11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
in Ulas Rupa
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

Lukisan Noe di dinding tembok kamar | Foto: Wayan Sujana Suklu

—Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali

Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena telah mengenal banyak aturan. Naif Noe adalah ketidaktahuan yang jujur, naif saya adalah pengetahuan yang sengaja dilupakan. Naif Noe lahir sebelum teori, naif saya lahir setelah teori runtuh.

SAYA melihat gambar Noe di dinding tembok ruang tamu dan tiba-tiba merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang selama ini saya cari dalam praktik menggambar saya sendiri: garis yang belum merasa salah. Kemudian gambar disandingkan di bawahnya, hasil dari corat-coret saya.

Ada sesuatu yang menarik dari dua jenis “kekanak-kanakan” yang hadir dalam satu bidang gambar: yang satu benar-benar lahir dari tangan anak, sementara yang lain lahir dari tangan seniman dewasa yang telah melewati pendidikan, pengalaman, sejarah seni, dan kesadaran terhadap bahasa visual.

Foto yang mempertemukan karya Putu Kinoe Nawaya Miarna (Noe) dengan karya saya (Wayan Sujana Suklu) memperlihatkan pertemuan yang hampir paradoksal. Gambar Noe membuat saya berhenti cukup lama, tampak gambar figur manusia dengan kepala besar, mata bulat, tubuh sederhana, garis yang spontan, mahkota atau rambut yang ditandai dengan beberapa garis, serta tulisan-tulisan seperti “FANIA”, “KINOE”, dan “NOE”. Tidak sedang mencapai kemiripan anatomis. Pun tidak ada kecemasan apakah tangannya telah mengasilkan gambar yang benar atau salah.

Karya Putu Kinoe Nawaya Miarna dan Karya Wayan Sujana Suklu | Foto: Wayan Sujana Suklu

Di bagian bawah, saya kemudian melihat kembali karya-karya sendiri. Figur-figur yang saya gambar ternyata mempunyai persoalan yang mirip, tetapi datang dari arah yang berbeda. Jika Noe menggambar dengan ketidaktahuan terhadap aturan, saya justru menggambar setelah terlalu lama hidup di dalam aturan. Noe memicu ingatan, saya melihat karya sendiri—lalu menemukan persoalan artistik di sana.

Keduanya sama-sama tidak berkepentingan menjadi realistis. Noe menjadi naif karena belum mengenal aturan, sementara saya berusaha naif karena telah mengenal aturan dan berusaha melepaskannya. Pertanyaan inilah yang membuat perbandingan keduanya menarik.

Naif bukan berarti tidak bisa

Dalam sejarah seni modern, kata naif sering dipakai untuk menyebut karya yang tampak sederhana, datar, spontan, bahkan “kekanak-kanakan”. Namun pengertian tersebut perlu hati-hati. Getty Art & Architecture Thesaurus, misalnya, membedakan naive art dari outsider art dan folk art: seni naif dapat muncul dari seniman yang tidak memperoleh pendidikan seni formal, tetapi estetika naif juga dapat ditiru atau sengaja dipilih oleh seniman yang terlatih. Ciri yang sering muncul adalah penyederhanaan anatomi, perspektif yang tidak konvensional, dan kualitas kekanak-kanakan dalam penggambaran.

Karena itu, ada dua jenis kenafian yang perlu dibedakan. Noe naif karena dunia belum menjadi aturan. Saya naif karena aturan telah menjadi sesuatu yang dapat ditinggalkan. Perbedaannya sangat mendasar.

Gambar anak bukanlah lukisan orang dewasa yang gagal. Ia mempunyai logikanya sendiri. Rhoda Kellogg—melalui penelitian terhadap ratusan ribu gambar anak—menunjukkan bahwa coretan, bentuk dasar, pola, pengulangan, figur manusia, dan susunan ruang dalam gambar anak merupakan bagian dari perkembangan bahasa visual yang memiliki struktur internalnya sendiri (Kellogg, 1969).

Putu Kinoe Nawaya Miarna dan Wayan Sujana Suklu, Bersama di gang kreativitas | Foto: Wayan Sujana Suklu

Dapat dikatakan, ketika Noe menggambar manusia dengan kepala besar, mata bundar, tubuh panjang dan tangan yang sederhana, kita tidak perlu segera bertanya: mengapa proporsinya tidak benar? Pertanyaan yang lebih produktif adalah: Apa yang dianggap penting oleh Noe sehingga bagian itu diperbesar, diulang, atau ditegaskan?

Noe: Dunia yang Belum Dibebani Teori

Pada gambar Noe, manusia muncul sebagai bentuk yang sangat sederhana. Kepala menjadi pusat perhatian. Mata dibuat besar dan hampir simetris. Mulut cukup dengan satu lengkungan. Tubuh tidak dibangun melalui anatomi, tetapi melalui beberapa garis yang sudah cukup untuk mengatakan: ini manusia.

Ada sesuatu yang sangat penting di sini: gambar tidak berusaha menjelaskan manusia secara anatomis; gambar hanya berusaha menghadirkan manusia. Itulah salah satu kekuatan gambar anak.

Apa yang saya rasakan ketika melihat gambar Noe kemudian mengingatkan saya pada pembahasan tentang gambar anak sebagai bahasa visual. Lowenfeld melihat perkembangan gambar anak bukan sekadar perjalanan menuju kemampuan realistis, tetapi sebagai perkembangan hubungan antara pengalaman, simbol, dan ekspresi.

Dalam perkembangan seni rupa anak yang dibahas Lowenfeld dan Brittain, anak membangun schema visual—semacam bentuk-bentuk dasar yang dianggap cukup untuk mewakili objek yang dikenalnya. Perkembangan tersebut tidak berlangsung sekadar sebagai perjalanan dari “jelek” menuju “bagus”, tetapi sebagai perubahan hubungan antara pengalaman, simbol, persepsi, dan kemampuan motoric (Lowenfeld, V., & Brittain, W. L.: 1987).

Lukisan karya Lukisan Noe, “Kakek Suklu dan Nenek Sartini” (2026) | Foto: Wayan Sujana Suklu

Karena itu, figur Noe tidak perlu dibandingkan dengan potret manusia yang realistis. Ia harus dibaca sebagai bahasa visual seorang anak. Kepala besar bukan kesalahan proporsi. Mata besar bukan kegagalan anatomi. Tubuh panjang bukan kekurangan perspektif. Semuanya adalah keputusan visual. Di sinilah gambar anak mempunyai kejujuran tertentu. Ia belum terlalu sibuk mempertanyakan apakah sesuatu “layak” disebut seni. Ia hanya menggambar.

Dinding sebagai Kertas: Ketika Dunia Menjadi Bidang Gambar

Ada aspek lain yang sangat menarik dari foto tersebut: Noe tidak menggambar pada bidang putih yang steril. Ia menggambar pada dinding. Dinding menjadi kertas. Permukaan bangunan menjadi ruang imajinasi.

Ini penting karena memperlihatkan bahwa bagi anak, batas antara “ruang seni” dan “ruang kehidupan” belum tentu seketat yang dibangun institusi seni modern. Dinding bukan lagi arsitektur semata. Ia berubah menjadi medan tempat figur, nama, tanda, dan cerita bertemu. Pada lapangan ini, gambar Noe dapat dibaca sebagai bentuk spasialisasi pengalaman. Ia tidak sekadar menggambar figur; ia menempatkan dunia kecilnya ke dalam dunia yang lebih besar.

Lukisan karya Lukisan Noe, “Mama Dewayu dan Papa Sabath” (2026) di atas kertas | Foto: Wayan Sujana Suklu

Nama menjadi bagian dari gambar. Tulisan menjadi bagian dari figur. Figur menjadi bagian dari dinding. Dinding menjadi bagian dari cerita. Dengan kata lain, gambar Noe belum mengenal batas disiplin. Ia belum memisahkan drawing, writing, storytelling, dan playing.

Di sinilah pemikiran Primadi Tabrani mengenai Bahasa Rupa menjadi relevan. Dalam tradisi pemikiran seni rupa Indonesia, gambar anak dapat dipahami sebagai bahasa visual yang mempunyai cara sendiri dalam menyusun pengalaman, bukan sekadar versi awal dari gambar orang dewasa. Tabrani bahkan mengembangkan kajian yang membandingkan gambar anak dengan bahasa visual pada gambar prasejarah (Tabrani, P.: 2014).  Maka, gambar Noe bukan sekadar “coretan anak”. Ia adalah cara berpikir melalui garis.

Saya: Menjadi Naif Setelah Melewati Pengetahuan

Saya tidak bermaksud menjadi naif. Setidaknya, pada awalnya tidak menyadari bahwa kesederhanaan garis, bentuk yang tidak selesai, tubuh yang kadang terdistorsi, dan figur yang tampak seperti gambar anak akan membawa saya pada persoalan tentang naif. Saya merasa ada sesuatu yang semakin lama semakin penting dalam praktik menggambar saya; keinginan untuk melepaskan apa yang terlalu banyak saya ketahui.

Saya telah melewati pendidikan seni, sejarah seni, teori, teknik, kritik, pameran, studio, dan berbagai percakapan tentang bagaimana sebuah karya seharusnya dibangun. Saya tahu bagaimana anatomi dapat dibuat lebih meyakinkan, bagaimana perspektif dapat disusun, bagaimana komposisi dapat diseimbangkan, bagaimana warna dapat diharmonikan, dan bagaimana sebuah bentuk dapat dibuat tampak “selesai”. Tetapi semakin banyak yang saya ketahui, muncul pertanyaan yang justru berlawanan: apakah semua pengetahuan itu harus selalu dibawa ke dalam setiap karya?

Barangkali tidak. Ada saat ketika pengetahuan yang semula membantu justru berubah menjadi beban. Mata terlalu cepat mengenali kesalahan. Tangan terlalu cepat mengoreksi garis. Pikiran terlalu cepat menentukan apa yang bagus dan apa yang buruk. Sebelum garis selesai, kepala sudah memberi penilaian. Sebelum bentuk tumbuh, pengetahuan sudah menghakiminya.

Lukisan Noe di dinding tembok | Foto: Wayan Sujana Suklu

Pada titik itulah saya mulai memahami bahwa menjadi naif bagi seorang seniman dewasa bukan berarti tidak memiliki pengetahuan, melainkan berani memberi jarak terhadap pengetahuan. Saya tidak ingin kembali menjadi anak. Saya ingin kembali kepada cara melihat sebelum segala sesuatu diberi nama.

Ketika melihat gambar Noe, saya merasakan sesuatu yang sederhana tetapi mengganggu kesadaran artistik saya. Ia menggambar tanpa tampak memikirkan apakah tubuh manusia harus proporsional. Tidak ada kecemasan terhadap kesalahan. Di sana saya menemukan sesuatu yang mungkin telah lama hilang dalam diri saya sebagai seniman: keberanian untuk membiarkan garis terjadi.

Noe tidak sedang membuktikan kemampuan menggambar. Ia sedang menggambar. Perbedaan kecil itu bagi saya sangat besar.

Sebab dalam dunia seni, terutama setelah seseorang melewati pendidikan dan pengalaman panjang, tindakan menggambar sering kali sudah dibebani terlalu banyak kesadaran. Kita menggambar sambil membayangkan penonton. Menggambar sambil memikirkan sejarah. Menggambar sambil memikirkan konsep. Menggambar sambil bertanya apakah karya ini cukup kuat untuk dipamerkan. Bahkan tangan yang seharusnya bergerak bebas dapat menjadi terlalu sadar terhadap dirinya sendiri.

Anak belum memiliki beban tersebut. Karena itu, ketika saya melihat gambar Noe, saya tidak melihat keterbatasan. Saya melihat kebebasan yang belum sempat dirusak oleh pengetahuan. Tetapi di sinilah paradoksnya. Saya tidak mungkin menjadi Noe.

Lukisan Noe di dinding tembok kamar | Foto: Wayan Sujana Suklu

Saya sudah melewati masa ketika gambar dapat lahir tanpa sejarah. Saya sudah mengetahui terlalu banyak tentang seni untuk berpura-pura tidak tahu. Maka persoalannya bukan bagaimana kembali menjadi anak.

Persoalannya adalah: bagaimana menemukan kembali kualitas tertentu dari cara anak melihat, tanpa menyangkal seluruh pengetahuan yang telah saya lalui? Saya menyebutnya sebagai naif kedua. Naif pertama adalah naif karena belum tahu. Naif kedua adalah naif setelah tahu. Yang pertama adalah keadaan. Yang kedua adalah pilihan. Yang pertama datang secara alami. Yang kedua membutuhkan kesadaran.

Noe Menggambar Sebelum Mengetahui “Seni”; Saya Menggambar Setelah Mengetahui “Seni”

Ada jarak yang sangat jauh antara tangan Noe dan tangan saya.

Noe menggambar sebelum mengetahui bahwa apa yang dilakukannya disebut seni. Ia tidak perlu memikirkan sejarah seni, estetika, komposisi, perspektif, anatomi, gaya, kritik, kurator, galeri, atau bagaimana sebuah karya akan dibaca orang lain. Ia hanya berhadapan dengan bidang gambar, memegang alat, lalu membuat garis. Dari garis itu muncul manusia, mata, tubuh, tulisan, tanda, dan dunia kecil yang mungkin hanya masuk akal bagi dirinya.

Saya berada di tempat yang berbeda. Saya menggambar setelah melewati begitu banyak pengetahuan tentang seni. Saya mengetahui bahwa garis dapat menjadi ekspresif, bahwa komposisi dapat dibangun, bahwa warna memiliki relasi, bahwa figur dapat didistorsi, bahwa perspektif dapat dihancurkan, bahwa spontanitas dapat menjadi strategi artistik, bahkan bahwa sesuatu yang tampak seperti gambar anak dapat dibaca sebagai pilihan estetis.

Noe bergerak dari pengalaman menuju garis, bentuk, cerita. Sedangkan saya bergerak dari pengetahuan menuju pembongkaran, garis, dan bermuara pada pengalaman batin. Karena itu, naif pada Noe adalah keadaan, sedangkan naif pada saya adalah pilihan.

Dari Figur yang Dikenali Menuju Figur yang Dirasakan

Figur yang dikenali bekerja melalui tanda-tanda paling sederhana. Satu lingkaran dapat menjadi kepala. Dua titik menjadi mata. Garis vertikal menjadi tubuh. Dua garis horizontal menjadi tangan. Dua garis lain menjadi kaki.

Kita tidak membutuhkan anatomi lengkap untuk mengenali manusia. Anak-anak mengetahui hal ini dengan sangat baik. Gambar manusia mereka sering kali tidak realistis, tetapi kita segera mengenali siapa atau apa yang digambarkan. Primadi Tabrani menunjukkan bahwa gambar mempunyai bahasa rupa sendiri: gambar tidak selalu harus dibaca melalui logika bahasa verbal atau perspektif naturalistik. Ia dapat menyampaikan cerita melalui pilihan bentuk, susunan, tanda, dan cara menghadirkan objek.

Karya-karya Wayan Sujana Suklu (2026) Foto: Wayan Sujana Suklu

Karena itu, figur sederhana bukan berarti miskin informasi. Justru kadang-kadang semakin sedikit tanda yang digunakan, semakin aktif penonton melengkapi maknanya.

Saya melihat hal itu pada gambar Noe. Noe tidak perlu menggambar seluruh anatomi untuk menghadirkan manusia. Beberapa garis sudah cukup. Figur hadir bukan karena kemiripannya dengan tubuh nyata, tetapi karena kita mempunyai kemampuan untuk membaca tanda-tanda tersebut. Dalam tahap ini, figur adalah sesuatu yang kita kenali.

Tubuh yang saya lihat dari luar berbeda dengan tubuh yang saya alami dari dalam. Ini adalah persoalan yang menjadi sangat penting ketika saya membaca Maurice Merleau-Ponty. Dalam fenomenologi persepsinya, tubuh bukan sekadar benda yang berada di dunia. Tubuh adalah cara kita mengalami dunia. Ia membedakan tubuh sebagai objek dengan lived body, tubuh yang dihayati, tubuh yang dialami dari sudut pandang orang pertama.

Pemikiran ini mengubah cara saya melihat figur. Saya tidak lagi hanya bertanya bagaimana tubuh terlihat. Saya mulai bertanya: Bagaimana tubuh terasa?

Asia: Anak sebagai Subjek Kreatif, Bukan Objek yang Harus Diperbaiki

Pemikiran mengenai gambar anak juga menunjukkan bahwa kreativitas tidak semestinya dimatikan oleh terlalu cepatnya pembakuan. Pendidikan seni Jepang, misalnya, penelitian mengenai aktivitas menggambar anak menekankan pentingnya menerima bentuk representasi anak dan memberikan ruang agar perubahan ekspresinya berlangsung secara alamiah. Seiyo dan Takahashi menunjukkan pentingnya sikap pendidik yang menerima representasi karakter anak, bukan buru-buru menganggap bentuk yang tidak lazim sebagai kesalahan (Wakayama, I.: 2012).

Karya-karya Wayan Sujana Suklu (2026) Foto: Wayan Sujana Suklu

Sementara itu, praktik pendidikan seni Jepang mempunyai tradisi panjang dalam memberi tempat bagi karya kreatif anak; pameran pendidikan seni nasional Jepang bahkan telah berlangsung sejak 1922 dan secara khusus menampilkan karya kreatif yang lahir dari kegiatan pembelajaran anak. Hal ini menarik jika dibandingkan dengan Noe. Gambar Noe tidak perlu “dibetulkan” menjadi gambar orang dewasa. Justru nilai artistiknya terletak pada apa yang belum ia lepaskan.

Ia masih memiliki kebebasan untuk membesarkan mata, memanjangkan tubuh, menempatkan figur sesuka hati, mencampur tulisan dengan gambar, dan menjadikan dinding sebagai dunia.

Dari Asia Menuju Dunia: Rousseau, Dubuffet, dan Pencarian Kembali yang Primitif

Henri Rousseau menjadi salah satu figur penting karena lukisannya menghadirkan kesederhanaan, perspektif yang tidak konvensional, bidang yang datar, dan dunia imajinatif yang kemudian justru dihargai oleh dunia seni modern. Naive art pada abad ke-20 berkembang sebagai wilayah yang memperlihatkan bahwa ketidakpatuhan terhadap aturan perspektif tidak otomatis berarti ketidakmampuan artistik.

Kemudian Jean Dubuffet membawa persoalan ini ke wilayah yang lebih radikal melalui gagasan Art Brut. Seni yang mencari energi kreatif di luar norma akademik dan institusi seni. Dalam sejarahnya, kategori tersebut mencakup berbagai ekspresi yang sangat beragam, termasuk karya anak, orang autodidak, dan mereka yang berada di luar sistem seni arus utama. Namun kategori Art Brut sendiri kini juga diperdebatkan karena terlalu mudah menyatukan pengalaman artistik yang sebenarnya sangat berbeda.

Di sinilah kita harus berhati-hati. Noe tidak perlu disebut Art Brut. Ia juga tidak perlu dipaksa menjadi naive artist. Ia adalah anak yang menggambar. Sementara Suklu adalah seniman dewasa yang dapat menggunakan kualitas naif sebagai bahasa artistik. Perbedaannya harus tetap dipertahankan.

Yang menarik justru bukan persamaan mereka, tetapi jarak di antara mereka.

Jika kita hanya mengatakan bahwa karya Noe dan Saya sama-sama “naif”, kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih menarik. Yang menarik justru jarak antara keduanya. Noe berada di awal perjalanan visual. Saya berada di dalam perjalanan yang telah panjang. Noe belum mengetahui banyak aturan seni. Saya mengetahui terlalu banyak aturan seni.

Namun keduanya akhirnya menemukan sesuatu yang serupa: garis yang tidak perlu menjelaskan terlalu banyak. Ini seperti dua orang yang datang dari arah berlawanan dan bertemu di sebuah jalan kecil. Yang satu datang dari masa kanak-kanak.

Yang satu datang dari pengalaman. Mereka bertemu pada kesederhanaan. Tetapi kesederhanaan itu berbeda. Noe menemukan kesederhanaan secara alamiah. Saya harus bekerja keras untuk menemukannya kembali.

Naif sebagai Pembongkaran Ego Seniman

Bagi seniman dewasa, menjadi naif sebenarnya tidak mudah. Semakin seseorang berpendidikan seni, semakin banyak ia mengetahui bagaimana membuat gambar “bagus”. Ia mengetahui komposisi. Ia mengetahui anatomi. Ia mengetahui perspektif. Ia mengetahui sejarah gaya. Ia mengetahui bagaimana membuat karya tampak kontemporer. Ia mengetahui bagaimana karya dibaca oleh kurator. Ia bahkan mengetahui bagaimana membuat sesuatu tampak spontan.

Persoalannya: bagaimana menjadi spontan ketika kita sudah mengetahui terlalu banyak? Inilah persoalan saya. Karya naif seorang seniman dewasa selalu membawa paradoks kesadaran. Ia bukan lagi spontanitas murni. Ia adalah spontanitas yang telah melewati kesadaran.

Karena itu, kualitas kasar pada karya saya dapat dibaca bukan sebagai ketidaktahuan, tetapi sebagai bentuk unlearning. Belajar untuk melupakan sebagian pengetahuan yang telah menumpuk di dalam tubuh artistik.

Noe justru mengajarkan sesuatu kepada saya.

Di titik ini hubungan antara keduanya menjadi lebih menarik. Kita biasanya berpikir bahwa orang dewasa mengajari anak. Tetapi dalam konteks seni, mungkin terjadi sebaliknya: anak mengingatkan seniman dewasa tentang sesuatu yang telah hilang.

Karya-karya Wayan Sujana Suklu (2026) Foto: Wayan Sujana Suklu

Noe mengingatkan bahwa gambar tidak harus diawali dengan teori. Tidak harus dimulai dengan konsep. Tidak harus diawali pertanyaan tentang pasar. Tidak harus memikirkan kurator. Tidak harus memikirkan sejarah seni. Tidak harus memikirkan apakah bentuknya kontemporer.

Tangan cukup bergerak. Garis cukup hadir. Dunia cukup diciptakan. Dalam pengertian ini, Noe dapat menjadi semacam guru kecil bagi saya. Bukan guru teknik. Melainkan guru tentang keberanian untuk tidak terlalu tahu.

Naif sebagai Metode Kontemporer

Karena itu, istilah naif sebenarnya dapat diperluas. Ia tidak harus menjadi kategori gaya. Ia dapat menjadi metode penciptaan. Seniman dapat secara sadar mengurangi kompleksitas visual untuk menemukan kompleksitas pengalaman. Mengurangi detail untuk memperbesar kesadaran. Mengurangi perspektif untuk memperbesar kehadiran. Mengurangi anatomi untuk memperbesar gestur. Mengurangi warna untuk memperbesar energi garis. Mengurangi narasi untuk memberi ruang pada ingatan.

Di sinilah karya saya dapat dibaca dalam konteks praktik seni kontemporer. Ia bukan kembali menjadi anak. Ia menggunakan kemungkinan berpikir anak untuk membongkar kebiasaan berpikir orang dewasa.

Kalau kita ingin membuat sebuah konsep teoritis dari pertemuan Noe dan saya, mungkin dapat disebut: Adult Naivety-Kenafian Dewasa

Adult naivety bukan berarti seniman menjadi tidak terampil. Sebaliknya, ia adalah kondisi ketika keterampilan sengaja diturunkan intensitasnya agar pengalaman yang lebih mendasar dapat muncul.

Noe berada pada child art. Suklu berada pada adult naivety.

Noe belum meninggalkan spontanitas. Saya mencoba kembali kepadanya.

Noe belum mempunyai beban sejarah seni. Saya membawa seluruh sejarah seni itu lalu berusaha meletakkannya di belakang.

Noe menggambar karena ingin menggambar. Saya menggambar karena ingin menemukan kembali alasan mengapa seseorang menggambar.

Noe dan Suklu: Dua Ujung Sebuah Garis

Jika karya Noe adalah awal, maka karya Saya adalah kembali. Noe bergerak dari dunia menuju gambar. Saya bergerak dari gambar menuju dunia batin. Noe menyederhanakan dunia karena kemampuan visualnya sedang tumbuh.

Saya menyederhanakan dunia karena kesadarannya ingin kembali pada sesuatu yang lebih elementer. Noe menemukan manusia melalui mata bulat dan kepala besar.

Saya menemukan manusia melalui tubuh yang gelap, pecah, dan hampir tanpa identitas. Noe berkata: “Ini aku, ini kamu, ini manusia.”

Saya seolah berkata: “Di mana manusia setelah semua nama, identitas, pengetahuan, dan pengalaman dilepaskan?”

Pada akhirnya, pertemuan Noe dan saya bukanlah pertandingan antara gambar anak dan gambar seniman. Ini bukan persoalan siapa yang lebih bagus. Bukan pula persoalan siapa yang lebih terampil. Yang terjadi adalah dialog lintas usia melalui garis.

Noe menunjukkan bahwa gambar dapat lahir sebelum teori. Saya menunjukkan bahwa setelah teori, gambar masih dapat kembali mencari kesederhanaan.

Noe mengajarkan kebebasan. Saya mengajarkan pelepasan.

Maka naif mungkin bukan sebuah gaya. Ia adalah sebuah posisi batin. Sebuah keberanian untuk menanggalkan sebagian pengetahuan agar sesuatu yang lebih jujur dapat muncul.

Dalam karya Noe, garis masih belum mengenal rasa bersalah. Dalam karya Saya, garis telah mengenal terlalu banyak hal lalu memilih untuk diam.

Dan mungkin justru di antara keduanya, antara tangan anak yang belum tahu dan tangan seniman yang sudah terlalu tahu. kita menemukan kembali alasan paling sederhana mengapa manusia menggambar: karena sebelum manusia mampu menjelaskan dunia dengan kata-kata, ia telah lebih dahulu meninggalkan jejaknya melalui garis.

Bahan Bacaan:

[1] Lowenfeld, V., & Brittain, W. L. (1987). Creative and mental growth (8th ed.). Prentice-Hall. Buku ini menjadi salah satu rujukan klasik dalam memahami perkembangan ekspresi visual anak, termasuk hubungan antara kreativitas, perkembangan mental, simbol, dan gambar anak.

[2] Kellogg, R. (1969). Analyzing children’s art. National Press Books. Kellogg menekankan pentingnya melihat coretan dan bentuk awal anak sebagai ekspresi visual yang memiliki struktur, bukan semata-mata sebagai gambar yang belum sempurna.

[3] Tabrani, P. (2014). Bahasa rupa. Kelir. Pemikiran Tabrani penting dalam konteks Indonesia karena memandang bahasa visual sebagai sistem komunikasi yang tidak selalu mengikuti logika perspektif Barat. Kajian Bahasa Rupa juga dikembangkan melalui pengamatan terhadap gambar anak dan gambar prasejarah.

[4] Hendri, Z., & Wulandari, D. (2022). Seni rupa anak & pembinaannya: Perspektif wacana kreativitas dan pedagogi kreatif. Cantrik Pustaka. Referensi ini menempatkan seni rupa anak dalam hubungan antara kreativitas, pengalaman, pedagogi, dan perkembangan ekspresi.

[5] Malika, K. N., & Pamadhi, H. (2022). Mengembangkan ekspresi jiwa anak dengan berseni. Sungging: Journal of Innovative, Cultural, Transdisciplinary Art and Kriya Discourse, 1(1), 79–86. https://doi.org/10.21831/sungging.v1i1.57555. Kajian ini menegaskan pentingnya seni sebagai ruang pengembangan ekspresi jiwa anak.

[6] Arnheim, R. (1974). Art and visual perception: A psychology of the creative eye. University of California Press. Arnheim memberikan dasar penting untuk memahami bahwa persepsi visual bukan aktivitas pasif, melainkan proses aktif pengorganisasian bentuk dan makna.

[7] Seiyo, Y., & Takahashi, T. (2014). Accepting and guiding character depictions in children’s drawing activities. The Journal for Japanese Association of Art Education, 35, 315–326. https://doi.org/10.24455/aaej.35.0_315. Penelitian ini relevan untuk konteks Asia karena menekankan pentingnya menerima perkembangan representasi anak dan tidak terlalu cepat menganggap bentuk yang berbeda sebagai penyimpangan.

[8] Wakayama, I. (2012). Prospects of young children’s “as if” drawing activity in 21st century learning. The Journal of Art Education Association, 33, 437–447. https://doi.org/10.24455/aaej.33.0_437. Kajian ini memperlihatkan hubungan aktivitas menggambar “seolah-olah” dengan permainan artistik dan pengembangan kreativitas anak.

[9] Getty Research Institute. (n.d.). Naive art. Art & Architecture Thesaurus. Getty Research Institute. Definisi Getty membantu membedakan naive art dari outsider art dan folk art, sekaligus menunjukkan bahwa estetika naif dapat digunakan baik oleh seniman nonprofesional maupun seniman yang telah mendapatkan pelatihan.

[10] Google Arts & Culture. (n.d.). What is naive art? Google Arts & Culture. Sumber ini berguna untuk melihat sejarah penerimaan naive art dalam dunia seni modern, termasuk posisi Henri Rousseau dan karakteristik kesederhanaan, keterusterangan, serta perspektif nonkonvensional dalam seni naif.

[11] Cardinal, R. (1972). Outsider art. Studio Vista. Istilah outsider art penting sebagai pembanding, tetapi tidak boleh begitu saja disamakan dengan gambar anak atau karya Suklu; konteks sosial dan posisi senimannya berbeda.

[12] Dewey, J. (1934). Art as experience. Minton, Balch & Company. Kerangka Dewey relevan untuk membaca kedua karya bukan hanya sebagai objek visual, tetapi sebagai hasil pengalaman yang diwujudkan melalui material, tubuh, persepsi, dan tindakan.

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: SeniSeni RupaSeni rupa anakseni rupa Baliseni rupa Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Next Post

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka
Esai

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
Telenovela
Esai

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

by Angga Wijaya
August 11, 2026
‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali
Pop

‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali

Sube tawang, bajang care adine Mepayas seksi, ngalih bapak medasi Dini ditu setate ngaku perawan Nanging mare cobak, hey… jeg...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli
Panggung

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co