Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan?
PERTANYAAN sederhana itu patut kita renungkan ketika Tumpek Uye kembali hadir dalam kehidupan masyarakat Bali. Sebab, di tengah pendidikan yang semakin sibuk berbicara tentang kompetensi, teknologi, prestasi, dan masa depan, ada satu hal yang kadang luput, yaitu mengajarkan manusia untuk menghormati kehidupan.
Tumpek Uye sering dipahami sebagai momentum untuk menghormati sarwa prani, segala makhluk hidup, terutama binatang. Namun, jika dibaca dari perspektif pendidikan, maknanya jauh lebih luas. Tumpek Uye mengajarkan sebuah kesadaran penting bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada tumbuhan, hewan, air, tanah, dan seluruh ekosistem yang menopang kehidupan manusia. Persoalannya adalah, apakah nilai itu sudah benar-benar menjadi bagian dari pendidikan kita?
Mengetahui Tidak Selalu Berarti Peduli
Di sekolah, anak-anak telah belajar banyak tentang lingkungan. Mereka mengenal pencemaran, perubahan iklim, ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pentingnya menjaga alam. Mereka juga sering diajak menanam pohon, membersihkan lingkungan, atau memilah sampah.

Semua itu baik. Tetapi pendidikan tidak cukup berhenti pada pengetahuan saja. Anak mungkin tahu bahwa sampah plastik berbahaya bagi lingkungan, tetapi apakah ia merasa bertanggung jawab ketika membuang plastik sembarangan? Anak mungkin tahu bahwa hewan harus disayangi, tetapi apakah ia memiliki pengalaman merawat makhluk hidup? Anak mungkin hafal bahwa pohon menghasilkan oksigen, tetapi apakah ia pernah merawat pohon sampai tumbuh dan merasakan bahwa kehidupan membutuhkan kesabaran?
Di sinilah terdapat jarak antara mengetahui nilai dan menghidupi nilai. Pendidikan seharusnya memperkecil jarak tersebut. Karakter tidak tumbuh hanya melalui nasihat. Ia juga tumbuh melalui pengalaman, pembiasaan, dan keteladanan. Karena itu, pendidikan lingkungan semestinya tidak hanya mengajarkan anak tentang alam, tetapi memberi mereka kesempatan untuk berhubungan langsung dengan alam.
Tumpek Uye Jangan Berhenti pada Ritual
Tumpek Uye dapat menjadi momentum untuk melakukan itu. Sekolah dapat menjadikan lingkungan sebagai ruang belajar. Anak-anak dapat diajak mengamati berbagai jenis tanaman dan hewan di sekitar sekolah, merawat kebun, membuat habitat sederhana bagi burung atau serangga, mengelola sampah, atau mempelajari bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi kehidupan.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana dapat menjadi pintu pembelajaran. Mengapa kupu-kupu semakin jarang terlihat? Mengapa cacing penting bagi tanah? Apa akibatnya kalau membuang sampah ke sungai? Mengapa pohon tertentu harus dipertahankan? Bagaimana manusia dapat memelihara hewan secara bertanggung jawab?
Dari pertanyaan tersebut, berbagai mata pelajaran dapat bertemu. Biologi berbicara tentang ekosistem. Pendidikan karakter berbicara tentang tanggung jawab. Bahasa mengajarkan kemampuan mengomunikasikan gagasan. Matematika dapat digunakan menghitung produksi sampah sekolah. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat sistem pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Dengan demikian, Tumpek Uye tidak berhenti sebagai pengetahuan budaya atau kegiatan seremonial. Ia mesti berubah menjadi pengalaman belajar yang nyata. Dari slogan menjadi budaya.

Kita perlu jujur mengakui bahwa pendidikan kadang terlalu mudah membuat slogan. Sekolah berbicara tentang kepedulian lingkungan, tetapi belum tentu pengelolaan lingkungannya baik. Kita berbicara tentang keharmonisan manusia dengan alam, tetapi masih menghadapi persoalan sampah, pemborosan air, dan perilaku yang tidak ramah lingkungan. Ini bukan alasan untuk menyalahkan sekolah. Justru menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi.
Kearifan lokal seperti Tumpek Uye seharusnya tidak sekadar menjadi hiasan identitas budaya. Nilai di dalamnya perlu diterjemahkan menjadi budaya sekolah. Jika ingin mengajarkan kepedulian, sekolah harus menjadi tempat yang peduli. Jika ingin mengajarkan tanggung jawab terhadap lingkungan, anak harus diberi tanggung jawab nyata terhadap lingkungan. Jika ingin mengajarkan kasih sayang terhadap makhluk hidup, anak harus diberi kesempatan untuk merawat kehidupan. Dengan cara demikian, nilai budaya tidak berhenti di ruang upacara, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari.
Pendidikan yang Tidak Menempatkan Manusia sebagai Pusat
Tumpek Uye juga mengajak kita mengoreksi cara pandang manusia modern yang sering menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan. Hutan dilihat sebagai sumber ekonomi. Hewan dilihat sebagai komoditas. Tanah dihitung berdasarkan nilai jual. Sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan.
Ketika segala sesuatu diukur berdasarkan manfaatnya bagi manusia, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk menghargai kehidupan karena kehidupan itu sendiri. Pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mengubah cara pandang tersebut.

Anak-anak perlu belajar bahwa alam bukan sekadar sesuatu yang dapat dimanfaatkan, tetapi sesuatu yang harus dirawat. Hewan bukan benda, melainkan sesama makhluk hidup. Pohon bukan hanya penghias halaman, tetapi bagian dari ekosistem. Dan lingkungan bukan warisan yang boleh kita habiskan, melainkan titipan untuk generasi berikutnya. Inilah pendidikan ekologis yang sesungguhnya.
Belajar dari Kearifan Lokal
Bali sesungguhnya memiliki modal budaya yang kuat untuk membangun pendidikan semacam itu. Nilai sarwa prani dalam Tumpek Uye dapat berdialog dengan ilmu pengetahuan modern tentang ekologi dan keberlanjutan.
Kearifan lokal memberi dasar nilai, sementara ilmu pengetahuan memberi cara untuk memahami persoalan dan menemukan solusinya. Pertemuan keduanya dapat melahirkan pendidikan yang tidak tercerabut dari budaya, tetapi tetap relevan menghadapi tantangan zaman.
Karena itu, memperkenalkan Tumpek Uye kepada anak-anak tidak cukup dengan menjelaskan sejarah dan tata caranya. Yang lebih penting adalah mengajak mereka menemukan makna di balik ritual dan menerjemahkannya ke dalam tindakan.
Mungkin sekolah dapat menjadikan Tumpek Uye sebagai momentum enam bulanan untuk mengevaluasi “jejak ekologis” sekolah. Berapa banyak sampah yang dihasilkan, berapa banyak air digunakan, berapa banyak tanaman dirawat, bagaimana keberadaan hewan di sekitar sekolah, dan apa yang dapat diperbaiki? Dengan begitu, sebuah hari suci dapat melahirkan tindakan nyata.
Menghormati Kehidupan
Pada akhirnya, Tumpek Uye bukan hanya tentang menyayangi binatang. Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar bahwa bagaimana manusia memperlakukan kehidupan.
Ketika seorang anak belajar merawat tanaman, ia belajar kesabaran. Ketika ia merawat hewan, ia belajar tanggung jawab. Ketika ia menjaga kebersihan lingkungan, ia belajar bahwa tindakannya memiliki akibat bagi kehidupan lain. Ketika ia menjaga alam untuk generasi berikutnya, ia belajar berpikir melampaui kepentingan dirinya sendiri. Bukankah semua itu adalah tujuan pendidikan?
Maka dari itu, barangkali Tumpek Uye perlu kita baca kembali. Bukan hanya sebagai tradisi yang harus diwariskan, tetapi sebagai gagasan pendidikan yang perlu dihidupkan. Pendidikan tidak cukup menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil. Ia juga harus melahirkan manusia yang memiliki kepekaan terhadap kehidupan.
Karena sesungguhnya, masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu menguasai alam. Masa depan membutuhkan manusia yang mampu hidup bersama alam. Mungkin pula, dari sanalah kita perlu memulai kembali pendidikan. Kita bukan hanya mengajarkan anak bagaimana menjadi manusia yang sukses, tetapi menjadikan manusia yang bertanggung jawab terhadap kehidupan. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole



















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)








