2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik, Agama dan Politik

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 2, 2026
in Esai
Musik, Agama dan Politik

Ilustrasi tatkala.co | Wahyudi Krisna

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama pada KTP-nya? Pertanyaan ini mungkin terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan mendasar tentang cara kita memandang seni, agama, politik, dan kemanusiaan. Mengapa sesuatu yang dapat dinikmati manusia lintas bangsa dan kepercayaan justru bisa menjadi sumber perdebatan yang mempertajam sekat-sekat identitas?

Musik tidak memiliki KTP. Ia tidak mempunyai kolom agama, suku, kebangsaan, apalagi afiliasi politik. Nada tidak mengenal batas negara, melodi tidak membutuhkan paspor, dan harmoni tidak meminta seseorang menunjukkan identitas sebelum menyentuh perasaannya. Musik hadir sebagai salah satu ekspresi kebudayaan manusia yang mampu melampaui perbedaan bahasa, meskipun cara manusia menciptakan dan menikmatinya tetap dipengaruhi oleh latar belakang budaya masing-masing.

Musik, Bahasa Universal Kemanusiaan

Andrea Bocelli merupakan salah satu penyanyi tenor yang suaranya dikenal luas di berbagai belahan dunia. Ketika ia menyanyikan lagu berbahasa Italia, tidak semua pendengarnya memahami arti setiap kata. Namun, mereka tetap dapat menikmati keindahan vokalnya, merasakan suasana yang dibangun, bahkan tersentuh tanpa mengetahui secara persis apa yang sedang dinyanyikannya. Bukankah di situlah salah satu keajaiban musik?

Bahasa verbal membutuhkan pemahaman atas kata-kata, sedangkan musik dapat menyampaikan pengalaman emosional tanpa harus diterjemahkan terlebih dahulu. Orang Indonesia bisa menikmati musik klasik Barat, masyarakat Eropa dapat terpesona oleh gamelan Bali, dan pendengar dari berbagai negara bisa menemukan keindahan dalam musik India. Perbedaan agama tidak serta-merta menghalangi manusia untuk merasakan pengalaman artistik yang sama.

Musik memang bukan satu-satunya bahasa universal, dan tidak semua orang meresponsnya dengan cara yang sama. Namun, kemampuannya menjembatani perbedaan merupakan potensi kemanusiaan yang sangat berharga. Ketika manusia mampu duduk bersama, mendengarkan lagu yang sama, dan menikmati keindahan yang sama, sesaat mereka dapat melampaui identitas yang biasanya memisahkan. Musik tidak mengharuskan kita menjadi sama untuk menikmati sesuatu bersama-sama.

Ketika Seni Bertemu Politik dan Agama

Polemik konser Bocelli di Indonesia memperlihatkan bahwa persoalannya tidak sesederhana urusan musik. Penolakan yang disuarakan Majelis Ulama Indonesia berkaitan dengan rekam jejak penyanyi tersebut yang dipandang menunjukkan dukungan terhadap Israel. Di tengah penderitaan rakyat Palestina, persoalan semacam ini tentu menyentuh kepekaan kemanusiaan, solidaritas, dan sikap politik masyarakat Indonesia.

Kepedulian terhadap Palestina merupakan persoalan serius. Penjajahan, penderitaan warga sipil, dan hilangnya hak-hak dasar manusia tidak boleh dianggap remeh. Amanat Pembukaan UUD 1945 pun menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Karena itu, keberatan masyarakat terhadap tindakan atau sikap yang dianggap bertentangan dengan nilai tersebut patut didengar.

Namun, kita juga perlu membedakan antara seorang seniman, karya seninya, dan sikap politik pribadinya. Ketiganya berkaitan, tetapi tidak selalu identik. Menghargai kualitas vokal Bocelli tidak otomatis berarti menyetujui seluruh pandangan politiknya. Sebaliknya, mengkritik sikap politiknya tidak mengharuskan kita menyangkal kualitas artistik yang dimilikinya.

Tentu, pembedaan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan fakta atau membebaskan tokoh publik dari pertanggungjawaban atas sikapnya. Setiap tuduhan perlu diperiksa berdasarkan bukti dan konteks yang jelas. Yang perlu dihindari ialah penilaian serampangan, generalisasi, serta kebencian yang justru mengaburkan persoalan utama. Kita bisa tegas memperjuangkan keadilan tanpa kehilangan kemampuan berpikir jernih.

Dari Identitas Menuju Kesadaran

Persoalan ini menjadi lebih menarik ketika kita melihatnya melalui perspektif kesadaran manusia. Dalam kerangka Panca Maya Kosha, sebagaimana dijelaskan dalam Taittiriya Upanishad, manusia dapat dipahami melalui lima lapisan: Annamaya, Pranamaya, Manomaya, Vijnanamaya, dan Anandamaya Kosha. Kerangka ini dapat menjadi sarana refleksi untuk melihat bagaimana manusia merespons suatu peristiwa, dari pengalaman fisik hingga pencarian kedalaman batin.

Pada lapisan fisik, konser merupakan pertunjukan yang melibatkan penyanyi, penonton, tempat, dan berbagai kepentingan ekonomi. Pada lapisan energi dan emosi, kita menjumpai antusiasme pencinta musik, kebanggaan, kemarahan, serta kepedulian terhadap penderitaan sesama. Pada lapisan intelijensia, kita dituntut memeriksa fakta, memahami konteks, dan menimbang argumentasi sebelum mengambil kesimpulan.

Sementara itu, perjalanan menuju kesadaran yang lebih dalam mengajak kita melihat persoalan tanpa diperbudak oleh ego kelompok. Ini bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan berusaha memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan. Kita tidak harus menyetujui semua tindakan seseorang untuk tetap menghormati martabatnya sebagai manusia.

Peta Kesadaran Hawkins juga dapat digunakan sebagai lensa reflektif. Kemarahan terhadap ketidakadilan dapat menjadi dorongan untuk bertindak, tetapi tindakan yang membawa perubahan membutuhkan keberanian, kebijaksanaan, dan kasih. Jika kepedulian hanya berhenti pada kemarahan terhadap pihak yang berbeda, energi kita berisiko habis dalam pertentangan. Sebaliknya, apabila kepedulian diwujudkan melalui bantuan kemanusiaan, pendidikan, dan dukungan nyata kepada mereka yang menderita, perjuangan memperoleh makna yang lebih luas.

Menikmati Musik Tanpa Kehilangan Nurani

Di sinilah kita perlu menempatkan musik secara proporsional. Universalitas musik tidak berarti semua konser harus diterima tanpa pertimbangan. Penyelenggaraan sebuah acara tetap dapat dinilai berdasarkan hukum, etika, situasi sosial, dan dampaknya. Masyarakat berhak menyampaikan keberatan secara damai, sementara penyelenggara berkewajiban menjelaskan sikap dan tanggung jawabnya secara terbuka.

Namun, jangan sampai perdebatan mengenai seorang penyanyi membuat perhatian kita terhadap penderitaan rakyat Palestina justru menyusut menjadi sekadar pertengkaran tentang sebuah konser. Solidaritas perlu dibuktikan melalui konsistensi tindakan, bukan hanya melalui simbol penolakan. Apakah kita turut mendukung bantuan kemanusiaan? Apakah kita peduli terhadap anak-anak yang kehilangan keluarga dan kesempatan belajar? Apakah kita terus menyuarakan perdamaian ketika perhatian publik beralih kepada persoalan lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengecilkan arti sikap politik. Sebaliknya, pertanyaan itu mengajak kita mengukur perjuangan berdasarkan tujuan kemanusiaannya. Jangan sampai kita begitu sibuk mempertentangkan identitas sehingga melupakan manusia yang seharusnya kita bela.

Saya teringat semangat One Earth, One Sky, One Humankind yang diperjuangkan Guruji Anand Krishna. Satu Bumi, Satu Langit, Satu Kemanusiaan. Gagasan ini tidak meminta kita menghapus identitas. Kita justru diajak melampaui pandangan sempit agar mampu memperjuangkan keadilan dan memberikan pelayanan tanpa pamrih dengan cakrawala kemanusiaan yang lebih luas.

Pada akhirnya, musik tidak punya KTP, tetapi manusia sering kali menjadikan identitas sebagai batas pergaulannya. Barangkali yang perlu kita periksa bukan identitas agama sebuah lagu, melainkan kedalaman kesadaran kita sendiri.

Musik dapat menyatukan manusia dalam keindahan, tetapi keindahan saja tidak cukup untuk mewujudkan perdamaian. Kita tetap membutuhkan keberanian melawan ketidakadilan, kejernihan menilai fakta, dan simpati yang tidak diskriminatif.

Sebagai penutup, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Saraswati, izinkan saya mengucapkan Selamat Hari Raya Saraswati. Saraswati merupakan simbol pengetahuan, kebijaksanaan, dan seni, khusunya musik. Ketiganya bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dalam perjalanan manusia menuju kesadaran yang lebih utuh. Inilah Three in One, yang mengingatkan kita pada ungkapan Satyam, Shivam, Sundaram: Kebenaran, Kebajikan atau Keilahian, dan Keindahan.

Bukankah musik merupakan salah satu ekspresi keindahan yang dapat mengantarkan manusia untuk merasakan harmoni, bahkan ketika mereka berbeda bahasa, bangsa, dan agama? Pengetahuan membantu kita memahami, kebijaksanaan menuntun kita mengambil sikap, dan seni menyentuh sisi kemanusiaan yang terkadang tidak terjangkau oleh kata-kata.

Semoga Hari Raya Saraswati mengingatkan kita bahwa pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan arah, Pengetahuan tanpa seni akan kering dan dapat kehilangan kehangatan, dan keindahan. Sebab, pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan sekadar manusia yang berpengetahuan, melainkan manusia yang bijaksana dan mampu menghadirkan keindahan dalam kehidupan bersama. [T]

Tags: agamamusikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

Next Post

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co