31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
in Esai
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Ilustrasi tatkala.co | Gambar diolah dari Canva

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja keinginan manusia. Kita mengira keinginan akan membawa kita lebih dekat kepada sesuatu yang kita cari, tetapi dalam banyak keadaan, keinginan justru membuat jarak antara kita dan apa yang kita inginkan terasa semakin lebar.

Kita ingin percaya diri, lalu mulai memperhatikan betapa seringnya kita merasa malu, ragu, atau cemas. Kita ingin sukses, lalu setiap kesalahan kecil terasa seperti bukti bahwa kita sebenarnya tidak cukup baik. Kita ingin terlihat cantik, lalu cermin berubah menjadi tempat untuk mencari kekurangan. Kita ingin dicintai, tetapi semakin besar kebutuhan untuk dicintai, semakin mudah kita mencurigai bahwa orang lain mungkin tidak benar-benar menyayangi kita.

Barangkali masalahnya bukan pada apa yang kita inginkan, melainkan pada cara keinginan bekerja di dalam pikiran. Ketika kita sangat menginginkan sesuatu, perhatian kita menjadi seperti magnet. Ia terus-menerus menarik kita kembali kepada hal yang belum ada. Kita tidak lagi melihat kehidupan sebagaimana adanya, melainkan membandingkannya dengan gambaran tentang kehidupan yang seharusnya kita miliki. Di situlah penderitaan mulai tumbuh.

Bukan karena hidup kita selalu buruk, tetapi karena hidup yang nyata terus-menerus dibandingkan dengan kehidupan ideal yang hanya ada di kepala. Kita semua mungkin pernah mengalaminya. Pada hari-hari biasa, kita mungkin tidak terlalu memikirkan penampilan. Namun ketika kita mulai memiliki keinginan kuat untuk menjadi lebih menarik, tiba-tiba wajah kita terasa penuh kekurangan.

Ada bentuk hidung yang tidak sesuai harapan, kulit yang tidak sempurna, rambut yang dianggap kurang bagus, atau tubuh yang terasa tidak ideal. Padahal, sebagian besar kekurangan itu sudah ada sebelumnya dan tidak pernah benar-benar mengganggu kehidupan kita. Yang berubah bukan tubuh kita, melainkan cara kita memandangnya. Hal yang sama terjadi pada kesuksesan.

Ketika tidak terlalu memikirkan kesempurnaan, sebuah kesalahan kecil mungkin hanya terasa sebagai kesalahan. Kita memperbaikinya, lalu melanjutkan pekerjaan. Tetapi ketika keberhasilan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi harga diri, kesalahan kecil berubah menjadi ancaman. Satu presentasi yang kurang bagus bisa terasa seperti kegagalan besar. Satu komentar yang tidak menyenangkan bisa terus terngiang sepanjang hari.

Satu kesempatan yang terlewat dapat membuat kita mempertanyakan seluruh kemampuan diri sendiri. Keinginan membuat perhatian kita menyempit. Kita mulai melihat apa yang kurang, bukan apa yang sudah ada. Kita melihat jarak antara diri kita sekarang dan diri kita yang kita bayangkan seharusnya menjadi. Semakin besar jarak itu terasa, semakin kuat pula keinginan untuk menutupinya.

Kita kemudian bekerja lebih keras, mengejar lebih banyak pencapaian, mencari lebih banyak pengakuan, membeli lebih banyak barang, memperbaiki lebih banyak bagian dari diri sendiri. Anehnya, setelah mendapatkan sesuatu yang kita kejar, ketenangan itu sering kali tidak bertahan lama. Tidak lama kemudian, muncul keinginan baru.

Kita mungkin berkata, “Kalau saja saya mendapatkan pekerjaan ini, saya akan tenang.” Setelah mendapatkannya, kita berkata, “Kalau saja jabatan saya naik, saya akan lebih bahagia.” Setelah naik jabatan, standar kembali bergerak. Kita ingin penghasilan yang lebih besar, rumah yang lebih baik, hubungan yang lebih ideal, tubuh yang lebih menarik, atau kehidupan sosial yang lebih menyenangkan. Seolah-olah garis finis selalu beberapa langkah lebih jauh dari tempat kita berdiri.

Di sinilah saya mulai melihat keinginan dengan cara yang sedikit berbeda. Mungkin keinginan memang tidak bisa dan tidak perlu dihilangkan. Kita terlalu sering menganggap keinginan sebagai sumber masalah, padahal keinginan juga merupakan salah satu tenaga yang membuat manusia bergerak. Tanpa keinginan, mungkin tidak ada alasan untuk belajar, menciptakan sesuatu, mencintai, bekerja, memperbaiki keadaan, atau membangun masa depan.

Keinginan bukan musuh. Yang membuatnya menyakitkan adalah ketika kita menyerahkan seluruh rasa aman dan harga diri kepada hasil dari keinginan tersebut. Ada perbedaan besar antara berkata, “Saya ingin berhasil,” dan “Saya harus berhasil agar merasa diri saya berharga.” Yang pertama adalah keinginan yang sehat. Yang kedua sudah menjadi tuntutan terhadap kehidupan.

Begitu keinginan berubah menjadi tuntutan, kenyataan akan selalu terasa mengecewakan karena kehidupan tidak pernah sepenuhnya tunduk pada rencana kita. Mungkin kita tidak perlu berhenti menginginkan sesuatu. Kita hanya perlu berhenti menganggap bahwa kebahagiaan kita harus menunggu sampai keinginan itu terpenuhi.

Saya ingin percaya diri, tetapi saya tidak harus menunggu menjadi orang yang sepenuhnya percaya diri untuk menjalani hidup. Saya boleh merasa gugup dan tetap berbicara. Saya boleh merasa malu dan tetap mencoba. Saya boleh melakukan kesalahan tanpa menjadikannya bukti bahwa saya adalah orang yang gagal. Demikian pula dengan kesuksesan. Saya boleh mengejar sesuatu dengan serius tanpa harus mengubah setiap kegagalan kecil menjadi penilaian terhadap nilai diri saya.

Begitu pula dengan penampilan. Kita boleh ingin terlihat lebih baik tanpa menjadikan tubuh sebagai proyek yang tidak pernah selesai. Ada perbedaan antara merawat diri dan terus-menerus memusuhi diri sendiri. Ada perbedaan antara ingin berkembang dan merasa bahwa diri kita yang sekarang tidak layak untuk diterima. Barangkali kedewasaan bukan tentang berhenti menginginkan, melainkan tentang belajar menginginkan tanpa diperbudak oleh keinginan.

Kita masih boleh mempunyai ambisi, tetapi tidak harus hidup dalam ketakutan akan kegagalan. Kita masih boleh menginginkan cinta, tetapi tidak harus memohon kepada setiap orang untuk mengonfirmasi bahwa kita layak dicintai. Kita masih boleh menginginkan uang, kebebasan, pengakuan, kecantikan, pengetahuan, dan kehidupan yang lebih baik, tetapi kita juga perlu mampu melihat bahwa kehidupan yang sedang berlangsung sekarang bukan sekadar ruang tunggu menuju kehidupan ideal.

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi praktiknya sangat sulit. Pikiran manusia memang cenderung bergerak ke masa depan. Kita membayangkan apa yang belum terjadi, lalu mengukur kehidupan sekarang berdasarkan bayangan tersebut. Kita jarang benar-benar puas karena begitu satu keinginan terpenuhi, pikiran segera menemukan sesuatu yang lain untuk dikejar. Mungkin memang demikian sifat manusia. Kita selalu meraih sesuatu yang berada sedikit di depan kita.

Karena itu, mungkin solusi yang lebih masuk akal bukan memutus semua keinginan, melainkan mengubah hubungan kita dengan keinginan. Kita bisa menginginkan sesuatu tanpa terus-menerus mengingatkan diri bahwa kita belum memilikinya. Kita bisa mengejar tujuan tanpa membuat kehidupan saat ini terasa tidak sah. Kita bisa berharap tanpa menjadikan harapan sebagai syarat untuk merasa cukup.

Hidup mungkin bukan tentang mencapai titik ketika kita tidak menginginkan apa pun lagi. Mungkin titik seperti itu memang tidak pernah ada. Selama kita hidup, kita akan menginginkan sesuatu. Kita akan berharap, kecewa, mencoba lagi, mendapatkan sesuatu, lalu menginginkan hal lain. Siklus itu mungkin tidak perlu dilawan.

Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana tetap hadir di dalam kehidupan yang nyata, bahkan ketika pikiran sedang sibuk membayangkan kehidupan yang kita inginkan. Sebab mungkin masalah terbesar dari keinginan bukan karena ia membuat kita menginginkan terlalu banyak, melainkan karena ia membuat kita lupa melihat apa yang sudah ada.

Kita terlalu sibuk mengejar kehidupan yang belum terjadi sampai tidak sadar bahwa kehidupan yang kita tunggu-tunggu itu sedang berlangsung sekarang. Dan mungkin, pada akhirnya, kebebasan bukan berarti tidak lagi menginginkan apa pun. Kebebasan adalah ketika kita mampu berkata, “Saya menginginkan ini, tetapi saya tidak harus memilikinya untuk merasa hidup saya berarti.” [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupkehidupanruang tunggu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Next Post

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails
Next Post
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co