SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik mengalun dari panggung utama, produk lokal memenuhi area pameran, sementara berbagai komunitas menghadirkan aktivitas yang mengajak pengunjung terlibat langsung. Anak muda, pelaku usaha, seniman, hingga keluarga datang dan berbaur dalam suasana perayaan kreativitas. Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 yang berlangsung pada 31 Oktober–1 November 2026 itu mencatat lebih dari 15.000 pengunjung selama dua hari penyelenggaraan.
Mengusung tema “Reimagine the Playground”, festival ini tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang bagi berbagai ekspresi kreatif untuk saling bertemu. Sebanyak 31 komunitas, termasuk komunitas dari SMA, terlibat dalam penyelenggaraan. Lebih dari 300 kreator mengambil bagian, sementara 30 penampil menghidupkan panggung utama melalui pertunjukan musik dan sajian seni. Musik, kegiatan komunitas, workshop, produk kreatif, hingga kuliner lokal dirangkai dalam satu ruang publik yang terbuka bagi masyarakat.

JCF 2026 diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif. Namun, festival ini tidak dibangun sebagai kegiatan pemerintah semata. Komunitas kreatif Jembrana turut mengambil peran dalam proses penggarapan dengan semangat co-create atau menciptakan bersama-sama. Kolaborasi pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan media menjadi landasan untuk menghadirkan ruang berkarya, mempertemukan produk dengan pasar, sekaligus memperluas jangkauan informasi dan publikasi karya kreatif daerah.
Lebih jauh, penyelenggaraan festival ini merupakan bagian dari 24 program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Jembrana. Kehadirannya diarahkan untuk memberikan ruang berekspresi bagi generasi muda sekaligus mempertemukan para pelaku kreatif dengan masyarakat dan pasar yang lebih luas. Pemerintah daerah ingin agar potensi yang selama ini tumbuh di tengah komunitas tidak berhenti sebagai aktivitas kelompok, tetapi memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi kekuatan ekonomi.

“Jembrana memiliki banyak anak muda dengan karya dan kemampuan yang perlu mendapat ruang. Melalui Jembrana Creative Festival, kami ingin membuka kesempatan agar mereka bisa bertemu, bekerja sama, dan memperkenalkan produknya kepada masyarakat. Saya menantang anak muda dan pelaku kreatif untuk mengambil alih panggung dan jangan cuma jadi penonton. Dukungan ini perlu berlanjut melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan media agar semakin banyak pelaku kreatif yang dapat mengembangkan usahanya,” ujar Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan.
Mempertemukan Karya Lokal dengan Pasar
Semangat membuka ruang bagi pelaku kreatif itu terlihat dari keberadaan Creative Market & Hub. Sebanyak 13 booth menghadirkan produk fesyen, kerajinan, karya seni, dan berbagai merek lokal. Di area Taste of Jembrana, 14 tenant kuliner menawarkan beragam sajian yang memperkenalkan kekayaan rasa daerah kepada pengunjung. Kedua area ini menjadi ruang pertemuan langsung antara pembuat produk dan calon konsumen.
Bagi pelaku usaha, festival semacam ini bukan sekadar kesempatan memajang barang dagangan. Interaksi dengan pengunjung membuka peluang untuk memperkenalkan identitas produk, memperoleh tanggapan pasar, sekaligus membangun jejaring baru. Di tengah keramaian festival, karya yang sebelumnya dikenal dalam lingkup komunitas memiliki kesempatan menjangkau masyarakat yang lebih luas.


Kreativitas lokal juga tidak hanya terlihat melalui produk yang diperjualbelikan. Sejumlah komunitas menghadirkan pameran foto, motor modifikasi, mural, arena e-sport, hingga pojok baca Rumah Baca Loloan. Ragam aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa potensi ekonomi kreatif Jembrana tumbuh melalui banyak bidang, dengan karakter dan komunitas yang berbeda-beda.
Kepala Disparbud Jembrana, AA Komang Sapta Negara, melihat keterlibatan komunitas sebagai salah satu kekuatan utama dalam penyelenggaraan festival. Menurutnya, para komunitas tidak sekadar hadir untuk mengisi acara, tetapi ikut membentuk gagasan dan membawa jejaring yang mereka miliki.
“Komunitas ikut membentuk festival ini sejak proses penggarapan. Mereka membawa gagasan, karya, dan jejaring masing-masing sehingga program yang hadir bisa lebih beragam. Kolaborasi dengan pemerintah, pelaku usaha, dan media membantu mempertemukan karya tersebut dengan masyarakat yang lebih luas. Setelah festival selesai, kami berharap pertemuan ini berlanjut menjadi kerja sama dan membuka pasar baru bagi produk kreatif Jembrana,” ujar AA Komang Sapta Negara.

Di balik perayaan tersebut, terdapat upaya yang lebih mendasar, yakni memetakan potensi ekonomi kreatif Jembrana. Penyelenggaraan festival menjadi bagian dari proses pemetaan yang mencakup 21 subsektor ekonomi kreatif. Pendataan meliputi pelaku usaha, tenaga kerja, omzet, jangkauan pasar, hingga berbagai tantangan yang mereka hadapi.
Pemetaan ini penting agar pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya bertumpu pada penyelenggaraan acara atau promosi sesaat. Dengan mengenali kondisi dan kebutuhan para pelakunya, pemerintah dapat merancang dukungan yang lebih tepat sasaran. Harapannya, pelaku kreatif mampu meningkatkan daya saing produk, memperluas jangkauan pemasaran, dan menemukan peluang usaha baru.
Melindungi Karya, Mengembangkan Pengetahuan
Selain membuka akses promosi dan pemasaran, JCF 2026 juga menghadirkan dukungan terhadap perlindungan karya. Melalui booth HKI/IP Corner, Disparbud bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jembrana menyediakan layanan konsultasi serta fasilitasi pendaftaran merek dan kekayaan intelektual secara gratis.
Fasilitas ini memberikan kesempatan kepada kreator dan pelaku usaha untuk memahami pentingnya perlindungan atas merek maupun karya yang mereka hasilkan. Di tengah semakin terbukanya peluang pemasaran, perlindungan kekayaan intelektual menjadi bagian penting dalam menjaga identitas dan keberlanjutan sebuah produk. Dengan demikian, ruang kreatif yang disediakan festival tidak hanya membantu memperkenalkan karya, tetapi juga mendorong pelakunya lebih siap mengembangkan usaha.

Sementara itu, pengalaman belajar dan berbagi pengetahuan berlangsung di Community Stage. Talkshow Music Publicity menghadirkan Rudolf Dethu dan Dani Supriatna untuk membicarakan dunia publikasi musik. Getap-Getap Podcast juga memberi ruang bagi kreator konten lokal untuk berbagi gagasan dan pengalaman. Panggung ini menjadi tempat bertemunya pelaku kreatif dengan pengetahuan yang dapat memperkaya proses berkarya mereka.
Seni tradisi pun mendapat ruang untuk terus diperkenalkan melalui workshop tapel bertajuk Reimagining Tradition: Nyikut Rupa. Selain itu, terdapat sesi sketsa langsung ogoh-ogoh bertajuk Dari Garis Jadi Raksasa bersama Sunaren dan peserta STT. Kedua kegiatan tersebut mempertemukan praktik seni dengan proses pembelajaran, sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi dapat terus diolah melalui pendekatan kreatif.
Berbagai kegiatan lainnya turut melengkapi agenda Community Stage. Jembrana Drum Community menggelar Drum Clinic, sedangkan Workshop Cyanotype bersama Gung Ama mengajak peserta mengenal teknik penciptaan karya visual. Di sela-sela kegiatan tersebut, StandupIndo Jembrana menghadirkan penampilan komedi tunggal yang memberi warna hiburan tersendiri bagi pengunjung.

Suasana berbeda hadir di area Red Zone 18+. Komunitas Bartender Jembrana memperkenalkan keterampilan meracik minuman melalui The Art of Mixology. Taman Teduh x Kabyah menggelar demonstrasi memasak, sementara penampilan DJ setiap malam menjaga suasana festival tetap hidup hingga rangkaian kegiatan berakhir. Berbagai aktivitas ini memperlihatkan luasnya ruang eksplorasi yang disediakan bagi komunitas dengan minat dan keahlian berbeda.
Mengapresiasi Penggerak Ekosistem Kreatif
Di antara beragam kegiatan tersebut, apresiasi terhadap komunitas dan pelaku kreatif menjadi salah satu momen penting pada malam pertama. Bupati dan Wakil Bupati Jembrana menyerahkan piagam apresiasi kepada 24 komunitas yang terlibat dalam penyelenggaraan festival. Pada kesempatan yang sama, delapan penerima memperoleh Jembrana Creative Awards sebagai bentuk penghargaan bagi para penggerak ekosistem ekonomi kreatif di Jembrana.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan terhadap kerja kreatif yang tumbuh dari berbagai bidang. Di balik setiap karya, ada proses panjang, gagasan, dan keterlibatan banyak orang yang turut membangun ruang kreatif di daerah. Karena itu, apresiasi tidak hanya menjadi bagian dari seremoni festival, tetapi juga penanda bahwa kontribusi komunitas memiliki arti dalam perkembangan ekonomi kreatif.

Sementara itu, Main Stage menjadi salah satu pusat perhatian sepanjang dua hari penyelenggaraan. Sebanyak 30 penampil yang terdiri atas band, solois, DJ, dan pertunjukan khusus bergantian mengisi panggung. Musisi lokal berbagi ruang dengan sejumlah nama, antara lain Navicula, Jangar, Tika Pagraky, Made Gimbal, Mr. Rayen & Omang Verly, serta kolaborasi Lolot x Bagus Wirata. Peradah Jembrana turut menghadirkan pertunjukan budaya yang memperkaya ragam sajian festival.
Setelah dua hari diisi pertunjukan dan berbagai aktivitas komunitas, JCF 2026 berakhir pada Minggu (1/11) malam. Pemoeda Soeka Karokoe tampil sebagai penutup rangkaian festival, setelah kolaborasi Lolot x Bagus Wirata menjadi salah satu sajian utama pada hari kedua. Panggung yang sejak awal menjadi tempat pertemuan berbagai genre musik itu akhirnya menutup perayaan dengan semangat kebersamaan.

Lebih dari 15.000 pengunjung yang datang, ratusan kreator yang terlibat, serta puluhan komunitas yang mengambil bagian menjadi gambaran besarnya potensi kreatif Jembrana. Namun, keberhasilan festival tidak semata-mata diukur dari jumlah pengunjung atau ramainya panggung. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pertemuan selama festival dapat berlanjut menjadi kolaborasi, membuka peluang usaha, dan memperkuat jejaring antarpelaku kreatif.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Jembrana berencana mengembangkan Jembrana Creative Festival sebagai agenda tahunan. Keberlanjutan kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan media dalam membuka ruang berkarya serta memperluas pasar produk lokal. Dengan begitu, JCF tidak hanya menjadi perayaan kreativitas selama dua hari, tetapi juga salah satu jalan untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif Jembrana yang lebih kuat dan berkelanjutan.[T]
Sumber: Rilis
Editor: Jaswanto





























