20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
in Esai
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya mirip Padma Buana Bali mini. Pagar spiritual itu sering disebut Pura Pangibeh yang terdiri atas Pura Melang Kaja, Pura Gunung Payung, Pura Melang Kelod, Pura Penyarikan, Pura Batu Pageh, Pura Beji, Pura Dauh Margi, Pura Beji, Pura Toyo Ning, Pura Uma Sang Hyang dengan Pura Pengubengan sebagai pusat. Selain itu, Desa Adat Kutuh juga memiliki Pura Kahyangan Tiga dan Prajapati seperti umumnya desa Adat di Bali.

 Jika menilik dari keberadaan Pura Pengubengan, tidak semua Desa Adat di Bali memiliki Pura Pengubengan sebagaimana juga tidak semua Desa Adat memiliki Pura Penataran. Selain  itu,  Desa Adat Kutuh juga memiliki dua Sekaa Unen  yaitu Sekaa Unen Ratu Ayu Manik Sari dengan penyungsung Krama Banjar Pantigiri  dan Sekaa Unen Sang Hyang Jaran di-sungsung oleh sekaa secara turun-temurun.

Ida  Ratu Ayu Manik Sari dengan iringan penari legong berstana di Pura Desa Adat Kutuh sedangkan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh. Dari perspektif tempat stana, keduanya sama-sama berada di Pusat Desa. Pusat Desa sejak Mpu Kuturan menata Desa Adat di Bali adalah Pura Desa dalam konsep Kahyangan Tiga. Sebelum kedatangan Mpu Kuturan di Bali, tampaknya Desa Adat Kutuh sudah memiliki Pura Pengubengan sebagai pusat Pura Pengibeh. Hal ini diperkuat dengan adanya tradisi Ngelawad dengan memotong  babi hitam jantan (kucit butuan) di Madya Mandala Pura Desa Adat Kutuh.

Ceceran darah kucit butuan yang disembelih di Madya Mandala Pura Desa Adat Kutuh setara dengan tabuh rah dan dilakukan setiap tahun pada Tilem Sasih Kedasa. Ketika peralihan Sasih Kadasa ke Jyesta dari musim hujan ke musim kemarau. Dalam perspektif ke-Kutuh-an, Ngelawad sering diinterpretasikan sebagai ngewaliang ujan (mengembalikan hujan) karena sebelumnya memasuki Sasih Kalima ada tradisi Mendak Ujan (mohon hujan). Tegas sekali ritual itu berbasis agraris. Ritualnya makin marak, laku tindak budaya agraris makin terkikis. Ironis memang.

Dalam tradisi Ngelawad di Desa Adat Kutuh Delod Ceking, kucit butuan yang disembelih di Madya Mandala Pura Desa, tenggek (kepala babi) dan kedua kaki depan dihaturkan di Pura Melang Kaja, pusar babi dipersembahkan di Pura Pengubengan, ekornya di Pura Penyarikan, kaki kanan di Pura Melang Kelod, dan kaki kiri di Pura Batu Pageh. Jadi, ada enam Pura tempat melaksanakan tradisi Ngelawad di Desa Adat Kutuh. Saya memperkirakan Ngelawad ini berkaitan dengan tradisi berburu dahulu kala. Jika memperhatikan wilayah Delod Ceking pada awalnya sebagai hutan tutupan, beraneka binatang termasuk babi hidup di sini. Hasil buruan itu dipersembahkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih. Momentumnya nyaris bersamaan dengan musim panen di kebun.

Sebagaimana disebutkan di atas, Sang Hyang Jaran berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh adalah pemuliaan terhadap Ida Ratu Bagus disungsung sekaa secara turun-temurun. Hubungan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran dengan Ida Ratu Ayu Manik Sari dengan iringan Tari Legong  ibarat paragraf yang padu memenuhi syarat kohesi dan koherensi. Secara kohesi, keduanya memiliki bentuk yang dapat diamati secara kasat mata, melalui penari dengan gelungan pragina (mahkota) yang dipakai hanya saat Ida Batara masolah.

Ida Ratu Ayu Manik Sari diiringi tari legong sedangkan Sang Hyang Jaran awalnya diiringi Tari Andir dan belakangan dengan tambahan genjek.  Dalam sejarahnya, kedua sekaa unen ini, pernah saling meminjam gelungan dibuktikan dengan tersimpannya gelungan Andir milik Sekaa Sang Hyang Jaran di Pelinggih Ratu Ayu Manik Sari di Pura Desa. Pada awal Tahun 2000-an, gelungan itu dituntun kembali ke Pura Pengubengan oleh Sekaa Sang Hyang Jaran.

Secara koherensi, fungsi keduanya sama yaitu diyakini sebagai penolak baya (penolak gering). Baik Ida Ratu Ayu Manik Sari maupun Ida Ratu Bagus dapat dipersonifikasikan sedang menjalankan fungsi pengobatan (dharmaning usadha) untuk keselamatan semesta sekala-niskala.  Itu pula sebabnya, sering krama Desa Adat Kutuh membayar kaul (sesangi) setelah sauh atur untuk mementaskan Tari Legong sebagai pengiring Ratu Ayu Manik Sari. Begitu pula dengan mementaskan Sang Hyang Jaran. Setelah masolah, mereka mohon tirta untuk penyembuhan.

Dari segi pujawali, keduanya juga menjadikan Tumpek Wayang sebagai tegak pujawali. Oleh karena Ida Ratu Ayu Manik Sari berstana di Pura Desa, saat mapajar dilakukan di Madya Mandala Pura Desa dengan iringan Tari Legong. Berbeda dengan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran biasanya mapajar di Jaba Sisi Pura Pengubengan ketika Pujawali berlangsung setiap Tilem Sasih Katiga. Sang Hyang Jaran juga biasa mapajar di Jaba Sisi Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kutuh, saat Pujawali yang jatuh pada Purnama Sasih Kapat. Pilihan kalangan di Jaba Sisi tidak terlepas dari penggunaan bara api sebagai pusat  arena tarian Sang Hyang Jaran.  Ngepuh api (bermain api).

Secara makna, baik Ratu Ayu Manik Sari dengan Tari Legongnya maupun Ratu Bagus dengan Sang Hyang Jarannya termasuk dalam kelompok tari wali yang sakral. Dari sudut kajian gender, kedua sekaa unen di Desa Adat Kutuh merepresentasikan kesetaraan purusa-pradana (laki-perempuan) jika diperhatikan dari sebutan yang disematkan oleh panyungsung-nya.   Sakralitas keduanya yang sesungguhnya sebagai penjaga gawang kebudayaan di Desa Adat Kutuh. Oleh karena itu, keberadaannya perlu diproteksi oleh pemerintah dengan Bantuan Keuangan Khusus tari sakral secara kontinu dan konsisten.

Sang Hyang Jaran yang berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh ditarikan oleh dua penari laki-laki umumnya sudah beristri. Dalam perkembangannya, Sang Hyang Jaran di Desa Adat Kutuh sejak 10 tahun terakhir juga diiringi genjek dengan tradisi metuakan. Sekaa genjek-nya juga  menyiapkan tuak dan diminum. Konsekuensi logis dari tambahan genjek, Sekaa Unen Sang Hyang Jaran juga dilengkapi dengan instrumen geguntagan pengiring lagu genjek. 

Selain itu, dalam 10 tahun belakangan ini,  penari Sang Hyang Jaran juga mengajak penonton/pemedek yang tangkil menari ke tengah kalangan secara bersama-sama. Mirip tarian kolosal spontanitas untuk membangun komunikasi melalui gerak tubuh. Mereka yang di-sawer biasanya tidak ada yang menolak dan menari secara alami tanpa pakem. Itulah ngayah dengan kesadaran tanpa skenario. 

Walaupun diiringi genjek, pakem awal Sang Hyang Jaran tidak ditinggalkan seperti Gending Sang Hyang. … Jaran gading pamedal pasunge kangin,

Jaran gading pamedal pasunge kangin,
angon-angonan I Suwit,
I Suwit mapajeng genta

Mambat mumbul tayungane bagus mamargi,
Pamargine luas ke doha,
Ya mamilihin wong putra doha
Ya wong doha gawok tuminan


Gusti Nyoman,
Magunting payasin badung,
Lamun karsa manunggang jaran,
Jarane dueg mapolah,
Duweg mapolah ngeregah pangkunge kangin
Angon-angonan I Suwit
I Suwit mapajeng genta

Selain tetap mempertahankan gending Sanghyang Jaran yang diwariskan secara turun-temurun oleh sekaa panyungsung, tarian Sang Hyang Jaran yang  ngepuh api (bermain api) dan ngurek (tari keris) oleh penari tetap dipertahankan. Artinya ada unsur trance (kesurupan) yang terus diiringi suara Sekaa Shanti magenjekan, tak ubahnya musik gamelan penyemangat bila ada yang pepatih yang ngurek (ngunying, matebekan, tari keris). Makin semangat tembang pengiringnya magenjekan makin semangat ngurek-nya  Keris yang dipakai pun keris pusaka khusus untuk itu. Tidak boleh keris sembarangan. Dengan kalimat lain, menggunakan keris duwe, bukan keris guwe.

 Kobaborasi Tari Sang Hyang Jaran dengan genjek, selain mempermanis dan memperpanjang pertunjukan, juga memperluas jangkauan penari yang terlibat. Sang Hyang Jaran dengan demikian juga memberikan kesempatan kepada pemedek ngayah menari secara komunal. Kolaborasi ini dibaca sebagai pengembangan Tari Sang Hyang Jaran menerima kecenderungan seni yang bersifat dinamis, apalagi tambahan genjek ini atas wangsit yang diterimapenari Sang Hyang Jaran, sebagaimana dituturkan I Wayan Senga yang menjadi anggota Sekaa Shanti sekaligus Sekaa Unen Sang Hyang Jaran Desa Adat Kutuh. [T]

Tags: desa adat kutuhgenjeksang hyang jaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

Next Post

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

by Sugi Lanus
September 17, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co