PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space – Sanur Art Hub. Pameran diikuti oleh I Made Galung Wiratmaja, I Made Mahendra Mangku, dan I Wayan Arnata.
Kali ini, sesuai data yang saya dapat , saya ingin mengkaji karya I Made Galung Wiratmaja. Karya yang saya kaji meliputi Figure #6, Figure #7, Figur #8. dan Figur #9.
Menurut saya, karya-karya ini menyimpan energi tubuh yang ‘direduksi’ menjadi denyut “warna dan gerak”.
‘Abstraksi figuratif’ di sini tidak lagi menghadirkan sosok manusia sebagai ‘representasi’, melainkan sebagai jejak ‘impuls’.
Menurut Encyclopedia Americana, impuls (impulse) sebagai “hasil dari ‘gaya’ yang bekerja pada ‘suatu benda’ dalam selang ‘waktu tertentu’, yang mengakibatkan terjadinya perubahan ‘momentum’ pada benda tersebut”.

Tafsir saya, impuls pada karya Galung adalah sapuan kuas yang meledak, warna yang berlapis, dan gestur yang seolah merekam gerakan tubuh dalam ruang imajiner – hasil visualnya, adalah “perubahan momentum” dari hasil “eksplorasi kreatif”.
Pada Figure #6, dominasi merah muda, kuning, dan abu-abu membentuk semacam tubuh yang rapuh sekaligus bergairah.
Figur ini tampak seperti sedang muncul dari latar, seakan proses kelahiran atau transformasi. Ada ketegangan antara garis yang kasar dan bidang warna yang lembut, menandakan tarik-menarik antara ‘dorongan personal’ dan ‘struktur kolektif’.
Sementara Figure #7 lebih dinamis: sapuan oranye dan merah yang berbaur dengan abu-abu dan putih menciptakan figur yang seolah bergerak, berputar, atau menari.
Latar hangat memperkuat kesan energi yang memancar keluar, bukan sekadar tertahan di dalam tubuh. Jika Figure #6 adalah figur yang ‘mencari bentuk’, maka Figure #7 adalah figur yang ‘meledak dalam gerak’.

Kedua karya ini bisa dibaca sebagai kelanjutan eksplorasi ‘abstraksi Bali’ yang tidak hanya berurusan dengan ‘formalisme Barat’, tetapi juga dengan pencarian “identitas tubuh dan jiwa”.
Galung Wiratmaja menghadirkan tubuh sebagai “impulse” – dorongan yang tidak selesai menjadi ‘representasi’, melainkan terus bergerak, berdenyut, dan membuka ‘ruang interpretasi’.
Menurut saya, karya Figure #6 dan Figure #7ini dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan tubuh yang tidak pernah selesai menjadi ‘citra’, melainkan terus bergerak sebagai ‘denyut warna’.
Dalam Figure #6, tubuh hadir sebagai bayangan yang rapuh, seolah baru saja lahir dari lapisan warna merah muda, kuning, dan abu-abu.
Figur ini bukan ‘representasi anatomis’, melainkan semacam “petilasan gerak” yang ditinggalkan oleh kuas. Ada rasa pencarian: tubuh yang belum mapan, masih dalam “proses menjadi”.
Sapuan kasar dan bidang lembut saling bertentangan, menandakan tarik-menarik antara “dorongan personal” dan “struktur kolektif”.
Sebaliknya, Figure #7 adalah tubuh yang sudah meledak dalam gerak. Oranye dan merah berbaur dengan abu-abu dan putih, menciptakan figur yang seolah menari atau berputar.

Latar hangat memperkuat kesan energi yang memancar keluar. Jika karya sebelumnya adalah tubuh yang mencari bentuk, maka di sini tubuh adalah denyut yang melampaui dirinya sendiri, sebuah energi yang tak tertahankan.
Dengan demikian, Figure #6 dan Figure #7 dapat dibaca sebagai pasangan: satu menandai ‘kelahiran’, yang lain menandai ‘dinamika gerak’.
Keduanya bersama-sama memperlihatkan bagaimana tubuh abstrak Bali menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas, antara dorongan personal dan denyut kolektif.
Pada tulisan ini Saya ingin memadankan karya Galung, khususnya “Figure #7” dengan karya William de Koning “Woman1”.
Jika kita fokus hanya pada Galung Wiratmaja (Figure #7) dan Willem de Kooning (Woman I). maka padanan keduanya terletak pada cara tubuh perempuan diolah sebagai ‘energi gestural’ yang cair antara ‘figurasi dan abstraksi’.
Galung menghadirkan profil perempuan yang larut dalam sapuan warna oranye, merah, kuning, dan coklat.
Figur ini tidak hadir sebagai ‘potret anatomis’, melainkan sebagai ‘denyut atmosfer’, tubuh yang sedang larut dalam ruang warna.
Ada keintiman dan keheningan yang khas, seolah tubuh itu muncul dari pengalaman lokal Bali, dengan nuansa “spiritual dan personal”.
De Kooning, dalam Woman I, menampilkan tubuh perempuan sebagai ledakan kuas – figur yang terdistorsi, penuh energi, dan riuh. Tubuh di sini menjadi medan pertempuran antara ‘representasi’ dan ‘abstraksi’, antara citra perempuan dan energi cat yang meledak.
Padanan lain, keduanya – sama-sama menjadikan tubuh perempuan bukan sebagai “citra realistis”, melainkan sebagai “impuls visual”. Sama-sama menggunakan warna dan gestur sebagai bahasa utama untuk menghadirkan tubuh.
Perbedaannya: De Kooning lebih brutal, riuh, dan penuh ‘ketegangan psikologis’. Galung lebih intim, cair, dan berakar pada atmosfer spiritual Bali.
Dengan demikian, Figure #7 dapat dibaca sebagai “jawaban Bali” atas tradisi ‘abstrak figuratif’ dunia – berdialog langsung dengan ‘intensitas gestural’ De Kooning, namun menegosiasikan akar lokal sebagai ‘lanskap spiritual’.

Figure #8 karya Galung Wiratmaja adalah semacam tubuh yang meleleh ke dalam lanskap warna. Sapuan hijau, merah, ungu, dan kuning tidak membentuk sosok yang utuh, melainkan pecahan energi yang berlapis. Figur itu seakan hanyut, menjadi pusaran atmosfer yang terus bergerak.
Ia bukan citra yang selesai, melainkan “gema visual” – denyut yang berulang, riak warna yang menolak diam, tubuh yang berubah menjadi “medan kosmos”. sebuah “impuls visual” yang terus bergerak, membuka ruang tafsir antara tubuh dan lanskap abstrak.
Selanjutnya, saya juga ingin mengkaji Karya Figure #9 Galung Wiratmaja. Figure #9, merupakan wajah abstrak yang digoreskan dengan garis putih di atas lapisan kuning, hijau, dan coklat.
Ini dapat dipadankan dengan sejumlah perupa dunia yang menempatkan wajah sebagai medan ekspresi, bukan sekadar representasi anatomis. Saya ingin memadankannya dengan karya Jean-Michel Basquiat.

Pada kajian kali ini, saya memadanan karya Jean-Michel Basquiat (Cabeza) dengan karya I Made Galung Wiratmaja (Figure #9).
Menurut saya, ini dapat dibaca sebagai pertemuan dua wajah dunia yang lahir dari konteks berbeda, namun sama-sama menolak wajah sebagai ‘citra anatomis’ yang tenang.
Basquiat, dengan Cabeza, menghadirkan kepala sebagai ikon urban yang riuh, penuh garis kasar, warna kontras, dan ‘distorsi anatomis’.
Wajah itu bukan potret, melainkan ‘teriakan jalanan’, simbol trauma dan identitas yang meledak dalam ‘energi grafiti’ dan ‘pop culture’ New York 1980-an. Ia adalah wajah yang terbuka, ‘penuh luka’, namun sekaligus ‘penuh vitalitas’.
Galung, dengan Figure #9, menampilkan wajah yang digoreskan dengan garis putih sederhana di atas lapisan warna kuning, hijau, dan coklat.
Wajah ini seolah tersenyum, namun larut dalam ‘atmosfer warna’ yang berdenyut. Ia bukan ‘potret realis’, melainkan ‘tanda gestural’ yang lahir dari pengalaman ‘spiritual Bali’, dari ‘tradisi rajah’ yang menempatkan wajah “sebagai simbol kosmos”.
Keduanya bertemu dalam satu medan – wajah sebagai energi. Basquiat menyalakan wajah sebagai ‘ledakan urban’, penuh kegelisahan ‘sosial dan psikologis’.

Galung menyalakan wajah sebagai ‘denyut kosmos’, penuh keheningan spiritual dan atmosfer lokal. Basquiat berteriak, Galung berbisik. Basquiat menorehkan luka, Galung menorehkan keheningan yang ‘subtil’.
Namun justru dalam perbedaan itu, keduanya saling melengkapi. Cabeza dan Figure #9 memperlihatkan bahwa ‘wajah abstrak’ adalah simbol ‘universal’ tentang manusia. Energi yang tidak selesai menjadi ‘citra’, melainkan terus bergerak antara tanda, tekstur, dan atmosfer.
Dari jalanan New York hingga kosmos Bali, wajah menjadi rajah dunia – peta batin yang menolak diam, menolak selesai, dan terus berdenyut dalam warna.

Akhir kata, perkenankan saya menempatkan Cabeza dan Figure #9 dalam “dialog lintas benua” – dua seniman yang, dengan bahasa berbeda, sama-sama mengingatkan bahwa “wajah bukan sekadar potret”, melainkan medan energi yang membuka “ruang tafsir tanpa batas”. Begitulah ‘pembacaan’ saya. [T]





























