23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krayon Hijau Capek Mewarnai Tumbuhan – Dongeng Pendidikan tentang Warna

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

KRAYON Hijau marah-marah sendiri. Ia kesal harus sendirian mewarnai tumbuh-tumbuhan. Apalagi ketika Matahari menyapanya dan menanyakan sesuatu yang tidak ia ketahui, Krayon Hijau semakin kesal.

“Mengapa daun harus diwarnai hijau? Mengapa tidak warna yang lain saja? Aku sungguh capek melakukan semua ini. Aku tidak sanggup lagi melakukan pekerjaan ini sendiri. Mengapa harus aku yang melakukan ini?” keluh Krayon Hijau.

Krayon Hijau hanya bisa menangis tersedu-sedu sendirian. Ia menangis sekencang-kencangnya. Ia tidak peduli lagi walaupun ada yang mendengar tangisannya.

“Siapa itu menangis keras?” ucap Krayon Kuning heran di suatu tempat.

“Tak tahu.Mungkin itu perasaan kita aja,” jawab Krayon Orange.

“Aku yakin dengar suara tangisan,” kata Krayon Kuning semakin penasaran.

“Ayo kita cari tahu siapa yang menangis.” ucap Krayon Orange.

Mereka pun pergi mendekati sumber tangisan itu. Dan mereka melihat Krayon Hijau sedang menangis di bawah pepohonan.

“Krayon Hijau, mengapa kamu menangis begitu kerasnya? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Krayon Kuning.

“Sampai kapan aku harus mewarnai tumbuh-tumbuhan ini? Sedangkan, Krayon lain tidak ada yang bisa membantuku,” jawab Krayon Hijau yang mulai berhenti menangis.

Melihat keadaa Krayon Hijau, Krayon Kuning dan Krayon Orange menjadi kasihan.Mereka berencana membantu Krayon Hijau.

“Sudah Krayon Hijau, tak perlu bersedih lagi. Aku dan Krayon Orange akan membantumu mewarnai tumbuh-tumbuhan ini. Benar kan Krayon Orange?” hibur Krayon Kuning.

“Ya, benar, Krayon Hijau. Tak usah bersedih lagi,” kata Krayon Orange.

“Emang kalian berdua bisa mewarnai semua tumbuhan ini dengan warna hijau? Bukannya kalian berwana kuning dan orange? Mana mungkin bisa mewarnai hijau?” tanya Krayon Hijau yang masih ragu.

“Kami pasti bisa mewarnai semua tumbuhan ini dengan warna hijau. Dulu, ketika kami mewarnai matahari bersama-sama, matahari berubah warna hijau. Benar kan Krayon Orange?” jawab Krayon Kuning penuh keyakinan.

“Ya, benar itu, Krayon Hijau,” celetuk Krayon Orange.

“Kalau memang itu benar, mari kita warnai lagi tumbuh-tumbuhan ini,” ucap Krayon Hijau yang mulai percaya akan mendapatkan bantuan.

Krayon Kuning dan Krayon Orange mulai bersamaan merwarnai daun-daun tumbuhan.Mereka bersemangat menggosok-gosok dedaunan.

“Berhenti dulu mewarnai daun itu!” teriak Krayon Hijau. Krayon Kuning dan Krayon Orange sontak kaget mendengar teriakan Krayon Hijau.

“Ada apa Kroyon Hijau? Mengapa kamu berteriak begitu?” tanya Krayon Kuning bingung.

“Coba lihat daunnya? Warnanya tidak hijau. Warnanya tetap seperti kalian yang berwarna kuning dan orange,” jelas Krayon Hijau mulai kesal.

Krayon Kuning dan Krayon Orange melihat hasil warnanya. Mereka kaget dengan apa yang dilihatnya. “Mengapa bisa begini, Krayon Orange, daunnya tidak berwarna hijau?” kata Krayon Kuning heran.

“Ya, Krayon Kuning. Ini kok tidak seperti saat mewarnai matahari? Sudah jelas kita lihat saat bersama mewarnainya, Matahari berwarna hijau,” jawab Krayon Orange.

“Hai, kalian malah sibuk berbisik-bisik. Lebih baik kalian pergi saja! Kalian sama saja tidak bisa membantuku,” ucap Krayon Hijau marah.

“Maaf Krayon Hijau, aku tidak menyangka akan seperti ini,” ucap Krayon Kuning merasa bersalah.

“Cepat pergi, tinggalkan aku sendiri! Biarkan aku sendiri menyelesaikannya walaupun badanku semakin pendek dan kurus,” ucap Krayon Hijau, suaranya meninggi. Mereka mulai melangkah pergi.

“Gedebukkkkkkk!” Terdengar suara keras. Ternyata itu Krayon Biru jatuh menimpa Krayon Kuning.

“Aduhhhh, sakit, apa yang kamu lakukan, Krayon Biru? Darimana kamu datang? Tiba-tiba menimpaku,” protes Krayon Kuning menahan rasa sakit.

“Maaf, aku jatuh dari langit. Aku lagi kesal. Aku harus lama bergelantungan mewarnai langit,” ucap Krayon Biru yang juga menahan rasa sakit.

“Oh, begitu. Rupanya kamu kesal seperti si Krayon Hijau itu,” ucap Krayon Kuning.

“Jangan-jangan ketika kita sedang mewarnai Matahari, Krayo Biru juga sedang mewarnai langit. Kemudian, tidak sengaja warna kita bercampur dengan warna Krayon Biru. Karena itulah, Matahari berwarna Hijau, tetapi ia takut dengan warna hijau,” kata Krayon Orange.

“Ah, mana mungkin itu bisa terjadi, Krayon Orange?” kata Krayon Kuning tak percaya.

“Bisa saja itu terjadi. Aku juga sering mewarnai langit dekat Matahari sampai sebagian tubuhku meleleh,” ucap Krayon Biru asal jawab saja.

“Tu kan, benar kata Krayon Biru,” celetuk Krayon Orange senang.

Krayon Hijau datang.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Mengapa kalian belum pergi?” teriak Krayon Hijau mendekati Krayon Kuning dan Krayon Orange.

“Tu tu tu tunggu dulu, Krayon Hijau,” ucap Krayon Kuning takut akan kemarahan Krayon Hijau.

“Ini lagi, ngapain Krayon Biru di sini? Mau ngacau juga seperti mereka berdua?” kata Krayon Hijau marah.

“Aku juga mau pergi. Aku hanya kebetulan jatuh aja di sini,” jawab Krayon Biru.

“Tunggu, Krayon Biru! Coba satukan warna kita! Siapa tahu warnanya bisa berubah menjadi warna hijau seperti perkataan Krayon Orange,” pinta Krayon Kuning menghentikan langkah Krayon Biru.

“Haaaaaaaa, apa, kalian mau buat warna hijau? Mana mungkin bisa, aku tak percaya lagi. Terserahlah,” ucap Krayon Hijau kesal tak percaya. Krayon Hijau pergi meninggalkan mereka bertiga. Walaupun dengan perasaan marah dan kesal, Krayon Hijau ingin menyelesaikan pekerjaannya.

“Hem, Krayon Hijau aja tidak percaya dengan perkataanmu, Krayon Kuning. Ngapain, aku susah-susah mau melakukan itu,” tolak Krayon Biru.

“Aku mohon lakukan itu, Krayon Biru! Agar aku bisa melihat kebenarannya,” pinta Krayon Orange.

“Ya, aku mau melakukannya. Daripada kalian bersedih terus, lebih baik kita buktikan sekarang,” kata Krayon Biru menyanggupi. Mendengar kesediaan Krayon Biru, Krayon Kuning dan Krayon Orange sangat senang.

“Aku dulu yang mencoba dengan Krayon Biru,” pinta Krayon Kuning.

“Ya, Krayong Kuning,” jawab Krayon Orange.

Krayon Kuning dan Krayon Biru pun menyatukan warnanya. Kumudian, terjadilah warna hijau. Krayon Orange sangat bahagia melihat kebenaran itu.“Benar kan, kamu dan Krayon Biru bisa menciptakan warna hijau,” ucap Krayon Orange.

“Oh, benar juga.Berarti sekarang kita bisa membantu Krayon Hijau memwarnai tumbuhan. Bagaimana Krayon Biru, mau nggak kamu bantu kita menyelesaikan pekerjakaan Krayon Hijau?” ucap Krayon Kuning.

“Ya, aku mau membantunya. Daripada melihat Krayon Hijau terus menerus marah-marah, kasian dia,” kata Krayon Biru. Mereka mendekati si Krayon Hijau.

“Oh, kalian masih di sini? Mengapa kalian belum pergi? Aku sudah capek ini!” ucap Krayon Hijau masil kesal.

“Tenang dulu, Krayon Hijau! Aku juga sedang kesal sepertimu. Aku juga lelah mewarnai langit. Bahkan, ketika mewarnai lautan, warnaku hanya kelihatan dari jauh. Tetapi, kalau lautan didekati, warna biruku hilang tidak kelihatan,” kata Krayon Biru menceritakan nasibnya.

“Lalu, kalian mau apa lagi?” tanya Krayon Hijau.

“Kami akan bantu mewarnai tumbuhan ini,” ucap Krayon Orange. Sedangkan, tanpa pengetahuan Krayon Hijau, Krayon Kuning dan Krayon Biru sudah mulai mewarnai tumbuhan.

“Emang bisa?” tanya Krayon Hijau tak percaya.

“Itu lihat, Krayon Kuning dan Krayon Biru sedang mewarnai tumbuhan,” jawab Krayon Orange.

“Wah, Krayon Kuning dan Krayon Biru bisa membuat warna hijau. Sekarang aku punya teman untuk tumbuh-tumbuhan ini,” kata Krayon Hijau tak percaya dengan yang dilihatnya.

Krayon Biru, Krayon Kuning, dan Krayon Hijau pun mewarnai tumbuh-tumbuhan itu. Krayon Hijau  sudah melupakan kemarahan dan kesedihannya.

“Aku harus lakukan apa ini? Aku tidak bisa memberi warna hijau,” tanya Krayon Orange bingung harus melakukan apa.

“Kamu warnai aja daun-daun yang mau rontok sebagai tanda daun tumbuhan itu sudah mati,” jawab Matahari mengagetkan Krayon Orange.

“Apa yang kamu katakan, Matahari? Bukannya kamu tahut sama Krayon Hijau?” tanya Krayon Orange heran.

“Aku tidak takut lagi. Aku ke sini mau memberikan hadiah persahabatan kepada Krayon Hijau,” kata Matahari.

“Oh, begitu. Ya sudah, Krayon Hijau bersama Krayon Kuning dan Krayon Biru sedang mewarnai tumbuhan.Aku mau mewarnai daun tumbuhan yang akan mati seperti saranmu,” ucap Krayon Orange.

Matahari menemui Krayon Hijau. Ternyata, Krayon Hijau tidak lagi marah dengan Matahari. Ketika bertemu dengan Krayon Hijau, Matahari memberikan anugerah kepada Krayon Hijau. Anugerah itu ialah Krayon Hijau memiliki kekuatan spesial. Ketika Krayon Hijau mewarnai daun-daun tumbuhan, warna hijau daun bisa memasak pada saat tersinari cahaya matahari. Tumbuhan pun akan bisa berbunga dan menghasilkan buah.

Mendapat anugerah itu dari Matahari, Krayon Hijau tidak pernah lagi mengeluh. Apa lagi, Krayon Hijau selalu ditemani oleh Krayon Biru, Krayon Kuning, dan Krayon Orange. (T)

Tags: alamdongengflorapendidikan usia dini
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Pertanyaan Polos Pekak Renes: Pariwisata Merawat Bali atau Menikam Bali?

Next Post

Masa Depan Menunggumu, Ketut! – Berjalan 2 Jam ke Sekolah Lintasi Hutan itu Soal Kecil

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Masa Depan Menunggumu, Ketut! - Berjalan 2 Jam ke Sekolah Lintasi Hutan itu Soal Kecil

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co