25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
in Esai
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

Ilustrasi Canva

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari, media sosial, video digital, dan berbagai aplikasi. Namun, kedekatan dengan teknologi tidak otomatis menjadikan mereka memiliki kemampuan literasi digital yang memadai. Seorang peserta didik mungkin sangat terampil menggunakan teknologi untuk hiburan dan komunikasi, tetapi belum tentu mampu menilai kredibilitas informasi, mengenali bias algoritma, atau menggunakan kecerdasan artifisial secara etis dalam pembelajaran.

Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup hanya menyediakan teknologi kepada generasi digital native. Pendidikan harus membangun kemampuan untuk menggunakan teknologi secara kritis, reflektif, dan bertanggung jawab.

Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan. Dunia pendidikan merupakan salah satu ruang yang mengalami perubahan tersebut secara nyata. AI mulai hadir dalam aktivitas guru, dosen, dan peserta didik, mulai dari membantu mencari informasi, menyusun bahan ajar, membuat media pembelajaran, memberikan umpan balik terhadap tulisan, menerjemahkan teks, hingga membantu menganalisis data pembelajaran.

Kehadiran AI bahkan telah mengubah cara seseorang memandang proses belajar. Jika dahulu pengetahuan seolah-olah harus dikumpulkan sebanyak mungkin dalam ingatan, kini sebagian informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat melalui teknologi.

Namun, kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa manusia belajar ketika sebagian pekerjaan kognitifnya dapat dilakukan oleh mesin? Pertanyaan ini penting karena pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan menghasilkan manusia yang mampu menemukan jawaban. Pendidikan seharusnya membantu manusia memahami persoalan, mempertanyakan sesuatu, mengambil keputusan, membangun karakter, menghargai orang lain, dan menemukan makna dari pengetahuan yang dimilikinya.

Di sinilah persoalan penggunaan AI dalam pembelajaran menjadi lebih kompleks daripada sekadar persoalan teknologi. Persoalannya bukan hanya apakah AI boleh digunakan atau tidak, melainkan bagaimana AI digunakan agar tetap menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran.

Pembelajaran yang baik pada akhirnya bukan pembelajaran yang paling banyak menggunakan teknologi, melainkan pembelajaran yang mampu menggunakan teknologi untuk memperkuat kemanusiaan. Penggunaan AI membutuhkan sentuhan humanis. Guru dan dosen tetap memiliki peran penting sebagai pendamping, pembimbing, pengarah, sekaligus manusia yang menghadirkan empati dalam proses pendidikan. Peserta didik pun harus ditempatkan bukan sebagai pengguna pasif teknologi, melainkan sebagai subjek yang mampu berpikir, menilai, memilih, mengkritisi, dan bertanggung jawab terhadap penggunaan AI.

AI dan Perubahan Wajah Pembelajaran

Kehadiran AI telah mengubah cara peserta didik berinteraksi dengan pengetahuan. Dahulu, ketika seorang siswa menghadapi kesulitan dalam memahami sebuah konsep, Dia mungkin harus membuka buku, mencari referensi di perpustakaan, bertanya kepada guru, atau berdiskusi dengan teman. Proses tersebut membutuhkan waktu. Dalam proses itu pula terjadi pengalaman belajar yang penting: mencari, membaca, membandingkan, bertanya, mengalami kebingungan, mencoba kembali, dan akhirnya memahami.

Kini, dengan AI, proses tersebut dapat berlangsung dalam hitungan detik. Seorang peserta didik dapat memasukkan pertanyaan dan memperoleh penjelasan yang disesuaikan dengan tingkat pemahamannya. Dia dapat meminta contoh, analogi, rangkuman, bahkan latihan soal. Dalam konteks tertentu, kemampuan tersebut tentu sangat membantu.

Pada titik ini, AI memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal. Seorang peserta didik tidak selalu belajar dengan kecepatan yang sama. Ada yang cepat memahami konsep, tetapi kesulitan menuangkannya dalam tulisan. Ada yang mampu memahami melalui gambar, tetapi kesulitan ketika berhadapan dengan teks panjang. Ada pula peserta didik yang membutuhkan contoh konkret sebelum memahami konsep abstrak. AI dapat membantu menyediakan variasi penjelasan tersebut.

Ketika jawaban selalu tersedia, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk mengalami proses pencarian. Ketika tulisan dapat dibuat secara otomatis, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk belajar menyusun gagasan. Ketika soal dapat dijawab dengan cepat, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk mengalami kesulitan yang sebenarnya merupakan bagian penting dari pembelajaran.

Kesulitan dalam belajar tidak selalu merupakan sesuatu yang harus dihilangkan. Dalam batas tertentu, kesulitan justru diperlukan karena melalui kesulitan seseorang belajar bertahan, mencoba strategi baru, mengenali kesalahan, dan menemukan cara berpikir yang lebih baik. Penggunaan AI seharusnya tidak diarahkan untuk membuat pembelajaran selalu mudah. AI justru perlu digunakan untuk membuat proses belajar lebih bermakna.

Teknologi Tidak Boleh Menggantikan Manusia

Dalam pendidikan, manusia bukan sekadar penerima informasi. Manusia memiliki emosi, pengalaman, nilai, harapan, kecemasan, dan latar belakang sosial yang berbeda. Dua peserta didik dapat membaca teks yang sama, tetapi memberikan makna yang berbeda karena pengalaman hidup mereka tidak sama. Di sinilah keterbatasan AI perlu dipahami.

AI dapat mengenali pola bahasa, menghasilkan penjelasan, dan merespons pertanyaan berdasarkan data yang tersedia. Akan tetapi, pendidikan memiliki dimensi relasional yang jauh lebih luas. Seorang guru dapat mengetahui bahwa seorang siswa sedang tidak bersemangat hanya dari perubahan ekspresi wajahnya. Seorang dosen dapat memahami bahwa mahasiswa tidak mengerjakan tugas bukan semata-mata karena malas, tetapi mungkin sedang menghadapi persoalan keluarga, tekanan akademik, atau kehilangan motivasi. Respons terhadap kondisi seperti itu tidak cukup diberikan dalam bentuk informasi.

Ketika AI masuk ke ruang kelas, pertanyaan pertama bukanlah “Apa yang dapat dilakukan AI?”, melainkan “Apa yang tetap harus dilakukan manusia?” Pertanyaan ini penting agar pendidikan tidak terjebak dalam kekaguman terhadap teknologi. Guru tidak boleh berubah menjadi operator AI, dan peserta didik tidak boleh berubah menjadi sekadar pengguna aplikasi.

Teknologi seharusnya berada di belakang proses pendidikan, bukan menjadi pusatnya. Pusat pendidikan tetap manusia.

AI sebagai Mitra Belajar

Salah satu pendekatan yang lebih humanis dalam penggunaan AI dalam pendidikan adalah menempatkannya sebagai mitra belajar, bukan sebagai pengganti guru, dosen, maupun proses berpikir peserta didik. Pemahaman ini penting karena kehadiran AI dalam pembelajaran sering kali dipersepsikan secara ekstrem.

Di satu sisi, AI dianggap sebagai ancaman yang dapat membuat peserta didik malas berpikir, bergantung pada teknologi, bahkan kehilangan kemampuan menulis dan memecahkan masalah. Di sisi lain, AI dipandang sebagai solusi hampir untuk segala persoalan pendidikan. Kedua pandangan tersebut sama-sama perlu dikritisi. AI pada dasarnya hanyalah sebuah alat. Nilai pendidikan yang dihasilkan dari penggunaan AI sangat bergantung pada bagaimana manusia merancang tujuan, mengendalikan proses, menilai informasi, dan merefleksikan hasil penggunaannya.

Menempatkan AI sebagai mitra belajar berarti mengubah cara pandang dari “AI memberikan jawaban” menjadi “AI membantu saya menemukan jawaban”. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi memiliki konsekuensi pedagogis yang sangat besar. Dalam pola pertama, peserta didik cenderung menjadi penerima. Ia mengajukan pertanyaan, memperoleh jawaban, kemudian menggunakannya sebagai hasil akhir. Proses berpikir menjadi sangat pendek karena sebagian besar pekerjaan intelektual telah dialihkan kepada mesin.

Sedangkan dalam pola kedua, AI ditempatkan sebagai teman dialog yang membantu peserta didik mengeksplorasi gagasan, menemukan kelemahan argumentasi, memperoleh perspektif alternatif, dan menguji pemahamannya. Peserta didik tetap menjadi aktor utama, sedangkan AI berfungsi sebagai pendukung.

Dalam pembelajaran, posisi ini sangat penting karena tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan bertujuan membentuk kemampuan berpikir. Seorang peserta didik yang memperoleh jawaban benar tetapi tidak memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh belum tentu mengalami proses belajar yang sesungguhnya. Sebaliknya, seorang peserta didik yang sempat mengalami kebingungan, mencoba beberapa kemungkinan, melakukan kesalahan, menerima umpan balik, kemudian memperbaiki pemikirannya justru sedang menjalani proses belajar yang lebih bermakna.

Guru sebagai Kompas dalam Era AI

Ketika informasi semakin mudah diperoleh, peran guru justru menjadi semakin penting. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, tetapi menjadi kompas yang membantu peserta didik menentukan arah.

Dahulu guru mungkin menghabiskan banyak waktu menjelaskan informasi dasar. Kini sebagian informasi tersebut dapat diperoleh peserta didik melalui berbagai sumber digital. Situasi ini seharusnya tidak membuat guru kehilangan peran. Sebaliknya, guru memiliki kesempatan lebih besar untuk menjalankan fungsi yang lebih mendalam: membimbing peserta didik memahami informasi, menilai kredibilitas sumber, membangun argumentasi, bekerja sama, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Guru juga perlu menjadi teladan dalam penggunaan AI yang bertanggung jawab. Jika guru meminta peserta didik untuk jujur dalam menggunakan AI, guru sendiri harus menunjukkan bagaimana AI digunakan secara transparan. Jika guru meminta peserta didik mencantumkan sumber, guru harus memberikan contoh tentang pentingnya verifikasi sumber. Jika guru melarang peserta didik menyerahkan hasil AI sebagai karya pribadi, guru harus menjelaskan alasan akademik dan moral di balik aturan tersebut.

Dengan demikian, pendidikan tentang AI tidak cukup dilakukan melalui aturan “boleh” dan “tidak boleh”. Peserta didik perlu diajak memahami mengapa penggunaan tertentu dianggap bertanggung jawab dan mengapa penggunaan lainnya dapat merusak proses belajar.

Guru dapat mengatakan kepada peserta didik: “Gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan untuk berhenti berpikir.” Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi prinsip dasar pembelajaran di era kecerdasan artifisial.

Bahaya Ketergantungan pada AI

Di balik berbagai manfaatnya, AI juga menyimpan risiko ketergantungan. Ketika peserta didik terbiasa mendapatkan jawaban secara instan, kemampuan untuk menunggu, membaca panjang, mencoba, dan mengalami kegagalan dapat berkurang.

Ada kecenderungan bahwa sebagian peserta didik menggunakan AI bukan untuk belajar, melainkan untuk menghindari belajar. Tugas yang seharusnya menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir berubah menjadi sekadar perintah kepada mesin: “Buatkan tugas saya.”Pada kondisi seperti ini, masalah sebenarnya bukan AI. Masalahnya adalah hilangnya makna tugas.

Jika sebuah tugas dapat diselesaikan sepenuhnya oleh AI tanpa melibatkan pemikiran peserta didik, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya perilaku peserta didik, tetapi juga desain pembelajarannya. Guru perlu merancang tugas yang menuntut pengalaman, argumentasi, observasi, refleksi, dan pengambilan keputusan. Misalnya, daripada meminta mahasiswa menulis esai umum tentang lingkungan, dosen dapat meminta mereka mengamati persoalan sampah di lingkungan sekitar, melakukan wawancara, mencatat pengalaman, menganalisis data, kemudian menggunakan AI sebagai alat bantu untuk mengembangkan argumentasi.

Dengan demikian, AI tidak dapat menggantikan pengalaman lapangan mahasiswa karena pengalaman tersebut merupakan bagian dari data personal yang harus mereka bangun sendiri.

Kejujuran Akademik di Tengah Kemudahan Teknologi

Penggunaan AI juga membawa persoalan serius berkaitan dengan integritas akademik. Ketika sebuah tulisan dapat dihasilkan dalam waktu singkat, batas antara “dibantu AI” dan “dikerjakan AI” menjadi semakin penting.

Pendidikan tidak seharusnya hanya menilai produk akhir. Pendidikan juga harus menghargai proses. Misalnya, tulisan seorang mahasiswa yang masih memiliki kekurangan tetapi lahir dari proses berpikirnya sendiri memiliki nilai pendidikan yang berbeda dari tulisan yang sangat sempurna tetapi sepenuhnya dihasilkan mesin.

Institusi pendidikan perlu mengembangkan budaya akademik yang tidak hanya berbicara tentang larangan. Mahasiswa perlu diajarkan cara menggunakan AI secara etis: kapan AI boleh digunakan, bagaimana menggunakannya, bagaimana memverifikasi informasi, bagaimana mengakui bantuan AI, dan bagian mana yang harus tetap menjadi hasil pemikiran pribadi.Di sinilah kejujuran akademik perlu dipahami bukan sebagai ketakutan terhadap hukuman, tetapi sebagai penghargaan terhadap proses intelektual.[T]

Penulis: Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIArtificial IntelligenceDigital Native
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

Next Post

Renungan Meja Makan

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Renungan Meja Makan

Renungan Meja Makan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co