4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

Fitria Hani Aprina by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
in Esai
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Fitria Hani Aprina

PEKAN ini linimasa saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya.

Kabar pertama datang dari Samarinda. Seorang balita perempuan berusia tiga tahun meninggal setelah diduga terjatuh dari balkon kamar hotel di lantai lima, sementara kedua orang tuanya sedang sarapan di restoran hotel.

Polisi masih menyelidiki penyebab pastinya. Dalam hitungan hari, kabar kedua muncul dari Gunung Prau. Video balita yang menangis sendirian di dalam tenda beredar luas, diperkirakan sekitar satu setengah jam, saat orang tuanya melakukan summit. Anak itu akhirnya ditemani pendaki lain sampai orang tuanya kembali.

Satu berakhir duka, satu berakhir lega. Tetapi keduanya punya akar yang sama, dan cara publik merespons keduanya juga punya pola yang sama. Dua hal itulah yang ingin saya bahas, dari kacamata komunikasi.

Kata “Sebentar” yang Menipu

Mari mulai dari kalimat yang hampir pasti terucap sebelum kedua peristiwa ini terjadi: “Cuma sebentar kok.”

Dalam komunikasi sehari-hari, “sebentar” adalah kata yang tampak jelas padahal sangat kabur. Ia tidak punya satuan. Bagi orang dewasa, sarapan tiga puluh menit atau mendaki “tinggal tiga puluh menit lagi” terasa singkat. Bagi anak tiga tahun yang terbangun di ruangan asing, satu menit tanpa orang tua bisa terasa tanpa batas.

Kasus Gunung Prau menunjukkan hal ini dengan terang. Orang tua balita itu melanjutkan ke puncak setelah mendapat informasi dari sesama pendaki bahwa puncak hanya sekitar 30 menit lagi. Ayahnya mengaku mengira jaraknya dekat, padahal ternyata jauh.

Informasi lisan yang longgar, ditambah keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja, melahirkan keputusan yang keliru. Dalam psikologi risiko ini dikenal sebagai bias optimisme: kita mengira kemalangan hanya menimpa orang lain.

Pesan “Titip” yang Tidak Pernah Benar-Benar Tersampaikan

Ada detail kecil di kasus Prau yang menurut saya paling penting dan paling jarang dibahas. Orang tuanya disebut sudah menitipkan anak kepada teman yang berkemah di tenda sebelah. Menurut klarifikasi yang beredar, niat menitipkan itu ada, tetapi sang teman ketiduran.

Ini pelajaran komunikasi yang klasik. Pesan dianggap sampai hanya karena sudah diucapkan. Padahal komunikasi yang selamat membutuhkan konfirmasi dua arah. Penerima pesan perlu mengulang dan menegaskan, misalnya “Oke, aku jaga, aku di sini sampai kalian kembali.” Dunia penerbangan dan layanan medis menyebutnya closed-loop communication dan menerapkannya justru karena kesalahan kecil di pesan lisan bisa berujung fatal. Kita jarang menerapkannya dalam urusan paling berharga, yakni keselamatan anak.

Antara Empati dan Pengadilan Massa

Sekarang soal respons publik. Dua kasus ini ditanggapi dengan cara yang mirip: kemarahan yang cepat dan luas.

Kemarahan itu tidak sepenuhnya salah. Ia lahir dari kepedulian pada anak. Para pendaki yang menemani balita di Prau layak diapresiasi, dan orang tuanya sendiri sudah meminta maaf dan mengakui kelalaiannya. Namun ada hal yang perlu kita waspadai.

Ruang Komentar Mudah Berubah Menjadi Ruang Sidang

Di kasus Samarinda, kita belum tahu pasti apa yang terjadi. Polisi masih mendalami, dan belum ada keterangan resmi dari pihak hotel soal kondisi pintu balkon. Tetapi tagar dan judul berita sudah telanjur menempatkan “orang tua sedang sarapan” sebagai pusat cerita. Dalam teori framing, cara sebuah peristiwa dibingkai menentukan siapa yang kita anggap bertanggung jawab.

Ketika bingkai terkunci pada kelalaian individu, pertanyaan lain ikut menghilang. Bagaimana standar keamanan balkon bagi tamu yang membawa anak kecil? Adakah penguncian tambahan, peringatan di kamar, atau informasi ramah anak dari pihak hotel? Pertanyaan-pertanyaan itu menyangkut tanggung jawab institusi, dan ia tenggelam oleh riuhnya penghakiman.

Dari sumber lainnya yang beredar di internet bahwa kronologi sebenarnya yakni orang tua sudah mengajak anaknya untuk sarapan, tetapi sang anak tersebut menolak. Akhirnya kedua orang tua memutuskan untuk sarapan tanpa mengikut sertakan kedua anaknya. Dikarenakan jika keluar kamar membutuhkan kunci sebagai akses kembali, orang tua tersebut berinisiatif membuka pintu balkon agar jika dikunci dari luar, kedua anaknya masih bisa mendapatkan udara dan cahaya. Terlepas dari kronologi yang beredar, semua bermuara pada kelalaian.

Kedua, anak yang menjadi konten. Dalam kasus Prau, video seorang balita yang menangis menyebar ke banyak platform. Orang tuanya kemudian meminta rekaman itu dihapus. Niat merekam mungkin baik, yaitu membuka mata publik. Tetapi sekali diunggah, wajah dan tangis anak itu menjadi jejak digital yang akan menemaninya hingga dewasa, tanpa persetujuannya.

Di kasus Samarinda, foto dan video ayah yang menangis di depan jenazah anaknya beredar luas. Pedoman pemberitaan ramah anak yang disusun Dewan Pers mengingatkan kita bahwa kepentingan terbaik anak harus lebih tinggi daripada nilai viral sebuah berita. Poin ini masih tidak diindahkan oleh masyarakat selaku citizen journalist.

Imbauan Keselamatan yang Tidak Lagi Cukup

Setiap kali ada kejadian seperti ini, jurus kita sama: “Jangan tinggalkan anak tanpa pengawasan!” Benar, dan sudah ratusan kali disampaikan. Tetapi sebagai pesan, kalimat itu gagal mengubah perilaku karena terlalu umum dan terdengar seperti ceramah. Ia tidak lagi sanggup menolong.

Komunikasi keselamatan yang efektif butuh pesan yang spesifik, terjadi di saat yang tepat, dan hadir di tempat keputusan itu dibuat. Misalnya kartu kecil di kamar hotel yang menjelaskan risiko balkon beserta cara mengunci pintunya. Misalnya papan informasi di basecamp pendakian tentang jarak sebenarnya ke puncak dan aturan membawa anak kecil. Misalnya pengelola yang menyapa keluarga ber-balita dengan tawaran bantuan, bukan hanya aturan. Pesan seperti itu hadir saat dibutuhkan, bukan setelah ada korban.

Menjadi kesadaran bersama adalah jika imbauan telah banyak digaungkan, kita sebagai manusia yang paling berperan pada keputusan final. Jangan pernah berani mengambil risiko dengan menyepelekan aturan maupun imbauan keselamatan di ruang publik. Kita tidak cukup besar untuk memastikan bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan kehendak diri.

Yang Tersisa untuk Kita

Dua keluarga ini sedang menanggung beban yang berbeda. Yang satu kehilangan putrinya. Yang lain menanggung malu dan penyesalan di hadapan jutaan pasang mata. Kita perlu belajar dari keduanya, banyak hal yang tidak bisa disepelekan dan dianggap aman, terlebih jika berhubungan dengan anak-anak.

Pelajaran paling sederhana sebenarnya ada di kata yang kita pakai. Lain kali kita hendak berkata “sebentar”, tanyakan dulu: sebentar menurut siapa? Dan kalau kita menitipkan anak kepada seseorang, pastikan pesannya benar-benar sampai dan dijalankan.

Satu menit memastikan itu jauh lebih murah daripada satu penyesalan seumur hidup.[T]

Tags: citizen journalistmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

Fitria Hani Aprina

Fitria Hani Aprina

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

PEKAN ini linimasa saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal...

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026
COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co