25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh.”

Di ruang terbuka lantai atas rumahnya, dengan diterangi temaran rembulan,  saya memperhatikan seorang perempuan setengah baya duduk bersila di depan selembar kain putih. Tidak ada percakapan. Tidak ada musik yang mengalun. Yang terdengar hanya bunyi halus tetesan malam yang menyentuh kain dan sesekali desis kecil dari kompor pemanas lilin.

Ia bekerja berjam-jam tanpa tergesa.Tangannya begitu tenang, seolah telah berdamai dengan waktu. Saya mulai menyadari, mungkin yang sedang ia buat bukan sekadar selembar batik. Mungkin ia sedang menata dirinya sendiri.

Beberapa tahun terakhir, batik kembali mendapatkan perhatian yang luas. Setelah UNESCO menetapkan Batik Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2009, batik tidak lagi hanya dipandang sebagai produk tekstil tradisional, melainkan sebagai ekspresi kebudayaan yang menyimpan pengetahuan, simbol, dan filosofi yang diwariskan lintas generasi. Di berbagai daerah—Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Lasem, Cirebon, Banyumas, Madura hingga Papua—setiap motif lahir dari sejarah, lingkungan, bahkan cara masyarakat memandang kehidupan.

Namun, di balik seluruh narasi budaya itu, ada sisi lain yang sering luput diperhatikan. Batik bukan hanya berbicara tentang identitas bangsa. Ia juga berbicara tentang identitas seseorang. Tentang bagaimana manusia mengolah sunyi.

Perempuan itu, sebagaimana kemudian saya ketahui, memilih membatik bukan semata karena pekerjaan. Membatik adalah caranya bertahan. Ketika rumah mulai sepi. Ketika anak-anak telah memiliki kehidupannya sendiri. Ketika percakapan semakin sedikit. Ketika hari-hari menjadi begitu panjang. Ia tidak melawan kesunyian dengan kebisingan. Ia justru masuk lebih dalam ke dalam kesunyian itu. Dan dari sanalah lahir motif demi motif.

Fenomenologi menyebut pengalaman semacam ini sebagai lived experience—pengalaman yang tidak cukup dipahami melalui penjelasan rasional, melainkan harus dihayati sebagaimana ia dialami. Dalam bahasa psikologi modern, pengalaman itu sering beririsan dengan konsep flow yang diperkenalkan Mihaly Csikszentmihalyi: keadaan ketika seseorang tenggelam sepenuhnya dalam aktivitas yang bermakna sehingga waktu terasa menghilang dan kesadaran menyatu dengan pekerjaannya.

Mungkin itulah yang sedang terjadi. Batik menjadi ruang kontemplasi. Canting menjadi jalan pulang menuju dirinya sendiri.

Jika kita membaca batik sebagai sebuah teks, setiap unsur di dalamnya sesungguhnya adalah tanda-tanda kehidupan. Semiotika mengajarkan bahwa manusia hidup di tengah dunia yang penuh simbol. Tidak ada benda yang benar-benar netral; makna lahir dari cara kita memaknainya. Begitu pula batik. Di balik alat-alat sederhana itu tersembunyi pelajaran hidup yang luar biasa.

“Malam”, misalnya. Dalam kehidupan sehari-hari, “malam “adalah waktu ketika matahari tenggelam. Namun dalam dunia batik, “malam” adalah lilin panas yang justru melindungi warna. Ia menutup sebagian permukaan kain agar warna lain tidak masuk.

Bukankah hidup juga demikian? Ada luka yang tidak perlu diumbar kepada semua orang. Ada kesedihan yang tidak selalu harus dipertontonkan. Bukan karena ingin berpura-pura kuat, melainkan karena beberapa luka membutuhkan ruang sunyi agar dapat berubah menjadi kebijaksanaan.

Malam mengajarkan bahwa ketabahan kadang bukan berarti menghapus rasa sakit, melainkan menjaga agar rasa sakit itu tidak merusak seluruh hidup kita.

Lalu ada canting. Bagi orang awam, ia hanyalah alat kecil dari tembaga. Namun sesungguhnya ia lebih menyerupai pena. Bedanya, pena menulis dengan tinta. Canting menulis dengan lilin. Ia tidak menghasilkan huruf, tetapi menghasilkan cerita. Setiap garis yang keluar dari ujung canting adalah kalimat yang tak pernah diucapkan. Barangkali memang tidak semua kisah harus ditulis dalam buku. Ada kisah yang cukup hidup dalam selembar kain.

Kemudian ada mori, kain putih yang menjadi tempat semua motif bermula. Begitu bersih. Begitu sederhana. Begitu menerima.

Mori mengingatkan kita pada hati manusia. Tidak ada hati yang sejak awal telah penuh warna. Kehidupanlah yang perlahan menggoreskan motif-motifnya. Ada yang berupa kegembiraan. Ada yang berupa kehilangan. Ada pula yang berupa penyesalan. Namun semuanya meninggalkan jejak. Dan justru jejak-jejak itulah yang membuat hidup memiliki coraknya sendiri.

Saya juga selalu menyukai isen-isen, titik-titik kecil yang memenuhi ruang kosong pada batik. Sering kali orang hanya memperhatikan motif besarnya. Padahal keindahan batik justru lahir dari ribuan detail kecil yang nyaris tidak terlihat.

Bukankah hidup kita juga demikian? Kebahagiaan tidak selalu datang melalui peristiwa besar. Ia sering hadir dalam secangkir teh hangat. Dalam sapaan sederhana. Dalam mata yang mendengarkan. Dalam pesan singkat yang datang pada waktu yang tepat. Dalam pelukan yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Kita terlalu sering mengejar hal-hal besar hingga lupa bahwa hidup sebenarnya dibangun oleh titik-titik kecil. Dan isen-isen mengingatkan kita akan hal itu.

                                                                        ***

Namun dari semua pelajaran yang diajarkan batik, ada satu paradoks yang selalu membuat saya terdiam. Dalam proses membatik, sesuatu justru harus ditutup agar gambar dapat muncul. Semakin rapi bagian yang dilindungi “malam”, semakin indah motif yang akan terlihat setelah seluruh proses selesai.

Paradoks ini terasa begitu dekat dengan kehidupan. Kadang manusia ingin semua hal terlihat. Semua perasaan diungkapkan. Semua luka diperlihatkan. Semua pengalaman diumbar.

Padahal hidup justru sering bertumbuh melalui apa yang kita simpan dengan bijaksana. Bukan berarti memendam semuanya. Melainkan memilih mana yang layak menjadi konsumsi dunia dan mana yang perlu menjadi percakapan pribadi dengan Tuhan, dengan waktu, atau dengan diri sendiri. Ada kesedihan yang tidak perlu menjadi tontonan. Ada air mata yang lebih bermakna ketika jatuh tanpa penonton.

Sebagaimana “malam” yang menutup sebagian kain, ada pengalaman hidup yang sengaja disimpan agar karakter perlahan tumbuh tanpa kehilangan martabat. Ternyata, tidak semua yang disembunyikan adalah kepalsuan. Sebagian justru merupakan proses pendewasaan.

Semakin lama saya memperhatikan perempuan itu membatik, semakin saya yakin bahwa ia sebenarnya sedang mengolah rasa. Setiap tetes “malam” bukan sekadar lilin. Ia adalah kesabaran yang dicairkan. Setiap garis bukan sekadar motif. Ia adalah latihan menerima hidup yang tidak selalu lurus.

Membatik tidak pernah bisa dipercepat. Sedikit tergesa, garis akan patah. Sedikit lengah, “malam” akan menetes ke tempat yang salah. Barangkali karena itulah batik mengajarkan sesuatu yang semakin langka di zaman serba instan ini: kesabaran.

Kesabaran bukan menunggu tanpa melakukan apa-apa. Kesabaran adalah bekerja dengan penuh ketelitian sambil mempercayai bahwa hasil terbaik membutuhkan waktu.

Pada akhirnya saya memahami bahwa perempuan itu tidak sedang melawan kesunyian. Ia sedang berdamai dengannya. Kesunyian yang semula terasa seperti ruang kosong perlahan berubah menjadi ruang kreatif. Sunyi tidak lagi menjadi musuh. Sunyi menjadi medium.

Mungkin di situlah makna terdalam membatik. Ia bukan sekadar keterampilan membuat motif pada selembar kain. Ia adalah seni mengubah pengalaman menjadi keindahan. Mengubah luka menjadi kebijaksanaan. Mengubah sepi menjadi karya. Dan mungkin, tanpa kita sadari, itulah yang sepanjang hidup sedang kita lakukan.

Kita semua sedang membatik. Bukan di atas kain mori. Melainkan di atas lembaran kehidupan kita masing-masing. Dengan canting pengalaman. Dengan “malam” kesabaran. Dengan isen-isen berupa detail-detail kecil yang sering terlupakan.

Hingga suatu hari nanti, ketika seluruh warna kehidupan telah selesai, kita akan melihat bahwa tidak ada satu tetes pun yang benar-benar sia-sia. Semua telah menjadi motif yang utuh—mungkin bukan motif yang sempurna, tetapi motif yang sepenuhnya manusiawi. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: batikkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Next Post

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails
Next Post
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co