25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah jika Orang Bali Baca Karya Neitzsche Bisa Disebut “Nyastra”? – Merunut Kembali Arti Kata Sastra

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto: Ole

 

BENTUKAN kata nyastra dalam bahasa Bali adalah hal yang sungguh menarik. Lihatlah kata nyaluk, berasal dari kata saluk (pakai). Nyaluk baju artinya memakai baju. Nyampat berasal dari kata sampat (sapu); nyampat artinya menyapu. Nyastra asal katanya sastra. Nyastra berarti menekuni sastra yang cenderung punya makna tersirat ”mengimani sastra”.

Seorang yang nyastra melakukan kegiatan brata (puasa). Siwa Latri berdasarkan pada panduan karya sastra Siwa Latri Kalpa. Berbagai purana yang juga salah satu bentuk sastra, juga menjadi pedoman keimanan banyak orang. Demikian juga itihasa (epos) Ramayana dan Mahabharata, nilai-nilainya menjadi pedoman hidup seseorang yang memahaminya sebagai Weda yang diurai ke dalam bentuk cerita.

Lantas, apa sebenarnya makna kata sastra pada bentukan kata nyastra? Bisakah seseorang yang menekuni karya-karya sastra modern disebut sebagai seorang yang nyastra? Katakanlah seseorang menekuni karya-karya Neitzsche, Kafka atau Salman Rusdie, dapatkah ia disebut sebagai orang yang nyastra?

Walaupun sulit untuk dijawab, nampaknya kalau kita amati dengan saksama, seseorang dikatakan nyastra apabila ia menekuni karya-karya sastra religius yang bernuansa Hindu (Sanskrit, Jawa Kuno, dan Bali). Orang yang menekuni kakawin Jawa Kuno, ia bisa dikatakan nyastra. Yang menekuni Ramayana, Sarasamuscaya, serta berbagai tembang Jawa Kuno, bisa dilabeli sebagai orang yang nyastra. Sungguh sulit nampaknya bagi orang Bali bisa menyebut seseorang sebagai seorang yang nyastra bila ia menekuni karya-karya Neitzsche, Kafka atau Salman Rusdie, atau Ayu Utami.

Keadaan ini akan menjadi jelas ketika kita mencari arti kata sastra dalam pembendaharaan bahasa Sanskerta atau Jawa Kuno. Kata sastra dalam arti ”aslinya” lebih banyak berarti teks-teks yang berasal dari kedewataan atau naskah-naskah suci. Kata nyastra mirip arti kata filologi dalam arti yang ”paling mula”, yaitu menekuni naskah-naskah atau file-file tua yang lebih banyak mengandung muatan keagamaan dan ketuhanan.

Karya-karya sastra yang lahir dari seorang yang nyastra, dari sisi makna kata ”asli” ini, akhirnya bisa dipahami, lebih banyak bermuatan pencarian religius-filosofis yang mengarah pada pencarian manusia yang merindukan perjumpaannya dengan penciptanya. Atau lebih mengarah pada pembabaran sila (etika spiritual) yang membimbing manusia, pembaca dan penulisnya, makin mendekatkan diri pada persoalan religiositas.

Bagi orang yang nyastra atau yang terpengaruh dengan paham nyastra, teriakan dan kepongahan dalam berkarya adalah hal yang tampaknya harus dihindari. Hasil karya yang ia gubah pun cenderung mereka hindari sebagai kepemilikan pribadi. Karenanya, dalam banyak geguritan dan kakawin, nama pengarang disembunyikan atau anonim. Bagi mereka, karya sastra bukan pertunjukan kemahiran atau pencarian untuk pengakuan luar. Bukan pula diharapkan sebagai jalan meraih popularitas pengarangnya. Berkarya sastra adalah persoalan pencarian diri, sampai dalam berkarya ia merasakan bertemu dengan dirinya, bahkan pembebasan dirinya sampai sang atma (jiwa) menjelaskan hakikat dirinya, atutur ikang atma ri jatinya.

Ini juga yang barangkali membayang-bayangi para penyair yang beragama Hindu (Bali), menjadikan kegiatan menyair sebagai sebuah ”ritus” pencarian diri. Barangkali juga berapa penyair menekuni kegiatan menyair sebagai sebuah ikhtiar ”menemukan” Tuhannya. Karenanya, ia tak ingin masuk ke dalam riuh publikasi. Walaupun ini semua tidak sepenuhnya benar, ada gejala seperti itu yang berhembus. Penyair puisi modern yang bersuku Bali seakan ”malu” untuk bersaing memasuki wilayah persaingan publikasi walaupun banyak juga yang menikmatinya dan atau tidak ”mengharamkan” publikasi.

Dalam bayang-bayang paham nyastra (atau sebut saja aliran ini sebagai “nyastra-isme”), banyak penulis-penulis puisi berbahasa Bali pada awal-awalnya memakai nama samaran. Namun, gejala ini nampaknya kian mulai memudar. Kebiasaan mengekspresikan diri dengan menyertakan nama mereka secara terang-terangan sudah makin meluas, sudah menjadi hal yang lumrah.

Nyastraisme pun nampaknya sudah memudar, seiring dengan arti kata sastra yang kian meluas, menulis karya sastra sudah tidak relevan lagi disebut sebagai kegiatan ”mencari Tuhan”. Barangkali sastra sekarang ini, lebih tepat  dilihat sebagai karya-karya yang memperjuangkan ideologi pengarangnya, ambisi pengarangnya, pengekspresian diri dan kegelisahan yang bebas, dibanding melihatnya sebagai jejak-jejak pencarian manusia dalam mencari Tuhan. Bukan lagi mengandung teks-teks suci, tetapi kadang sebaliknya, mempertanyakan atau bahkan melawan kesucian.

Zaman ini tidak terdengar lagi (hampir tak ada) orang-orang tua Bali menganjurkan anak-anaknya menjalani kehidupan nyastra. Padahal sebelum kemerdekaan dan ”pembakuan” agama dalam wilayah Republik, nyastra adalah jalan yang wajib dijalani untuk menjadi makhluk yang mumpuni dan beriman. Barangkali karena konotasi sastra bukan lagi sebagai holy text, nyastraisme ikut kehilangan maknanya. Orang Bali pun lebih banyak menyarankan anaknya untuk baik-baik belajar agama, bukan lagi menganjurkan mereka menekuni naskah-naskah religius (nyastra).

Rasanya yang berlebihan kalau mengharap orang-orang tua Bali sekarang menyuruh anaknya untuk nyastra, mereka saja kebanyakan tidak paham makna kata bentukan ini. Nyastra barangkali akan menjadi kata yang hilang digilas perubahan semantis, di mana kata sastra tidak lagi punya konotasi dengan kitab-kitab suci atau teks-teks religius.

Perkembangan semantis kata sastra sungguh menarik. Dari berarti teks atau kitab sakral, kini bermakna meluas, bahkan tercakup di dalamnya karya-karya Neitzsche dan agnotisme yang ”menghasut” pembaca untuk tidak peduli bahkan menentang Tuhan! Dulu seorang yang ahli sastra dalam Sanskerta dan Jawa Kuno disebut sastradaksa, berarti ahli kitab suci, cenderung bermakna orang suci, sekarang ahli sastra bisa jadi seorang yang anti Tuhan!?

Jangan-jangan Tuhan pun tertawa melihat perkembangan kata sastra! Tidakkah perkembangan semantis kata ini telah menandai arah perkembangan peradaban kita secara keseluruhan? (T)

Tulisan ini pernah dimuat di Bali Post Minggu, 5 Juni 2005, dengan judul: “Nyastra”: Merunut Kembali Arti Kata Sastra

Tags: balijawa kunoNeitzscheorang balisastra
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Pentas Gumi Art: Membangun Kreasi dalam Tradisi, Bukan Menghangatkan Tradisi Basi

Next Post

Masa Lalu Pembunuh Ibu

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Masa Lalu Pembunuh Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co