31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

Made Chandra by Made Chandra
August 31, 2026
in Esai
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

Tumpukan buku | Foto: Made Chandra

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah dari tubuh-tubuh yang lain. Waktu ketika kaki tidak melangkah kemana-mana, tapi pikiran dan ujung jempol kita dengan mudah melintasi batas-batas daerah bahkan hingga tempat yang sebelumnya tidak pernah kita kunjungi.

Memang tak terasa sudah 6 tahun lamanya. Kita mungkin benar-benar mengingat ketika bergembiranya anak-anak seantero negeri ketika para guru melontarkan pesan bahwa mereka akan belajar di rumah selama 2 minggu. Tapi kita juga sungguh-sungguh mengingat bagaimana 2 minggu yang singkat itu berujung dijebloskannya kita ke dalam sel rumahan selama 2 tahun lamanya.

Sumber : rise.smeru.or.id

Setidaknya kita bisa mengatakan, pandemi adalah salah satu peristiwa akbar yang mengubah tatanan sosial kita di abad-21. Akses internet dan digitalisasi informasi seakan diboosting berkali-kali lipat saat itu. Sekolah diampu lewat layar gawai, rapat kantor bisa dilakukan di mana saja, bahkan di sawah sekalipun, asal ada internet dan atasan baju berkerah.

Media sosial semacam tiktok mulai ambil alih komando. Trend video pendek dengan layar vertikal penuh, menjadi syarat mutlak semua platform sosial media tanpa terkecuali. Di titik ini berita, informasi, hiburan bahkan literasi berbondong-bondong mengubah dirinya menjadi makhluk maya.

Koran-koran pagi di lampu merah kini tinggal kenangan. Tayangan kartun ketika fajar akhir pekan kini bisa diakses kapanpun. Apa lagi buku fisik, sudahlah tebal isinya, melahapnya pun butuh berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Satu-satunya genre buku yang mungkin hari ini dibaca, adalah buku paket sekolah. Itupun karna dipaksa oleh para guru. Setelah mereka lulus, peduli setan dengan buku-buku itu.

Aktivitas bangun tidur kita seolah dijajah oleh segenggam barang elektronik ini. Membuka beranda sosial media menjadi ritual bersama. Dari anak-anak, remaja, hingga para bapak ibuk yang dahulu sangat anti dengan kegiatan semacam ini, dibuat keranjingan siang-malam, kalaupun jeda mungkin karna kerja. Sepulang dari itu tangan tak lagi sabar menggerayangi ponsel pintar ini.  

Kebiasaan-kebiasaan semacam ini menjadi gejala umum yang menghinggapi manusia di abad-21. Informasi datang tanpa diminta, berita buruk menghujam tanpa henti, ajang pamer pencapaian jadi hal yang lumrah. Semua berjejalan mengantri masuk ke dalam kepala kita. Seakan terkoneksi adalah syarat mutlak yang harus kita lakukan 24/7 hidup kita. Boleh dikata, kemampuan yang punah dari manusia hari ini adalah melambat.

Mengapa demikian? Serangkaian kabar yang begitu cepat perlahan mengharamkan kita untuk diam sejenak. Seolah tergesa adalah cara satu-satunya untuk bertahan dalam kehidupan maya hari ini.

BUKU FISIK SEBAGAI ESCAPISM

Di sinilah hal-hal analog semacam buku fisik menjadi pintu keluar dari pesta tanpa henti ini. Semua itu justru digalakkan oleh Generasi-Z, mereka yang selalu dicap lemah dan lahir dari segala keberlimpahan malah mencari jalan untuk lepas dari jeratan konektifitas semu semacam ini.

Belakangan ini muncul beragam inisiasi untuk berkumpul dan membicarakan secara offline buku-buku yang mereka gemari. Entah itu lapak baca gratis atau sebuah bookclub. Kegiatan semacam ini bisa dibaca sebagai siasat dari mereka yang lelah dengan keharusan untuk terus aktif di dunia maya, hingga kehilangan hubungan jasmani dengan orang-orang di sekitarnya.

Sumber : ig @rindudibaca

Dilihat dari perannya, buku fisik memang punya beragam keterbatasan dari berbagai media digital hari ini. Ia tidak atraktif secara visual, untuk mengonsumsinya pun kita harus membaca kata demi kata untuk membentuk makna dibaliknya. Tak jarang fokus yang tumpul membuat kita harus mengulangnya kembali, sehingga begitu lambat untuk seseorang yang baru ingin menumbuhkan minat bacanya hari ini.

Namun bukankah itu esensinya?

Belantara digital hari ini, memaksa kita untuk melahap informasi tanpa harus peduli dengan konteksnya. Gambar dan video tak ubahnya gerbong kereta yang tersuruk-suruk mengantri untuk masuk. Namun keberlimpahan data itu tak seimbang dengan apa yang benar-benar kita pahami. Kebanyakan datang dan pergi, hanya menjadi aksesoris dopamin semata.

Sumber : Reels Instagram

Buku fisik bukan unggul karena lebih canggih, tetapi justru karena ia memiliki keterbatasan. Ia tidak punya autoplay. Tidak ada notifikasi. Tidak ada algoritma yang menyodorkan halaman berikutnya. Tidak ada angka likes. Tidak ada swipe.

Di sinilah melambat jadi penting, buku fisik menjadi asik, dan waktu senggang benar-benar menjadi senggang.

Bacaan offline semacam ini, menuntut fokus kita lebih dalam. Maka di sinilah pelarian kita dari jeratan konektivitas menjadi genap. Pada rangkaian kata yang harus pelan-pelan dicerna, kita disadarkan bahwa memang kehidupan semestinya berjalan seperti itu. Lambat, dan penuh proses.

Reels pendek yang tiap hari kita konsumsi, perlahan-lahan membunuh proses itu. Sehingga yang kita tuntut selalu hasil, hasil dan hasil. Tak peduli jika itu didapat secara prematur. Yang penting kepuasan kita terpenuhi sesaat.

Mungkin misi paling mendesak yang kita butuhkan hari ini bukanlah seberapa banyak informasi yang kita harus terima. Tetapi seberapa tekun kita bertahan pada proses memahami satu hal tertentu. Ku rasa disanalah buku fisik mengambil perannya.

Sumber : Made Chandra

Tidak masalah jika kamu hanya bisa menyelesaikan satu buku selama 1 bulan, jika itu yang benar-benar kamu butuhkan untuk memahaminya. Di sinilah aku harap semakin banyak orang yang gemar membaca—jurnal, novel, cerpen atau zine-zine kecil sekalipun. karna bacaan nonfiksi membuat tajam pemahaman kita, sementara fiksi memanusiakan prosesnya.

Sebab dari membaca kita perlahan menemukan diri kita yang telah lama hilang: diri yang fisik, diri yang tidak takut kehilangan koneksi dengan dunia maya, tapi benar-benar mengalami keterhubungan dengan tubuh, alam dan dunia di sekitar. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co