23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Guru Tak Pernah Mudah – Dituntut Punya Rencana B, C, Dst…

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
March 26, 2019
in Esai
Menjadi Guru Tak Pernah Mudah – Dituntut Punya Rencana B, C, Dst…

Ilustrasi diolah dari Google

Menjadi guru tak pernah mudah. Guru dititipkan tugas oleh Negara untuk mendidik manusia, bersama keluarga dan masyarakat tentunya. Artinya, di sekolah, guru memiliki tanggung jawab bukan hanya mengembangkan otak, tapi juga akhlak.

Memikul tanggung jawab macam itu sepertinya bukan urusan yang mudah. Apalagi harus berhadapan dengan generasi yang, menurut teori generasi, “susah diatur”. Segala daya dan upaya harus dilakukan untuk setidaknya mengarahkan siswa tentang mana yang boleh dan tak boleh dilakukan.

Saat sedang mengarahkan dan saat itu juga yang diarahkan tak suka, perlawanan atau ketidakterimaan tentu saja datang. Bukan hanya dari siswa, bahkan juga dari orang tuanya, yang dalam beberapa kasus yang terungkap di media berujung dengan urusan kepolisian. Itu semakinmenambah rumit persoalan mendidik ini.

Belum lagi karena faktor lain, misalnya, kemajuan teknologi dan informasi, yang disadari atau tidak telah memberikan kontribusi terhadap sikap siswa. Rasa segan dan patuh kepada guru menguap karena guru, sepertinya, tidak lagi dipandang sebagai sumber ilmu utama. Artinya, tanpa mengikutiperkataan guru-pun siswa sudah bisa mendapatkan sesuatu yang mungkin saja lebih banyak daripada yang dimiliki gurunya. Jadi, sederhananya, siswa tidak lagi menemukan alasan mutlak untuk selalu mengikuti perkataan guru.

Semuanya menjadi semakin rumit karenadalam persoalan mendidik ini sekolah, keluarga, dan masyarakat sepertinya belum bersinergi. Sehingga, tugas mendidik terkesan dititikberatkan hanya pada guru di sekolah. Padahal, meski dengan durasi delapan jam di sekolah, setelah dipotong waktu siswa beristirahat, mayoritas waktu siswa dalam satu hari masih ada di keluarga dan masyarakat.

Menjadi guru tak pernah mudah. Paradigma pendidikan saat ini juga menugaskan guru untuk menyediakan lingkungan belajar yang mampu mengembangkan potensi yang ada di dalam diri siswa. Tujuannya adalah mereka berdaya dari sudut pandang sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kira-kira begitu intisari yang tertuang di dalam kurikulum pendidikan.

Faktanya, memasuki ruang kelas dan bertemu dengan puluhan manusia yang memiliki isi kepala dan gaya belajar yang beraneka rupa bukanlah perkara biasa-biasa saja. Ditambah harus menyediakan lingkungan belajar yang mampu mengembangkan potensi di setiap isi kepala itu membuat urusannya semakin tidak biasa-biasa saja. Belum lagi karena durasi pembelajaran yang terbatas dan materi yang begitu rapat dan merayap, dan semuanya harus diselesaikan.

Menelisik titik temu antara potensi siswa, durasi, dan materi pembelajaranuntuk menyediakan lingkungan belajar yang tepat adalah sesuatu yang membingungkan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, disiapkan. Mempertimbangkan segala macam situasi, menyiapkan segalabentuk keperluan administrasi. Dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), hingga soal evaluasi ditambah rubrik penilaiannya.

Di kelas, tak jarang praktik pembelajaran justru menunjukkan hal yang tak serupa dengan rencana yang telah disiapkan. Kendati sudah diupayakan sekuat tenaga untuk mengakomodir semua potensi dan gaya belajar siswa, tetap saja akan ada siswa yang merasa tak sesuai dengannya. Itu akan berdampak pada proses belajarnya yang menjadi tak optimal.

Olehnya, selain telah menyusun siasat pembelajaran yang matang, guru dituntut tetap memiliki rencana B. Bahkan C, D, E, F, Dst (dan seterusnya) agar pembelajaran tetap berjalan dengan baik saat seketika situasi menjadi tak sesuai dengan rencana awal. Agar siswa tetap mau dan nyaman belajar.Guru juga diharuskan memiliki kesiapan respon terhadap situasi tak terduga.Karena, hari ini, apa saja bisa terjadi di ruang kelas, bahkan situasi yang sebelumnya dianggap tak mungkin sekalipun.

Hal ini mungkin tak banyak diketahui oleh pihak lain di luar lingkaran keguruan. Orang di luar sana boleh saja berpikir bahwa menjadi guru itu mudah. Guru hanya perlu masuk ke dalam kelas, berceramah, dan memberikan tugas kepada siswanya. Setelahnya, dapat ditinggal ke luar lalu masuk lagi menjelang jam pelajaran usai. Pendapat semacam itu memang ada benarnya, karena, harus berani diakui, ada oknum guru semacam itu. Tetapi, bukan begitu benarnya.

Menjadi guru tak pernah mudah. Ada perbedaan yang dialami saat berkomunikasi secara langsung dan tidak langsung dengan manusia. Misalnya, ada orang yang begitu garang di media sosial tetapi saat harus berbicara langsung secara personal ataupun di depan umum mendadak menjadi pribadi kalem. Atau, ada orang yang begitu cerewet saat berkomunikasi melalui WhatAppdan seketika pendiam saat berbincang langsung.

Itu karena berkomunikasi secara langsung dengan manusia membutuhkan sentuhan emosional.Sentuhan itu akan memperkuat pesan yang ingin disampaikan lewat lisan, juga mengurangi risiko ketersinggungan dan kesalahpahaman. Misalnya dengan kontak mata, gestur, mimik, hingga intonasi suara. Sayangnya, itu tak mudah bagi semua orang, setidaknya apabila berkaca pada dua kasus di awal.

Dalam hal ini, guru ada di posisi itu, setiap hari harus berhadapan dan berkomunikasi langsung dengan manusia, siswanya. Konsekuensinya, sentuhan emosional menjadi syarat yang agaknya mutlak. Artinya, di ruang kelas, guru harus memastikan bahwa ada kontak mata yang baik, ada gestur yang enak dipandang, ada mimiknya yang nyaman dilihat, dan tentunya ada pilihan-pilihan kata yang sesuai dengan keadaan siswa.

Tujuannya adalah pesan yang ingin disampaikan guru menyentuh tidak hanya ke otak, tapi juga ke perasaan siswa. Pesan yang sampai di otak dan perasaan akan memunculkan internalisasi di dalam diri. Dan, memang itulah esensi pembelajaran, internalisasi, setidaknya menurut teori belajar konstruktivisme. Sehingga, pada akhirnya tujuan pembelajaran akan tercapai.

Upaya melakukan itu tentu menghadapi berbagai tantangan, satu yang paling dekat adalah tantangan dari diri guru itu sendiri. Memberikan sentuhan emosional yang baik setiap hari dan berulang tentu merupakan perkara yang berat di tengah tidak adanya jaminan bahwa setiap hari guru ada dalam keadaan emosional yang stabil.

Hal itu karena sebelum memberi sentuhan emosional yang baik kepada orang lain, si pemberi harus memastikan dirinya dalam kondisi emosional yang baik pula. Dalam hal ini, guru seperti harus atau sering bersandiwara, dengan ataupun tanpa masalah emosional pada dirinya, di hadapan siswa, guru harus selalu tampak baik-baik saja. Ini berat. [T]

Tags: guruPendidikansiswa
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Pelangi Ciptaan CD ROM – Cerita Kecil Mengajar di PAUD

Next Post

Radit, Si Pembalap Cilik, Kayuh Sepedamu, Dari Tabanan ke Ajang Dunia!

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Radit, Si Pembalap Cilik,  Kayuh Sepedamu, Dari Tabanan ke Ajang Dunia!

Radit, Si Pembalap Cilik, Kayuh Sepedamu, Dari Tabanan ke Ajang Dunia!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co