7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

Made Chandra by Made Chandra
August 7, 2026
in Kritik Seni
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

Buku Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (1979) | Sumber: Perpustakaan Gurat Institute

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak, kah, surealisme, kah, atau justru realisme?

Pertanyaan itu mungkin terdengar klise, tapi percayalah, pada era modern ini 70% dari publik kita masih terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang dulu pernah sebegitu diyakini itu. Sayangnya, seni rupa tak menunggu mereka yang terlalu meromantisir masa-masa lampau. Ia melesat begitu cepat, dinamis, dan penuh dengan pergolakan.

Kita bisa balik melihat bagaimana Gerakan Seni Rupa Baru meproklamirkan “Lima Jurus Gebrakan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia” dalam terbitan bukunya tahun 1979, yang berisi pernyataan ideologi yang mencoba membongkar konvensi-konvensi klasik tentang apa yang para pendahulu mereka yakini sebagai seni rupa sebelum era 70-an.

Buku Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (1979) | Sumber: Perpustakaan Gurat Institute

Menjauhi segala jenis isme-isme dan kemasteran dalam satu jenis atau gaya seni tertentu adalah misi utama mereka. Gerakan itu merangsek untuk merumuskan ulang bagaimana seni rupa bisa hadir tanpa terikat aturan-aturan bentuk tersebut. Lebih-lebih bagaimana gagasan bisa hadir dengan kemungkinan rupa apa saja, bahkan dari objek-objek paling banal sekalipun.

G. Sidharta—seorang tokoh pembaharu seni patung—dalam salah satu tulisannya yang dimuat pada buku GSRBI (1979) sudah menyoal problematika gaya yang menggerogoti sebagian besar para master seni rupa, yang pada masa itu sedemikan percayanya pada satu gaya yang melekat dalam nadi kesenimanan mereka.

Di sana tertulis: “Pertama, identitas yang diartikan dengan “gaya”. Artinya, bila seseorang sudah kelihatan mempunyai gaya dalam karyanya, dan kelihatan “consistent” pada gaya tersebut, dia bisa dianggap telah memiliki identitas……… Celakanya penemuan diri ini sering dianggap sebagai sesuatu yang tetap…. Bahwa identitas itu berkaitan dengan manusia yang belum mati, belum berhenti, dan masih hidup dan berkembang, tidak pernah terjangkau oleh pengertian tersebut!”

Artikel G. Sidharta dalam Buku Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (1979) | Sumber: Perpustakaan Gurat Institute

Dalam kutipan tersebut kita paham bahwa 47 tahun lalu kesenian sudah mengambil kopernya untuk berangkat menuju pemberhentian selanjutnya. Meninggalkan serta menanggalkan pemahaman tentang seni rupa yang telah mereka anggap usang.

Jika kita menarik konteks tersebut pada kecenderungan karya dan seniman yang hadir hari ini, maka sudah tentu tidak lagi relevan. Menetapkan satu label tertentu— yang kita yakinkan melekat sepenuhnya sama dengan isme atau gaya yang dipilihnya —dalam kurun waktu hingga seniman tersebut mangkat.

Misal di Jogja kita menemukan seniman semacam Ugo Untoro, yang tidak percaya betul tentang eksistensi sebuah gaya atau aliran dalam menciptakan sebuah karya. Sehingga kamu bisa menemukan dirinya dalam satu pameran yang sama, dengan karya-karya dalam penilaian artistik yang terpaut jauh berbeda.

Pameran Tunggal Ugo Untoro di Nadi Gallery Juli 2025 lalu | Sumber: Instagram @nadi.gallery

Atau di Bali kita melihat seniman sekaliber Mahendra Yasa, seorang ilmuwan yang menyamar di balik selimut seni rupa. Di mana ia memperlakukan karyanya sebagai medium dari eksperimentasi, percobaan dan pendobrakan terhadap kreatifitas manusia. Di satu masa ia pernah dengan getol menggandrungi realisme, lalu di tengah-tengah masa itu ia juga menekuni abstrak dengan segala perihal kebentukannya. Hingga yang paling muktahir pada percobaan dan pemikirannya terkait seni lukis tradisi Bali yang mengkristal dalam gerakan “Neo Pitamaha”.

Sketsa yang menampilkan proses berpikir sebelum tertumpah dalam lukisan, pada buku Monografi Mahendra Yasa yang Diterbitkan Oleh Gang Kabel | Sumber: Photo by Made Chandra

Gejala-gejala tersebut menjadi jembatan untuk kita memahami bagaimana karya seni dihadirkan serta dipahami hari ini. Bahwa persoalan gaya dan ketakutan akan label artistik, mengalami transformasi yang cukup dinamis, terutama jika kita kerucutkan dalam konteks seni rupa indonesia.

Gaya, Labeling, dan Pasar

Nyatanya, permasalahan menyoal identitas, gaya, dan label yang dicapkan kepada setiap seniman tidak hanya selesai pada persoalan wacana saja. Di sinilah kita mulai melihat bagaimana pasar yang dalam hal ini dipahami sebagai segala sesuatu yang menjadi stakeholder industri kesenian, seperti kolektor, manajer seni, galeri serta berbagai art fair yang menghubungkan seni dengan pertukaran nilai material.

Bukan hanya seniman sang pemasok barang seni, yang harus bersusah payah merelevansi dirinya dengan perkembangan seni rupa yang makin susah untuk dipetakan ini. Individu di luar seniman terutama yang terkait dengan penerimaan publik seni terkait dinamika wacana—seperti yang telah dipersoalkan tadi juga menjadi hal yang sangat penting untuk disadari bersama.

Ketakutan seniman untuk beranjak dari kebiasaan artistiknya, tentu berelasi dengan berbagai momok yang menghantui karier kesenimanannya. Apakah karyaku akan diterima pasar? Apa ada kolektor yang mau membeli karya di luar kebiasaan artistiknya? Atau galeri yang juga belum bisa move on dengan seniman-seniman di era kejayaan para old master, dengan goresan saktinya?

Kadangkala label artistik yang sudah terlanjur tertambat pada seorang individu seniman, malah memenjarakannya dalam pola-pola yang terus berulang. Sehingga dari sanalah muncul stagnasi, hingga berakhir pada kemandatan proses berpikir dan berkesenian seorang seniman.

Karya monumental Mahendra Yasa | Sumber: Indoartnow.com

Di sinilah kecerdikan seniman serta kelenturan pasar harus terus dinegosiasikan untuk perlahan menerima perubahan yang hadir dalam gejala seni rupa kita hari ini. Dari proses tarik-menarik itulah seniman tak lagi perlu risau untuk beranjak dan mengeksplor kemungkinan lain dari potensi imajinasinya.

Di tengah perbincangan inilah kita bertanya, “Apakah pasar sebenarnya betul-betul menginginkan eksperimen atau para kolektor yang belum merelevansi seleranya?” Maka jangan protes jika banyak seniman yang tidak bisa bertarung dalam percakapan seni rupa yang lebih muktahir, ketika penyakit-penyakit itu belum diupayakan kesembuhannya.

Seniman Gen-Z di Era Percepatan Informasi

Seperti yang telah kita cerap dari berbagai diskursus para pakar, bahkan hingga konten-konten edukatif yang bertebaran di internet, menyoal era digital dan percepatan informasi.

Kini, kita sampai pada masa di mana produksi informasi bergerak lebih gesit mendahului kecepatan kita dalam menyerapnya. Akibatnya tentu bisa fatal. Di mana berbagai berita berjejalan hingga membanjiri kapasitas perpustakaan dalam kepala kita.

Dalam konteks kesenian hari ini, hal itu tentu berimplikasi pada melimpahnya referensi visual yang bisa diakses oleh para seniman di era generasi digital ini.

Sebut saja Pinterest, sebuah platform yang kita semua sudah pasti menggunakannya untuk menyegarkan serta menambah bekal amunisi visual yang siap untuk diamati, tiru, dan modifikasi. Seperti lelucon barang KW saja.

Platform Pinterest, tempat Seniman mencangkul referensi visual hari ini | Sumber: Aplikasi Pinterest

Meluapnya referensi bentuk yang bisa dipakai dalam setiap karya hari ini, meninggalkan sebuah pernyataan—yang bahkan sudah dipersoalkan jauh-jauh berabad-abad lalu—“There is nothing new under the sun”. Selama kita masih berdiri di bawah matahari yang sama, nyatanya semua hal di dunia ini adalah pengulangan, replikasi, dan kebaruan yang hanya berlaku dalam konteks lokasi tertentu. Tidak ada yang benar-benar lahir dari sesuatu yang belum pernah ada wujudnya, semua merujuk dari referensi ke referensi berikutnya.

Lalu bagaimana jika kita tarik lagi ke dalam percakapan seni rupa, yang kita sudah tentu tahu bahwa kebaruan adalah fetish yang begitu dikejar oleh tiap-tiap seniman, dari zaman baheula hingga era ketika seni rupa mulai dipergunjingkan dalam berbagai platform digital.

Muncul beragam pertanyaan.

Apa makna originalitas? Kebaruan jenis apa lagi yang harus dihasilkan? Atau persoalan identitas dan gaya seperti apa yang telah dipertanyakan oleh G. Sidharta 47 tahun silam?

Boris Groys dalam artikelnya berjudul Comrades of Time menjelaskan bagaimana kita tidak bisa mengaitkan kebaruan seni rupa kontemporer berdasarkan kemajuan yang linear. Sesuatu yang sedemikian rupanya diyakini dan diperjuangkan oleh modernisme.

Di era kontemporer, lebih jelasnya ketika era digital merangsek dalam kehidupan kita hari ini, memungkinan kehadiran dari segala jenis kesejarahan seni dalam satu waktu yang bersamaan. Lukisan klasik, seni tribal, avant-garde, seni konseptual, digital, hingga AI dapat bercakap-cakap dalam satu waktu yang sama.

Oleh karena itu, dalam Comrades of Time, Boris menawarkan pembacaan waktu sebagai “kawan seperjalanan”. Di mana waktu tak berjalan menuju masa depan yang linier, namun saling bersilangan. Di mana masa lalu, tidak pernah benar-benar habis, ia terus dibaca kembali melalui arsip, dan reproduksi digital kita hari ini.

Sehingga, tugas atau dalam konteks ini adalah tantangan yang menghinggapi para seniman muda bukanlah menciptakan bentuk yang belum pernah ada, melainkan kebaruan yang lahir dari proses rekontekstualisasi, bukan hadir dari penciptaan ex nihilo (dari ketiadaan). Karna seni kontemporer tidak hidup dengan menemukan bentuk baru, tetapi karena mampu menghadirkan ulang arsip lama dalam situasi waktu yang baru—berjalan sebaliknya, atau menyilang-nyilang hingga kehilangan konsep waktu yang berjalan lurus-lurus saja.

Pameran S3buah Tak Cukup, B3rbuah… yang menampilkan karya seniman-seniman muda di Gallery Edsu House, September 2025 lalu | Sumber : Instagram @edsu_house

Kita kemudian bergeser dari pertanyaan yang semula tentang isme apa yang hadir dalam karyamu? Menjadi karyamu berbicara tentang apa dan bahasa rupa apa yang kamu gunakan dalam mewujudkannya?

Karna pada hakikatnya, semua referensi telah ada. Tinggal pada saat seperti apa kemudian ia dipergunakan. Ketika seniman ingin berbicara tentang romantisasi maka sudah tentu ia mengambil bahasa yang puitis dan liris. Sebaliknya, ketika ia ingin mengungkapkan sesuatu yang politis, bahasanya akan lugas dan konfrontatif. Setiap bahasa rupa, baik itu teknik ataupun material, akan menyimpan kedekatan yang tidak bisa diwakilkan hanya dalam satu bahasa saja.

Bukan berarti kehadiran isme atau aliran sudah tidak penting. Kini kita perlu memandang hal tersebut tidak lagi berhenti sebagai identitas yang dipilih lalu dipermanenkan. Ia merubah perannya sebagai kosarupa yang bebas untuk dieksplorasi, dipertanyakan, dipertukarkan, dan dibenturkan oleh si seniman dalam karya-karyanya.

Maka semua tergantung pada intensi. Ketika maksud dan tujuan karya sejalan dengan bahasa dan perlakuan apa yang seniman injeksikan ke dalam karya, maka di sanalah kecakapan seniman dianggap berhasil. Tentu dengan kenakalan, keliaran berpikir, dan kecelakaan artistik yang menjadi kodrati tiap seniman. Maka sudahilah isme-ismemu itu![T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia dalam Secangkir Kopi

Next Post

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

by Made Chandra
July 19, 2026
0
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
0
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

Read moreDetails

Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

by Agus Arta Wiguna
July 19, 2025
0
Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB)...

Read moreDetails

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

by I Gusti Made Darma Putra
July 19, 2025
0
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

DALAM dunia seni, sebuah kompetisi sejatinya lebih dari sekadar ajang unjuk bakat. Ia adalah wadah pengembangan, ruang pembinaan, dan panggung...

Read moreDetails
Next Post
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca "Satya–Tyagya–Dharma" Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co