1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geografika India Dalam Mantra Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 17, 2021
in Esai

Kunjungan Rabindranath Tagore ke Raja Karangasem bersama S. Koperberg, S. Kar, T.D. Dwavarman, G.W.J. Drewes, S.K. Chatterji, K. Bake-Timmers, A.A. Bake. 1927. Foto: Istimewa

— Catatan Harian Sugi Lanus, 17 September 2017

PENDETA Bali (juga Hindu Bali dan dunia umumnya) menyebut geografi India dan berbagai sungai dalam mantra-mantra suci, kenapa?

Jika ‘Gagelaran Pemangku’ (Pedoman Pendeta Pemangku) kita baca, dari cuci muka, menghadap beji (permandian), bahkan sampai doa buang air besar, selalu diawali dengan menyebut dan memuliakan ‘Gangga’. Salah satu mantra yang cukup lengkap menyebut ‘geografika India’ dalam mantra memercikan air suci ‘sapta gangga’, sebagai berikut:

“Ong Gangga ya namah swaha,
Ong Sindhuwatinca ya namah,
Ong Ang Saraswati ya namah,
Ong Ang Wipasa ya namah,
Ong Ang Korsika ya namah,
Ong Ang Yamuna ya namah,
Ong Ang Srayu ya namah swaha.”

Berbagai praktek-prosesi pembuatan tirta (air suci) hampir tak satupun puja-mantra-sesontengan yang tidak menyebut ‘titik-titik geografika’ India, bukan hanya sungai tapi juga gunung-gunung dan bentangan alamnya.

Ada sebuah surat Rabindranath Tagore yang sekiranya memberi penjelasan sangat menarik dan mendalam. Di Tirta Empul, Bali, Rabindranath Tagore merenungkan hal itu dengan serius, setelah ia tercenung dengan pengalaman ketibaannya di Bali, mendengar bagaimana orang Bali hafal luar kepala nama-nama sungai di India dan berbagai ungkapan geografika India.

Begini tulis Rabindra dalam suratnya yang ditujukan kepada Mira Devi:

“Di satu tempat, di mana kita melihat sekilas laut biru melalui sebuah celah di hutan, raja [raja Karangasem yang dimaksud] tiba-tiba keluar dengan kata ‘samudra’; (bahasa Sanskerta untuk ‘laut’). Menemukan saya terkejut dan senang saat itu, dia terus mengulangi sinonim: ‘samudra’, ‘ságara’, ‘abdhi’, ‘jaládhya’, melanjutkan dengan menyebut ‘sapta samudra’ (tujuh lautan), ‘sapta-parvata’ (tujuh gunung), ‘sapta-vana’ (tujuh hutan), ‘sapta-ákásha’ (tujuh langit).

Kemudian menunjuk ke bukit, dia pertama kali memberi kata Sanskerta untuk itu, ‘adri’, dan melanjutkan untuk mengulang nama: Sumêru, Himálaya, Vindhya, Malaya, Rishyamukha. Kemudian, ketika kami sampai di sebuah sungai yang mengalir di sepanjang kaki bukit, dia melanjutkan: Gangá, Yamuná, Narmadá, Godávarî, Káverî, Saraswatî.”

Rabindra menulis pengalamannya ini setelah dari jam 3 sore berkendaraan dengan raja Karangasem, dari Bangli menuju Puri Karangasem.

Rabindra melanjutkan menulis, bagaimana ‘persentuhan geografika kognitif’ antara manusia Bali dengan India saling bertemu secara kognisi, dan tetap hadir menjadi denyut jiwa manusia Bali. Ia menelisik, mencari benang merah dan titik pergerakan kenapa di dalam pikiran orang Bali terdapat bentang alam India, menjadi peta kognisinya:

“Ada suatu masa dalam sejarah kita ketika kesadaran geografis India terbangun sampai pada suatu intensitas tinggi, dan ketika dengan proses meditasi di pegunungan, sungai dan fitur lainnya, dia benar-benar mengesankan karakteristik fisiknya sendiri dalam pikirannya. Tempat ziarahnya diatur sedemikian rupa ― Cape Kanya-kumari di selatan, Danau Manas-sarovar di utara, Dwarka di pantai barat, Gangga-sagar di mulut Sungai Gangga di timur ― bahwa seorang peziarah melaluinya semua mungkin bisa mendapatkan konsepsi mendalam tentang karakter negaranya; karena geografi India tidak hanya bisa diketahui, tapi juga kenalan intim didapat dengan orang-orangnya yang berbeda. Itu karena keinginan India untuk mencapai persatuannya sendiri saat itu benar, sehingga dengan demikian menemukan ekspresi spontan yang begitu indah. Penghormatan diri sejati tidak pernah sampai pada metode penipuan, artinya, ia tidak mencoba menipu diri sendiri dengan memberitakan ‘lip-union’ sementara dari platform publik.

Pada masa itu, ada usaha tulus untuk mencapai kesatuan penglihatan sejati. Kebiasaan India untuk bermeditasi atas citranya sendiri menyeberang dengan anak-anaknya yang giat pada masa itu dan bertahan di pulau yang jauh ini sedemikian rupa sehingga, bahkan setelah ini seribu tahun, teks meditasi itu terbentang dalam ucapan hormat raja ini. Ini membuatku heran, ―bukan karena mereka masih ingat teksnya setelah selang waktu ini, tapi untuk memikirkan kedalaman yang harus dicapai realisasi mental itu sendiri.

Betapa sederhana dan alami cara yang diambil untuk mewujudkannya dan ekspresinya permanen, ― ini menjadi jelas ketika kita sampai jauh ke pulau ini, sebuah pulau yang dilupakan oleh India sendiri. Betapa tekun raja tersebut mengucapkan nama Himalaya dan Vindhyachala, Gangga dan Yamuna; betapa bangganya dia terlihat mampu melakukannya! Geografi ini bukan milik mereka; secara eksternal mereka tidak berurusan dengan itu; namun, lagu yang penuh kasih yang awalnya ditetapkan nama ini masih terngiang di benak mereka. Dan saya dituntun untuk bertanya-tanya, lagi dan lagi, betapa sangat mungkin lagu ini pastinya.

Kita sekarang-satu hari sangat berguna dalam penggunaan istilah kesadaran nasional, tapi kesadaran nasional macam apa yang bisa ada, tanpa realisasi geografis dan etnologi yang sebenarnya? Kemudian Raja [raja Karangasem yang dimaksud]’ telah melanjutkan pengulangan ‘saptaparvata’, ‘saptavana’, ‘sapta -akasha’, maksudnya, kenangan akan gagasan India tentang dunia luar. Di bawah pengaruh pengetahuan India yang baru diperoleh, semua yang telah diusir dari pikirannya sendiri, melekat pada eksistensi yang genting di halaman-halaman Purana yang telah usang. Tapi di sini masih teringat dengan hormat. Raja lebih lanjut menyebut empat Veda, pelindung dari empat wilayah (Lokapala), Yama, Varuna, dan yang lainnya, delapan julukan Mahadeva, dan mencoba untuk menghitung 18 bab Mahabharata, namun tidak dapat mengingatnya keseluruhannya.”

Demikian penggalan surat yang ditulis Rabindra yang ditulis 31 Agustus 1927 di Tirta Empul, Bali ― saya beruntung mendapat seluruh surat-surat Rabindranath Tagore yang ditulis di Jawa dan Bali dari Supriya Roy, ‘penjaga’ arsip-arsip dan tulisan tangan Rabindranath Tagore, yang bekerja di Rabindra-Bhavana, Tagore Memorial Museum, Archives and Research Centre of Visva-Bharati selama tiga dekade, salah satu pakar senior terbaik dalam menulis berbagai aspek karya dan kehidupan Tagore.

Rabindra melihat bagaimana tradisi mantra suci ini lahir dari tradisi suci yang intens untuk penyatuan lahir-batin para guru suci India, ―penyatuan bentang batin dalam dengan bentang kesadaran geografis alam India ―, dimana di dalamnya berdetak energi dan keinginan batiniah berupa “usaha tulus untuk mencapai kesatuan penglihatan sejati”. Tradisi suci mempertemukan bentang alam dan bentang pikir ini, “bermeditasi atas citranya sendiri” menyeberang dan bertahan di pulau Bali, ribuan tahun setelah tradisi itu di tanah India disemaikan, dan tumbuh subur di Bali, “sebuah pulau yang dilupakan oleh India sendiri”.

Apa yang dipikirkan dan buah renungan Rabindra tentang peta kognisi ini, memang tidak pernah banyak dibahas atau dipertanyakan di Bali, kenapa orang Bali tidak menyebut Tukad Saba, Tukad Petanu, Tukad Penet, Tukad Ayung, Tukad Badung, Tukad Unda, Tukad Telaga Waja, Tukad Balian, Tukad Yeh Empas, Tukad Oos dan Tukad Melangit dalam mantranya, ―padahal ini sungai-sungai besar yang menghidupi pertanian subak di Bali ―, atau menyebut Danau Batur, Danau Beratan, Danau Buyan, Danau Tamblingan, ―padahal ini sungai-sungai besar yang menghidupi pertanian subak di Bali ―, malah menyebut nama Vindhyachala, Gangga dan Yamuna?

Sekalipun Vindhyachala, Gangga dan Yamuna seakan mendominasi mantra berbahasa Sanskerta di Bali, jika diperhatikan dengan serius, dalam sisi lainnya tercermin “pola penyatuan bentang batiniah dan bentang alam” ini mewujud dalam mantra-sesontengan Bali, yang sangat menghormati “Catu Mujung” (Gunung Agung) dan “Catu Meres” (Danau Batur) dalam puja dan tercermin dalam altar-altar pemujaan (pelinggih) di semua sanggar-mraja (pemujaan keluarga) dan juga pelinggih di berbagai pemujaan yang tersebar di banyak desa-desa di Bali, penyebutan sumber air Telaga Waja, serta berbagai sumber-sumbe air lokal dengan para penjaga ruh suci lokal yang beragam, tampaknya ini menjadi pola penyatuan meditatif yang bisa jadi sebuah replikasi dari ‘template India’ tersebut.

Banyak sesontengan dengan intensitas tinggi menangkup apa yang di luar (bentang keindahan alam, sungai, pegunungan, ngarai dan lembah) menjadi bagian bentang alam pikir meditatif dan dikristalisasi menjadi tradisi pembuatan ‘tirtha’ atau ‘toya’ atau ‘pekuluh’ dan pembuatan berbagai ritual-odalan-karya di berbagai parahyangan atau pura dengan salah satu kulminasinya pada ‘turun tirtha’ atau penganugrahan berkat berupa air suci, ―yang tidak jarang merupakan air suci yang diambil dari berbagai mata air yang disucikan seantero Bali, bahkan dari berbagai mata air suci dari pulau lain―; bukankah ini sebuah praktek atau ritus bagaimana bentang geografika alam dipertemukan dalam tangkup mantra dan ritus? Lalu di-‘tunas”, diterima sebagai anugrah para dewa dan kekuatan kosmik, yang secara tak sadar menyusup kedalam tubuh dan alam batin manusia Bali semua bentang alam di luar itu menjadi manunggal dengan alam dirinya yang personal?

Apa yang personal, buat orang Bali, ― karena semangat dan ritus yang membesarkannya dalam menangkupkan semua bentang alam ini dalam air suci yang bersumber dari berbagai pelosok sumber air itu ―, tidak sepenuhnya bisa terlalu personal lagi. Ia digembleng menjadi menjadi bagian kosmologi dan geografika luar, sekaligus membentangkannya di dalam alam pikir, peta kognitif, yang disadari atau tidak, membentuk perjalanan rohani dan kejiwaannya, perspektifnya terhadap alam, juga terkandung di dalamnya potensi penguatan sekaligus pelemahan, karena terlalu lekat, bisa jadi tidak mampu berjarak dan menganalisa dengan kritis ― sekalipun memang tidak ada jaminan mereka yang berpikir kritis lebih ‘bahagia’ dibanding yang melakoni hidup dengan ‘nrimo’ atau ‘mula keto’. [T]

Tags: balihinduindiaRabindranath Tagore
Share83TweetSendShareSend
Previous Post

Jembrana Memang “Lain”, Kenapa Harus Seragam dengan Bali yang Lain?

Next Post

Tiga Atraksi Budaya di Festival Lovina yang Tak Ada di Festival Daerah Lain

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Tiga Atraksi Budaya di Festival Lovina yang Tak Ada di Festival Daerah Lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co