“Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun.”
Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring makna yang ia pintal sendiri.
— Clifford Geertz
SAYA pernah mencalonkan diri menjadi presiden. Bukan melalui partai politik. Bukan pula melalui Komisi Pemilihan Umum. Pencalonan itu berlangsung diam-diam, tanpa spanduk, tanpa rapat umum, tanpa pidato. Semuanya terjadi di dalam kepala saya.
Ketika pertama kali membuat akun Facebook, saya menulis dua kata pada kolom keterangan diri: Calon Presiden. Saya tidak sedang melucu. Saya tidak sedang menyindir politik Indonesia. Saya juga tidak sedang mencari perhatian. Saya benar-benar percaya bahwa suatu hari saya akan menjadi presiden. Keyakinan itu terasa begitu wajar sehingga saya tidak melihat alasan untuk menyembunyikannya.
Hari ini, ketika membuka kembali akun lama itu, saya tersenyum. Dua kata tersebut masih tersimpan di sana, seperti kapsul waktu yang menyimpan jejak seseorang yang pernah hidup di dalam kenyataan yang berbeda.
Orang itu adalah saya. Namun, pada saat yang sama, rasanya ia juga bukan saya. Ada masa ketika saya tidak mampu membedakan antara apa yang benar-benar terjadi dan apa yang dibangun oleh pikiran saya sendiri.
Dunia terasa dipenuhi pertanda. Percakapan orang lain seolah mengandung pesan yang ditujukan kepada saya. Berita-berita politik tampak seperti rangkaian isyarat yang mengarahkan langkah saya menuju sesuatu yang besar. Saya merasa sedang memahami kenyataan yang belum mampu dipahami orang lain.
Sekarang saya tahu bahwa pengalaman itu adalah waham. Dalam ilmu psikiatri, waham adalah keyakinan yang tetap dipertahankan meskipun bertentangan dengan kenyataan dan tidak dapat diubah hanya dengan penjelasan atau bukti. Waham yang saya alami termasuk waham kebesaran. Pada sebagian orang, waham kebesaran membuat seseorang merasa dirinya nabi, raja, tokoh besar, atau penyelamat dunia. Pada saya, bentuknya adalah keyakinan bahwa saya akan menjadi presiden.
Banyak orang mengira waham hanyalah khayalan yang dipercayai terlalu jauh. Pengalaman saya mengatakan sebaliknya. Waham tidak terasa seperti khayalan. Ia terasa seperti kenyataan.
Karena itulah orang yang sedang mengalami waham tidak merasa sedang berbohong. Ia tidak sedang berpura-pura. Ia sungguh mempercayai apa yang diyakininya. Bagi dirinya, dunia memang terlihat demikian.
Saya pun begitu. Saya tidak sedang memainkan peran. Saya sedang sakit. Bertahun-tahun kemudian, setelah menjalani pengobatan dan perlahan pulih, saya mulai berani melihat kembali masa itu.
Awalnya ada rasa malu. Bagaimana mungkin saya pernah menulis “Calon Presiden” di media sosial? Bagaimana mungkin saya begitu yakin terhadap sesuatu yang sama sekali tidak memiliki dasar?
Namun, rasa malu itu perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu. Saya berhenti bertanya, mengapa saya mengalami waham? Sebaliknya, saya mulai bertanya, mengapa isi waham saya adalah presiden?
Mengapa bukan guru? Mengapa bukan petani? Mengapa bukan penulis, padahal sejak muda saya lebih akrab dengan buku daripada dunia politik? Pertanyaan itu membawa saya kembali kepada disiplin ilmu yang pernah saya pelajari bertahun-tahun lalu, yakni, antropologi.
Meski tidak sempat menyelesaikan pendidikan di Jurusan Antropologi Budaya Universitas Udayana karena skizofrenia yang saya alami, cara berpikir antropologi tidak pernah benar-benar meninggalkan saya. Ia justru membantu saya memahami pengalaman yang dahulu hanya saya anggap sebagai episode paling memalukan dalam hidup.
Saya mulai melihat bahwa waham mungkin bukan hanya persoalan otak. Ia juga persoalan kebudayaan. Sebab, ketika otak saya membangun sebuah kenyataan yang keliru, ia ternyata tidak menggunakan bahasa yang asing.
Ia menggunakan simbol-simbol yang telah lama hidup di dalam masyarakat tempat saya dibesarkan. Dan salah satu simbol paling kuat itu adalah presiden.
Semakin lama saya memikirkan pengalaman itu, semakin saya percaya bahwa waham tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia selalu meminjam sesuatu yang telah lebih dahulu kita kenal.
Saya lahir di Bali dan tumbuh dalam keluarga yang, seperti kebanyakan keluarga Indonesia, akrab dengan berita di televisi. Pada masa itu, layar kaca adalah jendela yang menghubungkan kami dengan dunia luar. Hampir setiap malam wajah presiden muncul di ruang tamu. Di sekolah, foto presiden dan wakil presiden tergantung di atas papan tulis. Upacara bendera setiap hari Senin mengajarkan kami menghormati negara dan pemimpinnya.
Tanpa disadari, sosok presiden menjadi bagian dari imajinasi kolektif kami. Presiden bukan hanya seorang pejabat publik. Ia adalah simbol. Simbol tentang kuasa, kewibawaan, harapan, sekaligus kemampuan mengubah nasib jutaan orang.
Saya tidak pernah bercita-cita menjadi presiden. Sejak remaja saya justru lebih senang membaca novel, puisi, dan buku-buku antropologi. Saya lebih sering membayangkan hidup sebagai penulis daripada sebagai politikus.
Namun, skizofrenia tidak bertanya apa cita-cita seseorang. Ketika episode psikosis datang, simbol “presiden” tiba-tiba menjadi sangat nyata di dalam kepala saya.
Kini saya bertanya-tanya, mungkinkah otak yang sedang sakit hanya meminjam simbol-simbol yang telah lama disimpan oleh kebudayaan? Saya tidak memiliki jawaban yang pasti. Tetapi pertanyaan itu membuat saya melihat pengalaman saya dari sudut yang berbeda.
Antropologi psikologi memandang bahwa pengalaman batin manusia tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kebudayaan. Cara kita mencintai, berduka, berdoa, bermimpi, bahkan mengalami penderitaan, selalu dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita hidup.
Kebudayaan menyediakan bahasa untuk menjelaskan apa yang kita rasakan. Ia juga menyediakan simbol-simbol yang kita gunakan untuk memahami diri sendiri. Karena itulah saya mulai berpikir bahwa isi waham pun mungkin mengikuti pola yang sama.
Waham memang muncul karena gangguan pada cara otak memproses kenyataan. Akan tetapi, ketika ia mencari bentuk, ia tidak menciptakan simbol baru. Ia meminjam simbol yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi saya, simbol itu adalah presiden. Bagi orang lain, bisa saja berbeda. Saya pernah membaca kisah penyintas yang yakin dirinya seorang nabi. Ada pula yang percaya dirinya keturunan raja, utusan Tuhan, atau ilmuwan yang menemukan rahasia alam semesta.
Di negara-negara Barat, sebagian orang merasa dirinya agen intelijen, diawasi pemerintah, atau memiliki hubungan khusus dengan tokoh dunia. Gejalanya serupa. Namun, isi wahamnya mengikuti dunia yang mereka kenal. Budaya memberi bentuk kepada pengalaman yang sesungguhnya sangat pribadi.
Kesadaran itu membuat saya berhenti menertawakan diri sendiri. Dulu, saya menganggap kisah “calon presiden” itu hanya anekdot yang memalukan. Kini saya melihatnya sebagai jejak yang memperlihatkan bagaimana otak dan kebudayaan saling bertemu.
Otak saya memang sedang sakit. Tetapi bahkan dalam keadaan sakit sekalipun, ia tetap berbicara menggunakan bahasa yang saya pelajari sejak kecil. Ia tidak memilih simbol yang asing. Ia memilih simbol yang paling dekat dengan pengalaman hidup saya sebagai warga negara Indonesia.
Saya teringat pada gagasan Clifford Geertz bahwa manusia hidup di dalam jejaring makna yang dipintalnya sendiri. Kalimat itu terasa sangat dekat dengan pengalaman saya. Selama ini saya mengira waham adalah dunia yang sama sekali terpisah dari kehidupan sehari-hari. Ternyata tidak.
Ia justru dibangun dari bahan-bahan yang sangat akrab: berita televisi, pelajaran sekolah, percakapan masyarakat, dan simbol-simbol yang setiap hari kita jumpai. Bedanya, semua itu dirangkai oleh otak saya menjadi sebuah kenyataan yang hanya dapat saya lihat sendiri.
Di Bali, tempat saya dibesarkan, kami mengenal konsep sekala dan niskala. Ada kenyataan yang tampak oleh mata, ada pula dimensi yang dipahami melalui keyakinan dan tradisi. Kedua konsep ini merupakan bagian dari cara masyarakat Bali memaknai kehidupan.
Namun, saya ingin menegaskan bahwa pengalaman waham tidak sama dengan konsep niskala. Keduanya berada pada ranah yang berbeda. Niskala adalah bagian dari sistem kepercayaan dan kebudayaan yang dijalani bersama oleh masyarakat. Sementara waham adalah pengalaman individual yang muncul ketika kemampuan seseorang membedakan kenyataan mengalami gangguan.
Meski demikian, berdasarkan keilmuan antropologi yang pernah saya tekuni, saya melihat bahwa manusia selalu menafsirkan pengalaman batinnya menggunakan bahasa kebudayaannya sendiri. Kita tidak pernah berpikir di luar simbol-simbol yang telah membentuk diri kita.
Barangkali karena itulah saya tidak pernah merasa menjadi kaisar Romawi atau samurai Jepang. Saya merasa akan menjadi presiden. Karena itulah simbol yang paling dekat dengan dunia yang saya kenal.
Bertahun-tahun kemudian saya membuka kembali akun Facebook lama. Saya memandang cukup lama dua kata yang pernah saya tulis dengan keyakinan penuh: Calon Presiden. Saya tidak menghapusnya. Saya membiarkannya tetap ada.
Bukan sebagai kenangan yang membanggakan. Melainkan sebagai pengingat bahwa saya pernah hidup di dalam sebuah kenyataan yang terasa begitu meyakinkan, tetapi ternyata bukan kenyataan yang dibagikan bersama.
Dan mungkin, justru dari situlah perjalanan saya memahami skizofrenia benar-benar dimulai. Saya sering bertanya kepada diri sendiri, kapan sebenarnya saya mulai sakit? Apakah ketika saya menulis “Calon Presiden” di Facebook?
Ataukah jauh sebelum itu, ketika pikiran mulai menyusun hubungan-hubungan yang sesungguhnya tidak pernah ada? Saya tidak pernah menemukan jawabannya. Gangguan jiwa tidak selalu datang seperti gempa bumi. Ia lebih sering menyerupai air pasang. Mula-mula hanya membasahi telapak kaki. Hampir tidak terasa. Lalu perlahan naik hingga akhirnya kita sadar bahwa daratan yang tadi dipijak telah berubah menjadi lautan.
Begitulah yang saya alami. Tidak ada satu pagi ketika saya bangun lalu berkata, “Hari ini saya akan mengalami waham.” Yang ada hanyalah keyakinan-keyakinan kecil yang tumbuh sedikit demi sedikit.
Saya merasa lebih peka. Lebih mampu menangkap tanda-tanda. Lebih mengerti arah peristiwa dibandingkan orang lain. Segala sesuatu tampak saling berkaitan.
Sebuah berita politik, percakapan di warung kopi, lagu yang diputar di radio, bahkan tatapan orang yang berpapasan di jalan, semuanya seolah mengandung pesan yang ditujukan kepada saya. Sekarang saya tahu bahwa itu adalah gejala psikosis. Namun ketika mengalaminya, saya merasa justru sedang melihat kenyataan yang sesungguhnya.
Saya kemudian memahami mengapa banyak orang dengan skizofrenia menolak ketika dikatakan sedang sakit. Bukan karena keras kepala. Bukan pula karena tidak mau menerima ookenyataan. Masalahnya adalah, kenyataan yang mereka alami memang berbeda.
Saya pernah berada di sana. Karena itu saya tidak pernah marah kepada diri saya yang dahulu. Saya justru merasa iba. Bayangkan jika seluruh dunia berkata bahwa Anda keliru, sementara seluruh pengalaman batin Anda mengatakan bahwa Andalah yang benar. Di situlah kesepian itu bermula.
Bagi keluarga, teman, atau tenaga kesehatan, saya adalah seseorang yang mengalami gangguan jiwa. Bagi diri saya sendiri saat itu, saya adalah orang yang sedang memahami sesuatu yang tidak dipahami orang lain. Perbedaan cara memandang inilah yang sering membuat komunikasi menjadi begitu sulit.
Kini saya mengerti mengapa psikiater lebih banyak mendengarkan daripada berdebat. Mengapa perawat jiwa berusaha menenangkan, bukan memaksa. Mengapa keluarga yang sabar sering kali lebih membantu daripada seratus argumen yang paling logis.
Sebab ketika seseorang sedang hidup di dalam waham, logika tidak selalu menemukan jalan masuk. Yang lebih dulu sampai adalah rasa aman. Baru setelah itu kenyataan perlahan dapat diterima kembali.
Saya beruntung. Saya bertemu dokter yang baik, memiliki orang-orang yang tetap percaya bahwa saya bisa pulih. Dan saya menemukan dunia menulis sebagai cara untuk menyusun kembali kenyataan.
Setiap kali menulis, saya belajar membedakan antara pengalaman dan penafsiran. Saya belajar memilih kata dengan hati-hati. Saya belajar memeriksa kembali apakah sesuatu benar-benar terjadi atau hanya saya kira terjadi.
Tanpa saya sadari, menulis menjadi latihan untuk kembali berpijak pada kenyataan. Barangkali karena itu saya terus menulis. Bukan hanya untuk menghasilkan buku atau artikel, melainkan untuk menjaga percakapan dengan diri sendiri.
Ada yang berubah setelah saya melewati semua itu. Saya menjadi lebih pelan ketika menilai orang lain. Jika dahulu saya mudah mengatakan seseorang aneh, sekarang saya memilih bertanya lebih dulu; pengalaman apa yang sedang ia jalani?
Antropologi pernah mengajarkan saya bahwa setiap tindakan manusia memiliki konteks. Skizofrenia mengajarkan pelajaran yang sama, tetapi dengan cara yang jauh lebih personal. Saya belajar bahwa di balik perilaku yang tampak ganjil, sering kali ada penderitaan yang tidak terlihat.
Di balik kemarahan, mungkin ada ketakutan. Di balik kecurigaan, mungkin ada kecemasan. Di balik waham, ada seseorang yang sedang berusaha memahami dunia dengan otak yang tidak lagi bekerja sebagaimana biasanya.
Kesadaran itu membuat saya tidak lagi tertarik memberi label kepada manusia. Saya lebih ingin mendengarkan kisahnya. Beberapa tahun lalu, saya mungkin berharap skizofrenia benar-benar hilang dari hidup saya.
Hari ini harapan saya berubah. Saya tidak lagi meminta masa lalu dihapus. Saya hanya berharap diberi kejernihan untuk mengenali diri sendiri. Saya tetap minum obat, tetap mengunjungi psikiater, dan tetap bermeditasi.
Bukan karena saya kalah. Melainkan karena saya ingin tetap tinggal di dunia yang dapat saya bagi bersama orang lain. Di dunia inilah saya dapat menulis. Di dunia inilah saya dapat mencintai.
Dan di dunia inilah saya akhirnya memahami bahwa kesehatan jiwa bukan sekadar tidak adanya penyakit, melainkan kemampuan untuk kembali menjalin hubungan, dengan kenyataan, orang lain, dan dengan diri sendiri.
Beberapa waktu lalu saya kembali membuka akun Facebook lama. Saya sengaja mencarinya. Di sana masih tersimpan foto-foto yang buram, status-status yang canggung, dan jejak seorang lelaki yang pernah percaya bahwa dirinya akan menjadi presiden.
Saya membaca semuanya perlahan. Lalu saya tersenyum. Bukan karena lucu, melainkan karena saya tahu lelaki itu telah menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk bisa sampai di titik hari ini.
Saya tidak menghapus tulisan “Calon Presiden” itu. Saya membiarkannya tetap ada. Ia bukan monumen kebanggaan. Ia juga bukan aib yang harus disembunyikan. Ia adalah pengingat bahwa manusia dapat kehilangan kenyataan, tetapi juga dapat menemukannya kembali.
Saya sering membayangkan seandainya saya tidak pernah mengalami skizofrenia. Mungkin saya akan menyelesaikan kuliah tepat waktu, mngkin saya akan bekerja di tempat yang berbeda. Mungkin hidup saya akan lebih mudah.
Namun, setiap kali pikiran itu datang, saya selalu berhenti pada satu pertanyaan. Apakah saya akan menjadi orang yang sama? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, penyakit ini telah mengubah cara saya memandang manusia.
Saya menjadi lebih sabar. Lebih pelan dalam memberi penilaian. Lebih berhati-hati ketika menyebut seseorang “aneh” atau “tidak masuk akal”. Karena saya pernah hidup di dalam dunia yang, bagi saya saat itu, terasa sangat masuk akal.
Sebagai penulis, saya percaya bahwa setiap pengalaman, seberat apa pun, selalu menyimpan kemungkinan untuk diubah menjadi makna. Bukan berarti kita harus bersyukur atas setiap penderitaan. Bukan. Ada rasa sakit yang memang tetaplah rasa sakit. Ada kehilangan yang tidak perlu dipuji.
Namun, manusia memiliki kemampuan yang luar biasa, yakni memberi makna pada apa yang dialaminya. Mungkin itulah yang sedang saya lakukan melalui tulisan ini. Saya tidak sedang meromantisasi skizofrenia. Saya tidak sedang mengatakan bahwa waham adalah sesuatu yang indah.
Waham telah membuat saya tersesat. Ia mengambil sebagian tahun-tahun terbaik dalam hidup saya. Ia membuat saya kehilangan banyak kesempatan. Tetapi ketika saya berhasil kembali, saya menemukan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya; empati.
Saya menjadi lebih mampu memahami bahwa setiap orang sedang memikul sesuatu yang tidak selalu tampak di permukaan. Kini, jika ada yang bertanya apa cita-cita saya, jawabannya jauh lebih sederhana dibandingkan dahulu.
Saya tidak ingin menjadi presiden. Saya tidak ingin menjadi orang paling berpengaruh. Saya tidak ingin menjadi penyelamat dunia. Saya hanya ingin tetap sehat. Tetap dapat menulis. Tetap mampu membedakan mana kenyataan dan mana bisikan dari pikiran yang sedang lelah.
Saya ingin terus belajar menjadi manusia biasa. Sebab saya pernah kehilangan sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan: kemampuan mempercayai kenyataan yang dibagikan bersama. Ketika kemampuan itu kembali, saya merasa seperti pulang.
Andai hari ini Facebook meminta saya mengisi ulang kolom biodata, saya tidak akan lagi menulis “Calon Presiden.” Saya hanya akan menulis satu kata. Penulis. Barangkali itulah jabatan yang paling jujur yang pernah saya miliki.
Saya tidak memimpin sebuah negara. Saya tidak mengubah sejarah. Saya hanya berusaha merawat ingatan, menyusun pengalaman menjadi kata-kata, lalu membagikannya kepada orang lain dengan harapan sederhana; semoga ada seseorang yang merasa tidak lagi sendirian setelah membacanya.
Jika tulisan ini membuat satu orang lebih memahami skizofrenia, lebih berbelas kasih kepada penyintas, atau lebih berani mencari pertolongan ketika dirinya mulai goyah, maka pengalaman yang dahulu terasa begitu gelap tidak sepenuhnya sia-sia. Saya pernah menjadi presiden. Setidaknya, di dalam kepala saya. Hari ini saya lebih bersyukur menjadi seorang penulis. Karena hanya sebagai penulislah saya dapat menceritakan perjalanan pulang dari dunia yang pernah saya yakini sebagai kenyataan. Skizofrenia, kawani saja. [T]































