13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geografika India Dalam Mantra Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 17, 2021
in Esai

Kunjungan Rabindranath Tagore ke Raja Karangasem bersama S. Koperberg, S. Kar, T.D. Dwavarman, G.W.J. Drewes, S.K. Chatterji, K. Bake-Timmers, A.A. Bake. 1927. Foto: Istimewa

— Catatan Harian Sugi Lanus, 17 September 2017

PENDETA Bali (juga Hindu Bali dan dunia umumnya) menyebut geografi India dan berbagai sungai dalam mantra-mantra suci, kenapa?

Jika ‘Gagelaran Pemangku’ (Pedoman Pendeta Pemangku) kita baca, dari cuci muka, menghadap beji (permandian), bahkan sampai doa buang air besar, selalu diawali dengan menyebut dan memuliakan ‘Gangga’. Salah satu mantra yang cukup lengkap menyebut ‘geografika India’ dalam mantra memercikan air suci ‘sapta gangga’, sebagai berikut:

“Ong Gangga ya namah swaha,
Ong Sindhuwatinca ya namah,
Ong Ang Saraswati ya namah,
Ong Ang Wipasa ya namah,
Ong Ang Korsika ya namah,
Ong Ang Yamuna ya namah,
Ong Ang Srayu ya namah swaha.”

Berbagai praktek-prosesi pembuatan tirta (air suci) hampir tak satupun puja-mantra-sesontengan yang tidak menyebut ‘titik-titik geografika’ India, bukan hanya sungai tapi juga gunung-gunung dan bentangan alamnya.

Ada sebuah surat Rabindranath Tagore yang sekiranya memberi penjelasan sangat menarik dan mendalam. Di Tirta Empul, Bali, Rabindranath Tagore merenungkan hal itu dengan serius, setelah ia tercenung dengan pengalaman ketibaannya di Bali, mendengar bagaimana orang Bali hafal luar kepala nama-nama sungai di India dan berbagai ungkapan geografika India.

Begini tulis Rabindra dalam suratnya yang ditujukan kepada Mira Devi:

“Di satu tempat, di mana kita melihat sekilas laut biru melalui sebuah celah di hutan, raja [raja Karangasem yang dimaksud] tiba-tiba keluar dengan kata ‘samudra’; (bahasa Sanskerta untuk ‘laut’). Menemukan saya terkejut dan senang saat itu, dia terus mengulangi sinonim: ‘samudra’, ‘ságara’, ‘abdhi’, ‘jaládhya’, melanjutkan dengan menyebut ‘sapta samudra’ (tujuh lautan), ‘sapta-parvata’ (tujuh gunung), ‘sapta-vana’ (tujuh hutan), ‘sapta-ákásha’ (tujuh langit).

Kemudian menunjuk ke bukit, dia pertama kali memberi kata Sanskerta untuk itu, ‘adri’, dan melanjutkan untuk mengulang nama: Sumêru, Himálaya, Vindhya, Malaya, Rishyamukha. Kemudian, ketika kami sampai di sebuah sungai yang mengalir di sepanjang kaki bukit, dia melanjutkan: Gangá, Yamuná, Narmadá, Godávarî, Káverî, Saraswatî.”

Rabindra menulis pengalamannya ini setelah dari jam 3 sore berkendaraan dengan raja Karangasem, dari Bangli menuju Puri Karangasem.

Rabindra melanjutkan menulis, bagaimana ‘persentuhan geografika kognitif’ antara manusia Bali dengan India saling bertemu secara kognisi, dan tetap hadir menjadi denyut jiwa manusia Bali. Ia menelisik, mencari benang merah dan titik pergerakan kenapa di dalam pikiran orang Bali terdapat bentang alam India, menjadi peta kognisinya:

“Ada suatu masa dalam sejarah kita ketika kesadaran geografis India terbangun sampai pada suatu intensitas tinggi, dan ketika dengan proses meditasi di pegunungan, sungai dan fitur lainnya, dia benar-benar mengesankan karakteristik fisiknya sendiri dalam pikirannya. Tempat ziarahnya diatur sedemikian rupa ― Cape Kanya-kumari di selatan, Danau Manas-sarovar di utara, Dwarka di pantai barat, Gangga-sagar di mulut Sungai Gangga di timur ― bahwa seorang peziarah melaluinya semua mungkin bisa mendapatkan konsepsi mendalam tentang karakter negaranya; karena geografi India tidak hanya bisa diketahui, tapi juga kenalan intim didapat dengan orang-orangnya yang berbeda. Itu karena keinginan India untuk mencapai persatuannya sendiri saat itu benar, sehingga dengan demikian menemukan ekspresi spontan yang begitu indah. Penghormatan diri sejati tidak pernah sampai pada metode penipuan, artinya, ia tidak mencoba menipu diri sendiri dengan memberitakan ‘lip-union’ sementara dari platform publik.

Pada masa itu, ada usaha tulus untuk mencapai kesatuan penglihatan sejati. Kebiasaan India untuk bermeditasi atas citranya sendiri menyeberang dengan anak-anaknya yang giat pada masa itu dan bertahan di pulau yang jauh ini sedemikian rupa sehingga, bahkan setelah ini seribu tahun, teks meditasi itu terbentang dalam ucapan hormat raja ini. Ini membuatku heran, ―bukan karena mereka masih ingat teksnya setelah selang waktu ini, tapi untuk memikirkan kedalaman yang harus dicapai realisasi mental itu sendiri.

Betapa sederhana dan alami cara yang diambil untuk mewujudkannya dan ekspresinya permanen, ― ini menjadi jelas ketika kita sampai jauh ke pulau ini, sebuah pulau yang dilupakan oleh India sendiri. Betapa tekun raja tersebut mengucapkan nama Himalaya dan Vindhyachala, Gangga dan Yamuna; betapa bangganya dia terlihat mampu melakukannya! Geografi ini bukan milik mereka; secara eksternal mereka tidak berurusan dengan itu; namun, lagu yang penuh kasih yang awalnya ditetapkan nama ini masih terngiang di benak mereka. Dan saya dituntun untuk bertanya-tanya, lagi dan lagi, betapa sangat mungkin lagu ini pastinya.

Kita sekarang-satu hari sangat berguna dalam penggunaan istilah kesadaran nasional, tapi kesadaran nasional macam apa yang bisa ada, tanpa realisasi geografis dan etnologi yang sebenarnya? Kemudian Raja [raja Karangasem yang dimaksud]’ telah melanjutkan pengulangan ‘saptaparvata’, ‘saptavana’, ‘sapta -akasha’, maksudnya, kenangan akan gagasan India tentang dunia luar. Di bawah pengaruh pengetahuan India yang baru diperoleh, semua yang telah diusir dari pikirannya sendiri, melekat pada eksistensi yang genting di halaman-halaman Purana yang telah usang. Tapi di sini masih teringat dengan hormat. Raja lebih lanjut menyebut empat Veda, pelindung dari empat wilayah (Lokapala), Yama, Varuna, dan yang lainnya, delapan julukan Mahadeva, dan mencoba untuk menghitung 18 bab Mahabharata, namun tidak dapat mengingatnya keseluruhannya.”

Demikian penggalan surat yang ditulis Rabindra yang ditulis 31 Agustus 1927 di Tirta Empul, Bali ― saya beruntung mendapat seluruh surat-surat Rabindranath Tagore yang ditulis di Jawa dan Bali dari Supriya Roy, ‘penjaga’ arsip-arsip dan tulisan tangan Rabindranath Tagore, yang bekerja di Rabindra-Bhavana, Tagore Memorial Museum, Archives and Research Centre of Visva-Bharati selama tiga dekade, salah satu pakar senior terbaik dalam menulis berbagai aspek karya dan kehidupan Tagore.

Rabindra melihat bagaimana tradisi mantra suci ini lahir dari tradisi suci yang intens untuk penyatuan lahir-batin para guru suci India, ―penyatuan bentang batin dalam dengan bentang kesadaran geografis alam India ―, dimana di dalamnya berdetak energi dan keinginan batiniah berupa “usaha tulus untuk mencapai kesatuan penglihatan sejati”. Tradisi suci mempertemukan bentang alam dan bentang pikir ini, “bermeditasi atas citranya sendiri” menyeberang dan bertahan di pulau Bali, ribuan tahun setelah tradisi itu di tanah India disemaikan, dan tumbuh subur di Bali, “sebuah pulau yang dilupakan oleh India sendiri”.

Apa yang dipikirkan dan buah renungan Rabindra tentang peta kognisi ini, memang tidak pernah banyak dibahas atau dipertanyakan di Bali, kenapa orang Bali tidak menyebut Tukad Saba, Tukad Petanu, Tukad Penet, Tukad Ayung, Tukad Badung, Tukad Unda, Tukad Telaga Waja, Tukad Balian, Tukad Yeh Empas, Tukad Oos dan Tukad Melangit dalam mantranya, ―padahal ini sungai-sungai besar yang menghidupi pertanian subak di Bali ―, atau menyebut Danau Batur, Danau Beratan, Danau Buyan, Danau Tamblingan, ―padahal ini sungai-sungai besar yang menghidupi pertanian subak di Bali ―, malah menyebut nama Vindhyachala, Gangga dan Yamuna?

Sekalipun Vindhyachala, Gangga dan Yamuna seakan mendominasi mantra berbahasa Sanskerta di Bali, jika diperhatikan dengan serius, dalam sisi lainnya tercermin “pola penyatuan bentang batiniah dan bentang alam” ini mewujud dalam mantra-sesontengan Bali, yang sangat menghormati “Catu Mujung” (Gunung Agung) dan “Catu Meres” (Danau Batur) dalam puja dan tercermin dalam altar-altar pemujaan (pelinggih) di semua sanggar-mraja (pemujaan keluarga) dan juga pelinggih di berbagai pemujaan yang tersebar di banyak desa-desa di Bali, penyebutan sumber air Telaga Waja, serta berbagai sumber-sumbe air lokal dengan para penjaga ruh suci lokal yang beragam, tampaknya ini menjadi pola penyatuan meditatif yang bisa jadi sebuah replikasi dari ‘template India’ tersebut.

Banyak sesontengan dengan intensitas tinggi menangkup apa yang di luar (bentang keindahan alam, sungai, pegunungan, ngarai dan lembah) menjadi bagian bentang alam pikir meditatif dan dikristalisasi menjadi tradisi pembuatan ‘tirtha’ atau ‘toya’ atau ‘pekuluh’ dan pembuatan berbagai ritual-odalan-karya di berbagai parahyangan atau pura dengan salah satu kulminasinya pada ‘turun tirtha’ atau penganugrahan berkat berupa air suci, ―yang tidak jarang merupakan air suci yang diambil dari berbagai mata air yang disucikan seantero Bali, bahkan dari berbagai mata air suci dari pulau lain―; bukankah ini sebuah praktek atau ritus bagaimana bentang geografika alam dipertemukan dalam tangkup mantra dan ritus? Lalu di-‘tunas”, diterima sebagai anugrah para dewa dan kekuatan kosmik, yang secara tak sadar menyusup kedalam tubuh dan alam batin manusia Bali semua bentang alam di luar itu menjadi manunggal dengan alam dirinya yang personal?

Apa yang personal, buat orang Bali, ― karena semangat dan ritus yang membesarkannya dalam menangkupkan semua bentang alam ini dalam air suci yang bersumber dari berbagai pelosok sumber air itu ―, tidak sepenuhnya bisa terlalu personal lagi. Ia digembleng menjadi menjadi bagian kosmologi dan geografika luar, sekaligus membentangkannya di dalam alam pikir, peta kognitif, yang disadari atau tidak, membentuk perjalanan rohani dan kejiwaannya, perspektifnya terhadap alam, juga terkandung di dalamnya potensi penguatan sekaligus pelemahan, karena terlalu lekat, bisa jadi tidak mampu berjarak dan menganalisa dengan kritis ― sekalipun memang tidak ada jaminan mereka yang berpikir kritis lebih ‘bahagia’ dibanding yang melakoni hidup dengan ‘nrimo’ atau ‘mula keto’. [T]

Tags: balihinduindiaRabindranath Tagore
Share83TweetSendShareSend
Previous Post

Jembrana Memang “Lain”, Kenapa Harus Seragam dengan Bali yang Lain?

Next Post

Tiga Atraksi Budaya di Festival Lovina yang Tak Ada di Festival Daerah Lain

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails

Terbang di Atas Sepi

by Angga Wijaya
May 8, 2026
0
Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

Read moreDetails
Next Post

Tiga Atraksi Budaya di Festival Lovina yang Tak Ada di Festival Daerah Lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co