17 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

B. B. Sugiono by B. B. Sugiono
October 14, 2018
in Cerpen
Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

Lukisan Kabul Ketut Suasana

Ketika awan biru tegak di puncak purnama, satu hal membujang ke dalam rumah yang selalu datang ke separuh malam, dan demi membuka lembaran cerita-cerita masa lalu, coba dengarkan ini:

Sungguh saya merasa muak dengan warga yang lewat di lorong depan rumah. Meskipun benar, rumah yang saya tempati sangat kotor dan dipenuhi sarang laba-laba, tapi setidaknya mereka menghargai keberadaan saya yang ada di dalam, sebagai seorang penghuni. Juga tidak perlu terlalu menuding-nudingkan tangan untuk mengada-ngada cerita yang tidak pernah ada, demi menghasut anak-anak setiap melewati lorong depan rumah.

“Jang, ingat, jangan pernah bermain ke rumah itu. Karena di dalam banyak hantunya. Ada hantu seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang. Bahkan dia sampai menjadi demit di kampung ini,” kata seorang ibu.

Selalu begitu. Bahkan hampir setiap hari pelecehan nasihat-nasihat yang menjijikkan terlempar ke telinga saya. Padahal saya tidak pernah hidup dengan hantu satupun yang bermain-main ke rumah ini. Terkecuali seorang anak kecil yang sangat nakal.

Saya juga tidak pernah merasa menjadi wanita demit yang mengganggu warga sekitar rumah, seluruh kampung ini. Padahal sebenarnya sayalah yang merasa terganggu dengan segala ocehan-ocehan mereka.

Tapi dalam bayang-bayang seluruh warga kampung ini, sayalah pengganggunya. Saya mengganggu dari sisi yang mana? Saya mengusik dari perbuatan yang seperti apa? Lebih-lebih saya bisa menganggu mereka, keluar dari rumah pun saya tidak bisa, bahkan sampai ketiga ratus tahun ini.

“Kata siapa di rumah itu ada hantunya?”

“Tidak perlu banyak mengurus kamu, Jang! Pokoknya ikuti perkataan Ibuk. Jangan mengekang!”

“Tidak ada yang berusaha mengekang perkataan Ibuk. Tapi saya hanya ingin memastikan, apakah benar di rumah itu ada hantunya. Jangan-jangan itu hanya bualan konyol dari cerita warga,” kata si anak sambil melihat ke arah rumah saya, ketika usai menatap mata ibunya.

“Kamu ini tidak percaya? Bangunan ini sudah ada dari lima abad yang lalu. Atau jika dihitung dengan tahun, bangunan ini sudah berusia lima ratus tahun lamanya!”

Anak itu hanya diam mendengarkan perkataan ibunya. Barangkali dia tidak ingin mencela, karena takut menyakiti hati orang tuanya. Tapi ketidakpercayaannya itu masih kental terlihat, bahkan dalam.

Kembali dia menatap ke rumah saya, dengan ratapan yang penuh makna. Bahkan, tidak dapat dibandingkan dengan ratapan mata ibunya yang memerah dan begitu menyeramkan. Kemudian, perlahan-lahan mereka menjauh dari depan rumah saya. Berjalan lurus ke arah utara. Hingga mentok di gang perempatan, lalu belok kiri. Setelah itu saya tidak bisa melihatnya lagi.

Ketika pandangan yang saya miliki sudah tidak bisa melihat mereka. Saya kembali menangis  dalam rumah ini. Meskipun senja sedang sangat termekar di sisi barat langit, dengan hiasan kabut-kabut tipis yang kian membungkus siluetnya yang ingin keluar. Mungkin memang benar saya tidak bisa keluar untuk bermain-main ke tengah sawah, juga tidak bisa menginjak debu-debu yang halus di hamparan halaman depan dan bunga-bunga lalang yang liar tumbuh di sekitar rumah tua ini.

Tapi saya masih bisa bersyukur, karena Tuhan masih menganugerahkan saya untuk melihat merahnya senja, awan lepas hujan, serta rona pelangi yang mengendap di kaki langit sisi timur. Melengkapi rendaman penantian ini, yang sungguh luar biasa pahitnya.

“Pak, katanya ini ya, rumah yang disebut-sebut berhantu wanita janda itu?”

“Kata siapa kamu, Pak?

“Kata sebagian warga yang rumahnya tinggal di sekitar sini.”

“Mungkin iya. Tapi saya belum pernah mendengar. Mungkin karena rumah saya yang sangat jauh dari sekitar kompleks ini. Sehingga saya ketinggalan untuk mendengarkan cerita-ceritanya.”

“Iya benar. Cobalah lihat. Rumah ini sangatlah tua bukan? Tapi tidak ada yang berani merobohkannya, atau bahkan untuk membeli sepetak tanah rumah ini. Satu minggu yang lalu, Kades kampung ini datang ke rumah ini. Katanya sih, bersama dengan seorang dukun sakti yang ia panggil dari desa seberang. Niatnya untuk memastikan dan mengusir hantu janda yang menghuni di dalam rumah ini. Tapi dukun itu gagal. Katanya rumah ini sangatlah keramat dan penghuninya tidak ingin keluar dari rumah ini. Jikalau dukun itu memaksa. Maka nyawa dukun itu taruhannya.”

“Wahh, serem banget ternyata ya! Salah kita bercerita di depan terasnya ini!”

Lagi-lagi sejumlah warga membicarakan saya yang begitu tenang di dalam. Bahkan menceritakan hal yang tidak-tidak tentang keberadaan saya di dalam rumah ini. Juga tentang seorang dukun yang minggu lalu pernah datang. Katanya diundang oleh seorang Kades baru, yang baru dilantik lima bulan yang lalu.

Saya tidak pernah merasa mengusir dan mengancam dukun itu. Hanya saja dia itu yang tidak jujur. Dia tidak pernah menemui saya. Tapi dia sudah menceritakan banyak hal yang tidak-tidak tentang kondisi yang ada di dalam rumah ini. Yang sebenarnya tidak pernah dia ketahui. Dia hanya ingin membodo-bodohi Kades baru kampung ini. Mungkin karena usia Pak Kades yang masih terbilang muda. Sehingga sangat mudah bagi dukun itu untuk melancarkan drama kebohongannya, demi sebuah imbalan yang akan dia terima.

Sebenarnya saya sangat acuh tak acuh dengan kedatangan dukun itu. Apalagi dengan sikapnya yang rakus dan tamak, sungguh saya tidak menyukainya. Karena menurut saya, dengan caranya yang gila seperti itu sudah menandakan bahwa dia adalah dukun gila yang gila harta. Padahal harta yang dia dapat dari kegilaannya tidak akan pernah membuat nyaman setelah proses kematian.

Bahkan suami yang meninggalkan saya sampai sekarang ini adalah korban dari kehausannya dalam mencari harta. Hingga pada akhirnya dibekuk oleh aparat negara dari luar kota. Yang kemudian menyiksa jiwa saya untuk bersembunyi ke balik jeruji jendela rumah tua ini.

Mungkin benar seperti apa yang sebagian warga sampaikan kemarin. Saat ditanya oleh beberapa wartawan dan penulis-penulis yang ingin mengetahui saya dari sekadar obrolan dari depan rumah.

“Pak, apakah bapak memiliki informasi yang banyak tentang sejarah rumah itu?” kata wartawan sambil menunjuk ke arah rumah saya.

“Kalau ditanya mengenai banyaknya informasi yang saya punya, mungkin saya tidak banyak dan tidak mengetahui seluk-beluk rumah ini. Tapi yang jelas rumah ini sudah ada semenjak kakek kakeknya kakek saya. Bahkan sebelum kakek kakeknya kakek saya lahir, rumah ini sudah ada. Katanya sih rumah ini memiliki penunggu dan penunggunya itu seorang wanita yang menjanda karena ditinggal suaminya.

Dengar-dengar dari cerita kakek kakeknya  kakek saya. Suaminya ini pergi karena dipenjara. Jadi, pada cerita masalalu itu, suami dari wanita yang menungu rumah ini adalah seorang antek-antek kolonial, mungkin pada waktu itu masih mengenal ada penjajahan. Tapi yang saya herankan, kebenaran informasi-informasi yang berlimpah dari cerita-cerita warga tidak sependapat dengan cerita yang yang disampaikan oleh petuah-petuah kampung ini. Salah satunya mengenai umur dari rumah ini, ada yang memperkirakan berusia lima ratus tahun atau lima abad, ada juga yang mengatakan tiga ratus tahun atau tiga abad.

Saya memang sengaja tidak pernah memperdalam masalah ini. Karena memang tidak akan pernah mendapat fakta kebenarannya. Sebab orang-orang yang tahu tentang kapan rumah ini dibangun tidak akan hidup sampai pada masa yang sekarang. Paling, tulang-tulangnyapun sudah menyatu dengan abu-abu halus yang berada dalam kuburan.

Tapi,,, kalau mengenai riwayat suaminya itu memang betul. Sependapat dengan apa yang disampaikan para petuah-petuah kampung, begitu pun dengan rampaian dari cerita-cerita warga, bahwa suaminya itu adalah seorang mata-mata dari pihak asing kolonil Belanda. Yang di kemudian hari penyamarannya yang membunglon terbongkar.

Alhasil, pihak tentara dan pihak kepolisian atas nama negara, menyeret paksa suaminya ke kantor pusat yang berada diluar kota. Saya tidak tahu kantor dan kotanya itu di mana!”

Wartawan itu mendengar dengan serius. “Apakah masih ada cerita lagi atau informasi lagi yang ingin bapak sampaikan,” lanjutnya lagi, sambil dia mencatat setiap penggalan-penggalan dari cerita bapak itu.

“Sudah, Nak. Itu saja yang bapak ketahui. Ini juga sudah malam. Silahkan pergi dari sekitar rumah ini. Mumpung matahari belum tenggelam. Karena berbahaya jika ada orang asing berkeliaran malam-malam disekitar sini. Kalian sudah mendengar infonya ‘kan, kalau rumah ini ada penunggunya? Takutnya mas-mas ini dikira seseorang yang ingin melamar janda itu. Menggantikan suaminya yang pergi tak kunjung datang!”

Saya yang mendengar percakapan wartawan dan bapak sok tahu itu menyahut dari dalam rumah, terutama menyahuti perkataan terakhir dari bapak itu.

“Tidak, Pak! Saya tak ‘kan menghianati kesetiaan yang telah mengkar pada rumah dan jiwa ini. Bahkan sudah tidak lagi mengenal abad lamanya, penantian ini menggerogoti jiwa dan semua yang masih berfungsi dalam diri saya. Terkecuali tubuh yang sudah terbaring dalam tanah sejak waktu itu!”

Saya mendengar setiap apa saja yang orang-orang bicarakan saat lewat lorong depan. Sekalipun tidak ada yang ingin memberi penerangan pada depan rumah saya untuk malam hari. Tapi saya tetap bisa melihat apa pun yang melintas. Pergantian musim hujan dan kemarau sudah biasa saya lewati. Fajar yang menjingga sudah biasa saya lihat. Sawah-sawah yang menjadi gedung-gedung sudah biasa saya pantau dari dalam rumah ini.

Hanya saja tidak ada orang yang dapat melihat keberadaan saya yang terdiam di dalam rumah. Saya juga berpikir, apakah saya ini masih bisa bahagia. Sementara seseorang yang saya tunggu tidak tahu kapan akan datang. Saya hanya berharap, suami saya muncul dari belahan senja yang berawan dan turun berjalan ke ujung lorong menuju rumah ini. Sesuai dengan apa yang dia janjikan berratus tahun yang lalu. Tapi seperti itulah janji.

***

Kemudian pada suatu ketika, saya kembali melihat seorang orang anak yang beberapa tahun lalu bersama ibunya lewat depan rumah. Tapi kali ini, dia sangatlah dewasa, dia juga tidak datang bersama ibu. Melainkan dengan seorang wanita cantik, manis, dan tampaknya berhati lembut. Barangkali wanita itu adalah istrinya.

“Mas mau ke mana?”

“Kamu diam saja di rumah. Kenapa sampai mengejar ke sini? Saya hanya mau pergi sebentar. Untuk menyelesaikan bisnis di luar kota. Saya tidak bisa meninggalkan tugas ini. Karena ini perintah dari bos saya  yang berasal dari Belanda yang saya ceritakan kemarin malam.”

“Kenapa jauh Mas? Memangnya berapa hari kamu pergi? Kenapa saya tidak diajak?”

“Kamu di rumah saja. Kondisimu belum sembuh total, pasca proses operasi pengangkatan bayi kita yang mati dalam kandunganmu. Luka jahitan di perutmu belum kering kan? Bahaya bagi kesehatanmu jika kamu ikut.”

“Tapi saya takut sendirian. Saya juga takut jika Mas tidak kembali.”

“Huss, ngomongnya! Tunggu saja, saya pasti kembali ke dalam rumah kita. Untuk melengkapi hidup kita yang kemarin gagal menjadi seorang ayah dan ibu.”

Tiba-tiba di tengah perbincangan itu, sebuah mobil melintas dan berhenti, membukakan pintu untuk suaminya. Akhirnya, sepasang manusia itu berpelukan untuk mengakhiri pertemuannya. Ditambah dengan sebuah kecupan dalam di keningnya.

Wanita itu hanya bisa diam dan tidak berkata apa-apa untuk suaminya yang akan pergi. Tetapi, barangkali suaminya itu pasti sudah sangat tahu. Bahwa kesetiaan istrinya tidak akan dapat diukur oleh apa pun. Bahkan dengan burung-burung merpati sekalipun tidak bisa membandingi kesetiaannya. Istrinya akan selalu setia, menunggunya di rumah itu sampai kapan pun, bahkan sampai mati.

Sesekali setelah melewati hari, bulan, dan tahun, wanita itu keluar untuk menyiram bunga-bunga dan rumput-rumput. Memotong setiap lekuk ranting bunga yang semakin merambat tak beratur. Menyapu halaman dengan iringan melodi kicauan burung-burung. Sampai sepuluh tahun terakhir ia masih rutin keluar masuk rumah. Bermain-main di sekitar sawah dengan senja yang memalam.

Sempat ada seseorang yang sering menatapnya. Lalu pergi begitu saja tanpa memberi sepatah katapun. Ada juga seorang nenek-nenek yang lewat. Tapi, kemudian menyapanya:

“Neng, lagi apa kok sendiri?”

“Lagi nunggu suami, Nek.”

“Memang ke mana suamimu?”

“Katanya sih keluar kota mengurus bisnis.”

“Ohh!! Yang sabar saja menunggu,” kata seorang nenek itu sambil menjauhkan diri dari halamannya. Kemudian ada juga seorang pemuda tampan dengan temannya, yang kebetulan melirit sambil membicarakannya.

“Bro, dia itu wanita janda ya?

“Katanya sih iya!”

“Dia terlalu setia ya?” katanya, sambil menatap mata yang di sebelahnya. “Sampai menjadi bodoh. Paling suaminya sudah kawin dengan wanita lain.”

Wanita itu tetap memalingkan muka. Pura-pura tidak mendengar macam-macam perkataan yang mengotori lubang telinganya. Dia tetap saja menunggu di terasnya. Kadang dari pantauan setengah kepala dari jendela yang terbuka lebar. Begitu rutin dia menunggu, dari pagi sampai  menjelang malam. Hingga sampai hari terakhirnya saya lihat.

Dia menunggu sampai larut malam. Tapi tetap saja tidak akan ada yang datang. Akhirnya dia masuk ke dalam rumah dan sampai sekarang tidak pernah terlihat lagi keluar, untuk mengabari udara ataupun bunga-bunga yang senantiasa menanti, di halaman depan. Bahkan sampai tiga ratus tahun selanjutnya. (T)

Tags: Cerpen
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Zaman Milenial di Bali, “Banten” Bisa Dibeli, Tidak Perlu Dipelajari?

Next Post

Bali: Utara dan Selatan #Kolom Made Metera

B. B. Sugiono

B. B. Sugiono

lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo. Kini merantau di Singaraja, Bali; menjadi pekerja teks: penyair dan prosais. Untuk menghubunginya bisa melalui nomor 082301299466. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media massa di Indonesia, cetak maupun elektronik, antara lain: Koran Tempo, Harian Rakyat Sultra, Denpasar Post, Malang Post, Kurung Buka, Galeri Buku Jakarta, dan lain-lain. Salah satu pendiri Majalah Lentera Bayuangga (MLB).

Related Posts

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails

Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

by Syafri Arifuddin Masser
March 14, 2026
0
Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di...

Read moreDetails

Negeri yang Menjual Isi Perutnya | Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 13, 2026
0
Negeri yang Menjual Isi Perutnya | Cerpen Muhammad Khairu Rahman

Di negeri itu, tanah tidak lagi disebut tanah. Ia disebut komoditas. Gunung tidak lagi dipandang sebagai punggung yang menyangga langit,...

Read moreDetails

Kembang Alas | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
March 8, 2026
0
Kembang Alas | Cerpen Khairul A. El Maliky

MALAM itu hujan jatuh seperti untaian doa yang kehilangan alamatnya. Dari jendela rumah kecil di tepi hutan jati, seorang ibu...

Read moreDetails

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
March 8, 2026
0
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai....

Read moreDetails

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails
Next Post
Bali: Utara dan Selatan #Kolom Made Metera

Bali: Utara dan Selatan #Kolom Made Metera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud
Ulas Rupa

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

by Agung Bawantara
March 17, 2026
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam
Ulas Musik

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945
Ulas Buku

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

by Sigit Susanto
March 17, 2026
2 April, Puncak Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur Tahun 2026 —Nyejer 11 Hari
Budaya

2 April, Puncak Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur Tahun 2026 —Nyejer 11 Hari

Pujawali Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur tahun Saka 1948/tahun 2026 dilaksanakan dari tanggal 20 Maret 2026 sampai dengan...

by tatkala
March 17, 2026
ANTRABEZ Rilis Single ‘Bali Menyepi’ di Lapas Kerobokan: Merayakan Nyepi Sebagai Ruang Refleksi dan Memaknai Kembali Hubungan antara Manusia, Alam dan Spiritualitas
Panggung

ANTRABEZ Rilis Single ‘Bali Menyepi’ di Lapas Kerobokan: Merayakan Nyepi Sebagai Ruang Refleksi dan Memaknai Kembali Hubungan antara Manusia, Alam dan Spiritualitas

MENJELANG Nyepi, kemeriahaan anak-anak muda dalam menggarap atau menggotong ogoh-ogoh sering kali diekspresikan lewat lagu oleh grup band local di...

by Nyoman Budarsana
March 16, 2026
Ogoh-Ogoh Bali Mengambil Inspirasi dari Cerita-cerita Tiongkok, Boleh Kan?
Esai

Ogoh-Ogoh Bali Mengambil Inspirasi dari Cerita-cerita Tiongkok, Boleh Kan?

Sebuah video melintas begitu saja di beranda For You Page (FYP) TikTok yang iseng saya buka pada suatu sore yang...

by Julio Saputra
March 16, 2026
Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya
Esai

Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya

​Di panggung kehidupan yang menuntut produktivitas tanpa jeda, sering kali kita terjebak dalam sebuah ironi : tubuh yang tetap bergerak,...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
March 16, 2026
Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif
Esai

Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

FENOMENA “monyet keseratus” yang diperkenalkan oleh Lyall Watson (1979) dalam buku Lifetide, kerap dijadikan metafora untuk menjelaskan bagaimana transformasi perilaku...

by Agung Sudarsa
March 16, 2026
Laporan Survey Program Desa Binaan FBS Undiksha di Desa Pedawa: Membangun Desain Pembangunan Desa Berbasis Komunitas
Khas

Laporan Survey Program Desa Binaan FBS Undiksha di Desa Pedawa: Membangun Desain Pembangunan Desa Berbasis Komunitas

PROGRAM Desa Binaan yang dikembangkan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha merupakan bagian dari upaya menghadirkan perguruan...

by I Wayan Artika
March 16, 2026
Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?
Esai

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Coba ingat kembali, berapa gelas air putih yang sudah Anda habiskan hari ini? Di tengah cuaca yang semakin panas, segelas...

by Gede Made Cahya Trisna Pratama
March 15, 2026
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari
Puisi

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Sabtu waktu tak banyakmenit yang kau punyasebentar-sebentar habislangit mencatat semuanya tatapanmu menyeretkuke labirin cerminkau berbicara lewat pelukdan dua butir kecupdengan...

by Wayan Esa Bhaskara
March 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co