BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk berbahasa Bali melalui single keduanya, “Bukan Pemenang Hatimu”.
Band yang digawangi Satria (vokalis), Obin (gitaris), Arsia (gitaris), Erin (bassist), serta Yuda (drummer) tersebut resmi merilis single lengkap dengan video klip. Bagi Satria N Band, karya terbaru ini bukan sekadar kelanjutan perjalanan bermusik, melainkan ruang untuk mengeksplorasi identitas musikal sekaligus menyampaikan cerita personal kepada pendengar.
Proses pengerjaan “Bukan Pemenang Hatimu” berlangsung sekitar lima minggu. Sebulan digunakan untuk menata aransemen musik, sementara produksi video klip dikerjakan selama satu minggu.
“Lewat balutan cerita kehidupan dan dinamika emosi, Satria N Band bertekad memperkenalkan identitas musikal yang autentik kepada publik,” ujar Satria (vokalis) saat konferensi pers, Jumat, 4 September 2026.
Cerita personal itu terasa kuat dalam “Bukan Pemenang Hatimu”. Lagu tersebut diangkat dari pengalaman Satria ketika masih remaja. Liriknya bercerita tentang seseorang yang berusaha mempertahankan hubungan asmara, tetapi terus dihantui keberadaan mantan kekasih pasangannya.
Perjuangan mempertahankan cinta itu perlahan berubah menjadi luka. Ada perasaan kalah dari seseorang yang bahkan sudah menjadi bagian dari masa lalu. Posisi sebagai pasangan yang hadir di masa kini terasa tidak cukup ketika bayang-bayang masa lalu masih mendominasi hubungan.
“Secara filosofis, karya ini merangkum keraguan mendasar seseorang saat berada dalam hubungan yang tidak seimbang. Satria N Band ingin membedah dinamika perasaan di saat seseorang merasa hanya dijadikan sebagai pelampiasan sementara. Lagu ini menjadi cerminan rasa lelah atas pembandingan yang tidak adil dalam sebuah jalinan kasih,” tutur Satria.
Pilihan pop-punk menempatkan Satria N Band ke dalam skena yang sebenarnya sudah cukup lama tumbuh di Bali. Sejumlah band telah memainkan genre ini, tetapi tidak semuanya berhasil mendapatkan tempat yang kuat di industri musik Bali. Karena itu, tantangan Satria N Band bukan sekadar memainkan pop-punk, tetapi juga membangun identitas yang kuat agar musik mereka dapat menemukan pendengarnya.
Di titik ini, keputusan membawa bahasa Bali ke dalam pop-punk menjadi menarik. Perpaduan tersebut memberikan ruang bagi Satria N Band untuk mencari karakter sendiri, sekaligus menjadi upaya memperluas kemungkinan musik berbahasa Bali di tengah lanskap musik yang dinamis.
Satria sendiri berharap agar musik mereka dapat menjangkau pendengar lebih luas, tidak hanya di Bali. Mereka juga berencana menjaga kesinambungan karya dengan menyiapkan single ketiga yang dijadwalkan meluncur pada akhir tahun ini.
“Lagu yang kami bawakan bergenre pop-punk. Melalui proyek ini, saya ingin memperkenalkan identitas serta karakter musikal secara lebih dekat kepada para pendengar. Dan saya ingin menambah suasana baru lagu Bali, Satria N Band memadukan cerita kehidupan, dinamika emosi, dan warna musik yang autentik. Astungkara, kami berharap musik dengan lirik bahasa Bali bisa diterima oleh semua,” ucap Satria.
“Bukan Pemenang Hatimu” tidak berhenti pada musik. Lagu tersebut juga diterjemahkan ke dalam video klip yang disutradarai Dika Pratama.
Visualnya mengambil gambar di Dragon Sound Bali Denpasar, Pusat Kebudayaan Bali (PKB) Klungkung, Bedugul Tabanan, dan Shortcut Buleleng–Denpasar. Proses tersebut menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam menentukan sudut pengambilan gambar yang tepat agar visual yang dihasilkan tetap memiliki nilai estetika.
“Kami buat sesuai dengan musik agar lebih berkesan. Kesulitannya saat mengambil shoot yang masih kurang menarik. So far, aman,” kata Dika.
Video klip turut diperkuat Pebria Satyani sebagai model utama. Ia memerankan karakter egois yang menjadi bagian dari alur cerita. Kemampuannya di depan kamera disebut membantu proses pengarahan sekaligus membangun dinamika peran.
Namun, karakter tersebut bukan peran yang sederhana. Pebria mengaku perlu melakukan pendalaman agar hubungan antarkarakter dapat terasa meyakinkan di depan kamera.
“Butuh pendalaman peran agar chemistry antara saya dan vokalis dapat menyatu dalam satu frame. Untuk ke depannya tentu saya berharap dapat berkolaborasi kembali dengan Satria N Band,” ujar Pebria Satyani.
Antara Kesegaran Musik dan Kebahasaan
Kehadiran Satria N Band patut diapresiasi. Bukan karena mereka membawa pop-punk, melainkan karena mereka berani mengambil bagian dalam skena yang sudah memiliki banyak pelaku, tetapi belum semuanya memperoleh tempat di industri musik Bali.

Di tengah kecenderungan musik Bali yang kerap bergerak dalam pola-pola yang klise, Satria N Band dengan pop-punk berbahasa Bali menawarkan alternatif. Tantangannya pun tidak ringan. Genre ini sudah memiliki ekosistemnya sendiri, sehingga Satria N Band perlu menemukan pembeda agar tidak sekadar menjadi nama lain di antara banyak band yang bermain di genre serupa.
Ketika pertama kali mendengar “Bukan Pemenang Hatimu”, ada sesuatu yang terasa sedikit mengganjal. Salah satunya terletak pada pilihan bahasa. Upaya mencampurkan bahasa Bali dan bahasa Indonesia—atau dalam istilah kebahasaan disebut campur kode—sebenarnya merupakan strategi yang masuk akal untuk mendekatkan lagu kepada generasi masa kini.
Persoalannya kemudian bukan pada campur kode itu sendiri, melainkan pada ketepatan kosakata ketika ditempatkan sebagai lirik lagu.
Misalnya pada bagian, “Jujur beli capek”. Dalam percakapan sehari-hari, frasa tersebut terdengar wajar. Namun ketika dinyanyikan dalam konstruksi lagu yang dominan menggunakan bahasa Bali, pilihan ‘capek’ terasa sedikit mengganjal. Secara musikal dan kebahasaan, kata ‘lelah’ mungkin terasa lebih menyatu, atau jika ingin mempertahankan bahasa Bali, pilihan ‘kenyel’ bisa menjadi alternatif.
Tentu, penilaian tersebut bersifat subjektif. Bisa saja pemilihan kata ‘capek’ memang sengaja dipertahankan untuk menghadirkan kedekatan dengan bahasa percakapan generasi sekarang.
Hal serupa terasa pula pada bagian reff, “Dia mula dadi pemenang hatimu”. Penggunaan kata ‘Dia’ kembali menghadirkan sedikit jarak dengan konstruksi bahasa Bali yang digunakan pada bagian lain. Pilihan “Iya mula dadi pemenang hatimu” mungkin terdengar lebih menyatu secara kebahasaan.
Di luar persoalan lirik, aransemen musik menjadi salah satu kekuatan “Bukan Pemenang Hatimu”. Balutan pop-punk memberikan suasana yang lebih segar dan membuat lagu ini memiliki karakter berbeda dibandingkan karya-karya lain yang lebih konvensional.
Satria N Band memang belum menawarkan sebuah formula yang sepenuhnya sempurna. Ada beberapa bagian yang masih dapat dipertajam, terutama dalam pemilihan diksi agar bahasa dan karakter musiknya dapat menyatu lebih natural.
Tetapi keberanian mereka untuk mencoba patut diapresiasi. “Bukan Pemenang Hatimu” setidaknya menunjukkan bahwa bahasa Bali tidak harus selalu hadir dalam warna musik yang sama. Ia bisa dibawa ke wilayah pop-punk, membawa kisah patah hati yang sangat personal, sekaligus membuka kemungkinan baru bagi musik Bali.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























