15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Lontar: Tidak Semua Sakral – Ada juga Falsafah Islam

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Ulasan

Foto-foto: Eka

SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya tak lebih dari 0,5 milimeter. Setelah hampir lima menit memelototi lontar berjudul Kakawin Dharma Sunya Kling, ia mulai putus asa. “Sulit sekali membacanya,” katanya.

Lontar Kakawin Dharma Sunya Kling, adalah satu dari 26 buah lontar koleksi Hanacaraka Society yang dipamerkan di Hatten Wines Building, Jalan Bypass Ngurah Rai No. 393 Sanur. Puluhan lontar itu akan dipamerkan setidaknya hingga Minggu (7/8) mendatang.

Puluhan lontar itu sengaja dipamerkan. Lontar yang selama ini disakralkan, ditunjukkan untuk umum. Tujuannya agar bisa dilihat, dibaca, sekaligus menghilangkan kesan angker dan sakral pada lembar-lembar daun lontar.

Sesungguhnya lontar tak ubahnya seperti buku pada masa kini. Aksara-aksara yang tertulis pada selembar daun lontar pun sesungguhnya sama seperti huruf latin seperti masa kini.

“Kalau dipadankan dengan masa kini, lontar itu sebenarnya buku. Hanya wujudnya itu daun lontar dan tulisannya aksara Bali, sansekerta, atau aksara lainnya. Lontar juga sama seperti buku, ada judul di bagian awal, kadang ada tahun pembuatan, kadang ada nama penulisnya,” jelas Pendiri Hanacaraka Society, Sugi Lanus.

pameran lontar_3Penjelasan Sugi Lanus sekaligus meruntuhkan kesan sakral dan angker pada lontar. Maklum saja, selama ini lontar tidak bisa diakses sembarang orang. Biasanya lontar baru akan ditunjukkan pada hari atau upacara tertentu, karena dianggap sebagai pusaka. Itu pun hanya ditunjukkan kemudian diupacarai. Sangat jarang lontar dibuka, apalagi dibaca.

Sebagai sebuah buku, lontar memuat hal-hal yang bernuansa pendidikan, informasi, maupun puja dan puji kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika dipadankan dengan masa kini, lontar pada jaman itu sama seperti buku dongeng, majalah, atau buku-buku doa yang dijual bebas di toko buku.

Sebut saja lontar Siwaratri Kalpa yang disalin pada tahun 2016 lalu. Lontar ini bercerita tentang seorang pemburu bernama Lubdaka. Suatu hari Lubdaka tidak menemukan seekor buruan. Ketika hari beranjak malam, ia memanjat pohon Bila kemudian memetiki daunnya. Daun-daun tersebut jatuh ke kolam yang terdapat “lingga” Dewa Siwa. Setelah Lubdaka meninggal, pasukan Dewa Yama dan Dewa Siwa berperang memperebutkan jiwa Lubdaka. Akhirnya pasukan Dewa Siwa berhasil membawa Lubdaka ke Siwaloka.

Ada pula lontar Tutur Usana Bali yang diperkirakan ditulis pada tahun 1800-an. Lontar itu berisi naskah yang mengandung legenda, mitos, dan sejarah raja-raja Bali dari periode Bali Kuno sampai terbentuknya Kerajaan Gelgel. Lontar juga menceritakan sekelumit kisah penyerangan Jawa terhadap Bali yang ditulis dalam bentuk metafora Bhatara Indra menyerang Mayadanawa.

Beberapa lontar juga terkait dengan wariga atau sistem penanggalan Bali. Lontar ilmu perbintangan itu ditulis dalam lontar berjudul Wariga, Aji Swamandala I dan Aji Swamandala II.

Lontar-lontar yang dipamerkan juga tak semuanya berkaitan dengan falsafah Hindu atau kondisi kehidupan Bali di masa lampau. Beberapa lontar berkaitan dengan falsafah agama Islam. Aksara yang ditulis pun mirip dengan aksara Bali. Para penggiat di Hanacaraka Society menyebutnya sebagai aksara jejawen.

Salah satu lontar yang terkait dengan Islam adalah Naskah Tasawuf dan Kidung Nabi Haparas. Cakepan lontar yang terdiri atas dua naskah itu mengisahkan Nabi Muhammad yang dicukur oleh Malaikat Jibril.

“Memang tidak semua lontar itu berkaitan dengan Hindu dan Bali. Pada jamannya lontar itu buku. Jadi bisa memuat soal Islam, kerajaan di Jawa, Lombok, atau tempat lain maupun ajaran lain. Aksaranya juga aksara jejawen yang secara fisik mirip dengan aksara Bali. Sedangkan bahasanya itu bahasa jawa tengahan atau bahasa sasak. Pembedanya itu ada di halaman depan. Biasanya kalau unsur islamiah, ada kata bismillah,” jelas Ida Bagus Komang Sudarma, penggiat di Hanacaaraka Society.

Dari sekian banyak lontar yang dipamerkan, lontar yang paling menarik adalah naskah pipil atau sertifikat kepemilikan tanah. Ada dua lontar pipil yang dipamerkan. Satu diantaranya tercantum angka 1791 saka atau 1869 masehi, sementara sebuah lontar lainnya tercantum angka 1801 saka atau 1879 masehi.

Pipil itu pun menunjukkan bahwa masalah kepemilikan tanah pada penghujung abad ke-19 sudah sangat maju. “Padahal negara baru punya sertifikat pada tahun 1960 dengan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria. Ini sebuah hal yang luar biasa,” kata senator DPD RI perwakilan Bali, Gede Pasek Suardika yang ikut hadir pada pameran tersebut.

Dari sekian banyak lontar, juga ada lontar-lontar yang berkaitan dengan upakara, mantra, dan pengobatan atau usadha Bali. Sebut saja lontar Tges Banten Pamlaspasan yang memuat sarana persembahan untuk upacara peresmian. Baik itu aturan persembahan hingga mantra yang harus dibacakan. Lontar Tetamban yang memuat pengobatan tradisional Bali ikut dipamerkan.

pameran lontar_1Sementara lontar yang memuat hal lebih serius juga ada. Seperti Tutur Wiraga yang memuat tata cara mengoalah energi di dalam tubuh manusia yang disertai dengan mantra-mantra magis. Maupun lontar Pangwalik yang menjadi acuan penolak energi yang merusak. Lontar ini juga sering disebut lontar penangkal leak. Didalamnya tertulis mantra serta sarana upakara yang harus dibuat.

Lontar-lontar seperti itu, tak banyak ditemukan di Bali, karena memang tidak sembarang orang yang boleh membacanya. Sugi Lanus mengungkapkan, lontar seperti itu tidak tabu untuk dibaca, namun rentan disalahgunakan oleh orang yang belum siap. Tak heran jika lontar seperti itu kemudian disakralkan.

“Boleh dibaca dan sah-sah saja dibaca. Pada umumnya lontar seperti usadha, tutur wiraga, atau pangwalik itu hanya dibaca oleh orang-orang pilihan atau orang yang benar-benar siap. Tujuannya biar tidak disalahgunakan,” jelasnya.

Jika toh kemudian pada masa kini masih banyak lontar-lontar yang disakralkan, dijadikan pusaka keluarga, para penggiat di Hanacaraka Society tak mempermasalahkannya. Karena lontar-lontar itu memang berusia tua dan peninggalan leluhur yang harus dijaga. Namun mereka berharap agar bisa diberi akses untuk membuka, membaca, bahkan menyalin lontar itu. Harapannya agar pengetahuan-pengetahuan di dalamnya dapat dipelajari oleh masyarakat luas.

Demikian halnya dengan lontar-lontar Bali yang disebut banyak berada di Belanda. Mereka tak terlalu mempermasalahkannya. Mengingat lontar-lontar itu disimpan dan dirawat dengan baik, bahkan dipelajari. Penggiat Hanacaraka Society berpendapat, jika masyarakat belum siap untuk menyimpan, merawat, menjaga, dan mempelajarinya, lebih baik lontar-lontar itu berada di Belanda. Jika sudah siap, barulah langkah-langkah pemulangan lontar-lontar kuno itu dilakukan. (T)

Tags: ajeg baliBahasa BalilontarPameran
Share287TweetSendShareSend
Previous Post

“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama

Next Post

“Buleleng Festival”: Belajar Pencitraan dari “Lawar Getih”

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Buleleng Festival”: Belajar Pencitraan dari “Lawar Getih”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co