14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hormat

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 19, 2018
in Esai
Hormat

KOPLAK berkali-kali memutar nomor telpon anak perempuan semata wayangnya, Ni Luh Putu Kemitir dengan tangan yang gemetar, dan detak jantung yang terasa tidak normal. Keringat dingin terus menetes. Ketiaknya basah. Punggungnya juga basah. Dahinya terasa panas.

Hatinya tidak tenang, karena terus gemetar Koplak pun semakin merasa diteror dengan perasaan tidak jelas. Oh Hyang Jagat! Hyang Widhi! Koplak terus nyerocos berusaha memanggil beragam kekuatan niskala yang dianggap bisa menenangkan aliran darahnya yang terasa mengalir dengan cara tidak benar.

“Jika menghadapi masalah dengan pikiran kusut, otomatis penyelesaiannya juga akan berbuntut.”

Kata Kacong serius.

“Berbuntut?”

“Ya, tidak akan tundas. Tidak juga tandas.”

“Bahasamu terlalu tinggi!”

“Mulai sekarang kita-kita ini yang harus berlatih belajar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, Koplak.”

“Kita?”

“Ya, minimal aku dan kamu.”

“Bicaramu seperti pejabat penting saja, Kacong.”

“Sekarang kita ini harus mulai belajar menghormati diri kita sendiri, Koplak. Kalau kita tidak  bisa menghormati diri kita sendiri. Memangnya siapa yang kamu suruh menghormati dirimu?”

“Sejak kapan kamu berubah jadi gila hormat?”

“Sejak tiang sadar bahwa sekecil apa pun diri ini harus kita hormati. Pejabat di Jakarta juga membuat undang-undang untuk menjaga kehormatannya. Masak kita tidak boleh menjaga kehormatan kita.”

Koplak makin panas dingin dan kembali memencet nomor telpon anak perempuan. Aneh sekali? Sudah hampir dua minggu, Kemitir tidak menengoknya? Kemana anak itu? Sadarkah anak perempuan semata wayangnya itu bahwa semakin hari dunia ini semakin buas dan ganas, juga panas.

“Kau sekarang pejabat, Koplak.”

“Hanya Kades.”

“Itu namanya tetap p e j a b a t. Pemilik k e k u a s a an!”

“Maksudmu apa, Kacong?”

Koplak semakin pusing dengan kata-kata Kacong, tetangga di depan rumahnya yang selalu gelisah, jujur saja setiap kedatangan Kacong ke rumah Koplak. Koplak merasa terganggu. Tepatnya, tidak nyaman. Bagaimana mungkin Kacong, lelaki seumuran dirinya yang tidak pernah menikah dan tidak juga suka kerja keras memiliki ide-ide yang kadang-kadang tidak masuk akal. Ada saja yang dibicarakannya. Semua warga di desa Sawut tahu persis, jika Kacong bertandang itu artinya duitnya sudah menipis, dan lelaki bertubuh pendek dan bulat itu bertandang dengan tujuan meminta ikut minum kopi. Sudah menjadi kebiasaan warga desa Sawut, memberi kopi kepada Kacong. Memang mereka tidak mengeluh, Kacong juga tidak minta ini-itu. Dikasih ya, syukur. Tidak dikasih lelaki itu juga tidak protes juga tidak mengamuk.

Dan, pagi ini, giliran Koplak kedatangan Kacong. Seperti biasa lelaki itu bahkan tidak mandi. Baunya cukup menyengat. Koplak memang merasa sedikit terganggu juga, tetapi sebagai “sepuh” di desa Sawut, Koplak pun harus berusaha menyusun kekuatan untuk “tabah” berhadapan dengan beragam konsep-konsep yang selalu dikeluarkan Kacong. Lelaki tambun ini memang sesungguhnya tidak bodoh, hanya malasnya minta ampun! Kadang-kadang membuat senewen juga.

“Tiang tidak ingin kawin, kawin buat hidup jadi ribet dan ruwet. Hidup sendiri itu lebih terhormat, tidak menganggu orang lain. Tidak juga merugikan orang lain. Contohnya, jika tiang ingin teman ngobrol cukup datang ke tempat tetangga. Minimal ikut menghibur diri sambil ikut minum kopi. Itu kan pekerjaan terhormat. Minimal ikut mengusir rusuh-rusuh di hati. Dengan berbicara dengan tiang kau pasti merasa terhibur, Koplak.” Kacong berkata santai sambil menghirup wangi kopi yang disuguhkan Koplak. Sejak tadi kopi itu belum juga diteguknya.

Koplak terdiam. Kembali melirik telpon genggamnya. Ke mana Kemitir? Di mana posisinya saat ini? Hati Koplak cemas sekaligus gemas!

“Kau punya pacar? Seperti anak abg saja sebentar-sebentar melirik hp?” Kacong berkata pelan. Koplak mendelik, wajahnya berubah tidak senang.

“Sudah layak kamu punya istri lagi, Koplak. Kamu itu kan Kades, harus punya bu Kades minimal untuk menemani kau menggunting pita jika ada perayakan di desa ini.” Kacong terus nyerocos tentang ini-itu. Koplak semakin pening, pikirannya kacau, kemana Kemitir? Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi padanya? Pikirannya macam-macam. Apalagi tadi pagi dia membaca sebuah berita seorang anak perempuan yang duduk di bangku SMP ditemukan tidak bernyata setelah bersetubuh dengan pacarnya yang usianya jauh lebih tua. Koplak terus memencet telponnya. Tetap tidak ada tanda-tanda bahwa telpon anaknya hidup.

Sementara Kacong terus berteori tentang menjadi manusia terhormat. Koplak makin pusing, dadanya turun naik antara menahan marah dan sumpek.

“Kacong! Bisakah kau pulang?! Aku sedang tidak enak badan!” Koplak berusaha mengusir Kacong yang melongo dan menatap Koplak dengan tatapan aneh. Koplak menarik nafas, untung tidak keluar kata-kata kasar dan meracau. Kacong pun beringsut dari kursi dan bergegas pergi dengan tatapan penuh tanda tanya. Koplak kembali menarik nafas, jantungnya terasa berdetak kembali kali ini lebih cepat dan tidak beraturan, ketika Kemitir sudah berdiri di depan pintu pagar dan menatap Koplak dengan penuh tanda tanya.

“Kenapa pan Kacong pergi terburu-buru. Kemitir kan sudah bilang pada Bape, kalau ingin dihormati warga, Bape sebagai penguasa di desa ini harus juga hormat pada warga. Jangan minta dihormati saja. Jadi penguasa yang memegang kekuasaan itu juga harus tahu diri, Bape. Bape sekarang berkuasa dan menjadi warga desa Sawut yang dihormati kan karena rakyat desa Sawut. Bape ingin bergaya seperti orang-orang yang berkuasa di TV itu? Sudah korupsi! Tidak punya malu, dan masih gila hormat…. Tidak bisa dikritik, mau menang sendiri! “ Kemitir terus bicara dan menatap mata Koplak heran. Koplak terdiam. Menahan nafas sebelum membela diri.  Koplak tersenyum.Syukurlah, Kemitir masih sehat. Masih hidup! Koplak berkata dalam hati. Kemitir menatap ayahnya sambil mengeryitkan alisnya. Lalu memegang dahi Koplak.

“Bape sakit?” Kemitir menatap Koplak dengan tatapan aneh. (T)

 

Tags: kehidupanrenungan
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang “Kemana Harusnya Aku Cari?”

Next Post

Sumadi, Putra Nusa Penida, dan Mural di Dinding Vila

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Ibu dari seorang anak lelaki. Yang mencoba memotret beragam kondisi sosial, budaya, dan politik di Indonesia dengan cara karikatural. Ala orang "Bali".

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Sumadi, Putra Nusa Penida, dan Mural di Dinding Vila

Sumadi, Putra Nusa Penida, dan Mural di Dinding Vila

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co