23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Badriyah” Ayu Weda: Biografi Kekalahan Perempuan

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Putik

Judul Buku : Badriyah

Pengarang : Ayu Weda

Penerbit : Gambang Buku Budaya

Tahun Terbit : Maret 2016

Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman

ISBN : 978-602-6776-15-0

SELURUH cerita dalam kumpulan cerpen Badriyah (Ayu Weda, 2016) menampilkan tokoh perempuan dewasa. “Aku” narator dalam “Badriyah” , Wilda dalam “Kasto”, Sukma dalam “Sang Guru”, “mbak” dalam “Pak Menteri dan Rakyatnya, Ratna dalam “Psikopat”, Rusmini dalam “Anak”, We Mundri dalam “We Mundri”, Putu Laras dalam “Putu Laras”, Renata dalam “Penari Tango”, para perempuan dalam “Capsa”, tampaknya juga “aku” narator dalam “Candu Jabatan (Surat untuk Teman SMA)”, dan Ambra dalam “Badanku Rumahku”. Karena itu, esai ini memandangnya sebagai biografi perempuan, dengan penjelasan tambahan: perempuan yang kalah. Seluruh cerita ini ikrar kekalahan perempuan, khusunya ketika melakukan relasi dengan laki-laki.

Pada umumnya biografi dipahami sebagai riwayat hidup seseorang. dalam esai ini bukanlah biografi perseorangan yang dimaksud tetapi biografi kolektif: biografi perempuan sebagai lawan laki-laki dan kalah lalu berdalih pada kodrat, cinta kasih, pengabdiaan, keiklasan, ketulusan yang semua hanyalah hiburan atau legitimasi emosional khas kaum perempuan. Beberapa cerpen mencoba melawan laki-laki (“Badriyah”,  “Putu Laras”, dan “Badanku Rumahku”), kalah, kecuali sedikit kemenangan dalam “Psikopat” atau “Tari Tango” namun kemenangan yang lumrah dan tidak berarti. Kumpulan cerpen ini biografi perempuan yang kalah. Tapi dalam kekalahan besar itu perempuan berdamai dengan cara menjadi hamba laki-laki (istri kedua dari tiga istri, pengagum seorang guru, pemburu cinta laki-laki). Inilah dunia perempuan yang digambarkan dalam Badriyah.

Cerpen “Badriyah” mewakili kekalahan perempuan yang diterima sebagai kemenagan oleh perempuan sendiri. Ini sebagai paradoks dalam diri perempuan. Merasa menang tetapi sesungguhnya kalah. Tokoh “aku” yang berkisah menyadari bahwa menjadi istri kedua dari tiga istri sebagai penderitaan namun ini baru dirasa setelah dialami. Lalu memilih bercerai. Karena itu, bisa lepas dari derita yang ditimbulkan oleh kuasa laki-laki dalam wujud praktik poligami.

 “Badriyah” mengungkapkan sejumlah pandangan perempuan terhadap perempuan, seperti (1) pernikahan jalan pembebas derita seorang janda, (2) beralihnya cinta istri menjadi penghambaan kepada suami, (3) melalui penghambaan, seorang istri memperoleh rasa diayomi, (4) istri menolak dipoligami, dan (5) pernikahan sama dengan penghambaan. Pandangan ini menyebar di seluruh cerpen. Satu sisi perempuan kuat dan mandiri tetapi ketika melakukan relasi dengan laki-laki perempuan tidak berarti apa-apa. Arti hidup diperoleh lewat menjadi hamba dan menerima pengayoman laki-laki, walaupun “Di dompetnya tidak pernah ada uang” (hal.4).

Kapan perempuan harus menolak kodratnya (bergantung, menghamba, iklas, manut, diam)? Kapan perempuan berbalik arah dari kodrat? Kapan perempuan harus melawan? Dalam “Badriyah” diungkapkan, seorang perempuan (istri) baru melawan ketika dirinya gagal bertahan dalam poligami. Perlawanan inipun bukanlah perlawanan sesungguhnya seperti yang dilakukan Calon Arang dalam tradisi sastra Jawa Kuna. Mengapa istri tidak sejak semula memilih menjadi yang kuat untuk menandingi dan menundukkan suami? Ketika perempuan melawan laki-laki walaupun ini perlawanan semu, apakah dipicu oleh sikap jujur atau karena sakit hati atas kekalahan dan sedikit rasa marah? Mengapa perempuan hanya bisa keluar dari sistem hegemoni mskulinisme dan bukan melawan sistem itu hingga hancur, seperti cerpen perempuan radikal dalam sastra Lekra? Ketika seorang istri keluar dari sistem berbagi cinta, seperti tokoh “aku” dalam “Badriyah”, sama halnya dengan kekalahan namun dimaknai kemenangan bagi si istri, bukan demikian sesungguhnya namun hanya pelarian dari rasa tidak sanggup bertahan. Inilah kemunduran pandangan perempuan dalam dunia modern yang diagungkan. Merasa diri berkuasa namun seungguhnya mereka sengaja membuang diri karena tidak sanggup melawan laki-laki.

Pikiran inilah yang harus ditangkap ketika menyimak biografi perempuan dalam kumpulan cerita ini. Semua yang digambarkan perempuan yang kalah, perempuan yang berdamai, perempuan yang menghamba atau menjadi budak, dan perempuan yang hanya bisa berpaling ke dalam kodratnya sebagai perempuan. Suara itulah yang mendominasi cerpen ini. Jangan-jangan inilah rumusan simpulan sejarah perjuangan gender yang ternyata semuanya utopia.

Biografi kekalahan perempuan dalam cerita-cerita ini mengingatkan bahwa betapa utopisnya perjuangan atau perlawanan gender. Perlawanan gender tidak pernah terjadi secara radikal. Hasilnya pun tetap moderat. Hal ini dijelaskan oleh cerita-cerita antologi Badriyah. Kumpulan cerpen ini kisah mengenai betapa tidak berdayanya perempuan walaupun di sisi lain memiliki kesuksesan hidup. Mereka sebatas menolak tanpa perlawanan balik. Tidak ada ide perempuan untuk memulai melakukan perlawanan. Perempuan hanya menjadi pendompleng atau budak laki-laki. Mungkin saja ini kekuatan yang didapat oleh laki-laki secara relasional, yang hanya ketika hubungan itu terjadi antara laki-laki dan perempuan. Cerita-cerita dalam Badriyah menyajikan kejujuran biografis yang tidak bisa diganggu gugat karena pada akhirnya perempuan menjadi bangga atas segala kekalahannya, dengan sekadar berlari atau menolak tunduk. Perempuan sendiri tidak perlu pembelaan gender atau perjuangan untuk kesetaraan. Perempuan tidak membutuhkan itu karena yang dibutuhkan hanyalah menjadi budak kaum laki-laki (entah ia suami, guru, atau a boy).

Ketika perempuan tampaknya mengeluh atas takdirnya, kecuali We Mundri (dalam “We Mundri”), maka keluhan ini tidak terlalu penting. Keluhan ini bagian hidup perempuan yang mereka nikmati sendiri, walaupun tidak dapat dijelaskan karena perempuan tidak jujur. Salah kalau keluhan ini direspons iba berlebihan. Keluhan perempuan yang sering disejajarkan dengan penderitaan merupakan kebahagiaan perempuan yang paling dalam. Mungkin di sini ada jawaban mengapa seorang selir tercantik rela membakar diri di kobaran api kremasi raja, bukti budak setia. Hal ini terjadi karena selir itu bahagia dengan cara membakar diri. Ini sama sekali bukan tindakan bodoh, pilihan yang membaggakan dan membahagiakan. Layonsari juga bunuh diri dan menolak menjadi istri utama raja. Maka tersindirlah kaum perempuan modern oleh Calon Arang yang memulai hidup dengan praktik melawan kerajaan Kadiri. Tersindirlah perempuan modern dengan sikap dan praktik hidup Men Brayut yang siap melahirkan anak-anaknya. Mengapa Tuung Kuning kalah oleh penjudi karena keinginan laki-laki Bali untuk tetap mengunggulkan diri dalam lembaga ideologi purusa.

Sumbangan penting cerita dalam antologi cerpen Badriyah ini bukan karena materi kisahnya yang dikatakan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam kata pengantar buku ini, tetapi pada pengakuan jujur para perempuan, seperti “aku” dalam “Badriyah”, Ambra, Rusmini, Putu Laras. Mereka perempuan yang kalah oleh takdir laki-laki. (T)

Tags: BukuCerpenPerempuan
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung

Next Post

Karena Bahasa, Turis Bisa Bayangkan Salak Sebagai Ular

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Karena Bahasa, Turis Bisa Bayangkan Salak Sebagai Ular

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co