SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen pertamanya, Penasaran: Cinta, Dendam, dan Obsesi di Zaman AI, Henry justru menemukan ruang untuk meluapkan kemarahan. Sesuatu yang menurutnya sulit dilakukan secara terbuka karena citranya sebagai penulis yang lekat dengan Stoikisme.
“Kalau saya marah-marah di forum lain, rasanya tidak bisa. Jadi, lewat kumpulan cerpen ini saya bisa marah-marah. Menurut saya, ini karya tergelap saya,” ungkap Henry saat memperkenalkan buku terbarunya dalam Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, Minggu, 25 Oktober 2026.
Dalam perbincangan yang dipandu Tomi Wibisono (founder Buku Akik), Henry mengungkap proses kreatif sekaligus kegelisahan di balik 12 cerita pendek yang mengangkat persoalan manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Pertemuan di Ubud menjadi kesempatan pertama Henry memperkenalkan Penasaran kepada publik, mendahului peluncuran resminya yang dijadwalkan di Jakarta. “UWRF memang punya magisnya, bisa tiba-tiba masuk,” selorohnya.
Beralih ke fiksi merupakan eksperimen baru bagi Henry yang telah lama berkecimpung dalam penulisan nonfiksi. Filosofi Teras telah mencapai cetakan ke-100, terjual lebih dari 500.000 eksemplar, meraih penghargaan Book of the Year pada Indonesia International Book Fair 2019, dan telah diadaptasi menjadi film yang akan tayang perdana pada 24 Desember 2026.
Sementara The Alpha Girl’s Guide sudah terjual lebih dari 180.000 eksemplar dan terus dicetak ulang selama sepuluh tahun. Setelah 25 tahun berkarier sebagai profesional pemasaran, Henry kini menjadi penulis penuh waktu sembari menyelesaikan pendidikan Magister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Di tengah perjalanan kepenulisannya, Henry ingin mencoba sesuatu yang belum pernah dikerjakannya. Ia mengaku gemar menikmati fiksi dan menyukai eksperimen. Ia juga melihat belum banyak penulis cerpen yang berhasil secara komersial di Indonesia. Menurut pengamatannya, Dee Lestari salah satu yang berhasil.
“Saya memang suka bereksperimen. Jadi, saya penasaran ingin mencoba menulis cerpen. Ternyata, saya mendapatkan kenikmatan dalam prosesnya,” ujar Henry penuh semangat.
Eksperimen tersebut berkembang menjadi 12 kisah berlatar masa depan ketika AI telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Robot mengambil alih pekerjaan, algoritma memengaruhi hubungan asmara, hingga manusia buatan terlibat pembunuhan.
Kendati demikian, Henry tidak ingin pembaca terpaku pada teknologi yang menjadi latar cerita. Baginya, AI hanyalah jalan masuk untuk membicarakan persoalan manusia yang lebih mendasar.
“Saya sebenarnya tidak ingin Penasaran disebut sebagai buku tentang AI, tetapi tentang kita. Bagaimana ketika kita hidup bersama AI,” katanya.
Melalui kisah-kisahnya, Henry mengeksplorasi persoalan relasi, kesepian, ambisi, keadilan, kematian, hingga ketuhanan. Kemarahan, dendam, dan obsesi menjadi bagian dari pergulatan para tokohnya.
Salah satu cerita favorit Henry berjudul Penasaran, yang kemudian dipilih menjadi judul buku. Cerita tersebut berangkat dari keresahannya terhadap korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang tidak pernah mendapatkan keadilan.

Premisnya mengisahkan seorang aktivis yang diculik dan dibunuh. Arwah korban kemudian kembali untuk membunuh para pelaku satu per satu. Dari gagasan tentang ‘arwah penasaran’ itulah judul cerita tersebut berasal.
Kemarahan yang mewarnai sejumlah cerita membuat Henry menyebut Penasaran sebagai karya tergelapnya. Buku ini bahkan diberi label usia 21 tahun ke atas karena mengandung kekerasan brutal, kesadisan, dan konten seksual.
Dari keseluruhan cerita, sebelas cerpen memang ditulis sebagai sebuah rangkaian. Satu cerita lainnya, Tugas Karin, telah lahir lebih dahulu sebagai cerpen pertama yang pernah ditulis Henry. Karena alasan itu, cerita tersebut sengaja ditempatkan pada bagian pembuka.
Di balik kemasan fiksi ilmiah, Henry berharap pembaca menemukan persoalan yang lebih mendalam. Mulai dari pertanyaan tentang siapa yang berhak hidup, kekerasan seksual oleh oknum pemuka agama, hingga berbagai persoalan kemanusiaan lainnya yang diangkat melalui cerita-cerita dalam Penasaran.
“Kalau teman-teman hanya membacanya sebagai fiksi ilmiah, itu bisa. Tapi kalau mau merenungkannya lebih jauh, akan jauh lebih baik. Sebenarnya setiap cerita punya topik yang lebih serius daripada AI itu sendiri,” ujar Henry.

Melalui kumpulan cerpen pertamanya, Henry Manampiring ingin mengajak pembaca tidak sekadar menikmati cerita, tetapi juga mendiskusikan persoalan moral dan kemanusiaan yang ada di baliknya. Sebab, bagi Henry, yang paling penting dalam Penasaran bukan semata kecanggihan AI, melainkan bagaimana manusia hidup bersamanya.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























