2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Guru Tak Pernah Mudah – Dituntut Punya Rencana B, C, Dst…

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
March 26, 2019
in Esai
Menjadi Guru Tak Pernah Mudah – Dituntut Punya Rencana B, C, Dst…

Ilustrasi diolah dari Google

Menjadi guru tak pernah mudah. Guru dititipkan tugas oleh Negara untuk mendidik manusia, bersama keluarga dan masyarakat tentunya. Artinya, di sekolah, guru memiliki tanggung jawab bukan hanya mengembangkan otak, tapi juga akhlak.

Memikul tanggung jawab macam itu sepertinya bukan urusan yang mudah. Apalagi harus berhadapan dengan generasi yang, menurut teori generasi, “susah diatur”. Segala daya dan upaya harus dilakukan untuk setidaknya mengarahkan siswa tentang mana yang boleh dan tak boleh dilakukan.

Saat sedang mengarahkan dan saat itu juga yang diarahkan tak suka, perlawanan atau ketidakterimaan tentu saja datang. Bukan hanya dari siswa, bahkan juga dari orang tuanya, yang dalam beberapa kasus yang terungkap di media berujung dengan urusan kepolisian. Itu semakinmenambah rumit persoalan mendidik ini.

Belum lagi karena faktor lain, misalnya, kemajuan teknologi dan informasi, yang disadari atau tidak telah memberikan kontribusi terhadap sikap siswa. Rasa segan dan patuh kepada guru menguap karena guru, sepertinya, tidak lagi dipandang sebagai sumber ilmu utama. Artinya, tanpa mengikutiperkataan guru-pun siswa sudah bisa mendapatkan sesuatu yang mungkin saja lebih banyak daripada yang dimiliki gurunya. Jadi, sederhananya, siswa tidak lagi menemukan alasan mutlak untuk selalu mengikuti perkataan guru.

Semuanya menjadi semakin rumit karenadalam persoalan mendidik ini sekolah, keluarga, dan masyarakat sepertinya belum bersinergi. Sehingga, tugas mendidik terkesan dititikberatkan hanya pada guru di sekolah. Padahal, meski dengan durasi delapan jam di sekolah, setelah dipotong waktu siswa beristirahat, mayoritas waktu siswa dalam satu hari masih ada di keluarga dan masyarakat.

Menjadi guru tak pernah mudah. Paradigma pendidikan saat ini juga menugaskan guru untuk menyediakan lingkungan belajar yang mampu mengembangkan potensi yang ada di dalam diri siswa. Tujuannya adalah mereka berdaya dari sudut pandang sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kira-kira begitu intisari yang tertuang di dalam kurikulum pendidikan.

Faktanya, memasuki ruang kelas dan bertemu dengan puluhan manusia yang memiliki isi kepala dan gaya belajar yang beraneka rupa bukanlah perkara biasa-biasa saja. Ditambah harus menyediakan lingkungan belajar yang mampu mengembangkan potensi di setiap isi kepala itu membuat urusannya semakin tidak biasa-biasa saja. Belum lagi karena durasi pembelajaran yang terbatas dan materi yang begitu rapat dan merayap, dan semuanya harus diselesaikan.

Menelisik titik temu antara potensi siswa, durasi, dan materi pembelajaranuntuk menyediakan lingkungan belajar yang tepat adalah sesuatu yang membingungkan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, disiapkan. Mempertimbangkan segala macam situasi, menyiapkan segalabentuk keperluan administrasi. Dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), hingga soal evaluasi ditambah rubrik penilaiannya.

Di kelas, tak jarang praktik pembelajaran justru menunjukkan hal yang tak serupa dengan rencana yang telah disiapkan. Kendati sudah diupayakan sekuat tenaga untuk mengakomodir semua potensi dan gaya belajar siswa, tetap saja akan ada siswa yang merasa tak sesuai dengannya. Itu akan berdampak pada proses belajarnya yang menjadi tak optimal.

Olehnya, selain telah menyusun siasat pembelajaran yang matang, guru dituntut tetap memiliki rencana B. Bahkan C, D, E, F, Dst (dan seterusnya) agar pembelajaran tetap berjalan dengan baik saat seketika situasi menjadi tak sesuai dengan rencana awal. Agar siswa tetap mau dan nyaman belajar.Guru juga diharuskan memiliki kesiapan respon terhadap situasi tak terduga.Karena, hari ini, apa saja bisa terjadi di ruang kelas, bahkan situasi yang sebelumnya dianggap tak mungkin sekalipun.

Hal ini mungkin tak banyak diketahui oleh pihak lain di luar lingkaran keguruan. Orang di luar sana boleh saja berpikir bahwa menjadi guru itu mudah. Guru hanya perlu masuk ke dalam kelas, berceramah, dan memberikan tugas kepada siswanya. Setelahnya, dapat ditinggal ke luar lalu masuk lagi menjelang jam pelajaran usai. Pendapat semacam itu memang ada benarnya, karena, harus berani diakui, ada oknum guru semacam itu. Tetapi, bukan begitu benarnya.

Menjadi guru tak pernah mudah. Ada perbedaan yang dialami saat berkomunikasi secara langsung dan tidak langsung dengan manusia. Misalnya, ada orang yang begitu garang di media sosial tetapi saat harus berbicara langsung secara personal ataupun di depan umum mendadak menjadi pribadi kalem. Atau, ada orang yang begitu cerewet saat berkomunikasi melalui WhatAppdan seketika pendiam saat berbincang langsung.

Itu karena berkomunikasi secara langsung dengan manusia membutuhkan sentuhan emosional.Sentuhan itu akan memperkuat pesan yang ingin disampaikan lewat lisan, juga mengurangi risiko ketersinggungan dan kesalahpahaman. Misalnya dengan kontak mata, gestur, mimik, hingga intonasi suara. Sayangnya, itu tak mudah bagi semua orang, setidaknya apabila berkaca pada dua kasus di awal.

Dalam hal ini, guru ada di posisi itu, setiap hari harus berhadapan dan berkomunikasi langsung dengan manusia, siswanya. Konsekuensinya, sentuhan emosional menjadi syarat yang agaknya mutlak. Artinya, di ruang kelas, guru harus memastikan bahwa ada kontak mata yang baik, ada gestur yang enak dipandang, ada mimiknya yang nyaman dilihat, dan tentunya ada pilihan-pilihan kata yang sesuai dengan keadaan siswa.

Tujuannya adalah pesan yang ingin disampaikan guru menyentuh tidak hanya ke otak, tapi juga ke perasaan siswa. Pesan yang sampai di otak dan perasaan akan memunculkan internalisasi di dalam diri. Dan, memang itulah esensi pembelajaran, internalisasi, setidaknya menurut teori belajar konstruktivisme. Sehingga, pada akhirnya tujuan pembelajaran akan tercapai.

Upaya melakukan itu tentu menghadapi berbagai tantangan, satu yang paling dekat adalah tantangan dari diri guru itu sendiri. Memberikan sentuhan emosional yang baik setiap hari dan berulang tentu merupakan perkara yang berat di tengah tidak adanya jaminan bahwa setiap hari guru ada dalam keadaan emosional yang stabil.

Hal itu karena sebelum memberi sentuhan emosional yang baik kepada orang lain, si pemberi harus memastikan dirinya dalam kondisi emosional yang baik pula. Dalam hal ini, guru seperti harus atau sering bersandiwara, dengan ataupun tanpa masalah emosional pada dirinya, di hadapan siswa, guru harus selalu tampak baik-baik saja. Ini berat. [T]

Tags: guruPendidikansiswa
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Pelangi Ciptaan CD ROM – Cerita Kecil Mengajar di PAUD

Next Post

Radit, Si Pembalap Cilik, Kayuh Sepedamu, Dari Tabanan ke Ajang Dunia!

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Radit, Si Pembalap Cilik,  Kayuh Sepedamu, Dari Tabanan ke Ajang Dunia!

Radit, Si Pembalap Cilik, Kayuh Sepedamu, Dari Tabanan ke Ajang Dunia!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co