SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang lebih terorganisasi mulai tampak dalam penyelenggaraan KIAS (Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat) pada 1990–1991.
Dalam ajang kebudayaan berskala besar yang diselenggarakan Pemerintah Indonesia tersebut, karya yang diperkenalkan kepada publik Amerika tidak hanya berupa seni pertunjukan, lukisan, dan wayang, tetapi juga karya sastra.
Dari sekian banyak karya sastra terjemahan yang diterbitkan untuk KIAS, salah satunya adalah antologi New York After Midnight: 11 Indonesian Short Stories suntingan sastrawan Satygraha Hoerip dalam bahasa Inggris. Antologi ini memperkenalkan keragaman sastra dan budaya Indonesia kepada publik Amerika. Dengan demikian, sastra menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Indonesia melalui karya budaya secara halus dan nonformal.
Hal itu saya sampaikan dalam seminar “Sastra Terjemahan, Diplomasi Budaya: A Tribute to the Translator Vern Cork”, yang digelar Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, di Museum Bali, Sabtu, 8 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan HUT ke-25 Prodi Kajian Budaya Universitas Udayana.

Menurut saya, popularitas Bali sebagai daerah tujuan wisata juga tidak dapat dilepaskan dari beredarnya buku-buku yang memperkenalkan seni, budaya, dan kehidupan Bali kepada pembaca internasional. Ia menyebut antara lain The Island of Bali (1937) karya Miguel Covarrubias, Dance and Drama in Bali (1938) karya Walter Spies dan Beryl de Zoete, serta Bali: A Paradise Created (1989) karya Adrian Vickers. Karya sastra seperti Eat, Pray, Love (2006) karya Elizabeth Gilbert juga turut memperkuat citra Bali di tingkat internasional.
Dalam konteks sastra terjemahan, saya mengungkapkan peran Yayasan Lontar di Jakarta yang sejak berdiri 1987 memiliki perhatian pada penerjemahan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris dan memperkenalkannya kepada pembaca internasional. Karya-karya yang diterjemahkan kemudian menjadi bagian dari promosi dan diplomasi budaya karena dapat beredar, dibaca, dan dikoleksi oleh masyarakat internasional.

Diplomasi lewat buku sastra memang bersifat diplomasi diam-diam. Dampaknya pelan dan panjang. Bisa jadi Bali Behind the Seen yang terbit 1996 dibaca dan dikoleksi sampai sekian tahun ke depan sebagai medium untuk memperkenalkan Bali dengan segala aspek alam dan seni budayanya.
Dalam konteks ini, karya-karya terjemahan Vern Cork atas cerpen dan puisi sastrawan (dari) Bali ikut melaksanakan tugas sebagai diplomasi budaya.
Sehari sebelum acara, Wamen Kebudayaan Giring Ganesha sempat melakukan kunjungan kerja ke Museum Bali. Beliau sempat menghampiri ruang seminar dan bercakap dengan panitia, mengapresiasi kegiatan budaya yang digelar.
Mengenang Vern Cork
Seminar tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengenang Vern Cork, penerjemah yang mendedikasikan sebagian hidupnya untuk sastra dan kebudayaan Bali. Lahir di Sydney pada 11 Januari 1946 dan meninggal di Bali pada 1 Agustus 2024, Vern tinggal di Bali secara on-off sejak 1970-an hingga 2020-an.
Selama tinggal di Bali, Vern antara lain menjadi tenaga sukarelawan di perpustakaan, menerjemahkan dan menerbitkan karya sastra para pengarang yang tinggal di Bali, serta membantu Yayasan Cahaya Mutiara Ubud, organisasi yang beranggotakan warga penyandang disabilitas. Pada masa-masa akhir hidupnya, Vern sendiri mengalami kelumpuhan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk berkarya dan berkontribusi.

Empat buku terjemahan yang dihasilkannya antara lain Bali Behind the Seen: Recent Fiction from Bali (1996), Bali the Morning After: Poems about Bali by Bali’s Major Poets (2000), Ordeal by Fire (Mandi Api) karya Gde Aryantha Soethama, dan The Sweat of Pearls (Keringat Mutiara) karya Putu Oka Sukanta. Bali Behind the Seen sendiri memuat karya-karya fiksi penulis Bali yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya.
Vern juga menerbitkan Bali So Many Faces (1996), kumpulan cerpen berbahasa Indonesia yang dilengkapi catatan mengenai diksi dan kosakata budaya. Buku tersebut diterbitkan dalam konteks proyek Language Acquisition Research Centre (LARC), University of Western Sydney, antara lain sebagai bahan ajar.

Dalam sesi tribute, sastrawan Gde Aryantha Soethama menyampaikan terima kasih kepada Vern Cork karena telah menerjemahkan karya sastra Bali dan membawanya kepada pembaca yang lebih luas. Bagi para pengarang yang karyanya diterjemahkan, kehadiran Vern bukan sekadar sebagai penerjemah, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan sastra Bali dengan pembaca di luar Indonesia.
Sementara itu, Jilli Streit, sahabat Vern dari Sydney yang hadir di Bali, mengenang Vern sebagai sosok yang baik dan tulus serta selalu dikelilingi orang-orang baik. Menurut Jilli, kecintaan Vern terhadap seni dan sastra juga tidak terlepas dari lingkungan keluarganya. Ayahnya adalah seorang pelukis, sedangkan ibunya merupakan pengarang yang produktif.

Tribute Penuh Persahabatan
Acara tersebut menghadirkan tiga pembicara, yaitu saya, Gde Aryantha Soethama, dan Jilli Streit, dengan I Made Sujaya sebagai moderator. Suasana semakin istimewa dengan pembacaan puisi oleh AAS Mas Ruscitadewi, Oka Rusmini, dan Tan Lioe Ie.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh kenangan. Sejumlah peserta turut aktif berbagi cerita dan pandangan, antara lain Abu Bakar, Tan Lioe Ie, Arif Bagus Prasetyo, Made Kaek, Prof. Sri Jayanti, Wayan Juniartha, Gde Hariwangsa, Sri Lestari Riri, Ketut Yuliarsa, Dr. I Wayan Artika, dan Wayan Damai dari Yayasan Cahaya Mutiara Ubud.

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi forum untuk membicarakan sastra terjemahan dan diplomasi budaya, tetapi juga menjadi ajang reuni para sahabat, sastrawan, seniman, dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan kehidupan Vern Cork.
Suasana suka cita sangat terasa sepanjang acara. Ketut Yuliarsa, penyair asal Ubud yang kini tinggal di Sydney dan baru saja menerima Anugerah Seni Bali Jani, mengungkapkan kesannya dengan sederhana: “Acaranya bagus, gembira ketemu teman-teman penulis dan seniman.”
Semangat itulah yang tampaknya paling tepat untuk menggambarkan tribute bagi Vern Cork: sebuah perjumpaan untuk mengenang seorang penerjemah, sekaligus merayakan persahabatan, sastra, dan hubungan budaya yang melampaui batas bahasa dan negara.

Jilli Streit juga menyampaikan kesannya yang menyenangkan: “Thank you Darma Putra for your wonderful organisation of the program. I enjoyed the morning very much and really hope some broader inspiration might come from it. The venue was really delightful and the food was so well prepared and managed Thank you for all of that. Thank you Diah!
Most of all I loved the professional attitude of the speakers including the contribution from the audience. I feel humbled by your knowledge of language literature and most of all your appreciation of the value of cross cultural diplomacy. Thank you so much. Well done to everyone concerned”. (*)

































