Google

HARI baik, hari ayu, odalan di Pura Bale Agung, Buleleng. Waktu: sekitar 1887.  Dua perempuan dari Banjar Bale Agung, Nyoman Rai Srimben dan Made Lastri, menghias diri sembari bercanda. Sepasang sahabat itu, pada malam odalan yang suci, hendak menari rejang bersama perempuan muda lain di jaba tengah Pura.

Malam itu memang suci. Dan sejarah besar bangsa Indonesia seakan dimulai dari malam yang suci itu. Tubuh Nyoman Rai Srimben, saat menari dengan liuk muda yang gemulai, tiba-tiba ditimpa bunga jepun yang dilontarkan seseorang dari arah penonton.

Ia terkejut. Ia melihat dengan jelas, seorang pemuda dengan wajah yang tak sama dengan wajah teman-teman pemuda di Bale Agung, baru saja melontarkan bunga itu ke tengah arena dan mengenai tubuhnya. Entah kenapa, hatinya seketika tergetar. Ia melanjutkan tariannya dengan rasa gelisah. Ia jatuh hati pada pemuda itu.

Pemuda pelempar bunga itu, Soekemi Sosrodihardjo, adalah pemuda Jawa. Ia datang dari Surabaya, beberapa bulan sebelumnya, setelah ditugaskan mengajar di Sekolah Rakyat di Singaraja. Sekolah itu tepatnya berada di wilayah Paket Agung. Itu memang sekolah dasar pertama di Bali.

Tiba di Bali, pemuda itu langsung jatuh cinta pada Buleleng, pada Bali, pada kehidupan masyarakatnya, pada adat dan budayanya. Ia ternyata juga jatuh cinta pada seorang gadis dari Bale Agung. Sebelum odalan, gadis itu sempat ditemui ketika ia sedang jalan-jalan bersama I Kaler, warga setempat yang adalah teman setianya.

Karena tak yakin bahwa Rai Srimben adalah jodohnya, apalagi gadis itu berasal dari latar budaya yang berbeda, pemuda Soekemi pun bertimbang-timbang dalam hati, bertimbang antara cinta dan keyakinan. Atas petunjuk orang bijaksanalah ia kemudian melontarkan bunga ke arah gadis penari rejang di Pura Bale Agung. Siapa gadis yang tertimpa bunga, itulah jodohnya. Dan restu Tuhan, bunga itu menimpa gadis pujaannya, Rai Srimben.

Yakinlah pemuda itu akan jodohnya. Namun, bagaimana ia bisa menyuntingnya? Bale Agung punya adat yang kuat. Tak ada gadis yang boleh menikah dengan pemuda dari luar Bale Agung, apalagi dari luar Bali. Maka, drama kembali bergulir. Mereka kawin lari. Keluarga Bale Agung marah.

Urusannya pun sampai di polisi dan pengadilan. Tapi, keluarga kemudian menyadari bahwa sepasang manusia yang bersatu karena cinta tak bisa dicerai dengan cara apa pun. Kekuatan cinta itu meluruhkan hati keluarga Bale Agung, dan mereka menerima pernikahan dengan rasa lapang.

Kisah itu adalah kisah awal pertemuan Soekemi Sosrodihardjo dan Nyoman Rai Srimben, sepasang orang tua yang melahirkan Soekarno, 6 Juni 1901. Kisah itu pernah dipentaskan dalam bentuk teater dengan judul Kisah “Cinta Raden Soekemi dan Rai Srimben” oleh Sanggar Bale Agung dan Komunitas Mahima Singaraja di Ampiteater Perpustakaan Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, saat acara Haul Bung Karno, 21 Juni 2016. Selanjutnya, September 2016, dipentaskan lagi dalam format yang lebih kolosal di panggung Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar.

Kisah itu mungkin dibumbui sedikit fiksi. Namun ada fakta yang bisa dikarang-karang: bahwa sepasang manusia dengan beda adat, beda suku, beda budaya, dan beda agama, bisa bersatu oleh kekuatan cinta. Awalnya mungkin penuh halangan, namun tak ada yang bisa menebak akhir dari sebuah cinta yang rumit namun terus diperjuangkan.

Sejarah kemudian mencatat Soekemi dan Rai Srimben melahirkan anak pertama, Soekarmini. Setelah pindah tugas lagi ke Surabaya, pasangan itu melahirkan seorang anak laki-laki, tepat 6 Juni 1901. Nama awal bayi itu adalah Kusno, namun kemudian berganti menjadi Soekarno.

Dalam teater yang dipentaskan Sanggar Bale Agung dan Komunitas Mahima itu, kisah ditutup ketika keluarga Bale Agung mendapat surat Soekemi dan Rai Srimben dari Surabaya. Keluarga Bale Agung berkumpul mendengarkan isi surat yang dibaca ayah angkat Rai Srimben. Surat itu mengabarkan bahwa Rai Srimben melahirkan anak kedua, laki-laki, yang biasa dipanggil sebagai Putra Sang Fajar. Keluarga Bale Agung menyambut dengan gembira.

Kita tahu, Soekarno yang lahir dari kisah cinta beda suku dan agama, yang tentu saja agak rumit tapi romantis itulah yang membaca Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Ia disebut Proklamator RI dan Bapak Pendiri Bangsa. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY