hanya digunakan bila diperlukan, sebab lukisan gaya batuan dapat dianggap selesai meski hanya menggunakan warna hitam putih saja tanpa warna lain.

Karya-karya anak-anak dari Studio Gelombang, Batuan

Pada umumnya, dahulu lukisan-lukisan batuan hanya berwarna hitam putih yang dilukis di atas kertas dan dibuat dengan penelak (bambu yang di runcingkan) dan tinta cina. Namun, kini beberapa pelukis batuan memberikan suatu bentuk-bentuk tampilan baru pada karyanya, melalui warna, bentuk dan ide yang baru yang dibuat berbeda dari proses aslinya.

Griyawan sendiri meyakini bahwa seni harus bergerak dinamis, sebab budaya adalah sesuatu yang harmonis, dimana perkembangannya selalu menyesuaikan dengan jaman. Melukis bisa menggunakan material apapun yang ada, kertas, krayon, pensil warna, cat akrilik, dan lain sebagainya. Sebab bila pelukis tradisi terlalu terpaku pada aturan lama mengenai bahan-bahan dasar untuk melukis, mereka akan sulit membuat karya, karena bahan-bahan yang diperlukan kini terbatas.

Tujuan Griyawan mengajar anak-anak adalah untuk melestarikan tradisi (melukis) dan juga memberi edukasi. Mengajar melukis dengan teknik batuan member pelajaran karakter, bagaimana anak-anak bisa fighting atau berjuang dengan diri sendiri untuk mengontrol diri. Contoh ketika membuat sigar mangsi. Ini latihan mengontrol kesabaran. Juga pembelajaran tentang etika. Dalam goresan kuas-kuasnya, anak-anak boleh aktif dan nakal, tetapi tidak boleh keluar garis, dalam artian ada batasan yang membatasi.

“Belajar teknik batuan sama dengan belajar meditasi kreatif,” katanya.

Studionya dibuka untuk umum, pada semua kalangan yang ingin belajar, tidak hanya untuk mengajari anak-anak dari desa batuan. Ia membuka waktu bebas untuk kedatangan anak-anak itu pada hari Sabtu jam 2 siang, serta minggu pada jam  9 pagi dan jam 4 sore. (T)

Tags: anak-anakGianyarlukisanSeni Rupa
Share83TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Next Post

Kambing-Kambing

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Berupaya menjadi penulis

Related Posts

“12”, An Art Exhibition At Sika Gallery || A New Verve at the End of the Year

by tatkala
December 12, 2020
0
“12”, An Art Exhibition At Sika Gallery || A New Verve at the End of the Year

Sika Gallery ends 2020 with a new verve by presenting a collective exhibition which is embarked on as a fresh...

Read moreDetails

FLUID: A Collective Exhibition Diluting the Pandemic

by tatkala
November 26, 2020
0
FLUID: A Collective Exhibition Diluting the Pandemic

FLUID is a collective exhibition held by Adiwana Bisma, a newly launched resort in Ubud Bali.  Adiwana Bisma invited 11...

Read moreDetails

Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

by tatkala
August 8, 2019
0
Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

Back again this coming August, The Ubud Village Jazz Festival will be held on the 16th & 17th at the...

Read moreDetails

Defining Tranquility at Banyumala Waterfall

by Canestra Adi Putra
February 3, 2018
0
Defining Tranquility at Banyumala Waterfall

I am originally from North Bali, and I am extremely thankful for the beautiful life I have here. We have...

Read moreDetails
Next Post
Kambing-Kambing

Kambing-Kambing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co