28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Lontar: Tidak Semua Sakral – Ada juga Falsafah Islam

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Ulasan

Foto-foto: Eka

SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya tak lebih dari 0,5 milimeter. Setelah hampir lima menit memelototi lontar berjudul Kakawin Dharma Sunya Kling, ia mulai putus asa. “Sulit sekali membacanya,” katanya.

Lontar Kakawin Dharma Sunya Kling, adalah satu dari 26 buah lontar koleksi Hanacaraka Society yang dipamerkan di Hatten Wines Building, Jalan Bypass Ngurah Rai No. 393 Sanur. Puluhan lontar itu akan dipamerkan setidaknya hingga Minggu (7/8) mendatang.

Puluhan lontar itu sengaja dipamerkan. Lontar yang selama ini disakralkan, ditunjukkan untuk umum. Tujuannya agar bisa dilihat, dibaca, sekaligus menghilangkan kesan angker dan sakral pada lembar-lembar daun lontar.

Sesungguhnya lontar tak ubahnya seperti buku pada masa kini. Aksara-aksara yang tertulis pada selembar daun lontar pun sesungguhnya sama seperti huruf latin seperti masa kini.

“Kalau dipadankan dengan masa kini, lontar itu sebenarnya buku. Hanya wujudnya itu daun lontar dan tulisannya aksara Bali, sansekerta, atau aksara lainnya. Lontar juga sama seperti buku, ada judul di bagian awal, kadang ada tahun pembuatan, kadang ada nama penulisnya,” jelas Pendiri Hanacaraka Society, Sugi Lanus.

pameran lontar_3Penjelasan Sugi Lanus sekaligus meruntuhkan kesan sakral dan angker pada lontar. Maklum saja, selama ini lontar tidak bisa diakses sembarang orang. Biasanya lontar baru akan ditunjukkan pada hari atau upacara tertentu, karena dianggap sebagai pusaka. Itu pun hanya ditunjukkan kemudian diupacarai. Sangat jarang lontar dibuka, apalagi dibaca.

Sebagai sebuah buku, lontar memuat hal-hal yang bernuansa pendidikan, informasi, maupun puja dan puji kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika dipadankan dengan masa kini, lontar pada jaman itu sama seperti buku dongeng, majalah, atau buku-buku doa yang dijual bebas di toko buku.

Sebut saja lontar Siwaratri Kalpa yang disalin pada tahun 2016 lalu. Lontar ini bercerita tentang seorang pemburu bernama Lubdaka. Suatu hari Lubdaka tidak menemukan seekor buruan. Ketika hari beranjak malam, ia memanjat pohon Bila kemudian memetiki daunnya. Daun-daun tersebut jatuh ke kolam yang terdapat “lingga” Dewa Siwa. Setelah Lubdaka meninggal, pasukan Dewa Yama dan Dewa Siwa berperang memperebutkan jiwa Lubdaka. Akhirnya pasukan Dewa Siwa berhasil membawa Lubdaka ke Siwaloka.

Ada pula lontar Tutur Usana Bali yang diperkirakan ditulis pada tahun 1800-an. Lontar itu berisi naskah yang mengandung legenda, mitos, dan sejarah raja-raja Bali dari periode Bali Kuno sampai terbentuknya Kerajaan Gelgel. Lontar juga menceritakan sekelumit kisah penyerangan Jawa terhadap Bali yang ditulis dalam bentuk metafora Bhatara Indra menyerang Mayadanawa.

Beberapa lontar juga terkait dengan wariga atau sistem penanggalan Bali. Lontar ilmu perbintangan itu ditulis dalam lontar berjudul Wariga, Aji Swamandala I dan Aji Swamandala II.

Lontar-lontar yang dipamerkan juga tak semuanya berkaitan dengan falsafah Hindu atau kondisi kehidupan Bali di masa lampau. Beberapa lontar berkaitan dengan falsafah agama Islam. Aksara yang ditulis pun mirip dengan aksara Bali. Para penggiat di Hanacaraka Society menyebutnya sebagai aksara jejawen.

Salah satu lontar yang terkait dengan Islam adalah Naskah Tasawuf dan Kidung Nabi Haparas. Cakepan lontar yang terdiri atas dua naskah itu mengisahkan Nabi Muhammad yang dicukur oleh Malaikat Jibril.

“Memang tidak semua lontar itu berkaitan dengan Hindu dan Bali. Pada jamannya lontar itu buku. Jadi bisa memuat soal Islam, kerajaan di Jawa, Lombok, atau tempat lain maupun ajaran lain. Aksaranya juga aksara jejawen yang secara fisik mirip dengan aksara Bali. Sedangkan bahasanya itu bahasa jawa tengahan atau bahasa sasak. Pembedanya itu ada di halaman depan. Biasanya kalau unsur islamiah, ada kata bismillah,” jelas Ida Bagus Komang Sudarma, penggiat di Hanacaaraka Society.

Dari sekian banyak lontar yang dipamerkan, lontar yang paling menarik adalah naskah pipil atau sertifikat kepemilikan tanah. Ada dua lontar pipil yang dipamerkan. Satu diantaranya tercantum angka 1791 saka atau 1869 masehi, sementara sebuah lontar lainnya tercantum angka 1801 saka atau 1879 masehi.

Pipil itu pun menunjukkan bahwa masalah kepemilikan tanah pada penghujung abad ke-19 sudah sangat maju. “Padahal negara baru punya sertifikat pada tahun 1960 dengan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria. Ini sebuah hal yang luar biasa,” kata senator DPD RI perwakilan Bali, Gede Pasek Suardika yang ikut hadir pada pameran tersebut.

Dari sekian banyak lontar, juga ada lontar-lontar yang berkaitan dengan upakara, mantra, dan pengobatan atau usadha Bali. Sebut saja lontar Tges Banten Pamlaspasan yang memuat sarana persembahan untuk upacara peresmian. Baik itu aturan persembahan hingga mantra yang harus dibacakan. Lontar Tetamban yang memuat pengobatan tradisional Bali ikut dipamerkan.

pameran lontar_1Sementara lontar yang memuat hal lebih serius juga ada. Seperti Tutur Wiraga yang memuat tata cara mengoalah energi di dalam tubuh manusia yang disertai dengan mantra-mantra magis. Maupun lontar Pangwalik yang menjadi acuan penolak energi yang merusak. Lontar ini juga sering disebut lontar penangkal leak. Didalamnya tertulis mantra serta sarana upakara yang harus dibuat.

Lontar-lontar seperti itu, tak banyak ditemukan di Bali, karena memang tidak sembarang orang yang boleh membacanya. Sugi Lanus mengungkapkan, lontar seperti itu tidak tabu untuk dibaca, namun rentan disalahgunakan oleh orang yang belum siap. Tak heran jika lontar seperti itu kemudian disakralkan.

“Boleh dibaca dan sah-sah saja dibaca. Pada umumnya lontar seperti usadha, tutur wiraga, atau pangwalik itu hanya dibaca oleh orang-orang pilihan atau orang yang benar-benar siap. Tujuannya biar tidak disalahgunakan,” jelasnya.

Jika toh kemudian pada masa kini masih banyak lontar-lontar yang disakralkan, dijadikan pusaka keluarga, para penggiat di Hanacaraka Society tak mempermasalahkannya. Karena lontar-lontar itu memang berusia tua dan peninggalan leluhur yang harus dijaga. Namun mereka berharap agar bisa diberi akses untuk membuka, membaca, bahkan menyalin lontar itu. Harapannya agar pengetahuan-pengetahuan di dalamnya dapat dipelajari oleh masyarakat luas.

Demikian halnya dengan lontar-lontar Bali yang disebut banyak berada di Belanda. Mereka tak terlalu mempermasalahkannya. Mengingat lontar-lontar itu disimpan dan dirawat dengan baik, bahkan dipelajari. Penggiat Hanacaraka Society berpendapat, jika masyarakat belum siap untuk menyimpan, merawat, menjaga, dan mempelajarinya, lebih baik lontar-lontar itu berada di Belanda. Jika sudah siap, barulah langkah-langkah pemulangan lontar-lontar kuno itu dilakukan. (T)

Tags: ajeg baliBahasa BalilontarPameran
Share287TweetSendShareSend
Previous Post

“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama

Next Post

“Buleleng Festival”: Belajar Pencitraan dari “Lawar Getih”

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Buleleng Festival”: Belajar Pencitraan dari “Lawar Getih”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co