MUSIK pop gamelan yang sudah distandarkan sampai mencapai “terkunyah habis” — penonton semua sudah biasa mendengarkannya. Maka, tidak memerlukan usaha intelektual untuk mendengarkannya. Tidak menantang dan mendorong pemikiran. Musik ini telah diterima begitu saja.

Yang lebih jauh lagi, kebiasaan dari musik pop gamelan ini sudah menjadi teman dalam dunia yang tidak bersahabat. Juga menyamankan para pendengarnya. Itulah sebabnya toko-toko dan shopping mall sering memakai musik popular ini sebagai hiasan dinding “audio wallpaper.”

Telah disepakati (dengan bukti-bukti riset yang membenarkan), bahwa musik pop me-rileks-kan para pengunjung dan membuat mereka lebih gampang berbelanja. Dengan begitu musik ini berperan sebagai alat bagi mereka yang mengontrol ekonomi.

Musik ini bisa berperan sebagai “ pengganti musik yang tidak didapat oleh pendengar”, yaitu kebebasan memilih, dan kemampuan untuk mengubah dunia musik. Musik ini memilik kekuatan untuk mengikat dan memukau orang yang terikat pada pekerjaannya. Dia mengalihkan perhatian dan meyakinkan pendengar bahwa mereka bisa menurut dan jadi produktif dalam sistem perekonomian.

Ini bertolak belakang dengan karya seni musik (art music), yang meskipun tidak memakai bentuk standar, tetapi memakai bentuk tersebut dengan cara kreatif dan unik, yang menjadikan setiap cuplikan seni musik ini menjadi pernyataan kondisi manusia, masing-masing memberikan pandangan yang unik terhadap keberadaan manusia.

Perlawanan terhadap musik klasik adalah akibat dari kemaluan. Setiap musik yang mengingatkan pada diri mereka sendiri, tentang keraguan atas keberadaan mereka, sudah pasti akan memalukan diri mereka sendiri. Bahwa mereka sesungguhnya telah terputus dari potensi mereka, yang kemudian menjadi alasan kenapa mereka harus selalu diingatkan oleh kesenian.

Ke-“merosotan” gamelan musik populer disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya karena hubungannya dengan budaya industri yang lebih besar, seperti industri fashion dalam bentuk organisasi ekonomi, yang dalam “musik modern” diistilahkan sebagai “ mengalir” dan dengan  “effek yang diperhitungkan”, menyembunyikan “standar yang primitif” dari musik tersebut. Permasalahan dengan musik populer ini sering terikat dengan unsur kemasyarakatan lain, seperti busana atau Bahasa.

Bentuk dan Standarisasi:

Aspek yang paling penting dalam hal ini adalah masalah “standarisasi”, karena disinilah para kritikus dan komentator percaya bahwa diskripsi tersebut di atas sesungguhnya memang benar. Ini menghubungkan “standar” dengan “negara industri maju”, sebelum mereka menelaah lagu-lagu tersebut berdasarkan bentuk dan isi. Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru bisa masuk, kecuali yang effek-nya bisa diperhitungkan dan yang menambah bumbu pada sesuatu yang begitu-begitu saja.

Individualisasi Pura-pura (Pseudo- Individualization) :

Istilah ini menyangkut masalah kontradiksi yang dihadapi oleh produser musik populer adalah, musik mereka harus cukup impresif untuk dapat diingat tapi juga terlalu biasa sehingga sangat lumrah dan banal. Ini menimbulkan kesan keluasan bahan, di mana para konsumen seolah-olah mendapatkan pilihan, dengan begitu juga seolah-olah ada kebebasan memilih. Yang berarti mereka merasa mendapatkan kesan individualistik.

Dengan begitu, apakah perbedaan yang ditampilkan oleh musik populer (dan budaya populer secara umum) nyata atau hanya ilusi? Apakah berarti individualistik konsumen ini palsu? Usaha untuk manjabarkan Pseudo Individualization diatas berdasar pada pemikiran ini. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY