6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 13, 2019
in Esai
Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Kota Singaraja. Foto: Mursal Buyung

SAYA tiba di kota ini pada tahun 2004 saat melanjutkan jenjang Sekolah Menengah  di SMANSA Singaraja. Waktu itu suasana jalan masih tampak lengang. Orang-orang  jarang yang memiliki kendaraan pribadi. Jika ada, itu pun dipakai bersama-sama dalam satu keluarga dan bukan orang per orang.

Moda transportasi umum seperti bemo merah, biru dan cokelat menjadi alternatif warga kota menuju ke tempat tujuan. Mereka biasanya akan ngtem di tempat-tempat strategis yang berpotensi mendatangkan penumpang seperti pasar dan sekolah.

Aneka bemo itu akan parkir di sekitaran Jalan Pramuka, tepat di depan sekolah saya. Jika sedang malas mengayuh sepeda ke sekolah, biasanya saya akan menumpang bemo. Bermodal uang Rp. 1000, kita akan diantar pak sopir sampai tempat tujuan. Tentu saja biaya itu hanya berlaku di dalam kota saja.

Kelengangan kota Singaraja periode 2000-an awal menyebabkan ritme keseharian masyarakat terkesan lamban dan tenang, jauh dari hiruk pikuk, keterpecahan dan keterburuan gejala khas kota besar.  Tidak seperti sekarang, kecepatan dan ketepatan  menjadi pemandangan yang relatif baru.

Saya masih ingat, kala itu tinggal dengan paman di sebuah mess tua peninggalan Belanda di seputaran Ahmad Yani. Arsitekturnya khas Belanda dan kepemilikannya atas nama PT. Pos Indonesia cabang Singaraja. Kebetulan bibi yang bekerja disana sehingga rumah itu diberikan sebagai tempat tinggal sementara namun dengan tetap membayar sewa setiap tahunnya.

Selama kurun 2004-2011, saya mendiami sebuah kamar bekas gudang berukuran 2x3meter. Kecoak dan tikus akan bersahutan jelang pukul 24.00. Posisi kamar yang menghadap garasi mobil dan jalan besar, dengan posisi lebih rendah dari jalan membuat saya khawatir kebanjiran jika musim hujan tiba. Saya juga waswas bila atap bocor karena dipastikan kasur menjadi basah kena cucuran air hujan.

Setelah lulus sarjana tahun 2011, saya hijrah ke Denpasar, lalu menetap di Jogjakarta selama 2 tahun untuk melanjutkan studi master dan akhirnya kembali ke kota ini sejak 2016. Saya menyaksikan betapa perubahan dan perkembangan yang begitu pesat telah menjadi gejala umum di kota ini. Khususnya di seputaran Ahmad yani, pusat-pusat elektronik, otomotif, kecantikan, dan kuliner kini mendominasi sub-sub pertokoan.

Membludaknya kepemilikan atas kendaraan pribadi diiringi pula kematian suri moda transportasi umum. Pergeseran gaya hidup masyarakat terutama dalam merespon globalisasi mendorong munculnya driver online macam grab, menjamurnya online shop dan tentu saja kuburan bagi ritel modern yang tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan tekonologi seperti kasus Hardys di tahun 2017 lalu.

Sebagai bagian dari interkoneksi global yang tidak luput dari sergapan akses teknologi dan informasi, masyarakat kota Singaraja bergerak maju dan modern. Salah satu penanda kemoderenan itu adalah obsesi masyarakatnya tentang waktu dan kecepatan yang hadir berkelindan.

Aktualisasinya dalam kehidupan sosial dapat ditemukan misalnya pada penggunaan kalender dan jam. Kalender yang digunakan secara umum menampilkan tanggal, nama hari, bulan dan tahun dalam bentuk kolom dan baris. Pada selembar kalender masehi yang menunjukkan tanggal tertentu misalnya dibubuhi keterangan, beberapa sistem penanggalan lain yang ditulis dalam huruf yang lebih kecil.

Pencantuman beragam jenis sistem perhitungan waktu ini merupakan bagian dari perayaan atas kemajemukan waktu yang saling mengandaikan. Jam di sisi lain adalah ekspresi domian ketika waktu sosial dijelaskan.

Melalui ukuran jam, waktu telah menjadi komponen produksi yang dapat dipertukarkan. Ia lalu disandingkan dengan kerja mesin, tenaga kerja dan waktu yang mereka miliki masuk ke dalam kategori kapital, yakni sebuah sistem yang menuntut keserempakan dan ketepatan. Waktu kemudian dikotak-kotak ke dalam waktu kerja dan luang. Dalam situasi kerja, waktu dianggap memiliki nilai tukar abstrak, diukur dengan jam dan dinilai dengan uang.

Nampaknya, obsesi terhadap waktu dan memaksimalkan keberadaannya telah menubuh pada sebagian besar masyarakat kota Singaraja. Seorang kawan, pengajar mata pelajaran eksakta di sebuah bimbingan belajar di Singaraja misalnya selalu menolak ajakan saya untuk kongkow, bahkan meskipun itu adalah akhir pekan.

Menurutnya, kongkow adalah “hura-hura” yang kurang produktif dan buang-buang waktu, “wasting time” ujarnya. Baginya “waktu adalah uang” dalam dunia yang serba kompetitif dan berubah secara cepat. Waktu senggang, betapapun minimnya harus dimanfaatkan untuk sebuah aktivitas yang disebut “kerja” yang menghasilkan uang. Jika tidak begitu, maka peluang kita hidup bahagia di hari tua akan sempit.

Berbeda lagi ungkapan yang dilontarkan karib pengajar matematika yang menganggap bahwa pemanfaatan terhadap waktu sebagai usaha untuk merengkuh segala sesuatu  dengan cepat, istilahnya “siapa cepat dia dapat”. Dalam ungkapan itu, kata cepat dapat berganti-ganti makna dengan lekas atau segera.

Dalam hidup sehari-hari orang dengan lekas atau segera bisa mengumpulkan uang menjadi kaya, maka diyakini bisa melakukan banyak hal yang diinginkan. Kata cepat ini terkesan merupakan “hasrat alamiah” yang ada di tingkat individu. Pada konteks sosial, kata ini mewujud ke dalam saling mendahului di antara individu agar bisa bertahan.

Obsesi pada kecepatan juga tampak pada munculnya kebijakan pemerintah memulai jam kantor yang rata-rata dimulai jam 07.45 telah mendorong orang untuk saling mendahului agar segera sampai.

Faktor yang mendorong orang untuk datang tepat waktu tersebut bukan  hanya masalah disiplin diri yang ditanamkan sekolah, tetapi juga melibatkan ancaman berkurangnya pendapatan atau sanksi administrasi yang mungkin saja didapatkan. Ketepatan waktu yang nyaris mekanistis tanpa memperhatikan batasan-batasan yang timbul merupakan tuntutan nilai efektivitas dan efisiensi waktu kerja yang ditata dalam logika percepatan industri.

Di samping itu, kecepatan bisa juga dianggap sebagai komoditas yang memiliki nilai jual. Dalam dunia otomotif misalnya, siasat utama untuk memasarkan produk kendaraan bermotor dan produk turunanya adalah dengan mengiming-imingi konsumen bahwa peristiwa kecepatan adalah kesempatan berharga.

Rasionalisasi lain yang juga sering bekerja dalam rangka pemujaan kecepatan adalah mitos modernitas yang menantang masyarakat agar terus mengikuti perkembangan teknologi jika tidak ingin terperangkap pada kekunoan dan menjadi tertinggal. Hal ini bisa kita lihat kompetisi produk handphone. Terutama vendor HP yang bermain di level midrange (kelas menengah). Produsen yang tidak mampu berinovasi dan berkreasi dengan kecepatan, sekuat apapun brand nya, siap-siap gulung tikar.

Perihal kekunoan nampaknya menjadi sebab utama seorang  karib selalu melontarkan ejekan hanya karena HP yang saya gunakan sudah out of date, terlihat jadul dan tentu saja lelet alias lambat, sehingga perlu diupgrade. Kelambanan dengan demikian adalah antitesis kecepatan, sekaligus virus yang harus dimusnahkan di dalam tubuh masyarakat yang modern dan instan. (T)

Tags: bulelengekonomiSingarajataman kota
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Next Post

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co