13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berakal Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 4, 2018
in Esai
Berakal Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Foto: Sugi Lanus

Halaman pembuka lontar umumnya dimulai dengan baris mantra: “Om Avighnamastu”.

Dalam doa pembuka ini kita pertama-tama diajak menimbang “vighna”.

Apa itu “vighna”?

‘Vighna’ (विघ्न) adalah kata Sanskerta yang artinya ‘kendala’, ‘rintangan’, ‘hambatan’.

Mantra pembuka untuk memulai membaca lontar ini adalah setara dengan puja penghormatan pada Hyang Ganapati (Gaṇeśa गणेश) karena Gaṇeśa dikenal sebagai dewa yang mampu menghalau atau melenyapkan hambatan, marabahaya, rintangan dan memberikan jalan pada kita untuk memasuki jalan yang terang.

Prof. Edi Sedyawati memberi penjelasan bahwa Gaṇeśa mempunyai julukan Wighna, Si Penghalang, seperti yang ditunjukkan oleh arca dari masa Kediri yang pada śirascakra-nya tertera tulisan “wigěṇa”, dalam huruf Kadiri yang besar-besar (Museum Nasional, Jakarta, no. 157/D 206). “Tentunya dimaksudkan bahwa dewa tersebut adalah “penghalang segala rintangan”. Gaṇeśa juga dikenal sebagai dewa pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan sastra”.

Penjelasan Prof. Edi Sedyawati tidak terkait pembacaan lontar, namun saya melihat inilah pijakan kita membaca lontar. Pertama-tama, pemujaan pada Hyang Ganapati (Gaṇeśa गणेश), yaitu dewa penghancur hambatan berpikir dan sekaligus dewa pemusnah hambatan mental. Hyang Ganapati (Gaṇeśa गणेश) dalam perwujudan ikonografi senantiasa “menginjak tikus”, tidak lain, bermakna “menekan keragu-raguan”. Mampu mengendalikan ketidakfokusan menuju keterbukaan berpikir, dari ketertindasan berpikir klenik dan mitos menuju ke arah berpikir ilmiah dan logos.

Bersandar pada Hyang Ganapati (Gaṇeśa गणेश) sebagai dewa pelindung untuk membebaskan pikiran tertindas dan tidak merdeka itu menjadi pondasi penting dalam membaca lontar.

Tidak berbekal pengetahuan cukup memasuki lontar, kemungkinan akan menemu kutuk aywa wera, aywa cawuh. Secara berurutan mengandung makna kurang lebih: ‘hindari berkata-kata’ (memberikan interpretasi ngawur?), ‘hindari kesembarangan ucapan (mengaku-aku paham tanpa dasar?). Memberi interpretasi atau pemaknaan sembarang, tanpa dasar, maka dalam gelap gulitan ketidakberdasaran itu akan membuat kita keblinger. Yang keblinger, sampai buduh-pangling–paling, kesurupan dan ngadug-adug, serta tanpa sadar memanipulasi diri dan orang lain setelah membaca lontar adalah mereka yang tidak punya pijakan dasar dalam menalar lontar. Lontar tak dinalar dengan nalar, dan terjatuh pada kehilangan nalar, maka inilah yang sekiranya dimaksud dengan buduh ulian lontar (hilang kewarasan karena lontar).

Seperti doa pembuka lontar, jika belum mampu menjadi ‘Avighna’ maka pembacanya akan menjadi ‘Vighna’ (विघ्न) yang tak lain adalah kelas rākṣasa.

Memahami secara praktis keterkaitan doa pembukan “Awighnamastu” dalam kaitan dengan Dewa Gaṇeśa sangat penting. Tradisi ini disebutkan mulai 2 millennium sebelum masehi, dalam tradisi Rigveda. Dalam sebuah leksikon Sanskerta berjudul Amarakosha, terdapat delapan sinonim dari Ganesha: Vinayaka, Vighnarāja (setara dengan Vighnesha), Dvaimātura (yang memiliki dua ibu), Gaṇādhipa (setara dengan Ganapati dan Gaṇeśa), Ekadanta (yang memiliki satu cula), Heramba, Lambodara (yang memiliki perut menggantung penyimpan ilmu), dan Gajānana (memiliki wajah gajah). Tradisi Purana dan Buddha Tantra menyebut sebagai Vinayaka (विनायक; vināyaka). Juga dikenal sebagai Aśṭavināyaka, Vighneśa, dan Vighneśvara (Sang Penghalang).

Apa referensi yang sebaiknya disiapkan dalam membaca lontar?

Agar tak terhalang Sang Penghalang, adakah setidaknya pijakan bersadar?

Sekedar berbagi dan sharing ke anak-cucu saya yang kemungkinan di masa depan tertarik pada khasanah lontar, saya berbagi di sini:

  1. Bacalah teori sosiologi.

Terutama yang saya rekomendasi adalah karya Norbert Elias (22 June 1897 – 1 August 1990), yaitu: “The Civilizing Process, Vol.I. The History of Manners”, Oxford: Blackwell, 1969, dan “The Civilizing Process, Vol.II. State Formation and Civilization”, Oxford: Blackwell, 1982.

“The Civilizing Process” (Proses Peradaban) adalah buku penting mencakup sejarah proses terbentuknya peradaban Eropa dari sekitar 800 AD hingga 1900 AD, merupakan sebuah buku yang membeberkan dengan cerdas dan cermat, sebuah analisis formal pertama dalam hal teori (terjadinya/terbentuknya) peradaban.

Lontar-lontar di Bali adalah kumpulan dan remah-remah pemikiran dari berbagai abad, berbagai konteks geografis-politik-teologi-dinasti, serta berbagai paham atau ism yang berbaur tumpang tindih. Jika kita tidak mampu melihat lontar sebagai teks dalam konteks “proses peradaban” maka kita akan terpleset dalam hayalan bahwa teks-teks tersebut tidak punya konteksnya, atau bisa mandiri dalam dirinya, tanpa ruang dan waktu. Membaca teks lontar kita dituntun untuk mampu melihat konteks jamannya, setidaknya mampu membayangkan dalam konteks sosiologis atau teologis seperti apa posisi teks yang kita baca. Dengan suluh pemahaman bagaimana “the history of manners” dalam perkembangan historis habitus Eropa, atau struktur psikis individu tertentu yang dibentuk oleh sikap sosial tertentu sesuai jamannya, kita bisa membandingkan atau mereka-reka bagaimana dan dalam situasi apa teks dalam lontar tertentu ditulis atau disalin atau tulis kembali. Bercermin dari bagaimana standar-standar Eropa pasca-abad pertengahan – mengenai kekerasan, perilaku seksual, fungsi tubuh, cara makan dan bentuk-bentuk bahasa secara berangsur-angsur berubah dengan meningkatkan ambang rasa malu dan jijik, bekerja keluar dari inti dalam etiket pengadilan – akan bisa kita kita bayangkan bagaimana teks-teks dalam lontar ditulis dan “diciptakan”.

Berbagai teks dalam lontar tampaknya diinternalisasi secara individu dan juga kelompok, kadang dipaksakan berlaku bagi kelompok lainnya, dengan mengunakan jaringan koneksi sosial sistem kerajaan dan masyarakat tradisional yang semakin kompleks dari abad Jawa Kuno sampai abad 19, turut serta dari jaman ke jaman mengembangkan persepsi-persepsi “psikologis” manusia Bali tentang dirinya, tentang alam kehidupannya, dan berperan besar sebagai pedoman meregulasi masyarakat, sebagai teks pembenar atau legitimasi kekuasaan, baik oleh kelompok elit ksatria dan brahman, sehingga teks-teks tersebut tidak bisa kedap atau terlepas dari konteks kekuasaan dan jamannya.

Dalam hal ini berbagai teks babad, dan juga mantra-pedoman kepanditaan, yang mengklaim diri sebagai teks tertinggi dan “terbenar” sebaiknya kita lihat konteks jamannya dan konteks politik serta kaitannya sejarah kekuasaan. Vol.II. “State Formation and Civilization” (Pembentukan Negara dan Peradaban), membantu kita melihat bagaimana teks babad dan kependetaan yang tersebar, menjadi titik penting penyebab dari proses-proses peradaban (dan pemberadaban) Bali, dan melihat teks-teks dalam babad serta lontar lain, seperti Paswara dan Awig-awig serta Purana Pura, tidak terlepas dari pembentukan “negara kerajaan-kerajaan Bali” yang semakin terpusat pada titik-titik kekuasaan pemerintahan dan ritual, serta bagaimana jaringan teks-teks ini dipekerjakan sebagai mengatur jaringan masyarakat yang semakin berbeda, tersegragasi, namun diusahakan saling berhubungan, ditata agar saling tampak harmoni dalam hirarki kuasa yang dikontrol oleh “pembentuk/pembuat/pengontrol teks-teks lontar”.

Dalam teks-teks lontar terdapat ajaran yang sangat jelas menunjukkan bagaimana teks-teks tersusun sebagai legitimasi “superioritas kelompok” dan sekaligus teks-teks yang mengandung “superioritas moral”. Elias memberikan petunjuk bagaimana sebuah “teks” bertumbuh dan turut serta mengatur dan mengedalikan “proses peradaban”. Bercermin dari pemikiran Elias, lontar-lontar bisa menjadi pijakan untuk menganalisa konsep dan proses ini, yang dijuluki peradaban, dan diteliti ke dalam asal-usul, pola-pola, dan metodenya.

Lontar-lontar ditulis, dan diwariskan, tanpa disadari, dengan cara yang tidak sistematis, yang menjadi tumpukan informasi dan pengetahuan yang tebal dan riweh yang sulit diurai dalam waktu singkat. Namun di dalamnya, dalam semua teks-teks lontar yang saya baca, ada sebuah kesamaan atau energi besar untuk menetapkan peraturan sosial, baik lewat sistem ritual, pertanian, pemerintahan (politik), dalam kebahasaan dan mantra-mantra, berniat menjadi pengatur tatanan psikologis bagi mansyarakat Bali.

  1. Bacalah sejarah filsafat India.

Karya Radhakrishnan berjudul “Indian Philosophy Vol.1 (1923) dan Vol 2 (1927)”, Oxford University Press, wajib dibaca dalam melihat sistem “tatwa” dan berbagai ajaran kefilsafatan dalam lontar. Lontar-lontar bertajuk aji dan tatwa di Bali banyak mengandung muatan darśana, yang mengacu pada enam sistem pemikiran, yang disebut darśanam, yang terdiri dari filsafat Hindu klasik. Lontar ‘tatwa’ dan ‘aji’ di dalamnya menyiratkan bagaimana masing-masing dari enam sistem ini warisan dengan cara sangat menarik, dengan komplesitas pewarisan dan kebahasaan yang mengalami vernakularisasi. Enam kefilsafatan ortodoks Hindu (darśana) yang menyusup dalam lontar ‘tatwa’ di Bali adalah adalah Nyaya, Vaisheshika, Samkhya, Yoga, Mīmāṃsā, dan Vedanta. Ajaran Śaiva Siddhanta yang mendominasi dalam berbagai naskah lontar, secara berselang-seling atau berbaur, membentuk berbagai teks dalam lontar-lontar Bali.

Membaca “Indian Philosophy” karya Radhakrishnan, kalau bisa ditambahkan karyanya lagi, yaitu “The Principal Upanishads “, akan menjadi membuka dan penyinar terang dalam membaca lontar-lontar tatwa. Saya menemukan berbagai naskah kakawin juga yang mendalilkan persoalan Ātman dan Paramātma, yang membahas dokrin Māyā dan Avidyā; Karma dan Punarbawa; Moksa dan perjalanan jiwa; menjadi lebih terang dilihat dalam konteks ajaran darśana dan ajaran upanishad.

Bṛhadāraṇyaka, Chāndogya, Aitareya, Taittirīya, Īṣa, Kena, Kaṭha, Praśna, Muṇḍaka, Māṇḍūkya, Śvetāśvatara, Kauśītāki, Maitrāyaṇi, Subāla, Jābāla, Paiṅgala, Kaivalya, Vajrasūcikā. Upanisad-upanisad ini penting dibaca untuk menjadi peneguh dan landasan berpikir kita dalam memeriksa isi lontar-lontar di Bali.

  1. Bacalah Yajurveda Samhita dan Rigveda.

Kalau tidak, kita akan kegelapan melihat berbagai stuti-stava, mantra dan puja yang “terserak” dalam lontar. Pikiran kita akan penuh sangka dan penuh tanya dari mana asal mula mantra Sansekerta kalau tidak paham Yajurveda Samhita dan Rigveda.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa ajaran mantra serta uraian Saiva Siddhanta ke Bali masuk melalui naskah Purana dan Parwa. Salah satunya Brahmananda Purana, dan Adi Parwa yang melegenda di masyarakat Bali. Isi puja dan lontar Bali, dengan demikian harus dilihat dalam “perspektif Purana dan Parwa”. Kutipan pedoman upakara, ngusaba, dan kegiatan ritual disebutkan sumbernya Adi Parwa. Dengan demikian perlu pemahaman komprehensif terhadap sastra Parwa dan Purana dalam melihat lontar Bali.

Namun, dalam melihat mantra-mantra di Bali, saya merekomendasi untuk bisa melek terhadap ajaran dan perbedaaan antara Shukla Yajurveda dan Krishna Yajurveda. Saya mendapat banyak terang dan sesuluh dari bagian dari Krishna Yajurveda, yaitu: Tattirīya Samhita. Yang lain yang sekiranya patut dijadikan sesuluh, yang juga merupakan bagian dari Krishna Yajurveda, yaitu: Maitrayani Samhita, Katha Sṃhitā dan Kapiṣṭhala Samhita.

  1. Baca Foucault dan Atharvaveda dalam memahami Usada (pengobatan) dan mantra atau penolak berbagai pangleakan (black magic).

Sebagian besar mantra dari Atharva Veda terkait dengan penyembuhan penyakit. Ayurveda dianggap sebagai subdivisi Atharvaveda, karena termasuk obat-obatan, terapi dan prosedur lain untuk hidup panjang. Ini bisa menjadi sesuluh bagaimana tradisi lontar Usada terwariskan di Bali, sekalipun berbagai muatan material dan bahasanya sangat lokal, sudah dilokasisasi atau vernacularization, tapi spirit ajaran Usada di Bali sejenis dengan Ayurveda.

Dalam melihat lontar “Usada Ila” (pengobatan orang gila) dan berbagai usada lainnya, sangat menarik jika suka dan punya waktu untuk ngulik-ulik pembahasan Foucault, “Madness and Civilisation” atau “History of Madness”.

Teks-teks usada di dalamnya mengandung pemeriksaan terhadap makna (dan definisi) yang berkembang dari masa ke masa, apa itu sakit dan apa itu kegilaan. Konteksnya juga ada terkait dengan soal racun dan kegilaan di jaman “Dalem” (baca Usada Dalem), bagaimana budaya Bali, hukum, politik, filsafat dan pengobatan dari Jaman Gelgel hingga akhir abad ke-19, sampai munculnya “Sakit Gede” diobati dan dikendalikan. Teks usada bisa menjadi bagian penting melihat sejarah atas “sejarah gagasan” bagaimana dan apa itu “sembuh”, “waras”, “gila”, dan berbagai “pengedaliannya”.

Jika kita bandingkan teks Usada Dalem, Ila, Buddhakecapi, dll, dengan bagaimana Foucault menelusuri evolusi konsep kegilaan melalui tiga fase: Renaisans, “Zaman Klasik” (akhir abad ketujuh belas dan sebagian besar abad kedelapan belas) dan pengalaman modern, pembaca lontar usada akan terkesima bagaimana lontar-lontar usada bisa menjadi pijakan kita “membaca sejarah kekuasaan” di Bali dan di masa Jawa Kuno (?).

Jika Foucault berpendapat bahwa dalam masa Renaisans orang gila digambarkan merepresentasikan kekuatan misterius tragedi kosmik, demikian juga prihal kegilaan dan sakit oleh guna-guna (teluh dll) dalam lontar usada. Usada Ila mendeskripsikan tentang manusia kehilangan nalar dan bagaimana agar bisa “mengembalikan nalarnya dengan cara tidak nalar”.

Sampai akhirnya masyarakat Bali bersentuhan dengan kedokteran modern yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial, teks-teks usada itu menguasai jagat pikir dan imajinasi manusia Bali, baik konsepsi sehat-sakit, cetik-wisa-tamba (racun dan pemunah/obat penyembuh), dan apa yang dimaksud dengan “kasukertan” (sejahtera lahir batin), sangat menarik untuk kita pelajari definisinya, dalam konteks “proses pemberadaban” Bali.

  1. Bacalah karya sastra dunia.

Untuk melihat dan mengasah kemampuan memasuki dunia Kakawin, Kidung, dan Gaguritan. Tanpa apresiasi yang baik akan karya-karya sastra dunia, karya-karya sastra yang bemutu dalam konteks politik dan perkembangan estetika sebuah negeri, akan sulit seorang pembaca lontar yang Kakawin, Kidung, dan Gaguritan, dalam memasuki kompleksitas kesastraan (stilistika, lingusitika, filosofi, sosiologi sastra, dll) dalam lontar-lontar Bali. Memahami sejarah sastra Eropa, dan berdebatan filsafat Yunani, sangat membantu untuk mengapresiasi teks-teks sastra dalam lontar.

Untuk memperjelas bagian ini silahkan baca catatan saya dalam link ini: http://www.tatkala.co/…/kenapa-kita-orang-bali-berpaling-d…/

  1. Bacalah sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara dan relasinya dengan kerajaan-kerajaan Asia Tengara dan India.

Lontar-lontar di Bali adalah buah dari persebaran teks atau jaringan teks-teks kuno yang tersebar dan memalui kerajaan-kerajaan Nusantara dan relasinya dengan kerajaan-kerajaan Asia Tengara dan India. Khususnya Sriwijaya, Medang Kemulan, Kediri, Singosari, Majapahit, sejarah dinasti Warmadewa, serta Gelgel sampai terbentuknya Klungkung. Dengan pemahaman bentang sejarah ini kita akan mampu melihat dalam konteks sosiologis dan politik seperti apa lontar-lontar Bali ditulis. Makin komprehensif jika kita mampu memasuki dunia efigrafi (prasasti tembaga dan batu dll) dari peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut. Di dalamnya ada berbagai gejolak kekuasaan dan saling ganti kememimpinan yang membawa arus dan ajaran berpikir dan beragama yang silih berganti, yang sangat memberi penjelas dalam memahami teks-teks dalam lontar yang terwariskan di Bali.

Membaca teks-teks lontar Bali tanpa melihat konteks historis, sosilogis dan politik yang melingkupi kelahiran dan keberadaannnya, kita akan buta. Teks-teks yang tidak kita pahaami konteksnya, sangat sulit kita pahami semesta makna dan fungsinya. Sangat sulit kita ambil hikmah dan faedahnya, terlebih-lebih ingin kita telan mentah-mentah untuk kita praktekan, atau jadikan pedoman keluarga atau pedoman diri. Bisa jadi kita senasib mengunyah obat atau makanan kadaluarsa, kita teracam terpapar keracunan atau mual. Buduh dan ngacuh.

Agar benderang terang melihat jaringan teks dan konteksnya dalam sejarah kerajaan-kerajaan Asia Tengara dan India, saya rekomendasi wajib hukumnya membaca buku karya Romo Zoetmulder berjudul: “Kalanguan ; Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang”, Jakarta : Jambatan, 1985, wajib dibaca untuk memperdalam pembahasan ini, juga dampingin dengan buku karya J.J. Ras berjudul ‘Masyarakat dan Kesusastraan di Jawa’, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014.

  1. Bacalah sesuai kebutuhan, bacalah tulisan peneliti sebelumnya.

Lontar-lontar di Bali dan Jawa telah dipetakan oleh Theodore G. Th. Pigeaud, serta para peneliti lainya. Dijabarkan demikian luas topik dari masing-masing semua lontar di Bali, di antaranya:
– Agama — pedoman dan pijakan dalam menjalankan agama, termasuk dalam penegakan nilai agama dalam konteks bernegara
– Aji — instruksi, ajaran, umumnya bersifat tutorial kebatinan
– Aksara — penggunaan bijah atau biji aksara dalam ritual dan ‘nyasa’ (menginstall aksara secara batin)
– Awig-Awig — peraturan desa, subak, dan kelompok
– Babad — narasi bersifat kesejarahan yang penuh mitos, kadang tidak sejarah faktual
– Cacingkraman — semacam senandung, bisa “pengantar tidur”, kadang bersifat nyanyian untuk ruh gaib yang kadang mengoda atau menganggu
– Carcan — table atau buku panduan dalam melihat sifat atau kualitas binatang, permata, keris, dan termasuk juga prilaku manusia
– Dharma — ajaran moral dan instruksi keagamaan
– Gaguritan — puisi dalam metrum macapat
– Indik — perihal atau sesuatu yang bersifat spesifik
– Kabuddhan — ajaran filsafat Buddhism dan teknis yang memberikan petunjuk memahami dana atau memasuki alam kebuddhaan.
– Kajang — rajah (drawing) bija aksara suci untuk penutup mayat (layon)
– Kakawin — puisi dalam metrum tembang India
– Kamoksan — ajaran filsafat dan teknis yang memberikan petunjuk mencapai atau memasuki pengalaman batin sampai tingkat moksa
– Kanda — risalah prosa
– Kaputusan — resolusi dan ajaran
– Kawisesan — ajaran
– Kawitan — genealogi dan pedoman pemujaan atau kebaktian ditujukan untuk roh para leluhur
– Kawruh — pengajaran agama
– Kidung — puisi dengan meter Jawa pertengahan
– Krakah — penggunaan huruf suci dalam ritual
– Krama — adat istiadat dan sopan santun
– Lalampahan — skrip pertunjukan
– Lalintih — silsilah
– Maarti — terjemahan interlinear, biasanya Kakawin Maarti sebagai pedoman dalam ‘mababasan’ (mengartikan dan menginterpretasi) sebuah kakawin
– Mantra — formula dan doa
– Niti — aturan kenegaraan dan etika bernegara atau bermasyarakat
– Padalangan — wayang kulit dan praktek ritual dalang
– Pamancangah — kisah sejarah dalam prosa dan puisi
– Panerang — ilmu menghentikan hujan
– Pangayam-ayam — ilmu tentang sabung ayam
– Panugrahan — ajaran atau ilmu batin dari guru suci
– Parikan — ringkasan naratif dalam bahasa Bali yang lumrah dipakai umum
– Parwa — narasi prosa Jawa Kuno
– Pengeling — catatan pengingat peristiwa sejarah
– Pengleakan — ajaran ilmu magis terkait urusan bagaimana masuk-keluar ruh manusia
– Puja — himne dan doa dalam bahasa Jawa Kuno dan bercampur dengan Sansekerta
– Purana — risalah agama
– Sasana — pedoman perilaku dan moral
– Satua — cerita rakyat
– Siksa — tanda-tanda pembawa keberuntungan
– Silakrama — perilaku dan moral
– Tatwa — risalah filosofis
– Teges — eksegesis
– Tenung — ilmu gaib, ramalan dan horoskop
– Tingkah — perilaku dan moral
– Tutur — risalah religius dan kefilsafatan
– Usada — obat-obatan, umumnya herbal
– Usana — narasi sejarah dalam bentuk prosa
– Wariga — perihal baik buruk hari dan upakara atau ritual yang dilakukan pada hari-hari tertentu, ada juga berisi ramalan sifat manusia yang dibawa sebagai akibat pengaruh hari kelahirannya

Karena sedemikain luas isi dari lontar-lontar di Bali, jika ingin memasukinya sebaiknya membaca dengan baik hasil-hasil penelitian atau kalau bisa disertasi terkait lontar yang ingin ditekuni. Beberapa nama peneliti tangguh yang wajib dibaca dalam menekuni lontar-lontar di Bali adalah: Van Der Tuuk, R. Goris, J. Gonda, T. GOUDRIAAN, C. Hooykaas (dan I G.K. Sangka dkk), Raghu Vira dkk., Rai Sudharta dan I Gede Sura. Sangat penting membaca pemetaan dan karya-karya Theodore G. Th. Pigeaud. Jika ingin lapang dalam memasuki belantara teks-teks yang menyusun lontar-lontar yang terwariskan di Bali: Wajib hukumnya untuk membuntuti semua sepak terjang, artikel-artikel dan buku-buku C. Hooykaas.

Dengan mengucap: “Om Avighnamastu”, semoga kita dimudahkan dalam memasuki teks-teks lontar. Semoga pikiran, mental, batin dan jiwa kita dimerdekakan, terbebas dari “vighna” halangan, keterpurukan dan kegelapan pikiran kita. Semoga pikiran kita jembar, tak terjebak mitos dan klenik, dan tetap waras. Semoga dilapangkan dalam segala tindak. (T)

Catatan Harian 4 Oktober 2018

Tags: balilontarsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bincang dengan Lubak Wait Kopi: Memangnya Saya Kembang Api Dibakar-bakar?

Next Post

12 Seniman dan 3 Tamu Terhormat di DenPasar Art+Design 2018.

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
12 Seniman dan 3 Tamu Terhormat di DenPasar Art+Design 2018.

12 Seniman dan 3 Tamu Terhormat di DenPasar Art+Design 2018.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co