2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayoo…, Diet Internet Awal Tahun!

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Opini

“AKU lagi diet instagram bulan ini, jadi nggak tahu informasi yang lagi hits,” jawab seorang kawan dengan ketus, saat saya menanyakan informasi konser musik bulan Desember.

Teman saya yang tidak boleh disebutkan namanya (karena takut terkenal) itu berdalih instagram telah berhasil merenggut separuh jiwanya. Mulai dari bangun pagi hingga menjelang tidur setengah hidupnya ia curahkan hanya untuk melihat-lihat, berkomentar, mencaci, mengagumi unggahan orang lain, di salah satu aplikasi dunia maya yang sedang populer di Bali tersebut.

Instagram adalah aplikasi yang didominasi oleh unggahan foto atau video, beserta caption (keterangan) secukupnya untuk menjelaskan  gambar atau video yang di uploud. Sebagian besar informasi dari info lalu-lintas, bencana alam, laporan cuaca, makan siang enak, makan malam, event besar, informasi seminar, informasi lomba, sampai diskon di mall pun ada di sana. Kalau tidak tahu info viral di instagram anda akan ketinggalan kereta, tidak akan mampu menyamai frekuensi dengan yang telah mendahului.

Jangan memberanikan diri mengatakan, “Apa sih yang kalian bicarakan, aku kok nggak tahu” .

Mampus cabang bayi dah tu, anda akan mendapat kalimat balasan super nyinyir, “Masak ini aja nggak tahu sih, ke mana aja, coba cek IG…..!?”

Ini baru instagram, belum saudara-saudaranya yang lain, seperti facebook, youtube, path, stiker line, kamera 360, game Dota, game COD, serta sejumlah remeh-temeh yang berkaitan dengan dunia internet.

Satu, dua kali tak apalah mengikuti ritme kehidupan dunia maya tersebut. Tapi kalau sampai mengganggu konsentrasi pekerjaan bahkan kehidupan sosial anda, ini sangat memprihatinkan dan perlu penanganan khusus. Pasti kawan pembaca pernah mengalami ketidakfokusan lawan bicara karena konsentrasinya terbagi dengan layar smartpone. Entah melihat chat, sms, instagram, atau aplikasi lainnya. Ini sering terjadi kok. Entah anda menjadi korban atau pelakunya. Coba diingat-ingat, hayooo.

Beberapa kawan mengatakan internet sama bahayanya dengan narkoba. Narkoba merusak tubuh, kesehatan, mengganggu nalar berfikir, menghancurkan relasi pertemanan, dan kecanduan. Begitu juga dengan dunia internet bahayanya hampir sama seperti itu jika dikonsumsi berlebihan. Malah lebih parah kecanduan dunia internet merubah pelakunya menjadi manusia yang kurang peduli terhadap keadaan sekitarnya.

Adapun perbedaan mereka, satu di antaranya adalah cara untuk mendapatkannya. Narkoba dibeli dengan cara mengendap-ngendap agar tak ketahuan orang lain apalagi polisi, karena melanggar hukum.

Sementara Internet cukup datang ke counter pulsa manapun, beli pulsa seperlunya, lalu dipaketkan, dan taraaaaa….! Anda memiliki kuota untuk berselancar. Atau jika mager (malas gerak) cukup memakai layanan internet banking, jadi deh. Gampang, legal dan tidak melanggar aturan. Waduuuuuuuh. Musuh kita tidak dalam selimut, tapi selimut itu sendiri. hehehehe.

***

Wacana pengawasan orang tua terhadap anaknya yang doyan bermain internet selalu didengungkan, baik lewat iklan TV, artikel di koran, tips di twitter atau bentuk lainnya. Namun sayang informasi-informasi semacam ini tidak menyentuh semua keluarga inti. Terutama keluarga inti yang lingkungannya masih bersifat konvensional, tapi dipaksa matang dalam menyikapi terjangan teknologi dewasa ini.

Sejumlah orang tua di keluarga besar saya, memanfaatkan kecanggihan internet untuk mendiamkan, menenangkan dan menyenangkan anaknya. Tanpa pengawasan sama sekali. Mereka senang anaknya tidak rewel, sehingga dapat mengerjakan pekerjaan rumah, atau pergi bekerja dengan tenang, tanpa harus takut dihantui rengekan anak mereka di rumah.

Tanpa disadari, orang tua telah menjerumuskan anaknya ke liang yang salah. Banyak pendapat, anak yang terlalu banyak bermain internet kemampuan adaptasi, interaksi dan sosialisasinya berkurang. Bahkan cenderung antipati, apatis dan introvert. Pernyataan saya ini bukan tanpa bukti lo, saya telah melihat langsung perkembangan keponakan saya yang mendapat perlakuan pemuasaan dunia internet oleh kedua orang tuanya. Selama hampir 13 tahun saya mengamati perkembangannya. Benar saja ia memiliki dunia sendiri jika berbaur dengan teman seusianya. Ia lebih memilih mendekap seharian di kamar sembari bermain gawai atau berselancar tanpa batas di dunia maya, dibanding ke banjar latihan baleganjur atau kegiataan kepemudaan banjar.

***

Para pembaca yang budiman, bukan berarti saya tidak pro dengan teknologi yang semakin canggih dan mempermudah itu. yang baik biarlah baik. Tapi saya mencoba menjelaskan tidak semua kemudahan yang kita peroleh berdampak positif bagi kehidupan. Kendati itu ranah pribadi dan pilihan atas hak seseorang, apa salahnya kita mengkritik agar menjadi lebih baik toh.

Kemudian muncul pertanyaan: Apa yang harus kita lakukan?

Pertanyaan klise yang sering dilontarkan ini, nampaknya perlu solusi yang tidak biasa-biasa saja. Salah satunya adalah diet internet. Diet ini bermakna mengatur pola pemakaian internet, dimulai dari keluarga inti saja dahulu. Karena pendidikan semacam ini tidak mungkin diajarkan oleh guru di sekolah. Selain sejenak rehat dari dunia maya, ini adalah momen untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga.

Waktu diet menjadi pertimbangan, bagi saya diet ini sebaiknya dilakukan selama sebulan penuh yakni di Bulan Desember (akhir tahun) menjelang pergantian Tahun. Sebab bulan ini merupakan bulan paling sakral, biasanya seluruh kejadian di bulan sebelumnya terakumulasi di bulan Desember. Tentu ini sebagai bahan renungan dan penyadaran diri, untuk merencanakan langkah di tahun berikutnya. Pas, jika diet internet dilaksanakan.

Diskusi akan banyak terjadi, baik bersama keluarga inti, atau teman dekat. Bukankah itu baik, saling menghargai, saling mendengarkan, saling memberi solusi. Tidak akan ada kejadian konsentrasi terbelah saat berbincang dengan orang lain.

Gerakan diet Internet ini, mungkin bisa dimulai tgl 31 Desember – 1 Januari, dua hari saja untuk permulaan. Menikmati hari tanpa selamat Tahun Baru di layar smartphone, namun langsung berjabat tangan. Tidak menikmati kemegahan kembang api tahun baru dari kiriman video teman, namun langsung melihat secara nyata. Serta kegiatan nyata lainnya yang tidak mampu diinstankan oleh perangkat canggih tersebut.

Nyepi dilaksanakan dengan menaati Catur Brata Penyepian dan puasa seharian, Lebaran juga puasa satu bulan. Nah apa salahnya toh Tahun Baru yang dirayakan seluruh umat manusia di dunia,  dengan cara berdiet internet.  Astungkaraaaaa. (T)

Tags: Dunia Mayatahun baru
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Tahun Baru 2017: Kurangi Resolusi, Perbanyak Refleksi

Next Post

Renungan “Tumpek Wayang” di Akhir Tahun: Manusia Selalu Dikejar Sang Kala

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Renungan “Tumpek Wayang” di Akhir Tahun: Manusia Selalu Dikejar Sang Kala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co