HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat oleh percakapan tentang keluarga, identitas, dan sejarah yang lama terpendam. Di tengah guyuran hujan itu, novel Yang Mulia karya Tiffany Tsao, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Rio Johan, diluncurkan dalam rangkaian Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026.
Peluncuran buku ini mempertemukan Tiffany Tsao sebagai penulis dan Rio Johan sebagai penerjemah, dengan Dhianita Kusuma Pertiwi, pemimpin redaksi penerbit independen Footnote Press, sebagai moderator.
Bagi Tiffany, novelis dan penerjemah sastra kelahiran Amerika Serikat yang kini bermukim di Sydney, Australia, peluncuran edisi bahasa Indonesia dari novel The Majesties itu memiliki kesan tersendiri. Karya yang menggali kehidupan keluarga Tionghoa-Indonesia tersebut akhirnya hadir dalam bahasa yang dekat dengan sejarah keluarganya sendiri.
“Sekarang aku senang sekali. Buku ini seperti pulang kampung,” ujar Tiffany.
Ungkapan itu bukan sekadar kegembiraan seorang pengarang melihat karyanya diterjemahkan. Di balik novel tersebut tersimpan penelusuran panjang tentang asal-usul keluarga, identitas diaspora, dan jejak sejarah Indonesia yang terus terbawa meski seseorang hidup jauh dari tanah leluhurnya.

Yang Mulia berkisah tentang dua perempuan bersaudara dari salah satu dinasti Tionghoa-Indonesia paling berpengaruh di Jakarta. Kehidupan keluarga kaya raya itu berubah menjadi tragedi ketika Estella meracuni seluruh tamu dalam pesta ulang tahun mewah sang kakek. Hanya adiknya, Gwendolyn, yang selamat.
Terbaring di rumah sakit, di antara kesadaran dan ingatan yang datang silih berganti, Gwendolyn berusaha menyusun kembali kepingan kehidupan keluarganya. Ia mengingat kedekatannya dengan Estella, hilangnya Tante Sandra yang tak pernah terjelaskan, serta berbagai rahasia yang disembunyikan di rumah megah keluarga taipan Irwan Sulinado.
Di balik kemewahan dan tragedi keluarga tersebut, tersimpan ketakutan yang membayangi kehidupan masyarakat Tionghoa-Indonesia pada 1998. Seperti kupu-kupu raja yang dahulu kerap disaksikan kedua saudara itu bersama, kebenaran dalam kisah ini harus terungkap sebelum akhirnya dapat terbang bebas.
Tiffany, yang juga meraih PEN Translation Prize dan NSW Translation Prize atas kiprahnya menerjemahkan sastra Indonesia, mengaku mulai mendalami sejarah Tionghoa-Indonesia ketika menelusuri identitas dan asal-usul keluarganya.
Ia lahir di Amerika Serikat dan hanya menghabiskan enam tahun hidupnya di Jakarta. Sejak kecil, orang tuanya selalu menekankan identitas Tionghoa dalam keluarga mereka. Namun, karena lahir di Amerika, ia juga diperkenalkan dengan sebutan Chinese American.
Ketika menempuh pendidikan Sastra Inggris di Amerika Serikat, ketertarikannya terhadap sastra Indonesia membawa Tiffany menelusuri sejarah negeri yang pernah menjadi tempat tinggalnya.
Salah satu penemuan yang membekas datang dari cerita ayahnya tentang sekolah yang pernah ditutup. Setelah menelusurinya, Tiffany mengetahui bahwa penutupan itu berkaitan dengan kebijakan terhadap sekolah-sekolah berbahasa Mandarin di Indonesia.
Penelusurannya kemudian bergerak ke Bangka, tempat banyak pekerja dari Tiongkok dahulu didatangkan. Ia menemukan kaitan lain yang terasa personal, yakni neneknya juga berasal dari Bangka.
“Jadi, semuanya tiba-tiba seperti terhubung,” kata Tiffany.

Meski demikian, temuan-temuan tersebut tidak serta-merta membuat Tiffany ingin menulis novel tentang sejarah Tionghoa-Indonesia. Dua novel pertamanya justru lebih banyak mengeksplorasi sisi budaya Singapura.
Ketika mulai mengembangkan cerita tentang keluarga yang menyimpan banyak rahasia, Tiffany sempat memilih kehidupan keluarga Tionghoa-Singapura sebagai latarnya. Namun, keterbatasan pengetahuannya membuatnya beralih pada kehidupan keluarga Tionghoa-Indonesia yang lebih dekat dengan sejarah keluarganya sendiri.
“Aku tahu ingin menceritakan keluarga yang memiliki banyak rahasia, dan semua rahasia itu harus digali satu per satu,” tuturnya.
Kesadaran itu membawanya kembali pada sejarah Tionghoa-Indonesia, sesuatu yang ternyata tidak dapat dilepaskan dari dirinya. “Sebagai seorang diaspora Tionghoa-Indonesia, selalu ada jejak.”
Ketika Bahasa Asing Kembali Menjadi Akrab
Perjalanan Yang Mulia menuju pembaca Indonesia juga menyimpan cerita menarik. Bagi Rio Johan, novelis dan penerjemah asal Baturaja, Sumatra Selatan, yang kini bermukim di Paris, menerjemahkan novel ini menjadi pengalaman tersendiri. Untuk pertama kalinya, ia menerjemahkan karya seorang penulis yang juga menguasai bahasa Indonesia.
Rio, penulis novel Ibu Susu yang meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 dan novel Karavansara, mengaku telah lama mengenal Tiffany. Ketika seorang editor menawarinya untuk menerjemahkan The Majesties ke dalam bahasa Indonesia, ia pun langsung menyanggupinya.
Baginya, cerita yang diangkat Tiffany menawarkan sudut pandang menarik tentang kehidupan keluarga Tionghoa-Indonesia. Menurut Rio, Indonesia memang memiliki banyak penulis keturunan Tionghoa, tetapi belum banyak karya yang secara khusus mengangkat pengalaman keluarga Tionghoa-Indonesia dari sudut pandang tersebut.

Proses penerjemahan pun berkembang menjadi percakapan yang intens. Salah satu persoalan menarik muncul dari pilihan kata yang digunakan Tiffany dalam naskah berbahasa Inggris.
Tiffany menulis The Majesties dengan mempertimbangkan pembaca internasional. Karena itu, beberapa unsur kehidupan sehari-hari Indonesia, termasuk istilah makanan, disajikan dengan penjelasan atau pilihan bahasa yang dibuat lebih akrab bagi pembaca asing.
Ketika novel tersebut diterjemahkan kembali ke bahasa Indonesia, pendekatan itu justru perlu dibalik.
“Awalnya aku terjemahkan secara harfiah, tetapi akhirnya Tiffany menyarankan supaya diterjemahkan menjadi lebih lokal. Misalnya, house dress menjadi daster,” kata Rio.
Contoh sederhana itu memperlihatkan bahwa menerjemahkan sastra bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Penerjemah juga perlu memahami konteks budaya yang melahirkan kata-kata tersebut.
Benda, makanan, atau kebiasaan yang membutuhkan penjelasan bagi pembaca asing bisa jadi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari pembaca Indonesia. Mengembalikannya ke istilah yang akrab membuat cerita terasa lebih dekat.
Rio juga menghadapi tantangan ketika menemukan idiom dalam bahasa Inggris yang tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa Indonesia. Dalam situasi semacam itu, ia berusaha menciptakan ungkapan yang mendekati makna dan nuansa aslinya.
“Aku sebisa mungkin membuat idiom yang menyerupai aslinya, terutama untuk ungkapan yang tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia,” jelasnya.

Proses penerjemahan itu turut mengundang pertanyaan dari Dhianita, yang dikenal melalui karya dan risetnya tentang sejarah, politik Orde Baru, serta isu gender. Ia ingin mengetahui sejauh mana Tiffany terlibat dalam penerjemahan novelnya, termasuk apakah pernah terjadi perbedaan pendapat dengan Rio.
Tiffany menegaskan bahwa ia menghormati kewenangan Rio sebagai penerjemah. Meskipun mampu berbahasa Indonesia dan dapat memberikan masukan terhadap pilihan kata, ia tidak ingin memaksakan keputusannya.
“Aku selalu menghormati Rio sebagai penerjemah. Kalau ada pertanyaan atau saran, biasanya aku bilang, ‘Rio, menurut kamu bagaimana? Kalau menurutmu ini lebih baik, silakan,’” tutur Tiffany.
Namun, respons Rio sering kali justru memberinya kebebasan untuk melakukan perubahan. “Tapi Rio selalu bilang, ‘Oh iya, kalau mau diganti, silakan,’” lanjutnya.
Penerjemahan Yang Mulia pun bukan sekadar mencari padanan kata, melainkan juga mengembalikan berbagai unsur budaya Indonesia yang sebelumnya disesuaikan untuk pembaca berbahasa Inggris. Melalui proses itu, kisah yang ditulis Tiffany menjadi lebih akrab bagi pembaca Indonesia, terutama karena kedekatannya dengan latar sosial dan sejarah yang diangkat dalam novel tersebut.
Ungkapan Tiffany tentang “pulang kampung” pun terasa semakin bermakna. Setelah melintasi batas bahasa dan negara, Yang Mulia akhirnya hadir dalam bahasa Indonesia, membawa kisah keluarga yang ditulisnya kembali pada akar sejarah yang mengilhaminya. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























