2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Socrates, Dongeng Ikan dan Katak, serta Anak-anak yang Mendadak Filsuf

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Opini

 

SIAPAKAH yang paling mengagumkan dalam berfilosofi? Mungkin Socrates yang paling mengagumkan yang dikenang hingga sekarang. Sebab Socrates tahu dirinya tidak tahu apa-apa, tetapi ia hanya bisa bertanya. Hanya bertanya bagaikan mengupas bawang, Socrates membuka inti hati pandangan hidup dalam dunia ini.

Ah, ini mungkin terdengar serius ketika mendengar filosofi. Apakah seserius itu? Lupakan saja semua itu. Sebab, dasar filosofi pada sebagian orang dewasa sudah terkubur dalam ketakutan dan dokrin ketersinggungan dalam topeng persaudaraan.

Lain halnya, sama seperti anak-anak usia dini pada masa perkembangan mereka. Mereka merupakan anak-anak polos yang tidak tahu apa-apa, tetapi memiliki pertanyan-pertanyaan yang tidak akan pernah putus akan alam dan dunia ini. Mereka belum terantai maupun terkubur dalam ketakutan.

Hanya di masa perkembangan kanak-kanak inilah, Socrates bisa hidup dan berkembang dalam imajinasi anak. Namun, ketika anak-anak memasuki usia sekolah formal, Socrates mati diracun di hati mereka. Sebab, mereka akan mengancam tatanan hidup orang dewasa yang sudah nyaman, katanya. Nyaman untuk siapa?

Lalu, aku teringat pada anak-anak pernah bermain di dekat kolam ikan. Mungkin, sekarang anak-anak itu berada dalam kotak dogma pendidikan robot. Mereka tak dibiarkan menjadi lego, tetapi harus langsung menjadi robot. Robot tidak akan pernah bisa menjadi bentuk lego, tetapi lego dan pengalaman imajinasinya bisa menjadi bentuk robot maupun menjadi bentuk yang diinginkan.

“Bu, apa itu gelembung-gelembung berbusa yang ada bulat kecil itu?” kata anak-anak ketika bermain di dekat kolam ikan.

“Itu telur-telur kodok,” jawab ibu guru mereka.

“Kemana pergi ibu telur-telur ini?” tanya anak.

“Itu kodoknya di balik batu,” Ibu guru menunjuk ke arah kodok itu.

“Oh ya, anak-anak! Ibu punya cerita kodok yang berteman dengan ikan,” ucap ibu gurunya bersemangat.

“Saya mau dengar ceritanya, Bu!” sahut anak-anak berseru tak sabar ingin mendengar ceritanya.

Ibu guru yang dipanggil Ibu Nengah pun mengambil cerita “Fish is Fish” karya Leo Lionni.

“Sudah siap mendengarkan cerita ibu?”

“Siap Bu!” jawab serentak anak-anak antusias.

***

Di sebuah hutan ada danau yang sangat jernih. Di danau itu ada seekor ikan kecil dan cebong baru menetas. Mereka berteman. Pertemanan mereka pun tak terpisahkan lagi. Suatu pagi, kecebong itu melihat dirinya memiliki dua kaki kecil.

“Lihat,” kata kecebong penuh kebahagiaan. “Lihat, aku akan menjadi katak.”

“Tidak mungkin. Itu omong kosong!” kata ikan kecil tak percaya. “Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi katak? Jika baru kemarin malam adalah seekor ikan kecil, sama seperti saya!”

Mereka pun berdebat dan terus berdebat tanpa akhir. Lalu, cebong itu berkata, “Nah, katak adalah katak dan ikan adalah ikan. Itu memang begitu.”

Beberapa minggu kemudian, kaki depan kecebong itu tumbuh kecil dan ekornya semakin mengecil dan menghilang. Dan suatu hari, kecebong itu pun menjadi seekor katak yang sejati. Ia pun pergi dari danau itu dan menelusuri rerumputan hijau di hutan.

Kini, ikan kecil itu pun sudah menjadi ikan yang dewasa. Namun, ia sering bertanya-tanya kemana pergi teman berkaki empatnya. Ia sangat kesepian sendirian di danau.

“Kenapa dia pergi meninggalkanku? Apa enaknya keluar dari danau? Sudah berhari-hari dan berminggu-minggu temanku pergi, masih belum kembali! Di mana dia bisa hidup?” keluh ikan itu.

Lalu, suatu hari katak berkunjung ke danau itu menemui sahabatnya si ikan. Katak menceritakan pengalamannya di darat. Katak menceritakan begitu banyak binatang darat yang ditemuinya seperti sapi, burung, dan manusia.

Mendengar cerita katak, ikan membayangkan diri menjadi sapi, burung, dan manusia. Si ikan terus terbayang dengan cerita-cerita katak. Dan, ikan memutuskan untuk pergi meloncat ke darat. “Ah, aku tidak bisa napas! Aku sesak, tolonggggg!” ringkih ikan.

“Sudah kubilang, ikan tetaplah ikan yang tidak bisa hidup di darat,” ucap katak bergegas medorong ikan masuk ke dalam air.

“Benar katamu, aku tetaplah ikan. Ikan adalah ikan,” ucap ikan kembali menelusuri danau bersama sahabatnya katak.

***

“Mengapa ikan tidak bisa hidup di darat?” tanya Ibu Nengah ketika sudah mengakhiri ceritanya.

“Ikan kan hidupnya di air mana mungkin bisa hidup di darat,”sahut salah satu anak.

“Ikan kan bernapas dengan insang,” celetuk anak. Mungkin, anak itu mengingat pengalamannya ikut membedah ikan besar dan meraba-raba rupa ingsang pada ikan.

Jika membahasnya secara filosofis cerita itu atau pengalaman anak itu sendiri, tentu tidak akan pernah menghakimi dengan pandangan kebenaran yang membatu/memfosil. Sebab, filosofi selalu meregenerasi pandangannya yang tidak akan pernah terjebak pada pandangan yang memfosil. Jika pandangan sudah memfosil dalam diri kita, tentu itu bukan filosofi tetapi sudah dogma yang menyesatkan.

Untuk itu, seorang pendidik mungkin harus menjadi seorang filosofi dan sekaligus menjadi seorang geologi pendidik. Seorang geologi pendidik tentu akan selalu menggali setiap pengalaman anak didiknya dan dengan kemampuan filosofisnya, anak akan merekontruksi pengalaman lama menjadi pengalaman baru.

Ketika ini tidak pernah dipahami sebagai seorang pendidik, maka akan terjadi seperti cerita anak teman yang anaknya masih TK. Anak itu bingung melihat gurunya kesal karena mendengar cerita pengalamannya yang diceritakan di kelas.

Sampai di rumah anak itu bercerita kepada ibunya:

“Bu guru kok kesal saat adik cerita menanam anak babi yang mati kemarin di kebun? Benarkan Bu? Adik dan Bapak menanam anak babi kemarin? Tapi, adik cerita di kelas, Bu Guru langsung berhenti dan duduk.”

“ Ya, benar adik menanam anak babi kemarin. Memang teman-teman adik cerita apa?” ucap ibu juga terheran.

“Teman adik ada yang cerita menanam bunga mawar,” jawab anak itu masih bingung. Apakah ia sudah berbuat salah atau tidak.

Mendengar cerita anak itu, ibunya memahami yang terjadi di sekolah. Anaknya sedang belajar tentang menanam tumbuhan.

Di sinilah, semestinyan seorang pendidik tidak berhenti pada pandang yang memfosil sehingga menghakimi dengan kebenaran yang sudah membatu. Bisa saja terus menelusuri pengalaman itu, kita bisa menemukan bahwa anak babi yang di tanam itu lama-kelamaan menjadi busuk. Lalu, di tempat ditanamnya anak babi itu, tanahnya menjadi subur dan bagus ditanami bunga, misalnya. Anak babi yang ditanam itu telah menjadi pupuk. Bahkan, jika ditelusuri dengan baik, anak akan banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang menakjubkan.

Apalagi secepat kilat menghakimi anak telah berbuat buruk/jahat dengan mengutuknya sebagai alpaka guru (durhaka terhadap guru). Perkembangan baik-buruk seorang anak tidak hanya bisa diselesaikan dengan dogma alpaka guru. Sepertinya, hidup hanya mau menerima yang baik-baik saja.

Apakah semudah itu menyimpulkan pengalaman perkembangan anak dalam melihat karakter anak? Apakah anak sudah menemukan makna hidup yang menakjubkan dengan hanya mengingat kejadian pengalaman hidup?

Lalu, apakah pendidik hanya berhenti dan hanya mementingkan karakter pertanyaan yang bisa mereka banggakan jawabannya seperti tes-tes akhir semester? Mengapa tidak masuk lebih filosofis?

Ah, entahlah! Lebih baik menyaksikan kebahagiaan ikan yang asyik berimajinasi menjadi sapi, burung, dan manusia. (T)

 

Tags: anak-anakdongengfloraPendidikanpendidikan usia diniSokrates
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Novel “Munajat Hati” dan Permasalahan Pemuda Masa Kini

Next Post

Memicu “Erupsi Literasi” Gunung Agung, Lebih Cepat Lebih Baik

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Memicu “Erupsi Literasi” Gunung Agung, Lebih Cepat Lebih Baik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co