6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Pantat dan Payudara

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 17, 2019
in Esai
Filosofi Pantat dan Payudara

Foto: Google

Kali ini, mari kita main jujur-jujuran. Untuk laki-laki (mohon maaf untuk yang cewek) mana yang kalian lebih sukai antara pantat dan tetek? (Kalau dak paham, ya, payudara deh, atau buah dada. Wes masih belum paham? Parah lu!)

Lebih suka “benda” yang di depan pantat? Ah, bukan, bukan itu pilihannya. Pilih saja mana yang lebih menarik, tetek atau pantat?

Ha? Suka dua-duanya? Ooh oh pilih salah satu dong jangan dua-duanya. Kan sendiri itu sepi, bertiga itu menyakitkan, lebih baik berdua saja. So, pilih satu ya. Antara dirimu dan pilihanmu.

Dua barang tadi (antara pantat dan tetek) bisa dikatakan adalah “senjata” atau “aset” (pake tanda kutip lho ya) dalam diri seorang wanita setelah senjata utamanya, yak apalagi kalau bukan buah selangkangan.

Tapi bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan wanita, tapi nyatanya banyak lelaki yang mata dan imannya tak kuat dan kalah setelah menyaksikan dua benda tadi (pantat dan tetek). Sama-sama menonjol dan juga bisa membuat “punya” lakilaki itu ikut menonjol.

Dua barang atau bagian tubuh itulah yang sementara ini bisa dilihat secara kasat mata oleh para lelaki sebelum perempuan membuka bajunya dan memperlihatkan “senjata” utamanya. Meski tidak bisa melihat pantat dan tetek secara utuh tanpa balutan kain, namun bentuknya yang menonjol itu rasanya sudah bisa bikin gemuruh hasrat para lelaki.

Semakin menonjol dua benda itu maka akan semakin “mengundang” pula wujud seorang wanita di mata lelaki meski dalam keadaan berbusana.

Entah bagian mana yang bisa membuat wanita bergemuruh hatinya ketika melihat tubuh laki-laki saat dalam keadaan berbusana. Wajahnya? Rasanya tidak juga.

Tapi bagi lakilaki, akan selalu ada dan bahkan ada-ada saja bagian tubuh wanita yang bisa dijadikan bahan perbincangan meskipun mereka (wanita) dalam keadaan berbaju. Entah, mungkin laki-laki lebih mudah tertarik akan bungkusan atau wujud luarnya saja (tubuh) daripada sikap dan isi hatinya atau entah bagaimana, saya tak paham.

Tapi berdasarkan beberapa obrolan dengan kawan-kawan cewek, ternyata mereka para cewek ketika memandang laki-laki, mereka tidak terlalu mengedepankan tampang atau wajahnya. Perkara tampan atau ganteng mungkin sih iya masuk indikator tapi bukan itu yang utama bagi mereka.

Katanya sih ganteng dan jelek tidak sebegitu menjadi pertimbangan untuk menyukai seorang laki-laki bagi cewek. Mereka lebih melihat bagaimana isiannya. Apakah sikapnya baik hati, apa dia pintar atau tidak itu yang menjadi fokus utamanya.

Sementara untuk laki-laki, hmm gimana ya? Selama ini sih yang sering jadi perbincangan di kalangan lelaki ya gak jauh-jauh dari kecantikan dan kemolekan tubuh itu dah. Eloknya sikap dan isi hati tidak begitu menonjol di kalangan perbincangan para lelaki. Di mana ada cewek cantik atau bodynya bohay, maka di situlah cowok-cowok akan ngerasaninya.

Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan yang saya simpulkan dari hasil perbincangan dengan teman itu, nyatanya perempuan selalu menjadi misteri bagi laki-laki. Tidak hanya dalam perkara cinta, perkara nafsu atau hasrat pun demikian, dan malah mungkin itu yang lebih dominan di mata lelaki.

Saya tidak sedang membeberkan betapa mesumnya diri saya ataupun para lelaki, tapi wahai perempuan berhati-hatilah dalam berpakaian. Pakai baju tertutup ala-ala syar’i pun kalian masih bisa jadi bahan perbincangan, apalagi ketika pake baju minim lebih-lebih gak bajuan.

So, suka mana antara pantat sama tetek? Oke deh kamu boleh suka dua-duanya atau suka salah satu tapi jangan sampai tidak suka dua-duanya, sebab kamu masih laki-laki normal kan? Saya harap begitu.

Bagi yang milih dua-duanya saya tanya lagi, mana yang paling anda sukai? Tentu dalam dua pilihan tingkat kesukaan kita pasti akan berbeda. Pasti ada salah satu yang paling disukai. Pertanyaan berikutnya, bila memilih tetek kenapa dan bila memilih pantat kenapa? Apa hanya sekedar suka? Tentu ada alasannya kan.

Bila dibandingkan, bentuk keduanya sama-sama menonjol dan sama-sama ada belahannya. Hanya mungkin ada tambahan pentil di tetek sementara di pantat tidak ada.

Untuk sementara ini, saya lebih memiliki alasan logis untuk memilih menyukai pantat daripada tetek. Bila dipikir lagi, pantat dan tetek adalah sebuah proses evolusi. Saat manusia sedang merangkak dan tidak bisa berjalan (ketika bayi atau masa kanak-kanak), maka yang akan kita lihat pertama adalah bokong atau pantat sebab ketika itu belum tumbuh payudara. Sementara tetek atau payudara akan muncul setelah menusia menginjak masa remajanya.

Jadi pada masa manusia sedang merengkak, mereka hanya akan melihat bokong, lalu ketika lambar laun mereka bisa berjalan mereka tidak lagi melihat bokong atau pantat. Sebagai gantinya, maka tumbuhlah tetek atau payudara. Dengan kata lain, pantat atau bokong adalah sumber hasrat pertama dalam kehidupan, sementara payudara hanyalah penggantinya.

Tetek tidak ada apa-apanya daripada pantat, sebab tetek hanyalah pengganti, pantat atau bokonglah yang utama. Atau dalam bahasa lain, pantatlah yang lebih asli sementara payudara tidak. Sebab pantat secara proses pertumbuhan lebih awal datangnya dan payudara adalah produk evolusi atau pertembuhan.

Jadi mana yang akan dipilih antara tetek dan pantat tentu jawabannya pilih yang asli daripada yang pengganti, yaitu lebih memilih pantat daripada tetek atau payudara.

Gimana? Masuk akal kan alasannya?

Dua benda tadi tentu hanya ada pada perempuan, meski laki-laki juga punya tapi bentuk dan efeknya kan jauh berbeda. Memang perempuan adalah wujud makhluk paling indah di dunia. Banyak misteri tentang dirinya. Tapi bukan berarti perempuan adalah objek pemuas nafsu belaka meski pada kenyataannya memang lebih banyak begitu. Lebih dari itu, perempuan juga merupakan makhluk ciptaan tuhan yang juga harus dihormati, jangan dilecehkan.

Bila menurut anda tulisan ini lebih mengarah pada melecehkan perempuan ya mohon maaf saja, saya hanya mencoba merasionalisasikan apa yang disukai orang-orang. Sebab rasa suka tanpa alasan sama seperti niat tanpa komitmen. Apapun yang kamu suka, pastilah ada alasannya, hanya saja mungkin belum kamu ketahui itu apa.

So, masih memilih menyukai payudara? [T]

Tags: filosofifilsafatPerempuansex
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Pembangunan Ekonomi Inklusif, Pemerataan Kemiskinan, dan Pembangunan Berkelanjutan

Next Post

Magesah, Beda Negaroa Beda Bleleng

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Magesah, Beda Negaroa Beda Bleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co