3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

I Wayan Westa by I Wayan Westa
September 3, 2026
in Ulas Rupa
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

Energi 2 Naga, Acrylic on canvas, 250cm x 300cm, 2026 --- Karya Ketut Suasana yang dipamerkan di di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di tahun 2000, kini tersisa 64.000-an hektar di 2024. BPS mencatat alih fungsinya mencapai 750 hektar per tahun. Di Denpasar saja, 278 hektar area subak tergerus dalam 4 tahun terakhir. Di Badung, Subak Kedungu menyusut dari 57 hektar jadi 43 hektar dalam 3 tahun.

Dari tahun 2015 -2024,  sepanjang sembilan tahun berjalan, DAS Ayung  menyusut 459 ha. Dari 2.000 ha jadi 1.500 ha. Di tengah poranda itu, di sebuah ruang putih di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud, I Ketut Suasana —  Kabul demikian kami  kerap memanggilnya — datang dengan tarian garis melankoli. Kalem penuh jejak  meditatif.

Dalam pameran tunggalnya “Nectar Waggle”,  Kabul tidak melukis api,  tidak juga  melukis ranjau perang.  Kabul melukis lebah. Ribuan koloni  lebah dibuat menari di atas kanvas yang lebarnya melebihi tinggi badan. Kabul seperti memberi sinyal, perihal makin rentannya hunian hijau, bunga-bunga tidak lagi menghias bukit dan lembah – lalu lebah  pun dibawa menari di atas kanvas. Di situ, di kanvas putih,  jiwa sang pelukis seakan ikut  nelangsa,  menari dalam  tarian warna dan garis.

Ia tahu, hilangnya koloni lebah bertemali langsung dengan kerusakan dan terancamnya ekosistem. Ketika lebah hilang, bunga tidak diserbuki. Ketika bunga mati, tanah jadi gersang. Ketika tanah gersang, manusia juga kehilangan nutrisi unggul.  Di titik ini, bisa jadi kita adalah  penikmat residu —  nyata; ada ribuan anak-anak keracunan dalam program  makan bergizi gratis. Saban hari jadi pemandangan menyesakkan. Ini tanda. Tanda agar kita lebih peka memahami  sanitasi dan apa yang kita makan.

Nektar atau madu adalah inti dari hidup. Dihasilkan  koloni liar bernama lebah. Tapi sayangnya, belakangan ini manusia tak cukup mengerti arti lebah bagi keberlangsungan  lingkungan. Kita terlalu sibuk menghitung pancang -pancang investasi beton bertulang, sampai lupa menghitung koloni lebah yang pelan-pelan menghilang dari lingkungan dekat kita. Karena itu Ketut Kabul, entah kebetulan atau sengaja, seperti mengingatkan  kita lewat kanvas itu. Atau, barangkali sang pelukis serba bisa ini meniatkan nektar abadi – layaknya meniatkan soma, minuman surga  yang diperebutkan sengit para dewa dan raksasa.

Elu & Lesung, Acrylic on canvas, 200cm x 300cm (Diptych) 2025 –— Karya Ketut Suasana yang dipamerkan di di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud

Dus, di Ubud, di tengah hiruk pariwisata, lebah cukup dihadirkan di atas bidang lukis. Di kanvas-kanvas  yang melebar tinggi, Kabul mencurahkan kesuntukannya; hanya untuk melukis lebah dan nektar. Dan di saat itulah  orang mesti insyaf. Saat lebah, atau makhluk apa pun, dipindah ke kanvas atau museum, pertanda ada ekosistem  terputus. Bunga-bunga tak lagi sanggup merawat lebah. Serbuk sari tak lagi berpindah. Lalu pelan-pelan, nektar  menghilang.

Lewat “Nectar Waggle”, Kabul tidak cuma menunjukkan kesuntukan dan ketangguhan.  Ia jua menunjukkan kesunyian meditatif. Kerja kreatif yang nyaris naturalis. Ruang sunyi yang kerap digoda rasa jemu. Jutaan lebah dilukis dengan konsistensi tinggi. Satu demi satu. Titik demi titik. Hingga kerja ini nyaris menjadi tindakan meditasi. Ya, itulah meditasi kreatif. Di kanvas-kanvas  lebar memanjang itu,  Kabul  menekuk titik konsentrasi. Merupa makhluk kecil penghasil madu,  nektar kehidupan. Tangannya seperti pengkloning cerdas – lebah-lebah terbang digurat dengan presisi yang sama, tidak acak,  namun konsisten.

Dan di situ kita melihat warna-warna Kabul, penuh keranuman, kadang murung  penuh konsistensi.  Seperti warna suara riungan lebah di lembah  dalam mendung panjang. Dari belasan lukisan nektar yang dipajang di galeri Komaneka, dengan warna-warna yang tak menyengat, Kabul seperti memekakkan batinnya sendiri. ”Inilah meditasi kreatifku, berharap nektar surgawi mendekatiku.”

Kabul seperti berbisik pelan: betapa manusia kini, dengan merusak lingkungannya, pelan-pelan ditinggalkan nektar kehidupan. Dan madu  murni yang awet ribuan tahun itu  pelan-pelan  jadi barang  langka di  bumi. Namun Kabul selalu optimis. Ada banyak jalan, di mana lebah selalu memberi harapan. Nun di ribuan tahun  berjalan, koloni ini jadi contoh penabung paling konsisten.  Saat musim bunga-bunga, ia menabung madunya di kapsul-kapsul lunak untuk dinikmati saat panceklik. Beda dengan kumbang yang lain, ia tak bisa menabung. Perburuannya ke tengah alam untuk santapan hari itu saja.

Introspeksi Diri, Acrylic on canvas, 170cm x 170cm, 2026 — Karya Ketut Suasana yang dipamerkan di di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud

Menurut Kabul, hanya lebah-lah serangga terbang yang memiliki keunikan. Ia bisa menciptakan madu, sekaligus mengeluarkan racun. Madu, cairan abadi itu ternyata keluar dari serangga terbang ini – yang di ujung pantatnya tersimpan jarum lancip penghasil racun. Sayapnya yang kecil benggetar 200 kali per detik, membawa pesan nektar dari bunga ke bunga. Dari aktifitas terbang itulah ”waggle dance”, tarian kehidupan. Dari sini Ketut Suasana lalu  memaknai lebah   sebagai pembawa ”madu dan racun”,  lalu dibahasakan sebagai rwa bhineda. Sang pembawa baik kehidupan dan kematian.

Bila manusia  selalu bijak merawat alam, tarian lebah itu pasti senantiasa membawa nektar. Sebagaimana juga harapan Ketut Kabul, menjadikan setiap goresan tindakan meditatif. Dan karena itu, Kabul lebih memilih proses ”menjadi” tinimbang ”memiliki”. Saban hari ia melukis lebah di kanvas, ia menikmati  ritual ini sebagai proses menjadi, seperti juga laku meditasi itu. Berharap ”nektar intuitif-nya” mengalir di kanvas.  Seperti itu pula batinnya bekerja. Kabul merindukan nektar kreatif, kelak ia juga menemukan nektar kehidupan.

Dalam lukisan bertajuk ”Elu & Lesung” misalnya, orang bisa dengan bebas menafsir-nafsir  tanda. Bisa jadi Kabul tengah menghadirkan pertemuan mistis, ”sanggama tantrik”  yang menggoda lebah mengawini bunga-bunga. Dari ”perkawinan” lebah dengan putik sari itulah nektar tercipta. Maka lukisan bertajuk ”Elu & Lesung itu adalah pertemuan cipta lingga-yoni. Layaknya juga pertemuan langit dan bumi. Atau, boleh jadi Kabul memilki simpul yang lain, tanda  bagaimana  alam bekerja menghasilkan nektar – bagaimana pula sang pelukis bekerja menghasilkan nektar intuitif.

“Nectar Waggle”. Tarian lebah, seperti tarian semesta hidup, ketika menemukan  bunga-bunga, ia menari memutar, lalu koloni lain mengikut. Tanpa pemimpin. Tanpa perintah. Hanya  terkoneksi  getaran sayap, lebah senantiasa menari mengejar putik sari. Ini semacam perjumpaan mistis, dimatangkan kesunyian – di mana putik-putik luruh dalam tarian pagi para lebah –  dan dari perjamuan pagi itu nektar tercipta. Iya, Kabul sedang menari, menarikan tarian lebah, serangga terbang pembawa madu dan racun.

Mungkin itu yang ingin Kabul katakan. Bahwa menyelamatkan bumi tidak harus selalu berisik. Kadang cukup dengan duduk, menunduk, dan melukis satu lebah dengan setia –  sampai  ribuan koloni lebah berkumpul di kanvas – walau tanpa dengung dan riungan — seperti upacara pagi koloni lebah. Kabul seolah bertanya kalau lebah sekecil itu masih mau menari mencipta nektar,  kita menari untuk apa? Entah. Sebagaimana keawetan madu ribuan tahun itu,  Kabul seperti ingin abadi. Karya-karya senantiasaa mengusik, bertahan untuk setiap masa.  Sebagaimana kekuatan nektar itu sendiri.

Ketut Suasana sedang berkarya

Kabul seperti memberi kabar untuk generasi seribu tahun kelak, bahwa nektar-lah yang menjadi perburuan abadi bagi semua yang hidup. Sebab di  situ, dibalik kegelisahan dirinya, orang-orang  tengah kehilangan kemurnian. Seperti juga alam kehilangan nektar – layaknya dewa kehilangan soma. Kabul tengah berjuang mengawetkan perburuan intuitifnya, sementara lebah berjuang dari bunga menuju bunga. [T]

Kamis, 3 September 2026

Pakubuan Kusa Agra

Tags: I Ketut Suasana KabulKomaneka Fine Art GalleryPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Next Post

Gol versus Gul

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails
Next Post
Gol versus Gul

Gol versus Gul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co