Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau justru ikut memperpanjang lukanya?
ADA sesuatu yang berubah dalam cara kita menyaksikan kehidupan orang lain. Dahulu, sebuah konflik mungkin hanya menjadi percakapan di lingkungan terbatas. Sebuah kesalahan dapat diselesaikan oleh pihak-pihak yang terlibat. Sebuah kesedihan mungkin cukup dibagikan kepada orang-orang terdekat. Kini, semua itu dapat berubah menjadi tontonan dalam hitungan menit.
Sebuah video diunggah. Potongan peristiwa menyebar. Komentar berdatangan. Orang-orang yang tidak mengenal siapa pun yang terlibat mulai memberikan penilaian. Ada yang membela, ada yang menyalahkan, dan tidak sedikit yang ikut menyebarkan tanpa mengetahui keseluruhan cerita. Dalam waktu singkat, kehidupan seseorang dapat menjadi konsumsi ribuan, bahkan jutaan pasang mata.
Kita menyebutnya viral. Namun, di balik angka penayangan, tanda suka, dan ramainya perbincangan, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: manusia yang kehidupannya sedang dipertontonkan.
Ketika penderitaan menjadi tontonan, popularitas sebuah peristiwa tidak selalu berarti tumbuhnya kepedulian. Bisa jadi, kita hanya sedang menyaksikan hilangnya empati di tengah ramainya perhatian.
Ketika Penderitaan Menjadi Konsumsi Publik
Media sosial telah membuka ruang yang luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman, memperjuangkan keadilan, dan mengungkap persoalan yang sebelumnya tidak mendapat perhatian. Tidak sedikit kasus ketidakadilan yang memperoleh penanganan setelah suara masyarakat bergema di ruang digital. Karena itu, viralitas tidak selalu buruk. Perhatian publik dapat menjadi kekuatan untuk membela korban, mengawasi kekuasaan, dan mendorong perubahan.
Namun, persoalan muncul ketika perhatian terhadap sebuah peristiwa bergeser menjadi kesenangan menyaksikan kehidupan orang lain yang sedang berada dalam kesulitan.
Konflik pribadi disebarkan demi menarik perhatian. Kesalahan seseorang diputar berulang kali. Tangisan direkam, pertengkaran dipertontonkan, dan komentar yang merendahkan justru menambah keramaian. Dalam situasi tertentu, penderitaan seseorang seolah kehilangan makna kemanusiaannya dan berubah menjadi bahan konsumsi digital.
Fenomena perundungan terhadap seorang pedagang yang sedang melakukan siaran langsung di media sosial, yang mendapat perhatian publik pada Juni 2026, memperlihatkan bagaimana ruang digital dapat berubah menjadi tempat penghinaan massal. Kasus tersebut juga menjadi pengingat bahwa komentar yang dilakukan beramai-ramai tetap dapat melukai seseorang secara nyata.
Peristiwa semacam ini semestinya membuat kita berhenti sejenak. Mengapa sesuatu yang seharusnya mengundang keprihatinan justru dapat berubah menjadi hiburan? Mengapa kita begitu mudah ikut menilai kehidupan seseorang yang bahkan tidak kita kenal?
Mungkin karena dalam budaya viral, perhatian telah menjadi sesuatu yang diperebutkan. Sesuatu yang mengejutkan, memancing kemarahan, atau mengundang rasa ingin tahu lebih mudah menarik perhatian daripada cerita yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Akibatnya, kita berisiko lebih tertarik pada sensasi sebuah peristiwa daripada memahami manusia yang mengalaminya.
Kita ingin mengetahui apa yang terjadi, siapa yang salah, dan bagaimana kelanjutannya. Namun, kita jarang berhenti untuk bertanya apakah penyebaran cerita itu membantu orang yang sedang menghadapi persoalan atau justru membuatnya semakin terluka. Di titik inilah viralitas perlu dibedakan dari kepedulian. Sebuah peristiwa dapat disaksikan banyak orang tanpa benar-benar dipahami oleh siapa pun.
Manusia Bukan Sekadar Konten
Di balik setiap video yang beredar, ada kehidupan yang tidak seluruhnya tertangkap oleh kamera. Ada latar belakang yang mungkin tidak diketahui, ada persoalan yang tidak terlihat, dan ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh orang yang menjadi pusat perhatian. Sebuah potongan video tidak selalu menceritakan keseluruhan peristiwa. Satu kesalahan tidak merangkum seluruh perjalanan hidup seseorang. Dan satu pernyataan tidak selalu cukup untuk menjelaskan semua alasan di balik sikap seseorang.
Sayangnya, ruang digital sering kali bergerak lebih cepat daripada proses memahami. Penilaian dapat menyebar sebelum fakta terverifikasi. Label dapat melekat sebelum seseorang memperoleh kesempatan menjelaskan. Bahkan, ketika sebuah persoalan telah selesai bagi penontonnya, dampaknya mungkin masih berlangsung dalam kehidupan orang yang menjadi objek pembicaraan. Bagi sebagian orang, sebuah video hanyalah tontonan beberapa menit sebelum mereka beralih ke konten berikutnya. Bagi orang yang ada di dalam video itu, pengalaman tersebut mungkin terus membekas dalam waktu yang jauh lebih panjang.
Bayangkan seseorang yang pernah melakukan kesalahan, telah mengakui kekeliruannya, dan sedang berusaha memperbaiki diri. Namun, rekaman tentang kesalahannya terus beredar, dibagikan kembali, dan dihadirkan dalam percakapan yang tidak pernah benar-benar berakhir. Apakah masyarakat sedang membantu proses perbaikan, atau justru membuat seseorang terus hidup dalam satu kesalahan yang sama?
Tentu, tidak semua peristiwa harus ditutup dari perhatian publik. Ketika ada dugaan kekerasan, penipuan, atau ketidakadilan, dokumentasi dan penyebaran informasi dapat membantu mengungkap fakta serta mendorong pertanggungjawaban. Akan tetapi, kepentingan publik tidak boleh dijadikan alasan untuk menyebarkan semua hal tanpa pertimbangan.
Kita perlu membedakan antara mengungkap persoalan dan mengeksploitasi penderitaan; antara mengawasi tindakan dan mempermalukan manusia; antara mencari keadilan dan menikmati penghukuman massal. Seseorang boleh dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya, tetapi martabatnya tidak seharusnya menjadi harga yang harus dibayar demi kepuasan publik.
Empati yang Kalah oleh Keinginan untuk Bereaksi
Empati bukan sekadar merasa iba ketika melihat orang lain bersedih. Empati adalah kesediaan untuk memahami bahwa pengalaman orang lain memiliki konteks, bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan bahwa respons kita dapat memperingan atau justru memperburuk keadaan. Di ruang digital, empati diuji ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang memancing emosi.
Ketika sebuah video membuat kita marah, apakah kita berusaha memeriksa konteksnya sebelum ikut menyebarkan? Ketika seseorang menjadi sasaran hujatan, apakah kita ikut menambah komentar atau memilih tidak memperluas penghinaan? Ketika sebuah kisah menyentuh perasaan, apakah kita benar-benar membantu atau hanya menjadikan kesedihan orang lain sebagai bahan untuk menunjukkan kepedulian kita sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik. Membagikan video dengan maksud memperingatkan orang lain, misalnya, tetap dapat memperluas paparan identitas atau penderitaan korban. Memberikan komentar yang dimaksudkan sebagai kritik pun dapat berubah menjadi penghinaan ketika disampaikan tanpa mempertimbangkan konteks dan martabat orang yang dikritik.
Empati tidak mengharuskan kita membenarkan semua tindakan. Empati juga tidak berarti kita harus diam ketika melihat ketidakadilan. Justru, empati membantu kita menentukan bagaimana bersikap secara tegas tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Kita dapat menuntut keadilan tanpa mengubah prosesnya menjadi tontonan.
Kita dapat mengkritik perilaku tanpa menyerang seluruh kehidupan seseorang. Kita dapat membantu korban tanpa menyebarkan kembali materi yang mempermalukannya. Dengan demikian, persoalannya bukan apakah kita boleh memberikan penilaian, melainkan apakah kita bersedia bertanggung jawab atas cara kita menilai dan dampak yang ditimbulkannya.
Jangan Sampai Kita Kehilangan Kemanusiaan Demi Perhatian
Kita tidak dapat menghentikan perkembangan teknologi, dan kita tidak perlu menolak media sosial hanya karena sebagian penggunanya menyalahgunakan ruang tersebut. Teknologi tetap dapat menjadi sarana solidaritas, pendidikan, dan perubahan sosial. Yang perlu kita pertanyakan adalah cara kita menggunakannya dan nilai yang kita tempatkan di balik setiap tindakan.
Apakah kita menggunakan perhatian publik untuk memperjuangkan kepentingan bersama, atau justru untuk memperpanjang penderitaan seseorang? Apakah kita menyebarkan informasi karena ingin membantu menyelesaikan masalah, atau karena tidak ingin ketinggalan perbincangan yang sedang ramai?
Pertanyaan itu mengajak kita bercermin, bukan sekadar menunjuk kesalahan orang lain. Sebab, budaya viral tidak hanya dibentuk oleh mereka yang mengunggah konten. Ia juga dibentuk oleh mereka yang menonton, menyukai, mengomentari, dan menyebarkannya. Setiap tindakan kecil ikut menentukan apakah ruang digital menjadi tempat tumbuhnya solidaritas atau arena ketika penderitaan manusia kehilangan maknanya.
Pada akhirnya, kita perlu mengingat bahwa manusia bukanlah konten yang selesai dinilai setelah sebuah video berakhir. Mereka memiliki kehidupan yang terus berjalan setelah layar kita tutup, memiliki perasaan yang tidak selalu terlihat, dan memiliki hak untuk diperlakukan dengan hormat, bahkan ketika mereka melakukan kesalahan. Barangkali, ukuran kedewasaan kita di era digital bukan terletak pada seberapa cepat kita mengetahui sebuah peristiwa, seberapa tajam komentar yang kita tulis, atau seberapa luas informasi yang mampu kita sebarkan.
Ukuran itu justru tampak ketika kita memiliki kesempatan untuk ikut menghakimi, tetapi memilih memeriksa fakta; ketika kita dapat menyebarkan penderitaan seseorang, tetapi memilih menjaga martabatnya; dan ketika kita mampu menarik perhatian publik, tetapi memilih melakukan sesuatu yang benar-benar bermanfaat.
Sebab, tidak semua yang viral membawa kebaikan, dan tidak semua kepedulian harus dipertontonkan. Jangan sampai kita begitu sibuk menyaksikan kehidupan orang lain, hingga lupa bahwa di balik setiap tontonan ada manusia yang harus menjalani hidupnya setelah semua orang selesai menonton.
Mungkin, di tengah dunia yang terus berlomba mencari perhatian, tindakan yang paling manusiawi bukanlah ikut membuat seseorang menjadi pusat perhatian, melainkan memastikan bahwa ia tidak kehilangan martabatnya hanya karena dunia sedang memandangnya. Di sanalah empati menemukan kembali maknanya: bukan sekadar perasaan yang muncul ketika melihat penderitaan, melainkan keputusan untuk tidak menambah luka ketika kita memiliki kesempatan untuk memilih.[T]
Penulis: Hairunnisa Br. Sagala
Editor: Adnyana Ole































