23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Socrates, Dongeng Ikan dan Katak, serta Anak-anak yang Mendadak Filsuf

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Opini

 

SIAPAKAH yang paling mengagumkan dalam berfilosofi? Mungkin Socrates yang paling mengagumkan yang dikenang hingga sekarang. Sebab Socrates tahu dirinya tidak tahu apa-apa, tetapi ia hanya bisa bertanya. Hanya bertanya bagaikan mengupas bawang, Socrates membuka inti hati pandangan hidup dalam dunia ini.

Ah, ini mungkin terdengar serius ketika mendengar filosofi. Apakah seserius itu? Lupakan saja semua itu. Sebab, dasar filosofi pada sebagian orang dewasa sudah terkubur dalam ketakutan dan dokrin ketersinggungan dalam topeng persaudaraan.

Lain halnya, sama seperti anak-anak usia dini pada masa perkembangan mereka. Mereka merupakan anak-anak polos yang tidak tahu apa-apa, tetapi memiliki pertanyan-pertanyaan yang tidak akan pernah putus akan alam dan dunia ini. Mereka belum terantai maupun terkubur dalam ketakutan.

Hanya di masa perkembangan kanak-kanak inilah, Socrates bisa hidup dan berkembang dalam imajinasi anak. Namun, ketika anak-anak memasuki usia sekolah formal, Socrates mati diracun di hati mereka. Sebab, mereka akan mengancam tatanan hidup orang dewasa yang sudah nyaman, katanya. Nyaman untuk siapa?

Lalu, aku teringat pada anak-anak pernah bermain di dekat kolam ikan. Mungkin, sekarang anak-anak itu berada dalam kotak dogma pendidikan robot. Mereka tak dibiarkan menjadi lego, tetapi harus langsung menjadi robot. Robot tidak akan pernah bisa menjadi bentuk lego, tetapi lego dan pengalaman imajinasinya bisa menjadi bentuk robot maupun menjadi bentuk yang diinginkan.

“Bu, apa itu gelembung-gelembung berbusa yang ada bulat kecil itu?” kata anak-anak ketika bermain di dekat kolam ikan.

“Itu telur-telur kodok,” jawab ibu guru mereka.

“Kemana pergi ibu telur-telur ini?” tanya anak.

“Itu kodoknya di balik batu,” Ibu guru menunjuk ke arah kodok itu.

“Oh ya, anak-anak! Ibu punya cerita kodok yang berteman dengan ikan,” ucap ibu gurunya bersemangat.

“Saya mau dengar ceritanya, Bu!” sahut anak-anak berseru tak sabar ingin mendengar ceritanya.

Ibu guru yang dipanggil Ibu Nengah pun mengambil cerita “Fish is Fish” karya Leo Lionni.

“Sudah siap mendengarkan cerita ibu?”

“Siap Bu!” jawab serentak anak-anak antusias.

***

Di sebuah hutan ada danau yang sangat jernih. Di danau itu ada seekor ikan kecil dan cebong baru menetas. Mereka berteman. Pertemanan mereka pun tak terpisahkan lagi. Suatu pagi, kecebong itu melihat dirinya memiliki dua kaki kecil.

“Lihat,” kata kecebong penuh kebahagiaan. “Lihat, aku akan menjadi katak.”

“Tidak mungkin. Itu omong kosong!” kata ikan kecil tak percaya. “Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi katak? Jika baru kemarin malam adalah seekor ikan kecil, sama seperti saya!”

Mereka pun berdebat dan terus berdebat tanpa akhir. Lalu, cebong itu berkata, “Nah, katak adalah katak dan ikan adalah ikan. Itu memang begitu.”

Beberapa minggu kemudian, kaki depan kecebong itu tumbuh kecil dan ekornya semakin mengecil dan menghilang. Dan suatu hari, kecebong itu pun menjadi seekor katak yang sejati. Ia pun pergi dari danau itu dan menelusuri rerumputan hijau di hutan.

Kini, ikan kecil itu pun sudah menjadi ikan yang dewasa. Namun, ia sering bertanya-tanya kemana pergi teman berkaki empatnya. Ia sangat kesepian sendirian di danau.

“Kenapa dia pergi meninggalkanku? Apa enaknya keluar dari danau? Sudah berhari-hari dan berminggu-minggu temanku pergi, masih belum kembali! Di mana dia bisa hidup?” keluh ikan itu.

Lalu, suatu hari katak berkunjung ke danau itu menemui sahabatnya si ikan. Katak menceritakan pengalamannya di darat. Katak menceritakan begitu banyak binatang darat yang ditemuinya seperti sapi, burung, dan manusia.

Mendengar cerita katak, ikan membayangkan diri menjadi sapi, burung, dan manusia. Si ikan terus terbayang dengan cerita-cerita katak. Dan, ikan memutuskan untuk pergi meloncat ke darat. “Ah, aku tidak bisa napas! Aku sesak, tolonggggg!” ringkih ikan.

“Sudah kubilang, ikan tetaplah ikan yang tidak bisa hidup di darat,” ucap katak bergegas medorong ikan masuk ke dalam air.

“Benar katamu, aku tetaplah ikan. Ikan adalah ikan,” ucap ikan kembali menelusuri danau bersama sahabatnya katak.

***

“Mengapa ikan tidak bisa hidup di darat?” tanya Ibu Nengah ketika sudah mengakhiri ceritanya.

“Ikan kan hidupnya di air mana mungkin bisa hidup di darat,”sahut salah satu anak.

“Ikan kan bernapas dengan insang,” celetuk anak. Mungkin, anak itu mengingat pengalamannya ikut membedah ikan besar dan meraba-raba rupa ingsang pada ikan.

Jika membahasnya secara filosofis cerita itu atau pengalaman anak itu sendiri, tentu tidak akan pernah menghakimi dengan pandangan kebenaran yang membatu/memfosil. Sebab, filosofi selalu meregenerasi pandangannya yang tidak akan pernah terjebak pada pandangan yang memfosil. Jika pandangan sudah memfosil dalam diri kita, tentu itu bukan filosofi tetapi sudah dogma yang menyesatkan.

Untuk itu, seorang pendidik mungkin harus menjadi seorang filosofi dan sekaligus menjadi seorang geologi pendidik. Seorang geologi pendidik tentu akan selalu menggali setiap pengalaman anak didiknya dan dengan kemampuan filosofisnya, anak akan merekontruksi pengalaman lama menjadi pengalaman baru.

Ketika ini tidak pernah dipahami sebagai seorang pendidik, maka akan terjadi seperti cerita anak teman yang anaknya masih TK. Anak itu bingung melihat gurunya kesal karena mendengar cerita pengalamannya yang diceritakan di kelas.

Sampai di rumah anak itu bercerita kepada ibunya:

“Bu guru kok kesal saat adik cerita menanam anak babi yang mati kemarin di kebun? Benarkan Bu? Adik dan Bapak menanam anak babi kemarin? Tapi, adik cerita di kelas, Bu Guru langsung berhenti dan duduk.”

“ Ya, benar adik menanam anak babi kemarin. Memang teman-teman adik cerita apa?” ucap ibu juga terheran.

“Teman adik ada yang cerita menanam bunga mawar,” jawab anak itu masih bingung. Apakah ia sudah berbuat salah atau tidak.

Mendengar cerita anak itu, ibunya memahami yang terjadi di sekolah. Anaknya sedang belajar tentang menanam tumbuhan.

Di sinilah, semestinyan seorang pendidik tidak berhenti pada pandang yang memfosil sehingga menghakimi dengan kebenaran yang sudah membatu. Bisa saja terus menelusuri pengalaman itu, kita bisa menemukan bahwa anak babi yang di tanam itu lama-kelamaan menjadi busuk. Lalu, di tempat ditanamnya anak babi itu, tanahnya menjadi subur dan bagus ditanami bunga, misalnya. Anak babi yang ditanam itu telah menjadi pupuk. Bahkan, jika ditelusuri dengan baik, anak akan banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang menakjubkan.

Apalagi secepat kilat menghakimi anak telah berbuat buruk/jahat dengan mengutuknya sebagai alpaka guru (durhaka terhadap guru). Perkembangan baik-buruk seorang anak tidak hanya bisa diselesaikan dengan dogma alpaka guru. Sepertinya, hidup hanya mau menerima yang baik-baik saja.

Apakah semudah itu menyimpulkan pengalaman perkembangan anak dalam melihat karakter anak? Apakah anak sudah menemukan makna hidup yang menakjubkan dengan hanya mengingat kejadian pengalaman hidup?

Lalu, apakah pendidik hanya berhenti dan hanya mementingkan karakter pertanyaan yang bisa mereka banggakan jawabannya seperti tes-tes akhir semester? Mengapa tidak masuk lebih filosofis?

Ah, entahlah! Lebih baik menyaksikan kebahagiaan ikan yang asyik berimajinasi menjadi sapi, burung, dan manusia. (T)

 

Tags: anak-anakdongengfloraPendidikanpendidikan usia diniSokrates
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Novel “Munajat Hati” dan Permasalahan Pemuda Masa Kini

Next Post

Memicu “Erupsi Literasi” Gunung Agung, Lebih Cepat Lebih Baik

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Memicu “Erupsi Literasi” Gunung Agung, Lebih Cepat Lebih Baik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co