26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

Jerry Indrawan by Jerry Indrawan
October 26, 2026
in Esai
Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis atau bencana alam musiman, melainkan manifestasi dari pertaruhan politik ekonomi tata kelola agraria dan kapasitas institusional negara.

Upaya pemerintah dalam beberapa tahun terakhir patut diapresiasi secara rasional. Kesiapsiagaan tanggap darurat, pengerahan personel gabungan TNI, Polri, dan Manggala Agni, hingga pelaksanaan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) serta penggelaran fasilitas kesehatan di daerah terdampak menunjukkan hadirnya respon fisik negara di lapangan.

Melihat dari kacamata analisis politik pemerintahan, pendekatan yang terlampau berfokus pada tanggap darurat di hilir ini menyimpan celah struktural jika tidak diimbangi dengan reformasi mendasar di tingkat hulu. Ketimpangan antara tingginya alokasi daya dan dana untuk pemadaman fisik di satu sisi, serta masih lemahnya konsistensi penegakan hukum agraria dan koordinasi lintas kelembagaan di sisi lain, menyebabkan krisis karhutla terus berulang saban siklus kemarau.

Untuk mengakhiri lingkaran krisis ini, negara membutuhkan transformasi keberanian politik yang menargetkan akar masalah, yaitu relasi ekonomi politik dalam konsesi lahan, ketimpangan insentif ekonomi, serta fragmentasi birokrasi dari pusat hingga tingkat tapak.

Dilema Politik Konsesi

Dilema dalam penanganan karhutla ini berpusat pada politik perizinan dan kontestasi kepentingan ekonomi politik dalam pemanfaatan ruang dan lahan. Data pemantauan ekologis serta catatan analisis lingkungan menunjukkan bahwa persentase signifikan titik panas (hotspot) dan areal terbakar kerap berada di dalam atau berbatasan langsung dengan wilayah konsesi perkebunan kelapa sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI), dan Areal Penggunaan Lain (APL).

Menurut laporan kalkulasi ekonomi Bank Dunia, dampak kerugian ekonomi akibat karhutla hebat pada periode El Niño tahun 2015 dan 2019 masing-masing diperkirakan mencapai USD 16,1 miliar (sekitar Rp221 triliun) dan USD 5,2 miliar (sekitar Rp75 triliun). Kerugian raksasa ini mencakup kerusakan ekosistem gambut, gangguan lalu lintas penerbangan, disrupsi aktivitas perdagangan, hingga penurunan produktivitas dan kualitas kesehatan masyarakat.

Secara kalkulasi ekonomi-politik di tingkat tapak, metode pembersihan lahan dengan cara membakar (slash and burn) hanya memerlukan biaya sekitar Rp500.000 hingga Rp1.000.000 per hektare. Angka ini berbanding terbalik dengan metode pembukaan lahan tanpa bakar (zero burning) yang membutuhkan investasi alat berat dan mekanisme mekanis dengan biaya berkisar Rp2,5 juta hingga Rp4 juta per hektare. Disparitas biaya operasional yang sangat lebar ini menciptakan insentif ekonomi terselubung bagi oknum aktor bisnis maupun spekulan tanah untuk mengambil jalan pintas.

Di titik inilah kapasitas dan ketegasan penegakan hukum pemerintah diuji. Meskipun kementerian terkait telah menjatuhkan ratusan sanksi administratif, berupa pembekuan izin, pencabutan izin operasional, hingga pembekuan rekening korporasi, serta memenangkan gugatan perdata di pengadilan dengan nilai ganti rugi mencapai triliunan rupiah, eksekusi riil atas pembayaran denda dan kewajiban pemulihan lingkungan oleh korporasi pelanggar masih perlu ditingkatkan.

Pemerintah perlu membenahi proses penagihan piutang denda perdata yang telah berkekuatan hukum tetap. Jangan sampai tercermin adanya hambatan struktural dalam relasi kekuasaan, di mana interupsi politik dan lobi korporasi sering kali melunakkan proses penegakan hukum lingkungan.

Fragmentasi Birokrasi Tapak

Selanjutnya, berkaitan dengan fragmentasi kelembagaan dan dinamika hubungan pusat-daerah dalam kerangka desentralisasi tata kelola lingkungan. Pasca-berlakunya penataan regulasi melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja dan aturan turunannya, terjadi pendelegasian dan penarikan sebagian kewenangan perizinan dan pengawasan sektor kehutanan serta perkebunan kembali ke pemerintah pusat.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan munculnya jurang kapabilitas. Pemerintah pusat menghadapi keterbatasan personel pengawas (asymmetry of information) untuk memantau jutaan hektare lahan konsesi yang tersebar di pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Di sisi lain, pemerintah daerah (Pemda) di tingkat provinsi dan kabupaten kerap merasa kehilangan wewenang langsung atau justru terjebak dalam dilema ekonomi politik lokal. Menjelang kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), isu perizinan lahan dan pengawasan ekologis sering kali terdesak oleh kepentingan penggalangan modal politik lokal, sehingga fungsi pengawasan di daerah menjadi tumpul.

Selain itu, tata kelola anggaran penanggulangan bencana, sekalipun sudah cukup maksimal menurut penulis, masih menunjukkan perlunya penetapan prioritas. Porsi APBN dan APBD yang dialokasikan untuk operasi tanggap darurat, seperti pemadaman udara (water bombing) menggunakan helikopter sewa yang menelan biaya puluhan ribu dolar AS per jam terbang, jauh lebih besar daripada alokasi anggaran pencegahan berbasis komunitas di tingkat hilir.

Program-program pencegahan jangka panjang, seperti pemeliharaan infrastruktur pembasahan gambut (canal blocking) oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) serta pemberdayaan Masyarakat Peduli Api (MPA), terkendala oleh kepastian insentif dan keberlanjutan pendanaan. Untuk itu, perlu adanya integrasi data spasial yang transparan melalui percepatan Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) serta skema insentif fiskal berbasis kinerja ekologis dari pusat ke daerah agar instrumen pemadaman api tidak selalu kalah cepat dibandingkan laju pembukaan lahan tak terkendali.

Penulis yakin pemerintah memiliki niat baik menyelesaikan permasalahan karhutla ini. Itu sebabnya, ikhtiar pemerintah memerlukan transformasi paradigma dari sekadar manajemen krisis menjadi tata kelola risiko ekologis yang berorientasi pada keadilan politik agraria. Keberhasilan penanganan karhutla tidak boleh diukur dari seberapa banyak helikopter diposisikan atau berapa ribu hektare api yang dipadamkan saat bencana terjadi.

Keberhasilan sejati ditentukan oleh sejauh mana negara memiliki political will untuk mencabut izin konsesi korporasi pelanggar, mengeksekusi denda ganti rugi ekologis secara transparan, serta mengembalikan hak-hak masyarakat lokal untuk mengelola tanah secara berkelanjutan. Ketika pemerintah sanggup, dan saya yakin pasti, mengintegrasikan penegakan hukum yang konsisten, transparansi konsesi lahan, dan penguatan alokasi anggaran pencegahan di tingkat tapak, di situlah kedaulatan tata kelola lingkungan hidup Indonesia dapat terwujud.[T]

Penulis: Jerry Indrawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: KarhutlaPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

Jerry Indrawan

Jerry Indrawan

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co