14 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal itu. Saya justru terjatuh dalam melakukan suatu pemikiran yang agak liar. 

Dalam pidatonya pada peluncuran 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia, Presiden kala itu menyebut bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Bahkan sampai dua kali kalimat itu diucapkan. Kalimat itu disampaikan dalam konteks membicarakan perjalanan hidup Bahlil Lahadalia.

Baiklah, sampai di situ dulu. Menurut saya kita jangan buru-buru protes, pula jangan buru-buru membuat meme. Mari kita anggap kalimat tersebut sebagai sebuah eksperimen pemikiran. Sebab, kalau kalimat itu kita tarik sedikit saja ke kiri, lalu sedikit ke kanan, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan yang lumayan menggelitik.

Kalau kecerdasan bukan berasal dari sekolah, jangan-jangan masalah pendidikan kita bukan karena anak-anak Indonesia tidak cerdas, tetapi karena sekolah kita belum cukup pandai untuk membuat mereka menjadi cerdas? Karena yang berbicara adalah Presiden Indonesia, maka tentu ini konteks Indonesia. Dari sini saya yakin sidang pembaca yang budiman mulai paham arahnya. Tapi tenang saja, karena Ini cuma permainan pikiran.

Sekolah Bukan Pabrik Orang Pintar

Selama bertahun-tahun kita mempunyai kebiasaan yang standar dalam memandang pendidikan. Anak mendapat nilai 95, artinya pintar. Nilai 60, kurang pintar. Begitu juga masuk sekolah favorit, anak pintar. Tapi kalau masuk sekolah biasa berarti anak biasa saja. Lanjut lagi, lulus universitas terkenal, wah, calon orang sukses. Lulus dari kampus yang tidak terkenal, yah, yang penting sudah sarjana.

Di sini kita seolah-olah membayangkan sekolah dan universitas sebagai semacam pabrik kecerdasan. Masuk gerbang dalam keadaan bodoh. Keluar membawa ijazah dan menjadi pintar. Kalau begitu, seharusnya semua orang yang sekolahnya lama menjadi sangat cerdas. Ijazah jadi penanda intelektualitas, tidak peduli ijazah asli ataupun ijazah KW. Sekedar info, KW singkatan dari bahasa Mandarin kèi wěi artinya tiruan, tidak ada terkait dengan nama orang.

Tapi kok kita lihat, ternyata tidak begitu. Ada orang bergelar tinggi yang gagap menghadapi persoalan sederhana.  Ada pula orang yang pendidikan formalnya biasa saja, tetapi mampu membaca situasi, bernegosiasi, memimpin orang, membangun usaha, dan mengambil keputusan dengan sangat baik. Dalam hal ini, Pak Bahlil memang contoh yang pas.

Robert Sternberg, psikolog yang banyak mengembangkan teori kecerdasan, bahkan membedakan kemampuan akademik dengan apa yang ia sebut sebagai practical intelligence. Sederhananya, ada orang yang hebat mengerjakan soal dari sekolah, tetapi belum tentu hebat menghadapi kehidupan. Karena dalam kehidupan, tidak pernah membagikan lembar soal dengan tulisan “Waktu mengerjakan 120 menit. Pilih jawaban A, B, C, atau D.” Kehidupan seringnya membagikan persoalan, tanpa petunjuk pengerjaan dan jawabannya silakan-silakan saja, bebas, terserah lu.  Nah, di situlah persoalannya.

Pendidikan dan Pengalaman

Sekali lagi, saudara, tidak sedang mengukur kualitas seseorang dari gelar atau almamaternya. Tetapi perjalanan Bahlil Lahadalia memang menarik sebagai contoh bahwa jalur pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kemampuan dan keberhasilan.  Kita sekali lagi belajar bahwa pengalaman organisasi, dunia usaha, jaringan sosial, kemampuan berkomunikasi, keberanian mengambil risiko, pengalaman menghadapi konflik, membaca peluang, serta kemampuan beradaptasi juga merupakan sekolah.

Hanya saja sekolahnya tidak mempunyai gedung, tidak ada papan nama dan NPSN, apalagi akreditasi. Dan yang paling menyebalkan adalah, tidak ada ijazah.  Padahal bisa jadi, seseorang justru belajar lebih banyak tentang manusia dari sepuluh tahun berorganisasi, dibandingkan sepuluh semester duduk di kelas belajar antropologi, sosiologi atau psikologi. Inilah yang sebenarnya menarik.

Pada prinsipnya manusia yang dewasa akan tahu bahwa belajar bisa di mana-mana. John Dewey bahkan melihat pendidikan bukan sekadar persiapan untuk kehidupan. Pendidikan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Maka ketika seseorang keluar dari sekolah, sebenarnya ia tidak keluar dari proses pendidikan. Cuma pindah kelas saja. Kelas berikutnya yang bernama kehidupan. Di mana dosennya adalah pengalaman, ujiannya berupa masalah, dan nilainya baru keluar bertahun-tahun kemudian.

Kalau begitu, apakah sekolah tidak penting? Sepertinya pertanyaan itu bisa membuat kita kebablasan.  “Kecerdasan bukan dari sekolah” menjadi menarik.  Di sini kita bisa membacanya bukan sebagai sekolah tidak penting. Tetapi, kita baca, sekolah bukan satu-satunya sumber kecerdasan.  Dua kalimat itu tentu sangat berbeda.

Sekolah tetap penting. Karena tidak semua anak mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dari kehidupan. Situasinya begini, anak dari keluarga berada mungkin tumbuh dengan buku di rumah, internet cepat, orang tua berpendidikan, kursus lengkap, perjalanan, diskusi, dan berbagai fasilitas. 

Sementara di kehidupan sebelah, anak lain mungkin bahkan harus berbagi satu gawai dengan anggota keluarga. Kalau pendidikan kita serahkan sepenuhnya kepada “pengalaman hidup”, maka yang kaya pengalaman akan semakin kaya pengetahuan, yang miskin pengalaman akan semakin tertinggal.

Di sinilah negara diperlukan. Sekolah adalah salah satu cara negara memberi anak siapa pun berhak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan pikirannya. Jadi sekolah mungkin bukan sumber kecerdasan, tetapi sekolah bisa menjadi infrastruktur pemerataan kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan. Ini jauh lebih masuk akal.

Anak Tidak Datang ke Sekolah dengan Otak Kosong

Lev Vygotsky mengingatkan kita bahwa perkembangan kognitif manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan lingkungan. Anak tidak datang ke sekolah sebagai gelas kosong yang menunggu diisi guru. Ia datang membawa pengalaman, bahasa, keluarga, budaya, rasa ingin tahu, potensi, bahkan ketakutan.  Dan sekolah seharusnya membantu semua itu berkembang.

Nah, kalau Presiden Prabowo Subianto mengatakan kecerdasan itu bukan dari sekolah, maka kita boleh untuk sekadar latihan otak, membuat interpretasi paling nakal. Begini, berarti sekolah Indonesia selama ini belum berhasil membuat anak bangsa menjadi cerdas, dong. Asik.

Ya, tentu saja kita tidak boleh sembarangan menyimpulkan demikian. Tetapi sebagai eksperimen pemikiran, tentu menarik. Karena kebijakan untuk membangun dan memperbaiki sekolah justru menjadi sangat logis. Sebab masalahnya bukan bahwa anak Indonesia bodoh. Masalahnya mungkin adalah bahwa potensi kecerdasan anak Indonesia belum mendapatkan lingkungan yang cukup baik untuk berkembang.  Dan kalau itu benar, maka membangun sekolah bukanlah kontradiksi terhadap pernyataan bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah.

Justru sebaliknya. Kita membangun sekolah karena kita tahu kecerdasan tidak otomatis tumbuh hanya karena anak dilahirkan. Sekolah menyediakan ruang di mana para guru memberikan stimulasi.  Teman yang ada akan memberikan interaksi dan buku akan memberikan pengetahuan. Seiring itu masalah memberikan tantangan dan pengalaman memberikan konteks. Nah, dari pertemuan semuanya itu, kecerdasan kemudian berkembang.

Masalah pendidikan kita mungkin bukan hanya tentang kualitas sekolah. Bisa jadi kita juga mempunyai persoalan tentang definisi pintar. Kita mengukur anak dengan angka IQ, nilai, IPK dan ranking. Ada juga embel-embel lama studi, akreditasi, gelar, lantas kita mengira semua angka itu sudah cukup untuk menjelaskan kualitas manusia. Padahal manusia jauh lebih rumit daripada transkrip nilai.

Howard Gardner mengingatkan bahwa kemampuan manusia tidak sesederhana satu dimensi kecerdasan saja. Artinya, kita memang perlu berhati-hati. Jangan sampai anak merasa bahwa bersekolah hanya soal bagaimana terlihat pintar, bukan bagaimana menjadi manusia yang mampu berpikir. Sebab anak bisa belajar menjawab soal dan menghafal. Tetapi lebih jauh, apakah ia bisa bertanya dan bisa memahami? Anak bisa saja mendapat nilai tinggi, tapi apakah bisa mengambil keputusan ketika tidak ada pilihan A, B, C, dan D?  Karena nanti di real life, yang ada  seringnya kondisi semacam itu.

Jadi, Apa yang Harus Kita Bangun?

Mungkin bukan membangun lebih banyak sekolah. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan perlombaan mengumpulkan manusia dengan nilai tinggi. Pendidikan adalah usaha utuk membuat manusia mempunyai kemampuan untuk memahami dunia, menghadapi persoalan, bekerja bersama orang lain, dan membuat dunia sedikit lebih baik.

Maka sekarang mungkin kita bisa berdamai dengan kalimat presiden di atas. Kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Tetapi sekolah tetap penting. Sebab sekolah adalah salah satu tempat terbaik yang pernah diciptakan manusia untuk menemukan, merawat, melatih, dan mengembangkan kecerdasan yang sudah dibawa manusia sejak awal. Kalau sekolah kita belum seperti itu, buat apabangun sekolah lagi? Tabik. [T]

Tags: kecerdasansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Next Post

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

by Chusmeru
August 12, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

Read moreDetails

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
0
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

Read moreDetails

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails
Next Post
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali
Esai

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

by Nur Kamilia
August 14, 2026
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan
Pendidikan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia (AWINDO) memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM disabilitas melalui training legalitas usaha. Kegiatan ini menjadi bagian dari...

by Angga Wijaya
August 14, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   
Esai

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co