6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepi Tak Berarti Tiada

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 2, 2026
in Esai
Sepi Tak Berarti Tiada

Poli Psikiatri sebuah rumah sakit di Denpasar-Bali. (Foto: Angga Wijaya)

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki masalah mental lalu datang ke rumah sakit untuk memeriksakan diri adalah orang-orang pemberani.

Sebab, datang ke Poli Jiwa atau Psikiatri berarti seseorang berani mengakui bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam dirinya. Ia memilih mencari pertolongan, alih-alih terus menyembunyikan, menyangkal, atau menganggap persoalannya sebagai sesuatu yang sepele.

Kini, menjadi pasien Poli Jiwa atau Psikiatri bukan lagi sesuatu yang luar biasa, terutama di kota-kota besar. Isu kesehatan mental juga semakin banyak dibicarakan, terutama oleh generasi muda, termasuk melalui berbagai konten di media sosial.

Tetapi ada sesuatu yang kemudian terasa ganjil. Ketika seseorang memiliki atau merasa ada yang aneh dengan perilaku, pikiran, dan emosinya, ia justru membiarkannya bertahun-tahun. Dianggap sepele. Dianggap hanya sedang banyak pikiran, kurang bersyukur. Atau mungkin dianggap kurang kuat menghadapi hidup.

Padahal, dampaknya bisa panjang. Bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi pasangan, anak, orang tua, dan anggota keluarga lainnya. Cap seperti dalam bahasa Bali, buduh-buduhan, yang kira-kira berarti agak gila, memang kadang terdengar lucu dalam percakapan sehari-hari. Tetapi di balik kelucuannya ada ironi. Sebab, istilah semacam itu dapat membuat persoalan kesehatan jiwa terasa sebagai bahan lelucon, bukan sesuatu yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.

Banyak orang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami persoalan kesehatan mental. Sebagian mungkin mengalami tekanan psikologis yang membutuhkan perhatian, sementara sebagian lainnya mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan profesional.

Persoalan ini bukan sesuatu yang kecil. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa Bali memiliki prevalensi rumah tangga dengan anggota rumah tangga yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis sebesar 11,1 per mil. Artinya, secara statistik terdapat sekitar 11 rumah tangga dari setiap 1.000 rumah tangga yang memiliki anggota rumah tangga dengan kondisi tersebut. Angka Bali merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Di Kota Denpasar, berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensinya tercatat 80 per mil. Angka ini memang bukan jumlah seluruh orang yang mengalami persoalan kesehatan mental di Denpasar. Ia merupakan indikator rumah tangga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis.

Karena itu, angka tersebut seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai statistik. Di balik setiap angka ada manusia, keluarga, dan orang tua yang mungkin bingung. Ada pasangan yang mungkin tidak mengerti, dan ada anak yang mungkin tumbuh bersama situasi yang tidak mudah.

Dan mungkin ada pula orang yang sampai sekarang belum pernah datang ke rumah sakit. Di sinilah judul tulisan ini menjadi penting; sepi tak berarti tiada. Poli Psikiatri yang sepi bukan berarti masyarakat di sekitarnya bebas dari persoalan kesehatan mental. Bisa jadi justru sebaliknya. Ada banyak orang yang sedang berjuang dalam diam.

Mereka mungkin masih bekerja, pergi ke pasar, mengantar anak ke sekolah. Masih bercanda di grup WhatsApp, masih mengunggah foto di media sosial. Dari luar terlihat biasa saja. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam kepala seseorang.

Karena itu, jangan menunggu kerabat atau sahabat kita menunjukkan gejala yang semakin parah. Jangan menunggu ia marah-marah, berteriak, mengamuk, atau sampai membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain baru kemudian kita membawanya ke rumah sakit.

Jangan pula menganggap gangguan tidur yang berlangsung lama sebagai sesuatu yang harus ditanggung sendirian. Meminta pertolongan bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, ada keberanian di dalamnya.

Saya kira kita perlu mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental. Pergi ke psikolog atau psikiater tidak seharusnya membuat seseorang merasa malu. Sama seperti seseorang pergi ke dokter ketika mengalami sakit pada tubuhnya, mencari bantuan ketika mengalami persoalan pada pikiran, emosi, atau perilaku juga merupakan bentuk kepedulian kepada diri sendiri.

Apalagi dalam kondisi kehidupan yang semakin berat. Tekanan ekonomi, pekerjaan, hubungan keluarga, kesepian, perubahan sosial, hingga derasnya informasi dari media sosial dapat membuat kehidupan sehari-hari terasa semakin penuh. Pada saat yang sama, ruang-ruang bersama untuk duduk, berbicara, dan ngorta semakin berkurang.

Kita memang semakin mudah terhubung melalui telepon genggam. Tetapi belum tentu semakin dekat sebagai manusia. Dulu, orang bisa duduk lama di bale, warung, halaman rumah, atau tempat-tempat lain sambil berbicara tentang banyak hal. Tidak selalu ada solusi dari percakapan itu. Tidak selalu ada nasihat yang bijak. Kadang hanya omongan sederhana.

Tetapi mungkin justru di situlah manfaatnya. Ada orang yang mendengarkan, orang yang mengetahui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, dan  ruang untuk mengeluarkan sesuatu yang selama ini hanya berputar-putar di kepala.

Sekarang, percakapan semacam itu semakin mudah digantikan oleh pesan singkat. Kita mengirim emoji ketika tidak tahu harus berkata apa. Menekan tombol like ketika sebenarnya seseorang mungkin membutuhkan telinga untuk mendengarkan.

Karena itu, mungkin salah satu bentuk sederhana menjaga kesehatan mental adalah kembali melakukan sesuatu yang sangat lama kita kenal, yakni berbicara. Berbicara dengan pasangan, anak, orang tua, sahabat, atau tetangga. Dan ketika memang diperlukan, berbicara dengan psikolog atau psikiater.

Tidak semua masalah harus diselesaikan sendiri, kesedihan harus disembunyikan, perubahan perilaku harus dianggap biasa. Dan tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar baik-baik saja.

Kita juga perlu belajar mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Ketika seseorang mengatakan dirinya sedang lelah, jangan selalu menjawab, “Semua orang juga lelah.” Atau, ketika seseorang mengatakan dirinya sedang sedih, jangan buru-buru mengatakan, “Jangan dipikirkan.” Kadang seseorang tidak sedang meminta nasihat. Ia hanya ingin didengarkan.

Di zaman yang semakin ramai ini, mungkin justru kemampuan untuk mendengarkan menjadi sesuatu yang semakin mahal. Saya percaya komunikasi verbal di dalam keluarga masih memiliki tempat penting. Bukan berarti kita harus berbicara sepanjang waktu. Tetapi mengetahui bahwa ada seseorang yang dapat kita hubungi ketika sedang tidak baik-baik saja adalah sesuatu yang berharga.

Kepedulian kecil mungkin tidak menyelesaikan semua persoalan. Namun, ia dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Dan mungkin itulah yang paling dibutuhkan seseorang pada saat tertentu.

Mari lebih peduli kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Perbanyak komunikasi secara verbal. Jangan buru-buru memberi cap kepada seseorang yang perilakunya berbeda. Jangan menjadikan gangguan mental sebagai bahan lelucon. Dan bila persoalan terasa semakin berat, jangan takut mencari bantuan profesional.

Sebab, datang ke Poli Psikiatri bukan berarti seseorang telah kalah. Bisa jadi justru di situlah ia sedang mulai memenangkan dirinya sendiri. Poli Psikiatri boleh sepi. Ruang tunggunya boleh tidak seramai poliklinik lain. Tetapi persoalan kesehatan jiwa di masyarakat tidak berarti tiada.

Sebab, sepi tak selalu berarti tidak ada.Kadang yang sepi justru adalah tempat orang-orang berani datang untuk mencari pertolongan. [T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatankesehatan jiwakesehatan mentalpsikiatri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

Next Post

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

BALI DALAM "FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co