2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Badriyah” Ayu Weda: Biografi Kekalahan Perempuan

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Putik

Judul Buku : Badriyah

Pengarang : Ayu Weda

Penerbit : Gambang Buku Budaya

Tahun Terbit : Maret 2016

Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman

ISBN : 978-602-6776-15-0

SELURUH cerita dalam kumpulan cerpen Badriyah (Ayu Weda, 2016) menampilkan tokoh perempuan dewasa. “Aku” narator dalam “Badriyah” , Wilda dalam “Kasto”, Sukma dalam “Sang Guru”, “mbak” dalam “Pak Menteri dan Rakyatnya, Ratna dalam “Psikopat”, Rusmini dalam “Anak”, We Mundri dalam “We Mundri”, Putu Laras dalam “Putu Laras”, Renata dalam “Penari Tango”, para perempuan dalam “Capsa”, tampaknya juga “aku” narator dalam “Candu Jabatan (Surat untuk Teman SMA)”, dan Ambra dalam “Badanku Rumahku”. Karena itu, esai ini memandangnya sebagai biografi perempuan, dengan penjelasan tambahan: perempuan yang kalah. Seluruh cerita ini ikrar kekalahan perempuan, khusunya ketika melakukan relasi dengan laki-laki.

Pada umumnya biografi dipahami sebagai riwayat hidup seseorang. dalam esai ini bukanlah biografi perseorangan yang dimaksud tetapi biografi kolektif: biografi perempuan sebagai lawan laki-laki dan kalah lalu berdalih pada kodrat, cinta kasih, pengabdiaan, keiklasan, ketulusan yang semua hanyalah hiburan atau legitimasi emosional khas kaum perempuan. Beberapa cerpen mencoba melawan laki-laki (“Badriyah”,  “Putu Laras”, dan “Badanku Rumahku”), kalah, kecuali sedikit kemenangan dalam “Psikopat” atau “Tari Tango” namun kemenangan yang lumrah dan tidak berarti. Kumpulan cerpen ini biografi perempuan yang kalah. Tapi dalam kekalahan besar itu perempuan berdamai dengan cara menjadi hamba laki-laki (istri kedua dari tiga istri, pengagum seorang guru, pemburu cinta laki-laki). Inilah dunia perempuan yang digambarkan dalam Badriyah.

Cerpen “Badriyah” mewakili kekalahan perempuan yang diterima sebagai kemenagan oleh perempuan sendiri. Ini sebagai paradoks dalam diri perempuan. Merasa menang tetapi sesungguhnya kalah. Tokoh “aku” yang berkisah menyadari bahwa menjadi istri kedua dari tiga istri sebagai penderitaan namun ini baru dirasa setelah dialami. Lalu memilih bercerai. Karena itu, bisa lepas dari derita yang ditimbulkan oleh kuasa laki-laki dalam wujud praktik poligami.

 “Badriyah” mengungkapkan sejumlah pandangan perempuan terhadap perempuan, seperti (1) pernikahan jalan pembebas derita seorang janda, (2) beralihnya cinta istri menjadi penghambaan kepada suami, (3) melalui penghambaan, seorang istri memperoleh rasa diayomi, (4) istri menolak dipoligami, dan (5) pernikahan sama dengan penghambaan. Pandangan ini menyebar di seluruh cerpen. Satu sisi perempuan kuat dan mandiri tetapi ketika melakukan relasi dengan laki-laki perempuan tidak berarti apa-apa. Arti hidup diperoleh lewat menjadi hamba dan menerima pengayoman laki-laki, walaupun “Di dompetnya tidak pernah ada uang” (hal.4).

Kapan perempuan harus menolak kodratnya (bergantung, menghamba, iklas, manut, diam)? Kapan perempuan berbalik arah dari kodrat? Kapan perempuan harus melawan? Dalam “Badriyah” diungkapkan, seorang perempuan (istri) baru melawan ketika dirinya gagal bertahan dalam poligami. Perlawanan inipun bukanlah perlawanan sesungguhnya seperti yang dilakukan Calon Arang dalam tradisi sastra Jawa Kuna. Mengapa istri tidak sejak semula memilih menjadi yang kuat untuk menandingi dan menundukkan suami? Ketika perempuan melawan laki-laki walaupun ini perlawanan semu, apakah dipicu oleh sikap jujur atau karena sakit hati atas kekalahan dan sedikit rasa marah? Mengapa perempuan hanya bisa keluar dari sistem hegemoni mskulinisme dan bukan melawan sistem itu hingga hancur, seperti cerpen perempuan radikal dalam sastra Lekra? Ketika seorang istri keluar dari sistem berbagi cinta, seperti tokoh “aku” dalam “Badriyah”, sama halnya dengan kekalahan namun dimaknai kemenangan bagi si istri, bukan demikian sesungguhnya namun hanya pelarian dari rasa tidak sanggup bertahan. Inilah kemunduran pandangan perempuan dalam dunia modern yang diagungkan. Merasa diri berkuasa namun seungguhnya mereka sengaja membuang diri karena tidak sanggup melawan laki-laki.

Pikiran inilah yang harus ditangkap ketika menyimak biografi perempuan dalam kumpulan cerita ini. Semua yang digambarkan perempuan yang kalah, perempuan yang berdamai, perempuan yang menghamba atau menjadi budak, dan perempuan yang hanya bisa berpaling ke dalam kodratnya sebagai perempuan. Suara itulah yang mendominasi cerpen ini. Jangan-jangan inilah rumusan simpulan sejarah perjuangan gender yang ternyata semuanya utopia.

Biografi kekalahan perempuan dalam cerita-cerita ini mengingatkan bahwa betapa utopisnya perjuangan atau perlawanan gender. Perlawanan gender tidak pernah terjadi secara radikal. Hasilnya pun tetap moderat. Hal ini dijelaskan oleh cerita-cerita antologi Badriyah. Kumpulan cerpen ini kisah mengenai betapa tidak berdayanya perempuan walaupun di sisi lain memiliki kesuksesan hidup. Mereka sebatas menolak tanpa perlawanan balik. Tidak ada ide perempuan untuk memulai melakukan perlawanan. Perempuan hanya menjadi pendompleng atau budak laki-laki. Mungkin saja ini kekuatan yang didapat oleh laki-laki secara relasional, yang hanya ketika hubungan itu terjadi antara laki-laki dan perempuan. Cerita-cerita dalam Badriyah menyajikan kejujuran biografis yang tidak bisa diganggu gugat karena pada akhirnya perempuan menjadi bangga atas segala kekalahannya, dengan sekadar berlari atau menolak tunduk. Perempuan sendiri tidak perlu pembelaan gender atau perjuangan untuk kesetaraan. Perempuan tidak membutuhkan itu karena yang dibutuhkan hanyalah menjadi budak kaum laki-laki (entah ia suami, guru, atau a boy).

Ketika perempuan tampaknya mengeluh atas takdirnya, kecuali We Mundri (dalam “We Mundri”), maka keluhan ini tidak terlalu penting. Keluhan ini bagian hidup perempuan yang mereka nikmati sendiri, walaupun tidak dapat dijelaskan karena perempuan tidak jujur. Salah kalau keluhan ini direspons iba berlebihan. Keluhan perempuan yang sering disejajarkan dengan penderitaan merupakan kebahagiaan perempuan yang paling dalam. Mungkin di sini ada jawaban mengapa seorang selir tercantik rela membakar diri di kobaran api kremasi raja, bukti budak setia. Hal ini terjadi karena selir itu bahagia dengan cara membakar diri. Ini sama sekali bukan tindakan bodoh, pilihan yang membaggakan dan membahagiakan. Layonsari juga bunuh diri dan menolak menjadi istri utama raja. Maka tersindirlah kaum perempuan modern oleh Calon Arang yang memulai hidup dengan praktik melawan kerajaan Kadiri. Tersindirlah perempuan modern dengan sikap dan praktik hidup Men Brayut yang siap melahirkan anak-anaknya. Mengapa Tuung Kuning kalah oleh penjudi karena keinginan laki-laki Bali untuk tetap mengunggulkan diri dalam lembaga ideologi purusa.

Sumbangan penting cerita dalam antologi cerpen Badriyah ini bukan karena materi kisahnya yang dikatakan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam kata pengantar buku ini, tetapi pada pengakuan jujur para perempuan, seperti “aku” dalam “Badriyah”, Ambra, Rusmini, Putu Laras. Mereka perempuan yang kalah oleh takdir laki-laki. (T)

Tags: BukuCerpenPerempuan
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung

Next Post

Karena Bahasa, Turis Bisa Bayangkan Salak Sebagai Ular

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Karena Bahasa, Turis Bisa Bayangkan Salak Sebagai Ular

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co